Sebenarnya aku adalah orang yang peka, sayang enggak ada objek buat uwu aja.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali."
Lily bersenandung riang dengan lagu yang sama tanpa tahu kelanjutan dari liriknya di samping Devon yang sedang menyusun kentang dan daging bersilang menjadi sebuah sate. Lagu itu sangat cocok menggambarkan kondisi Lily saat ini yang dikelilingi berbagai macam jenis lollipop, kinderjoy dan slime.
"Bukan gitu cara mainnya, Ken. Itu salah." Tangan Lily menekan, menarik, mengulur, dan membejek gumpalan slime di atas lantai, memberi contoh cara bermain slime yang benar ala Lily kepada Ken. "Yang bener itu gini, ya."
Ken yang sedari tadi hanya membulatkan slime di tangannya seperti sedang mengadon bakso akhirnya menggeleng. "Slime fungsinya untuk membersihkan kotoran, Lily. Bukan untuk dimainkan, lebih baik ini kita gunakan untuk membersihkan ponsel Kak Cia."
"Huh?" Cia yang duduk tak jauh dari sana,enyahut saat namanya terseret masuk dalam perdebatan slime antara Ken dan Cia.
Ken mengangkat dagunya. "Lihat aja layar ponselnya."
"Berminyak, ada bumbu balado bekas keripik kentang," sindir Ken, "jorok!"
Devon yang sedari tadi menguping, melihat apa yang Ken tunjuk. Right! Ken benar-benar teliti dengan sekitarnya.
"Bocah kecil, diem ya!" Cia yang kalah omong akibat sindiran Ken, hanya melotot di tempatnya.
"Dasar jorok!"
Ken yang sarkas. Tipikal orang yang cuek dari luar, namun teliti dari dalam. Hanya diam, namun sekalinya bicara bisa langsung mematikan mangsanya.
"KAK CIA JANGAN BERISIK! LILY LAGI MAIN SLIME!"
Pikiran Devon yang dipenuhi kekagumannya akan Ken, langsung ambyar berhamburan seketika itu juga. Lain Ken, lain juga Lily. Lily lebih terlihat monster yang urat malunya entah hilang ke mana, tingkatan kadar kepercayaan diri Lily sangat tinggi. Sampai-sampai entah ia salah atau benar, Lily tetap benar---ingat motto hidup perempuan, suka-suka Lily.
Fani yang agak mengantuk di gendongan Steve yang tak jauh dari tempat Devon duduk, sontak ikut terkejut. Tangisan Fani sepertinya tidak menyetujui pernyataan Lily, Lilylah yang berisik.
"Oops!" Lily menutup mulutnya. "Maaf, Om Steve. Ini salah Kak Cia sama Ken tahu."
See? Belum ada lima menit, bahkan angan-angan Devon akan Lily masih belum lenyap ... seakan-akan Lily membenarkan semua bayangan Devon.
"Cara main slime yang bener tuh begini, Ken." Lily menunjuk-nunjuk slime di lantai yang sudah tidak karuan rupanya. "Satisfying, kan?"
"Hmm iya."
Devon tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa bahwa Ken tak jauh beda dari dirinya. Menarik!
"Udah belum, Dev?" Shannon menyentuh lengan Devon.
"Masih tiga perempatnya." Devon menunjuk nampan yang berisi tusukan-tusukan sate yang tertata rapi di depannya menggunakan dagu.
"Gue bawa sekarang, dilanjut di sana aja." Shannon mengangkat nampan itu pergi, meninggalkan Devon yang hanya duduk tanpa melakukan pekerjaan apapun, kecuali mengawasi para krucil ini jika itu termasuk dalam kategori pekerjaan.
"Aaaa—aa." Teriakan dari Fani membuat semua orang ada di situ serentak menolehkan kepala.
Fani, bayi berusia 8 bulan itu tengah menguletkan badannya ke kanan-kiri di gendongan Steve. Tangan dan pandangan Fani menunjuk ke arah Devon—jika Devon tidak salah tangkap. Meronta-ronta kepada papanya, menandakan bahwa ia mengetahui keberadaan Devon di ruangan ini.
"Kenapa? Fani mau main slime bareng Kak Lily, hum?"
"Aaa—" Rontaan yang Fani lakukan semakin menjadi, dibarengi telapak tangannya yang membuka-menutup ingin mencengkram sesuatu.
"Emang anak kecil begini bisa main slime?" tanya Steve menggunakan nada anak kecil, mengikuti cara bicara Lily seperti biasanya.
Stupid things! Dapat Devon pastikan Fani juga tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh papanya.
"Uuaa!" Teriakan yang disusul dengan isakan khas bayi yang kemauannya tidak dituruti kembali terdengar.
"Utututu, sayang-sayang. Cup cup cup." Steve mengarahkan botol s**u digenggamnya ke mulut Fani.
Mari kita tebak!
Tebakan yang bagus. Seperti bayangan yang ada di kepala Devon persis, Fani menggeleng rayuan botol s**u itu. Bayi itu merengek kian kencang, menggeleng, dan menjambaki rambutnya.
"Sini-sini, jangan nangis baby Fani. Ayo kita main slime."
Lambaian tangan Lily juga berujung penolakan dari Fani. Itulah resahnya jika bayi sudah mengantuk tetapi gagal tertidur. Mereka akan lebih meresahkan lebih dari yang biasanya.
Devon yang sedari tadi sudah tidak tahan melihat orang-orang di sekelilingnya yang kurang peka terhadap Fani, akhirnya bangkit menghampiri Steve.
Tanpa berlama-lama dan hanya merentangkan tangan saja, Fani langsung menyambut uluran tangan Devon dengan sekali toleh saja—tanpa adanya tangisan yang menyertai.
See? Sudah Devon duga dari awal.
Brandon bertepuk tangan di depan pintu penghubung antara dapur dan halaman belakang rumah eyang yang kini sedang ditempati sebagai tempat kumpul akhir bulan. "Tinggal nyari calon nyonya sama bikin baby aja, Dev. Nenangin Fani aja udah jago, lebih dari bapaknya sendiri malah," sindir Brandon.
"Berisik!" Devon menerima uluran botol s**u yang sudah hilang seperempatnya dari tangan Steve dan membawa Fani menuju tempat duduk terakhirnya tadi.
"Utututu baby Fani yang cantik, jangan nangis lagi, ya." Tangan Lily menguyel-uyel pipi Fani dan Fani tetap diam. "Ayo kita main slime."
"Jangan diganggu, Lily! Nanti baby Fani nangis lagi." Ken menjauhkan tangan Lily yang masih sibuk melancarkan aksinya membombardir pipi Fani.
Good girl! Sebuah keajaiban, mengingat Fani yang tadinya rewel karena jam tidurnya terganggu bisa lempeng terhadap godaan Lily yang luar biasa jahil. Setidaknya tidak terdengar isakan tangis yang bersumber dari Fani lagi.
Devon mengusap-usap pelan pipi Fani bekas jajahan Lily tadi. Nyatanya, bayi ini tidak bisa menyembunyikan kantuknya. Hanya dengan elusan Devon dengan sedikit tiupan ringan yang Devon berikan di ubun-ubun Fani, mata Fani sayup-sayup terpejam.
"Lucu," batin Devon.
Bayi adalah makhluk kecil lucu, polos, dan rapuh, kecuali jika mereka sudah bertumbuh menjadi monster—seperti Lily misalnya. Devon tidak bosan memandangi wajah Fani berlama-lama, wajah bayi benar-benar menenangkan.
"AAAA KAK CIAA!"
Devon bisa merasakan sentakan keterkejutan dari tubuh Fani yang menempelinya layaknya induk koala. Lagi-lagi si monster Lily tak henti-hentinya membuat ulah. Sepertinya Devon harus memberitahu Shannon untuk memberi Lily pengertian kepada Lily agar mengurangi hobi berteriak ya yang satu itu.
"JANGAN FOTO LILY DIAM-DIAM, LILY MAU CANTIK!"
Devon mengelus punggung Fani, tangannya yang lain memasukkan moncong botol s**u sebelum Fani melengkungkan bibirnya ke bawah dan berakhir menangis.
"Sst! Berisik Lily, pelankan nada bicaramu, ini bukan hutan." Ken meraup wajah Lily yang tengah adu peototan dengan Cia dari belakang.
"Tahu tuh, jadi mirip Tarzan." Cia memeletkan lidahnya ketika mendapati Ken berada di pihaknya.
"Nyenyenye." Tak ingin kalah, Lily ikut-ikutan menggeol-geolkan bibirnya. "Lily pernah jadi Tarzan cantik, tanya Om Devon aja kalau enggak percaya."
Lily menolehkan kepalanya meminta dukungan. "Iya, kan, Om Dev?"
Devon mengangguk. Lebih cepat mengiyakan semua perkataan Lily, akan lebih baik.
"Tuh kan, bener!"
Terlepas dari perdebatan Cia dan Lily, Levin berjalan ke arah Devon dengan satu tangannya membawa satu potong kentang yang Devon yakini hasil curian dari seberang sana.
"Latihan jadi bapak, huh?" Belum sampai Levin mendudukkan diri di samping Devon, masih dalam radius 3 meter dari tempat Devon duduk sekarang, namun Levin sudah ingin membuat masalah.
Devon mengedikkan bahunya, tangannya masih setia mengusap-usap tubuh Fani yang semakin lama, semakin menempeli Devon. "Mending cosplay jadi bapak-bapak daripada cosplay jadi sapi dongo."
"Hah? Maksudnya?" Levin melahap habis semua potongan kentang yang tersisa di tangannya.
"Lah lo persis kayak hewan memamah biak. Duduk, jangan makan sambil berdiri." Devon menunjuk Levin dengan dagunya. "Table manner."
"Udah abis," bantah Levin yang berbicara saat mulutnya penuh dengan makanan.
Devon menyipitkan matanya tatkala ada semburan yang muncrat ketika Levin berbicara saat mulutnya penuh.
"Biasa aja kali." Levin mengacuhkan omongan Devon dan memilih mengambil duduk di sampingnya, mengamati Fani yang tertidur tenang.
"Jangan pegang. Tangan lo kotor, berminyak." Devon menampik tangan Levin persis 3 cm sebelum mengenai pipi Fani.
"Mm ... gue tahu." Bukannya marah, Levin semakin gencar meledek Devon. "Jadi ini ceritanya lagi latihan menjadi bapak yang baik, hum? Mau latihan buat jadi ayah sambung yang baik, hum?"
Devon menyatukan alisnya melontarkan pertanyaan 'maksud lo?' tanpa berbicara.
"Lo abis date sama Clara, kan? Gue lihat di close friends-nya dia beberapa hari lalu."
Devon mengembuskan napas lelah, malas untuk mengingat kejadian tempo hari yang terus-menerus mengharuskannya menghela napas seharian.
"Kerjaan."
Levin mengelus dagunya, memojokkan Devon dengan ledekan baru. "Masa sih?"
"Terserah."
"KAK CIAA! LILY MAU IKUT!"
Jangan tanya berapa kali dalam beberapa jam terakhir Devon harus memastikan gendang telinganya tetap aman akibat lengkingan teriakan Lily yang menyerang secara mendadak.
"Sst! Jangan berteriak Lily," ingat Levin.
Tak menghiraukan Levin, Lily dan Cia yang entah bagaimana akhirnya bisa akur itu fokus menatap ponsel Cia. Terlihat dua orang beda usia itu, sibuk mencari posisi angle terbaik di depan ponsel.
Devon tidak dapat mendengar jelas apa yang tengah mereka rekam, Devon hanya mendengar 'congratulation' yang cukup keras dari Lily. Janagn lupakan hobi Lily yang gemar berteriak.
"Aaa aku cantik sekali!" Lily berlari tergopoh-gopoh ke depan Devon dan Levin.
"Kenapa?" Levin bertanya saat Lily tak kunjung berhenti menyengir dengan tangannya yang setia memainkan slime. Devon juga merasakan kecurigaan yang Levin rasakan, saat melihat Lily. Pasti ada sesuatu yang ingin dia inginkan, ketika bocah satu itu memilih bersikap manis.
"Mau kiss baby Fani, boleh?" Lily masih setia memamerkan senyumannya.
"No." Devon yakin yang dimaksud Lily mencium Fani adalah lebih dari itu. Bukan mencium, namun malah mengganggu Fani yang baru saja bisa berkelana dalam ruang mimpinya.
Lily masih berusaha menego Devon. "Sedikit doang, paman."
"No."
"Om Depon enggak seru!" Lily berkacak pinggang, berjalan menjauh dari sana.
Namun nahas, Lily yang memang tercipta menjadi perusuh di hidup Devon kembali berulah. Slime yang Lily bawa tadi mendarat tepat di kaki Devon.
"HAHAHAHA."
Lily yang sudah menjauh, Levin yang sedang tertawa terbahak-bahak, dan Devon yang membeku overthinking.
Mampus.
Devon meneguk ludahnya susah payah mengingat kakinya tidak tertutup sempurna setelah terakhir kali ia menggulung celana kain yang ia gunakan hingga lutut. Slime yang Lily lempar, semakin lama semakin turun dan melebar ke bawah.
"s**t," geram Devon dalam hati.
Ia tidak ingin membuat bayangan akan seberapa banyak bulu kakinya yang ikut tercabut gara-gara slime ini semakin tinggi.
Drtt!
Untuk kali ini Devon memilih mengacuhkan notifikasi apapun yang masuk ke dalam ponselnya, bulu kakinya lebih penting. []