BAB 20| Clara Lagi (?)

1678 Kata
Sejatinya, perempuan adalah makhluk paling aneh dan unik di satu waktu yang bersamaan. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Sialan! Devon menelan umpatannya dalam hati. Makan siang bukanlah kesukaannya. Clara adalah orang paling Devon hindari kecuali menyangkut masalah pekerjaan.  Kini? Nasib Devon siang ini? Tidak dapat dikatakan baik ..., bahkan jauh dari kata baik. Makan siang bersama Clara menjadi daftar terakhir hal yang Devon inginkan. Ini semua berawal dari dirinya yang membanting setir menuju kantor saat notifikasi dari dosen yang bertugas untuk mengajarnya berhalangan hadir dan mengalihkan menjadi pembelajaran daring nanti malam. Andai saja~ Andai saja Devon tidak mengarahkan kemudinya menuju kantor. Andai saja Devon memilih untuk mengunjungi outlet 48n lain. Andai saja Devon memilih mengganggu Brandon. Andai saja! Semua itu hanya andai dan Devon tidak bisa mengulang pilihannya. Jika Levin hanya menggertaknya saat notifikasi pesan masuk dari Clara muncul, maka Tito berlaku sebaliknya. Manusia bodoh satu itu dengan seenak jidatnya mengiyakan ajakan bertemu Clara untuk membahas sudah sampai mana progress pekerjaan yang berkedok makan siang. "Kalau lo mau kerjaan lo cepet selesai, ya lo harus sering-sering ngecek progress, Panjul. Diem mulu ya stuck terus." Itu adalah sepenggal alasan yang Tito berikan pagi tadi sebelum akhirnya Devon harus terdampar di sini. Lalu kalimat pendukung 'coba aja dulu aja, sih' dari Levin semakin memperkuat alasan Devon tidak bisa menolak ajakan Clara. "Mau pesen apa, Dev?" Sentuhan seringan sutra yang mendarat di tangan Devon membuyarkan semua lamunan yang mengendap di pikirannya. "Hmm?" Khas sekali bahwa raga Devon ada di sini, namun pikirannya tengah berkelana ke mana-mana. Devon menggaruk ujung hidungnya yang berkeringat sembari menunggu pengulangan pertanyaan dari Clara. "Kamu mau pesen apa?" ulang Clara. Tidak ada nada jengkel atau pun geraman penuh penekanan yang terselip di sana. Devon berdeham untuk menetralkan batu besar yang tiba-tiba menyusupi tenggorokannya. "Mm ... samain kayak punya kamu juga boleh." Bukan seperti itu. Bukan maksud Devon menunjukkan rasa tidak tertariknya dengan Clara secara terang-terangan. Dari dalam lubuk hati Devon yang paling dalam, ia benar-benar tidak berniat untuk makan siang jika tidak ingin dan ... siang ini akan menjadi siang-siang seperti biasanya di mana Devon sedang tidak menginginkan makan siang. "Oh okay. Makanan kesukaan kamu apa?" 'Makanan kesukaan kamu apa?' pertanyaan itu terngiang selama beberapa detik di kepala Devon. "Makanan kesukaan gue apa? Sespesifik itu pertanyaan yang kudu gue jawab? Gue aja enggak tahu makanan kesukaan gue apa," batin Devon. Devon tersenyum kikuk seraya mengangkat bahunya. Tak ayal tingkah Devon itu membuat Clara tertawa lebar. "Jangan bilang kamu enggak tahu makanan kesukaan kamu." Devon menghindari kontak mata dengan Clara, senyuman kikuk lagi-lagi menghiasi bibir Devon. "Emangnya ketebak banget, ya?" tanya Devon ke dirinya sendiri, "cih, malu-maluin banget, sih, Dev." "Astaga, Dev ... Dev. Kamu tuh lucu banget, ya, Dev." Clara melirik buku menu yang ada di hadapannya, membolak-balik menu itu seperlunya, mencari pilihan makan terbaik yang kiranya bisa memikat hati Devon. "Mau makanan yang digoreng apa makanan berkuah?" tawar Clara. "Berkuah, boleh." Clara mengangguk. "Kamu suka pedes, enggak?" "Mm ... suka. Selagi pedesnya masih nikmat, aku suka."  "Hahaha." Tawa Clara terdengar membahana setelah mendengar jawaban Devon barusan. Devon mengernyitkan dahinya. "Apa aku salah bicara?" "No." Clara bersusah payah menghentikan tawanya. "Kamu tuh lama-lama ngegemesin ya, Dev, kayak Lily. Masa ada pedes nikmat sama pedes yang enggak nikmat, sih? Ada-ada aja, deh, Dev ... Dev." "Ooo." Tidak ada yang bisa Devon lakukan selain mengiyakan apapun yang Clara bicarakan. Ia sendiri tidak habis pikir mengapa seorang wanita bisa serandom itu dalam membahas sesuatu.  Perlu digarisbawahi bukan hanya Clara, namun juga Cia; Shannon; Sarah; Disa; dan saudara-saudara perempuannya yang lain. Oh jangan lupakan, mamanya juga termasuk dalam golongan itu. Contoh kecilnya saja yang masih Devon ingat hingga saat ini, mamanya selalu meributkan soal uang tunai. Pergi ke manapun, Devon selaku diingatkan untuk membawa uang tunai. Alasannya untuk jaga-jaga kalau ada masalah genting dan mamanya itu selalu mengecek dompet Devon untuk memastikan ada uang tunai di dalam sana saat mereka bertemu.  Contoh lain, Lily. Si kecil satu itu selalu ingin membawa tas ke manapun dia pergi. Padahal isi di dalamnya sama sekali tidak ada yang penting. Hei, apa gunanya slime dan kinderjoy? Devon masih memikirkan apa fungsi kedua benda itu. Lain Lily, lain Cia. Belum ada seminggu terhitung dari Cia teler lalu mabuk karena ikut ajakan Levin di apartemen Devon waktu itu. Pagi itu Cia malah mempermasalahkan roti gandum yang Devon sajikan dengan peanut butter. Gadis remaja yang cengeng itu menginginkan krim keju yang tidak ada wujudnya sama sekali di apartemen Devon. Kini Clara mempermasalahkan wujud rasa pedas? Ya Tuhan tolong beri Devon kekuatan untuk tetap sabar menghadapi makhlukmu yang berjenis kelamin perempuan. Mengapa wanita bisa serandom itu? Devon sangat berharap siapapun wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti, tidak akan meributkan satu hal yang sepele seperti ini. "Gimana kalau beef curry?" tanya Clara setelah berkutat menatap buku menu selama beberapa menit. "Boleh." Devon mengiyakan tanpa pikir panjang. Tidak ada yang salah makan kari di siang bolong seperti ini. Clara manggut-manggut dengan seulas senyuman yang menghiasi bibirnya. Tangannya dengan lincah memencet layar kecil yang menancap di ujung meja untuk memesan. "Minumnya?" "Ice coffe." Kening Clara berkerut dalam disusul dengan mulutnya yang mengerucut bingung. "Ice coffe?" Devon mengangguk. "Really?" Cia bertanya untuk memastikan Devon tidak salah sebut. "Ya." Devon tetap mantap dengan pilihannya. Ice coffe dan Devon sudah bersahabat sejak dulu. Apapun makanannya, ice coffe tetap menjadi idaman tersendiri menempati satu sudut ruang dalam hati Devon.  "Kamu seriusan mau makan beef curry sama ice coffe?" Devon memiringkan kepalanya dengan dibarengi mata yang tiba-tiba menyipit dengan sendirinya. "Kenapa, enggak?" "Jangan bilang kalau Clara mau komentar soal kopi," tebak Devon dalam hati. Clara tak kunjung mengalihkan pandangannya, malah semakin menatap Devon dalam. Menyelami seluk beluk kehidupan di belakang manik mata berwarna gelap pekat itu. "Kamu enggak mau coba jus, teh, s**u, atau lemon gitu? Kenapa harus pilih kopi? Ini masih terlalu siang buat minum kopi, Dev." Tepat sekali! Baru tadi Devon kepikiran tentang makhluk bernama perempuan dan segala keribetan yang mengikutinya, kini Clara benar-benar membuktikan itu. Devon mengedikkan bahunya. "Enggak ada salahnya minum kopi waktu siang." Jangan terlalu mengurusi hidup pribadi masing-masing orang. Apalagi frekuensi mereka bertemu masih bisa dikatakan baru, terlebih first impression saat awal bertemu juga tak terlalu baik. Devon bahkan langsung lupa jika Clara tidak mengingatkan saat awal menjalin hubungan kerja dulu. "Okay." Terlihat dengan jelas Clara enggan sekali untuk memencet pesanan yang dipesan Devon. "Maaf." Devon bisa menyadari dengan jelas adanya perubahan raut muka dari wanita di depannya ini. Hei! Devon tidak bermaksud seperti itu. Tolong mengertilah.  "Jadi kamu penyuka kopi?" Clara mengubah posisi tangannya menjadi bertopang dagu. Oh, tidak! Jangan sekarang. Devon benci momen seperti ini. Ini terlalu intim untuk Devon dan Clara yang dekat hanya sebatas rekan kerja.  Devon menggerakkan tangannya mempertunjukkan kadar kesukaannya dengan kopi. "Enggak terlalu, enggak sampai yang addict banget." "Terus-terus? Kamu biasanya suka kopi apa?" Devon menghela napas panjang, sepertinya hari ini akan terasa panjang. Perempuan dan segala keribetannya. "Ini bisa enggak, sih, enggak harus bahas kopi juga, kan?" "Hmm." Clara masih menanti jawaban Devon, mengunci pandangannya ke dalam netra Devon. Ya Tuhan, tolong selamatkan jiwa Devon. Bukankah lebih baik mulai membahas pekerjaan ketimbang menanyakan hal-hal pribadi masing-masing? Lebih efisien waktu. Alasan lainnya, sebab Devon sedang tidak ingin mengulik apapun tentangnya bersama dengan orang lain hari ini. "Kamu suka kopi apa, Dev?" ulang Clara saat Devon tetap bungkam. "Americano." Singkat, padat, dan jelas, khas Devon sekali. Clara melongo sedikit terkejut setelah mendengar jawaban Devon. Devon tebak berbagai macam pertanyaan baru pasti telah muncul di otak mungilnya itu. "Tapi aku enggak minum americano tiap saat, masih sayang lambung. Paling cuma iced coffe sama mocha doang." "I see." Clara menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia paham. "Aku lebih suka latte." "Enggak ada yang nanya, Siti," ringis Devon dalam hati. "Terus-terus?" Devon mengangkat satu alisnya, wajahnya menunjukkan penuh kebingungan akan pertanyaan 'terus?' yang Clara ajukan. "M-maksudnya ... mm terus makanan kesukaan kamu? Kamu lebih suka yang berkuah daripada makanan yang digoreng?" Clara terlihat memikirkan sesuatu. "Oh satu lagi, kamu juga seneng makan makanan pedas?" "Ha?" teriak Devon dalam hati. Devon semakin tidak habis pikir dengan yang Clara tanyakan barusan. Mengapa wanita di depannya ini sangat gencar sekali menanyakan hal-hal di luar prediksi Devon? Untuk apa? Bahkan Clara mengingat dengan jelas hal-hal yang mungkin Devon lewatkan begitu saja. Devon menggeleng. "Sesuai mood aja, enggak pasti." Devon berdeham untuk menetralkan nada bicaranya sebelum melancarkan niat untuk mengalihkan pembicaraan. "Bisa mulai bahas kerjaan sekarang?" "Gimana kalau habis selesai makan nanti aja?" Clara mengalihkan pertanyaan Devon dengan meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Lagi-lagi, Devon menemui motto hidup 'suka-suka gue' dalam diri Clara. Persis sama seperti perempuan-perempuan yang sering Devo temui di kehidupannya. Untuk membunuh waktu menunggu makanan tersaji, Devon memilih memainkan ponselnya. Bukan Devon dulu yang mengawali, lawan bicara di depannyalah yang memulai. Jadi jangan salahkan Devon. Masih sama, alasan Devon membuka ponsel adalah notifikasi Audy dan siang ini sama sekali tidak ada pembaruan di sana. Sekitar beberapa menit saat fokus Devon sudah mulai tenggelam dalam ponselnya, tiba-tiba secercah blitz menyinari mukanya. Oh Tuhan, jangan lagi. "Mm sorry flashnya kepencet, hehe." Clara memperlihatkan isi ponselnya. Flash? Kalau benar flash, tidak mungkin kan hanya sekejap terus mati? Yakin bukan blitz kamera belakang? Astaga, kapan makan siang ini akan berakhir? Devon mengangguk. "It's okay." Entah mengapa rasa ingin meninggalkan restoran ini membumbung semakin kuat di diri Devon. Clara tidak sedang memata-matainya, kan? "Permisi." Tak lama dari ketegangan di antara Devon dan Clara yang belum mereda, salah satu pelayan datang membawa pesanan mereka. Satu mangkuk beef curry, sepiring chicken katsu, satu porsi pancake, mojito, dan es kopi mendarat mulus di atas meja. "Selamat menikmati makan siang anda. Permisi." Tangan Devon yang ingin menyeret makanannya mendekat langsung terhenti seketika itu juga, saat kilatan blitz dari Clara kembali mengagetkannya lagi. Sudah jelas itu blitz kamera belakang, bukan sekadar flash yang secara tidak sengaja terpencet. Ya Tuhan. Cobaan apalagi ini? Buat bahan snapgram, huh? Mengapa semua perempuan selalu seribet ini? Makan siang kali ini juga tidak layak dicocok disebut dengan membahas pekerjaan. Selain tidak ada formal-formalnya sama sekali, ini lebih terlihat makan siang bersama seorang teman daripada rekan kerja. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN