Hanya butuh percaya dan rasa sabar untuk menunggu langkah yang kita ambil menemui hasil.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"Baru juga semester 1, begini amat hidup."
Snapgram berdurasi 7 detik itu berisi keluhan seorang mahasiswi baru yang sedang menelengkan separuh kepalanya merebah di atas meja yang berserakan berbagai macam kertas warna-warni.
"Demi apa masih awal masuk kuliah?" Devon memutar ulang snapgram itu, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Baru juga semester 1, begini amat hidup."
Devon menggeser layar ponselnya, menampilkan postingan-postingan orang yang sama. Melihat lamat-lamat garis muka dan berbagai macam bentuk ekspresi orang yang sama di sana.
"Seriusan?" Mata Devon melotot lebar seakan bola matanya ingin melarikan diri dari tempatnya setelah mengetahui dugaan-dugaan yang membenarkan bahwa gadis itu masih belia.
Benar! Devon masih setia menunggu update-an terbaru kehidupan Audy. Audy adalah obat untuk moodnya yang buruk. Jangan tanya Devon bagaimana bisa hingga seperti itu, karena Devon sendiri juga tidak tahu jawabannya. Tanya saja pada aura dan positive vibes yang Audy tularkan hingga membuat Devon juga tertarik.
Hari ini terhitung seminggu dari terakhir kali Devon melihat postingan Audy beberapa hari yang lalu. Devon yang sudah mulai candu, merasa gelisah setiap harinya saat tidak menemukan satu pembaruan postingan apapun dari Audy dalam seminggu belakangan ini.
"Pantesan jarang update, lagi ospek ternyata."
Setiap ponselnya berdering, seketika itu juga Devon sangat berharap ada notifikasi dari Audy yang muncul di sana dan hari ini ... semua harapnya yang menggunung dari seminggu yang lalu terjawab.
2 snapgram berisi foto sepatu dan bayangan Audy di tengah panasnya terik matahari, serta kertas-kertas warna-warni berbagai macam bentuk dan kartu tanda pengenal yang diunggah dalam kurun yang dekat menjadi tontonan Devon kali ini. Yang terakhir dan yang baru dilihatnya beberapa menit yang lalu, Devon anggap sebagai video penjelasan ke mana hilangnya Audy seminggu terakhir ini.
Tidak tahu dari mana datangnya keberanian Devon, tangannya mengetikkan satu kalimat di sana.
|Semangat! [07:08 pm]
send.
Ada jeda beberapa detik penuh keraguan sebelum pada akhirnya jempol Devon menekan tombol send. Yap, pesan itu benar-benar meluncur terkirim ke Audy.
Devon tinggal menunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Semoga saja bukan hal yang buruk, mengingat ia tengah menggunakan sec acc. Kemungkinan terburuk yang terbersit di otak Devon adalah pesannya tidak terbaca bahkan membusuk dalam antrian message request.
Devon menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan bayangan-bayangan yang tidak seharusnya ada. Bayangan-bayangan itu terhitung terlalu jauh untuk diharapkan.
"Mikir apaan, sih, Dev? Berasa jadi kayak orang bego, deh." Devon berkacak pinggang menatap bayangan tubuhnya di kulkas. Satu tangannya beralih memegang kepala, berusaha mengusir bayangan-bayangan asing yang tak kunjung ingin pergi.
Tarik napas! Buang. Tarik napas! Buang.
Satu mantra yang Devon rapal berulang kali. Bergulat dengan diri sendiri nyatanya lebih susah daripada beradu argumen dengan orang lain. Setidaknya jika berhadapan dengan wujud nyata orang lain, Devon akan menemui jawaban meski itu berbentuk bantahan atau penolakan.
Beda rasanya, jika semua itu datang dari dalam dirinya sendiri. Semuanya ingin menjadi nomor satu, ingin menjadi menang, dan tidak ada yang mau kalah. Baik dari hari, maupun otaknya. Terlebih sangat ampuh mengganggu Devon dalam segala hal apapun.
Devon meraup mukanya asal, hingga tak sengaja hidungnya menghidu bau yang sangat familiar.
"g****k!"
Devon buru-buru menyalakan keran dan membasuh mukanya, sebelum nanti berakhir kepanasan.
"Audy ... Audy." Devon menyunggingkan senyumnya. Bagaimana bisa Devon menjadi sebodoh ini gara-gara otak dan hatinya tak henti-hentinya meributkan gadis yang bahkan belum pernah Devon temui sebelumnya.
Devon sudah gila! Untung saja bau cabai dan bawang bombai yang menyengat masih setia menempeli tangannya sehingga membuat Devon tersadar.
Proses pembuatan nasi goreng mentega ya juag harus terhenti sejenak saat notifikasi itu muncul. Ah, Audy!
"Bisa gila gue lama-lama."
Devon kembali melanjutkan acaranya memotong bawang bombai yang masih setengah jalan. Tangannya sangat lincah dalam menggunakan pisau, menari dengan gemulai di atas talenan, memutilasi cabai dan teman-temannya. Tak butuh waktu lama, semua bahan tercincang rapi dan siap dimasak.
"Satu, dua, tiga, empat ...."
Irisan-irisan bahan di tangannya ini mengingatkan Devon akan sesuatu. Dari ujung lubuk hatinya yang paling dalam, ada sedikit rasa tidak percaya dan sanggahan tentang identitas Audy. Menilik ulang di postingan-postingan terlama yang Audy unggah, memang ada beberapa kemungkinan dan menampilkan ciri khas anak baru lulus sekolah yang bertransisi menjadi seorang mahasiswa.
T-tapi, kan—
Argh, tiba-tiba Devon merasa tua.
"Gue sekarang 24 tahun. Masuk program magister tahun lalu, 23 tahun. Lulus S1 umur 22 tahun." Tangan Devon aktif menumis bumbu, telur, sosis, dan antek-antek lainya selagi dirinya juga menghitung mundur dan menerka. "S1 ditempuh 4 tahun berarti 22 dikurang 4. 18, kan?"
Devon manggut-manggut. "Iya, 18."
"Iyi, dilipin bilis." Levin berkacak pinggang di dekat pintu masuk penghubung antara dapur dan ruang tengah. "Apanya yang 18?"
Levin menutup mulutnya kaget sembari memelototkan mata. Pandangannya beralih menelusur ke bawah lalu kembali menatap Devon secara cepat.
Devon menganga dengan tingkah buluk Levin dan keberadaannya yang tiba-tiba muncul. Tak ingin ambil pusing, ia melemparkan sebongkah bawang bombai yang masih utuh kepada Levin.
Jdag. Nice shot!
"Anjing! Sakit, bego!" umpat Levin.
"Najis! Muka lo minta ditempeleng!" Devon meneguk air putih yang ada di dekatnya. "Untung aja enggak gue siram pake ini," pamer Devon.
"Ya, lo? Kebiasaan banget. Nanya sendiri, dijawab sendiri. Kelihatan banget ngenesnya hahaha."
"Berisik! Ngaca sana!"
"Jiah, kalah omong, bung?" Levin mendudukkan diri di depan meja bar dapur apartemen Devon.
"Sekali pun gue ngaca, gue jauh lebih baik dari lo. Tinggal duduk di bar, beli minum, terus ongkang-ongkang kaki, tinggal tunggu 5 menit ...," jeda Levin. Mulut Levin mengecup jemarinya layaknya seorang kepala chef yang baru saja menemukan resep masakan baru. "Voila. Pasti ada satu dari sekian banyak cewek yang ada di bar itu bikin antrian buat ngangetin ranjang gue malam itu juga."
Devon memasang senyum lebar dengan tangan terangkat haru menyentuh dadanya. "Selamat ya!"
Sepersekian detik setelahnya Devon mengubah ekspresinya menjadi datar kembali. "Lo mau gue bilang itu, kan? Najis banget! Apa yang perlu dibanggain dari itu semua? Rupa-rupanya lo bangga banget bisa bercocok tanam sana sini."
Levin membusungkan dadanya. "Bangga dong. Kalau enggak sekarang, mau kapan lagi? Hidup terlalu singkat buat ngelakuin hal-hal datar kayak lo."
Devon menampik tangan Levin sesaat pria itu ingin meraih satu cookies chips yang masih hangat di atas meja. "Enggak ada! Enggak boleh!"
Levin berdecak, "Pelit banget!"
"Lo dateng-dateng enggak pakai salam, enggak pakai permisi, nyelonong bikin orang darah tinggi aja. Ngapain lo malem-malem ke sini?"
"Numpang makan!"
Devon melirik Levin sekilas sebelum melanjutkan demo memasaknya. "Siapa yang ngundang lo ke sini? Enggak ada, kan? Sana pulang."
Devon berbalik seraya menjentikkan jarinya. "Kalau enggak gitu mending lo ke bar, minta bikinin makanan sama 'cewek' yang bakalan mau ngangetin ranjang lo itu."
Levin melempar kembali sebongkah bawang bombai tadi ke arah Devon.
Jdugh!
Tepat sasaran. Devon sedikit terperanjat kaget saat bawang itu mengenai punggungnya. Sepertinya Devon harus mengganti pin password apartemennya, mengingat semua saudaranya sama usilnya seperti si b*****t Levin.
"Hahaha, enggak ada salahnya buatin makanan buat saudara sendiri, kan?"
Ingin rasanya Devon melempar sudip yang dipegangnya ke kepala Levin. "Enggak salah, sih, tapi gue lagi pengen jadi orang jahat yang mau lihat saudaranya sendiri mati kelaparan, sih, Vin."
"HAHAHA. Lucu banget lawakannya." Levin meledek Devon dari tempatnya. "Udah buruan cepetan masaknya! Gue udah laper banget."
"Timpuk tidak, ya?" batin Devon.
"Berisik! Bisa diem enggak, lo?" Kata batin dan kalimat yang keluar dari mulut Devon tidak beda jauh. Intinya ia sedang tidak ingi diganggu untuk saat ini.
"Hmm."
Sepuluh menit berikutnya hanya ada suara detikan jam yang tengah bergerak dan dentingan sudip yang beradu dengan wajan. Asap dari nasi mentega yang Devon buat perlahan mulai membumbung menampilkan auranya.
Kruk! Kruk! Kruk.
Hingga satu bunyi perut Levin yang kurang merdu merusak semua ekspektasi yang tengah dibangun.
Levin menampilkan cengiran minta ditabok khasnya saat Devon berbalik badan seraya meliriknya sekilas. "Hhehe. Laper, Dev."
Drrt!
Satu deringan pendek dari ponsel Devon menyala seiring dengan tangan Devon mematikan kompor. Secercah ekspektasi memenuhi pikiran Devon.
Ya Tuhan! Tolong bantu Devon menemukan orang yang membutuhkan satu porsi makan malam saat ini juga. Devon benar-benar ingin menjalankan niatnya untuk membiarkan Levin mati kelaparan.
Belum sampai semenit dari bunyi yang bersumber dari ponsel Devon, si t***l Levin sudah mengambil alih ponselnya. Oh, jangan lupakan wajah tak berdosa Levin yang ingin sekali Devon tabok menggunakan sudip.
"Lev, kamu udah makan malem apa belum? Makan bareng yuk sekalian bahas kerjaan." Levin mengubah suaranya menjadi mirip perempuan saat membacakan pesan yang baru saja masuk di ponsel Devon.
Tangan Levin menari-nari manja di atas keypad ponsel Devon seolah sedang mengetikkan suatu balasan di sana. "Ayo dengan senang hati, Ratuku."
"Berani lo kirim itu, detik berikutnya gue bakal telepon nyokap Lo buat sediain peti mati besok," ancam Devon.
Satu hal yang Devon tahu tanpa harus melihat notifikasi ponselnya. Yang jelas ekspektasinya akan balasan Audy lenyap tak berbekas. Rasanya dugaan akan pesannya menyangkut dalam message request semakin nyata terjadi.
"Mm takut." Levin mengubah ekspresi wajahnya menyerupai Lily saat melihat jarum suntik. "Takut banget lo? Kalau beneran gue kirim gimana?"
Devon menjalankan telunjuknya ke arah leher seperti sedang membelah selayaknya ibarat pisau yang nyata.
"Gebet aja kali, Dev. Clara juga masih pantes digandeng buat ke kondangan." Tangan Levin bergerak menilai. "Not bad, lah."
Devon hanya diam mendengar semua prediksi Levin dan Levin yang tidak tahu diri itu masih terus menyambung seakan masih banyak penilaian lain dari Clara yang wajib dibahas.
"Lo tahu sendiri, kan, kalau Clara itu janda?" bisik Levin, "ya meski masih muda, enggak jauh bedalah sama usia lo. Sikat aja, Dev. Janda kan ... mm udah berpengalaman. Gue yakin lo bakal ditreat abis-abisan. Percaya, deh, sama gue."
"Bacot lo, Vin!"
Levin mengibaskan tangannya. "Cih, dibilangin enggak percaya. Punya lo beneran 18, kan?"
Lagi-lagi Levin kembali mengungkit kesalahpahaman yang didengarnya tadi. "Bisalah kalau emang mau dibandingin sama mantan suaminya dulu. Pasti menang lo, Dev. Gue jamin seratus—"
"Berisik! Kayaknya abis ini gue mesti telepon Cia buat tanya rekomendasi micellar water yang bagus buat lo minum! Biar otak lo agak bersihan dikit, Vin!"
Bukan hanya Levin yang melongo kaget, Devon juga kaget. Entah kekuatan dari mana hingga dirinya bisa mengatakan kalimat sepanjang itu di luar masalah pekerjaan dan kampus. []