BAB 23| Membantu Cia Membolos

1411 Kata
Hanya butuh rasa percaya dan tidak berburuk sangka pada semesta, bahwa semesta tidak seburuk itu mempermainkan takdir. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Drtt! Ponsel Devon meronta-ronta dalam saku celananya meminta untuk dilihat semenjak Devon memasuki area parkir. Devon mengacuhkan deringan itu dan mulai mempercepat langkah kakinya menuju mobil yang ia parkir di pojok ruangan. Memasuki area parkir dengan tergesa dengan kepala celingukan ke kanan-kiri secara berulang untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang mengenalinya. Menghadiri sesi wawancara dengan HRD Fundamental cukup memicu adrenalinnya. "Tunggu dulu, sabar." Devon berusaha berkompromi dengan ponselnya. Bukannya berhenti setelah tidak direspons selama dua kali, deringan itu malah semakin gencar memburu Devon. Getaran di ponselnya juga terasa memaksa selayaknya menyampaikan maksud dari si penelepon di seberang sana. "Ahh." Devon meletakkan berkas yang telah terisi tanda tangan dari HRD Fundamental di samping jok kemudinya. Deringan ponsel yang bersumber dari ponsel yang tak kunjung berhenti, seakan menjadi nada penyambut Devon untuk keluar dari zona nyamannya. "Jadi begini rasanya main halus tanpa bantuan orang dalam." Devon melemaskan jari-jarinya hingga berbunyi 'krak'. Hawa, bau, dan suasana yang berbeda. Devon merasakan suatu kelegaan yang luar biasa enak. Ia merasa seperti memenangkan sebuah lotre setelah sekian lama kalah. Devon melepas maskernya, lalu meraih botol mineral yang teronggok di dekat persneling. Meminum air hingga menyisakan setengah dari isi awal untuk membasahi kerongkongannya. "Ooo jadi gini rasanya berdiri sendiri." Devon menjumput beberapa helai tisu dari kotaknya yang berada di dashboard, peluh seukuran biji jagung sudah mengumpul di dahinya sejak tadi. Ini kali kedua bagi Devon bisa merasa sangat plong ... terhitung dengan setelah mendirikan 48n, 7 tahun yang lalu tentunya. Menyandang nama Anderson dalam namanya, susah-susah gampang. Devon hanya tidak ingin dipandang baik atau disegani banyak borang hanya karena keluarga besarnya. Mengajukan proposal magang di perusahaan mamanya itu tidak gampang, namun tidak sulit juga. Hanya perlu mempersiapkan diri jika ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang menjebak oleh HRD. Selain itu, tinggal diserahkan kepada logika dan nalar untuk menyampaikan dengan baik. Memastikan bahwa orang kantor dan HRD tidak mengetahui bahwa Devon bukan bagian dari keluarga Anderson dengan berpura-pura polos dan mengatakan mungkin hanya kebetulan semata, sangatlah susah. Sekali lagi, Devon tidak suka disegani saat orang-orang mengetahui asal-usul keluarga besarnya. Terlihat dengan jelas banyak penjilat kelas kakap akan melakukan itu semata-mata untuk menarik perhatian. Devon tersenyum puas. Entah mengapa ia yang awalnya tidak menginginkan magang ini, seakan berbelok haluan dan begitu excited untuk segera magang. Drtt! "Astaga, sabar." Devon merogoh saku celananya, karena terlalu senang dengan pencapaiannya hari ini, Devon sampai melupakan ponselnya yang berdering sejak tadi. Itu Cia. Gerangan apa yang membuat Cia meneleponnya sepagi ini? Jam 9 am masih terhitung pagi, kan? "Lama banget sih, angkat teleponnya!" Suara Cia terdengar bersungut-sungut di seberang sana. "Halo, kenapa?" "Jemput Cia di sekolah dong, Bang." Devon menyatukan alisnya tak mengerti apa maksud Cia. Pandangan Devon jatuh pada arlojinya yang menunjukkan pukul 9 lewat sedikit dan ... apa yang Cia katakan tadi? Menjemput? Di sekolah? Apa mungkin anak itu tersandung satu skandal dan tidak berani menghubungi mamanya sehingga menghubungi Devon? Begitu maksudnya? "Maksudnya?" Devon akhirnya buka suara, setelah menerka-nerka kemungkinan yang terjadi pada Cia. Terdengar lenguhan kasar di sambungan telepon. "Jemput Cia di sekolah, Bang Dev." "Kenapa minta jemput jam 9 pagi? Bukannya lo pulang sekolahnya masih nanti sore?" "Udah sih, buruan jemput!" Seolah tidak ingin memberi tahu, Devon malah dibuat semakin penasaran. "Kenapa dulu dong? Gue aduin Tante Maria kalau misal lo bikin ulah di sekolah." "Enggak-enggak. Cia enggak bikin masalah kok, buruan jemput Cia ke sekolah. Cia tunggu di pager belakang." Kening Devon berkerut setelah menemukan satu clue yang nyata. "Mau bolos lo?" "Dih enggak, ya! Udah buruan, sekalian mau ngirim paket, nih. Kalau Bang Devon enggak mau jemput, Cia mau telepon bang Levin aja." Pip. Devon menatap panggilan yang baru diputus secara sepihak dengan skeptis. Apa-apaan lagi ini? Mengirim paket katanya? "Jangan bilang kalau ...." Devon tergopoh-gopoh membuka room chatnya dengan Cia, mengetikkan satu pesan di sana. |otw [09:06 am] delivered. Tanpa ingin pikirannya dipenuhi kerumunan-kerumunan bayangan lagi, Devon langsung tancap gas menuju tempat janjiannya dengan Cia. *** Tin! Devon memencet klakson ketika mendapati Cia berdiri di samping pagar belakang sekolah tanpa mengetahui kehadirannya di seberang jalan. Terlihat dengan jelas raut kekagetan di wajah Cia dan tepukan menyentuh jidatnya. Cklek. "Duh, Bang Dev kudunya enggak usah mencet klakson." Cia sudah mendudukkan diri di samping Devon, namun matanya masih celingukan ke sana-ke mari. "Kenapa emangnya?" Cia menggeleng. "Enggak, bukan apa-apa. Udah buruan jalan." Satu alis Devon ternagkat dengan sendirinya. "Ke mana?" "Tukang paket." Kepala melongok ke belakang seperti sedang mengawasi sesuatu. 'Cepetan jalan, Bang." Devon merasa jika ada yang tidak beres, kini ikut-ikutan menengok ke belakang, mengikuti arah pandang Cia. "Ada apa, sih?" Tangan Cia mendorong kepala Devon. "Enggak ada, cepetan jalan!" "Hmm." Tak ingin meembentuk perdebatan absurd dengan Cia, Devon memiih mengalah dan mulai menstarter mobilnya untuk meninggalkan sekolah. "Syukurlah." Gumaman Cia yang dapat Devon dengar dengan jelas. "Maksudnya?" "Heuh?" Cia menelengkan kepala. "Enggak ada. Emang enggak boleh kalau Cia bersyukur?" "Nanti habis dari tukang paket, Cia mampir ke apartemen Bang Devon sampek sore, ya," sambung Cia. "Bolos?" "Iya, hehe." Cia mengangguk dan menampilkan cengiran terbaiknya. "Orang gurunya cuma ngasih tugas, enggak ada yang ngajar. Jadi ngapain masih di sekolah, mending pulang ke rumah." Devon manggut-manggut. "Ya udah kalau gitu, selesai dari tukang paket. Lo, gue drop ke rumah." "No! Kalau Bang Devon enggak ngebolehin Cia numpang di apartemen hari ini atau nga-du-ke-ma-ma." Cia menekankan setiap ucapannya. "Cia enggak bakal kasih tahu alamat Audy!" Skakmat! Devon memutar otaknya untuk mencari alasan lain. "Emang lo udah bawa, seserahan giveaway-nya?" Cia menepuk dadanya bangga. "Udah dong. Tinggal nyari packing doang." Tangan Cia dnegan cekatan membuka resleting ranselnya, menunjukkan barang-barang yang dimaksud. "Nih, lihat!" "Mau ke sekolah apa mau ke mall?" tanya Devon saat melirik isi ransel sekolah Cia yang 85% dipadati dengan alat make up daripada buku. "Ke sekolah juga perlu cantik." Cia mengibaskan rambutnya asal. "Bang Dev, nanti mampir cari kardus sama pembungkus bentar, ya." Tidak ada jawaban, namun Devon menggerakkan mobilnya menepi ke pinggir jalan. "Loh kok malah berhenti, sih?" "Turun." Devon melepas kuncian seat belt Cia. "Maksudnya?" "Ambilin kardus pack sama pembungkus di bagasi." "Ha?" Nampaknya koneksi otak Cia belum juga bisa menerima perintah dari Devon. "Buruan turun. Ambil kardus pack sama pembungkus di bagasi." Cia turun dari mobil dengan ogah-ogahan, melangkah menuju bagasi belakang mobil seperti yang diperintahkan Devon. "Mana kardusnya?" Devon mengembuskan napas berat. "Itu belum dirakit, Cia. Ambil aja satu sama gulungan wrap di pojokan juga bawa sini." "Gini?" Cia menjinjing barang yang diminta Devon. "Hmm." Tidak ada 5 menit, Cia sudah kembali duduk dalam mobil seperti semula. Devon mengambil barang yang dimintanya dari tangan Cia. Tepat sekali! Sekali dayung, 2-3 pulau terlampaui. Semesta mendukungnya untuk melakukan tes atas packaging barunya—project dengan Clara. Bisa masuk magang perusahaan mama, lewat jalur reguler? Tahu alamat Audy tanpa meminta langsung pada orangnya? Bisa tes ketahanan kardus pack secara sembunyi-sembunyi? Tuhan, betapa beruntungnya Devon hari ini. Tangan Devon dengan cekatan merakit display kardus pack yang diberikan Clara tempo hari sebagai contoh dengan cepat. Cia yang otaknya masih juga berkelana tanpa arah hanya melongo melihat kardus pack Devon yang terlihat cukup simpel namun berkelas. "Damn, bagus banget." Devon tersenyum tipis. "Nice," batinnya. "Mana hadiah giveawaynya? tanya Devon sebagai pengalihan rasa senangnya agar tidak terlalu terlihat oleh mata Cia. "Ini." Cia mulai mengeluarkan semua barang giveaway yang ia bawa, Devon yang bertugas menyusun barang-barang itu secara apik dalam kardus. "Kertas." Devon menengadahkan tangannya di depan Cia. "Hah?" "Buat wish card, jangan bilang lo ke sekolah enggak bawa kertas." "Hehe." Cia menunjukkan cengiran khasnya. "Astaga, gue aduin Tante Maria." "Aduin aja, orang mama juga udah tahu kalau Cia pakai iPad bukan kertas, wlee." Cia memeletkan lidahnya atas kemenangan yang ia peroleh dari ancaman Devon. "Jangan bilang lo juga enggak bawa pulpen?" Cia mengangguk. "Emang iya." Devon membuka laci dashboard mobilnya, berharap notes kecil dan pulpen darurat masih ada di sana dan belum ia pindahkan dari tempat seharusnya. Harapan Devon terkabul, kedua benda itu masih ada di tempatnya. Devon menuliskan sepatah kata penyemangat singkat di atas notes. Torehan penanya terukir cantik menyatu dengan kertas. Devon menempelkan wish card alakadarnya itu di atas langit-langit kardus, lalu menutup kardus pack rapat-rapat dengan wrap pembungkus. "Wah, keren." Cia bertepuk tangan melihat mahakarya Devon dalam bungkus-membungkus. Tidak butuh waktu lama, hadiah giveaway untuk Audy telah rapi terbungkus. "Alamatnya?" Seperti sedang dinobatkan menjadi manusia paling beruntung hari ini, hati Devon menghangat mendengar alamat yang Cia diktekan padanya. One step closer. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN