BAB 21| It's Audy

1354 Kata
Roll depan juga bisa terjadi secara tidak sengaja. Seperti nasibmu yang sedang dipermainkan oleh takdir, misalnya. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Sebuah boomerang yang menampilkan sebuah kaki bersepatu putih yang sedang berjalan di jalanan berpaving menjadi sebuah clue lain bagi Devon. Mata Devon membelalak lebar saat mengetahui lokasi yang tertag dalam snapgram itu yaitu Universitas Srada. Mata dan tangannya bersinergi memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat. "Demi apa dia anak Srada?" Devon mengucek matanya, pikirannya melalangbuana menelusuri alam bawah sadarnya untuk menggali sebuah memori. Devon tidak begitu asing dengan jalan paving itu, mayoritas jalanan Universitas Srada bentuk pavingnya mirip seperti itu. "Astaga." Devon mengatupkan bibirnya, tak percaya lalu menempelkan tangannya ke kening untuk menyugar rambut ke belakang. "Serius?" Tertampar dua kabar baik dan kabar buruk secara bersamaan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Senang karena mengetahui bahwa Audy yang belum pernah ia ketahui wujud aslinya berada tidak jauh dari jangkauannya dan sedih karena mengapa dirinya baru mengetahui kabar ini sekarang. "Jadi Audy mahasiswa baru Universitas Srada? Tahun ini? Great." Devon memutar-mutar pulpen yang ada di tangannya. "Kira-kira dia jurusan apa, ya?" Pikiran Devon langsung berkelana memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain itu atau bahkan bisa jadi sebenarnya Audy benar-benar sedekat itu dengannya. Lantas, sialnya Devon yang tak pernah menyadari itu semua. Devon mahasiswa pascasarjana Universitas Srada. Audy mahasiswa jenjang sarjana Universitas Srada. Namun, mereka belum pernah bertemu di jarak yang sedekat itu. Devon tidak tahu bagaimana cara kerja takdir dalam hidupnya, namun Devon wajib bersyukur atas semua ini. Ia berharap takdir tidak lagi ingin bermain-main dengannya. Devon meraih secangkir kopi lalu menggenggamnya. Hangat. Cangkir yang ada di genggaman Devon terasa hangat suam-suam kuku layaknya seulas senyum hangat yang terukir di bibir Devon. "Heleh suam-suam kuku? Lo mah pantesnya hangat-hangat tai ayam, Dev. Heran aja gitu belum pernah ketemu tapi bisa sesuka itu sama orang. Najis!" Sebongkah umpatan dari dalam diri Devon kembali menjadi peringatan. Kepulan asap kopi yang mengepul bersahut-sahutan berlomba masuk dengan sopan ke dalam indra penciumannya. Bukan apa-apa atau gimana-gimana, Devon hanya ingin ... setidaknya mengapresiasi Audy yang berhasil menyebarkan positive vibes lewat media sosialnya. Lagi pula, ini terhitung belum sampai satu bulan Devon menemukan akun Audy. Menurut teori psikologi, butuh waktu setidaknya lebih dari 4 bulan untuk mengetahui kadar cinta yang dimiliki. Jika kurang dari itu, maka Devon dinyatakan hanya sebatas kagum saja. Hari ini belum ada satu bulan dan Devon yakin bahwa dirinya hanya mengagumi perangai Audy. "Halah, bilang aja lo tertarik apa susahnya, sih, Dev." Otak Devon kembali bergejolak mengeluarkan unek-uneknya lagi. "Iya, gue akui gue tertarik. Bukan dari penampilannya, tapi personalitynya." Devon menyandarkan punggung di kursi kebesarannya. "Dia cantik sesuai dirinya sendiri, di mana semua orang di dunia maya yang toxic; penuh bualan; dan pamer segala yang mereka punya ... gadis ini beda dari semua orang itu." Devon menyesap kopinya perlahan. "Orang ini suci dari segala kepalsuan." Nyatanya hanya dengan melihat snapgram yang baru Audy unggah beberapa menit yang lalu, pikiran Devon yang awalnya kusut karena memikirkan hal lain, tiba-tiba bisa jernih seketika itu juga. Damage yang Audy bawa terlalu kuat. Drtt! Devon melirik sekilas notifikasi dari ponselnya. __________ Brandon |Enggak bisa, lo nyusup aja di naungan tante Agatha [07:56 pm] __________ Devon menelungkupkan kepalanya di atas meja. Belum sempat Devon keluar dari satu masalah, dia kembali mendapati satu masalah lain. Salah satu matakuliah yang diambilnya mengharuskan Devon untuk memproses magang ... sekaligus untuk bahan thesis, katanya. Alih-alih tertarik, Devon malah merasa malas. Tidak ada niat sekecil apapun untuk membahas thesis di semester ini. Yang penting  baginya adalah lulus di waktu yang tepat, bukan lulus tepat waktu. Drtt! Devon terperanjat sesaat. Ikon profile picture Cia melambai-lambai meminta Devon untuk segera mengangkatnya. "Hal---" "BANG DEVOOON." Devon menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Pekikan Cia membuat telinga Devon sedikit berdengung. "Kenapa?" "Hari minggu akhir bulan pas kumpul di rumah Eyang, bantuin Cia bikin konten, ya. Nanti ceritanya Cia mau bikin 'doing my brother's make up'." Azsxdcfvgbhnjmkl. Cia lebih terdengar seperti ngerap. Tidak ada jeda, titik, dan koma. "Ogah. Ajak Dio aja." Devon hanya mendengar kata konten terselip dalam permintaan Cia barusan dan dia sangat menghindari hal itu. Dari semua anggota keluarganya yang memiliki jutaan pengikut di i********:, hanya Cia yang berani terjun menjadi seorang influencer. Pip. "Oh jadi gini rasanya, matiin sambungan telepon secara sepihak." Devon menggelengkan kepalanya. "t***l banget, sih, Dev." Terlepas dari telepon Cia barusan, Devon harus kembali memikirkan bagaimana nasib magangnya nanti. "Kenapa lo enggak pakai 48n aja buat diajuin sebagai perusahaan tempat lo magang?" Pertanyaan Brandon siang tadi masih terngiang layaknya kaset rusak di dalam kepala Devon. Semua akan mudah jika Devon memilih itu, tanpa perlu menerima adanya penolakan. Namun satu sisi yang lain, itu akan sangat kentara dan identitasnya mudah untuk diketahui orang. "Itu mah lo-nya aja yang seneng mempersulit diri," sanggah batinnya. "Enggak ada cara lain." Devon mengedikkan bahunya. "Mau minta tolong Brandon juga enggak bisa." Seolah takdir tahu apa yang diharapkan Devon, yang akhirnya menghalangi Devon untuk melakukan nepotisme lewat Brandon. Tidak munafik, kebanyakan orang memperluas relasi yang pada waktu tertentu pasti akan digunakan untuk melancarkan tujuan yang mendesak. Takdir pun tahu, Devon tidak bisa disamakan dengan tikus maupun hama yang sedang menggerogoti usahanya saat ini. Drtt! Ponsel Devon kembali berbunyi saat Devon tengah menyalakan laptopnya. Bukan ocehan dari Cia ataupun ledekan dari Brandon, apalagi ajakan mabuk dari Levin. Ini notifikasi pembaruan postingan dari Audy. Satu snapgram yang direpost Audy menunjukkan video dirinya sedang roll depan di muka umum, lebih tepatnya di depan lift yang masih tertutup. "Ya ampun lama banget sih lift-nya naik. Kalau kelamaan begini, lama-lama roll depan juga nih, gue." Audy berlagak menyingsingkan lengan bajunya, wajahnya tidak terlalu tampak karena membelakangi kamera. "Emang lo bisa roll depan? Enggak percaya gue," tantang salah satu teman Audy, si pendokumentasi snapgram. "Bisa dong, kayang juga bisa." Tangan Audy membelah segerombol teman-temannya yang berada di depan lift. "Minggir dulu, gih." "Itungin sampai tiga, ya," sambung Audy. Dia mengambil ancang-ancang dan posisi siap untuk melakukan roll depan tanpa alas apapun di depan lift. Satu. Dua. Tiga. Devon dapat melihat dengan jelas di video itu bahwasanya saat hitungan ketiga berakhir disebut, di saat yang bersamaan itu juga pintu lift terbuka. "Astaga, Dy ... Dy." Devon menahan tawanya seraya menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan tingkah Audy. "Bisa-bisanya nih cewek main beginian di depan umum." Masih penasaran dengan jurusan yang Audy ambil, Devon membuka profile i********: Audy. "Kosong." Masih tetap sama seperti yang terakhir kali Devon lihat, hanya bio sederhana yang jenaka terpasang di sana. —i'm your favorite people in internet. —only a tuber is given life. Hanya dua kalimat super aesthetic itu yang terpajang di sana, tidak ada yang lain. "Low profile banget." Di saat orang lain yang mungkin akan membanggakan diri karena telah diterima masuk perguruan tinggi, beda cerita dengan Audy ... atau mungkin Devon yang telat mengikuti Audy? Tidak ada yang tahu jawabannya, namun Audy tetap beda dari kebanyakan orang. Kebanyakan remaja yang baru masuk perguruan tinggi biasanya akan menulis bio sosial media mereka menjadi seperti .... —your future doctor. —your future engineer. —FL Srada'25. Audynya beda dari yang lain dan ini semua membuat Devon benar-benar cluless. Drrt! Notifikasi dari pembaruan postingan Audy lagi-lagi kembali berlomba-lomba memenuhi ponsel Devon. Snapgram kedua. ITU BUKAN AKU KOK, SERIUSAN DEH?✌️ "HAHAHA." Tawa Devon menyeruak pecah melihat unggahan snapgram lain setelahnya. "Ini klarifikasi dari video roll depan itu, ya?" Snapgram ketiga EMANG LAGI GESREK AJA OTAKNYA GEGARA TUGAS OSPEK YANG KURANG AJAR INI BERANAK PINAK. TERIMA KASIH BUAT DIRIKU SENDIRI, MAKASIH UDAH BERTAHAN SAMPAI HARI INI. Devon sudah tidak kaget lagi akan tulisan Audy. Gadis itu masih konsisten untuk spread positive vibes. Jemari Devon bergerak cepat mengetikkan satu balasan di sana. |semangat [08:27 pm] send. Tanpa dihinggapi rasa ketakutan yang berlebih, Devon berani untuk mereply postingan Audy. Ini terjadi sejak balasan pertama yang Devon kirim bernasib mengendap dalam message request Audy, jadi untuk apa takut. Postingan snapgram Audy yang terakhir mengetuk hati Devon. Tidak ingin menghubungi papa atau mamanya mengenai acara magang dadakan, Devon menggerakkan kursornya. Mengetikkan keyword dalam mesin pencarian hingga laman web careers.fundamental.co.id terpampang nyata di layar laptop Devon. Jangan lupa untuk berterima kasih kepada diri sendiri hari ini. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN