BAB 7| Hanya Devon yang Tahu

1498 Kata
Tidak ada satu orang pun yang mengetahui isi hati orang lain, kecuali orang itu sendiri dan Tuhan. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Mau bukti apalagi sih, Dev?" Itu Tito, saudara sepupu Shannon yang menjabat sebagai general manager di 48n. Devon menyerahkan tugasnya untuk diampu Tito, tidak bermaksud untuk melakukan nepotisme, namun Devon kurang bisa mempercayai orang lain kecuali circle keluarganya. "Kurang jelas apalagi bukti-buktinya?" Devon hanya diam, dirinya lebih memilih mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja untuk memecah ketegangan. Matanya mengawasi pintu, menunggu adanya pergerakan gagang pintu yang diputar dari luar. "Woi, Dev!" Devon menaikkan dagunya melayangkan pertanyaan 'apa?' tanpa berbicara. "Lo dengerin gue ngomong enggak, sih?" Devon mengangguk, matanya tetap setia mengawasi pintu, dan pikirannya entah berkelana ke mana. Tito memutarkan bola matanya kesal. "Terus apa lagi yang lo pikirin? Langsung sikat aja orangnya, jangan kelamaan ngambil keputusan." "Hmm." Devon mengganti posisi tangannya dari yang awalnya mengetuk meja menjadi bertopang dagu. "Sariawan, ya, lo? Sumpah lama-lama lo ngeselin kayak Lily tahu, enggak?" Devon menurunkan satu alisnya, tanda tak percaya. Di satu sisi, dirinya merasa senang, karena ia bukan satu-satunya orang yang mengakui bahwa Lily itu gadis kecil yang menyebalkan. Di sisi lain, mengapa harus Lily yang menjadi perumpamaan? Dan mengapa dirinya yang harus disamakan? Devon berjengit kaget saat Tito menjentikkan jari tepat di depan muka Devon."Yeu malah ngelamun si Panjul. Efek kelamaan jomlo ya gini nih." Saat mendengar kata 'efek kelamaan jomlo' dari Tito, sontak membuat Devon angkat bicara. "Ngaca! Sadar diri!" "Loh kok marah? Ke-distract, bung? Udahlah enggak usah ngelak. Mending lo cari pasangan gih, biar enggak kebanyakan diem mulu. Hawanya suram." "Eits!" Tito mengangkat telapak tangannya untuk menghentikan Devon berbicara, padahal Devon baru membuka setengah mulutnya. "Dengerin omongan gue dulu, oke?" Devon mengangguk. "Sekarang lo lihat lagi sepupu-sepupu lo. Lo bayangin yang sering lo rasain pas ketemu mereka." Tito memberi tenggat waktu untuk otak Devon mengolah perintah. "Udah?" Anggukan Devon adalah jawaban nyata yang diterima Tito. "Sekarang bayangin lagi pas mereka belum nikah," sambung Tito. Devon yang memang sudah bodoh dari awal karena mengikuti semua perintah yang dikatakan oleh Tito, akhirnya mengerutkan dahi. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyusupi hatinya. Bau-bau mau dikatain. "See? Beda, kan?" Jemari Tito mengelus dagunya, memandangi Devon atas-bawah selama beberapa detik. "Kira-kira lo bakal berubah jadi sebodoh mereka enggak, ya? Lumayanlah, mereka jadi enggak seirit ngomong kayak dulu. Mungkin lo emang udah harus pensiun menjomlo dan mulai keluar dari zona nyaman lo deh, Dev." Devon mengibaskan tangannya. "Jangan ngaco!" Tito mengangkat satu alisnya, melayangkan tatapan menantang ke Devon. "Kenapa? Lo takut jadi b***k cinta kayak mereka?" "Kata siapa?" Devon mengambil pulpen yang ada di dekatnya jaga-jaga untuk dilempar ke Tito—pada kenyataannya, Devon tengah kikuk dengan kenyataan yang dipaparkan oleh Tito. Tito manggut-manggut mendengar jawaban Devon. "Loh kok nyolot?" "Si-siapa yang nyolot?" Devon dengan bodohnya malah menjawab dengan nada sedikit tinggi dikombinasi dengan rasa gugup di dalamnya. Welcome to the jungle, Dev! Benar sekali. Tito malah menertawainya. "Paham gue sama masalah lo, kayaknya lo butuh—" "Enggak usah sok nasehatin gue kalau sendirinya masih sama. Apa kabar sama hidup lo, To?" Devon menyandarkan punggungnya ke kursi, terlihat sekali mengisyaratkan bahwa dirinya juga butuh sandaran hidup. "Gue?" Tito menunjuk dirinya sendiri. "Tinggal nepok paha, kalau gue mau 5 menit juga bakal dapet. Bersih, enggak harus masuk akun lambe-lambean." Sialan! "Bukan gue. Itu ulah Cia." "Masa?" Tito menyipitkan matanya. "Terus gue harus percaya sama lo gitu?" Tubuh Devon terkulai lemas, akan sia-sia pada akhirnya jika ia tetap ngotot mendebat Tito. Sama halnya jika Devon sedang berhadapan dengan Cia, Dio, dan Lily—hanya 3 orang itu yang menurut Devon sifat menyebalkannya sudah di atas rata-rata. Entah harus bersyukur atau sebaliknya, terlahir di keluarga Anderson. Di mana seluruh anggota keluarga besarnya suka menyindir, ceplas-ceplos, dan bertingkah menyebalkan lainnya. Di satu sisi pasti ada alasan tersendiri di balik semua tindakan yang mereka lakukan, yang pasti hidup Devon lebih ada warnanya daripada sekadar berdebat tidak jelas bersama otak dan hatinya di kala sendirian. "Steve, Brandon, Marcel, Levin." Tito menghitung satu per satu dengan jarinya. "Mereka udah punya pawang masing-masing." "Levin masuk hitungan? Seriously?" Tito meraih pulpen yang sedari tadi berada di genggaman Devon, dirinya terlalu gemas melihat respon otak Devon yang agak lambat. Entah Devon sedang ingin mengerjainya atau memang sedang memasang tampang pilih yang penuh dengan ketidaktahuan, yang pasti wajah innocent Devon membuatnya geregetan. Pulpen yang tidak berdosa itu melayang menimpa wajah tampan Devon. "Sakit, bego," ringis Devon sembari memegangi dahinya. Bunyi 'ctak' dari pulpen tadi masih terngiang di telinganya. "Ya lo sendiri mancing buat ditimpuk, Panjul. Nih, ya, si Levin sama lo aja masih bagusan Levin." "Bagus apanya? Sama aja, orang sama-sama belum nikah juga. Kalo iya, pasti bagusan gue parahlah." Tito menggelengkan kepalanya secara dramatis. "Bener-bener ya lo, Dev. Manusia irit ngomong yang sekalinya ngomong malah nyebelin." Devon mengangkat bahu sebagai jawaban. Batinnya sontak bertanya-tanya. "Emang gue nyebelin?" Otak dan hatinya yang tak kalah geram seperti Tito, menimpali pertanyaan Devon, "Hei sadar diri, bung. Anda terlahir dari gen-gen nyebelin, gimana bisa ceritanya anda jadi terbebas dari nyebelin? Buka mata lo lebar-lebar." "Seenggaknya Levin lebih asik daripada lo." "Emang gue peduli?" Devon sama sekali sudah tidak berminat mendengar ucapan Tito lagi. "Levin di tiap tempat aja ada banyak. Lah lo kapan, Dev? Satu aja enggak ada," sambung Tito. "Hmm." "Udah males gue ngajak ngomong lo, tapi didiemin mulu. Tiap hari sariawan lo? Berubah kayak mereka kek. Enggak sabar gue nunggu waktu itu dateng ke lo." APALAGI GUE? GUE JUGA NUNGGU WAKTU ITU DATANG ... TAPI MASALAHNYA, ENGGAK TAHU KAPAN. Batin Devon meronta-ronta atas keluhan Tito. Kalian tahu enggak, sih, rasanya pengen mencoba satu hal tapi ada hal lain yang diri sendiri enggak tahu alasannya apa dan bikin kita stuck di tempat. Kalau ditanya pengen, ya pasti pengen. Bahkan Devon sendiri enggan untuk membayangkan kehidupan percintaannya kelak. Takut akan ekspektasi yang selalu tidak sesuai dengan realita. Mengabaikan Tito yang masih sibuk mengomentarinya, Devon melihat jam yang menggantung santai di dinding. Ah rasanya Devon ingin menjadi jam dinding saja, hanya memikirkan cara untuk tetap berputar dan bergerak maju. Devon ingin seperti jam yang bekerja sesimpel itu, tanpa takut akan dijatuhkan oleh eskpektasi. Pukul 01:23 pm, sudah sepuluh menit lebih dari jam yang sudah ditentukan. Tito yang dari tadi mengawasi gerak-gerik Devon, akhirnya angkat bicara kembali. "Mana nih, si kunyuk satu itu. Udah enggak sabar gue buat jatuhin sanksi." Tok tok tok. Orang yang tengah ia tunggu sejak tadi akhirnya datang. "Panjang umur ya, Tin," sindir Tito. Martin Pasha, kepala divisi pelaksanaan yang usulan proposalnya ia tolak beberapa tempo yang lalu kini berdiri tepat di depan matanya. "Maaf, Pak." Martin membungkukkan badannya sopan, meski nada suara yang melintas di telinga Devon terdengar datar. "Duduk." Devon menunjuk kursi kosong di samping Tito dengan dagunya. "Bisa tolong jelaskan sudah berapa persen perkembangan produk terbaru?" Devon mengawasi setiap pergerakan Martin, begitu juga dengan Tito. Tidak akan ada kesalahan sekecil apapun yang akan terulang kembali. Devon manggut-manggut merasakan adanya kejanggalan, sebelum Martin membacakan laporannya. Menelisik satu per satu pergerakan kaku di depannya. Martin mulai menjelaskan segala sesuatu yang telah dikerjakan tim selama hampir 4 bulan. Mulai dari awal sampai akhir, titik-koma, sampai dari segi mana pun, tidak ada yang terlewatkan satu pun. Devon tersenyum tipis. "Mau main bersih rupanya," batin Devon. "Hanya itu?" Martin mengangguk ... ragu. "Iya, Pak." Devon manggut-manggut, jarinya memainkan pulpen di atas meja. Netranya menyelami dua manik mata orang-orang di depannya. Martin lalu Tito, kembali lagi ke Martin. "Kamu lupa bahwa launching produk baru akan dilakukan 2 bulan lagi? Kenapa progress-nya bahkan masih belum sampai setengahnya? Kenapa masih tetap stuck di angka 27%?" "Ingat, Pak. Tetapi ...." Martin menggantungkan ucapannya, mengalihkan pandangannya sebentar untuk sekadar menatap mata Tito dengan pandangan sedikit menuduh. "... bahan-bahan rancangan dari proposal yang diajukan Pak Tito susah sekali untuk ditemukan. Kami harus melakukan pemesanan yang setidaknya mengharuskan untuk menunggu kurang-lebih 2 bulan." Devon tersenyum tipis, menyandarkan kembali punggungnya ke kursi lalu meletakkan tangannya ke dudukan yang ada di kanan-kiri kursi. Pandangan Devon menatap dua orang di depannya secara bergantian, mengundang ketegangan menyusup di dalam ruangan. Keterdiaman mereka hanya berlangsung beberapa menit. Devon mengubah posisi tangannya menjadi bertopang dagu, ia menarik napas sebentar sebelum memutuskan untuk angkat bicara. "Ganti rencana awal proposal Tito menjadi proposalmu." Devon bisa melihat dengan jelas ekspresi keterkejutan di wajah mereka setelah dirinya menyelesaikan ucapannya. "Se-serius, Pak?" tanya Martin. Devon bisa melihat secuil raut kemenangan di wajah itu. Devon mengangguk. "Iya, bawa proposalmu besok pagi ke ruangan saya. Silakan keluar." "Baik, Pak. Saya pastikan besok pagi-pagi buta, proposal saya sudah ada di atas meja bapak. Permisi." Martin bangkit dari duduknya, membungkukkan badannya sebentar sebelum akhirnya melenggang dengan bebas keluar ruangan. Blam. "Lo gila ya, Dev?!" maki Tito setelah Martin benar-benar meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan Devon dan Tito di dalamnya. "Kurang jelas apalagi bukti yang udah gue kasih? Kenapa lo masih pertahanin si curut satu itu? Mana pindah plan tiba-tiba lagi, lo gila, Dev? 2 bulan itu waktu yang singkat, emang lo yakin bisa ke kejar?" "Unus testis nulus testis." []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN