BAB 24| Permainan yang Bagus

1392 Kata
Hanya waktu yang tahu sudah sampai mana perjalanan yang kita tempuh untuk menemui tujuan. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Hai, guys. Sumpah-sumpah aku mau cerita ke kalian. Kalian masih inget enggak sih hari minggu kemarin ... yang aku menang giveaway dari cia." Audy mengatupkan mulutnya, satu tangannya mengepal di dagu. "SEKARANG UDAH NYAMPEK DONG." Mulut Audy menganga menandakan bahwa dirinya masih syok, antara percaya atau tidak jika ini bukan mimpi. "Nih lihat!" Video yang awalnya menyorot Audy tiba-tiba berbalik menyorot bungkusan cantik yang sudah tidak asing lagi bagi Devon. Rentang sepersekian detik setelahnya, video itu kembali menunjuk wajah cengo Audy. "Demi apa, sih? Gue masih enggak percaya, sumpah." Audy menggeleng-gelengkan kepalanya secara dramatis. "Fix, emak gue bangga punya anak kayak gue." Devon memegang perutnya yang agak keram karena tertawa terpingkal menonton tingkah Audy. Devon sudah melihat video itu lebih dari 3 kali sejak Audy mengunggahnya 2 menit yang lalu, namun tetap saja—ia tetap tertawa. "Udah kali, Bang Dev. Biasa aja lihatnya, diputer terus dari tadi." Cia benar-benar merealisasikan niat awalnya menumpang di apartemen Devon hingga jam pulang sekolahnya berakhir. Devon berdeham, menelan ludahnya susah payah seperti sedang terpergok melakukan suatu tindakan ilegal. "Mm ya ... gimana? Lihat aja, nih. Ekspresi orangnya lucu." Cia manggut-manggut, bingung memilih ingin memakan pizza atau burger terlebih dahulu. Jangan tanya mengapa bisa, Devon lagi yang tekor. Ancaman aduan Cia yang tidak membawa pulpen dan kertas ke sekolah tidak mempan untuk menakuti Cia. Yang ada malah Cia meminta upah untuk tidak membeberkan jika Devonlah alasan Cia membolos hari ini. Yang bolos, siapa? Yang kena imbasnya, siapa? Perempuan dan teorinya 'suka-suka gue'. Kali ini Devon yang menjadi kambing hitam Cia. Junk food dengan posri lumayan banyak adalah penutup mulut yang Cia minta. "Iya, bener banget. Cia juga suka personalitinya Audy. Kalau lihat postingannya dia, mood tuh bawaannya enak gitu. Orangnya moodbooster parah." Nice shot! Setidaknya Cia tidak curiga dengan jawaban Devon dan berkemungkinan Cia tidak akan menanyainya macam-macam jika Devon ketahuan berlama-lama tenggelam ke dunia Audy. Drrt! Hanya butuh 5 menit dari postingan awal Audy yang telah Devon tonton tadi. "UNBOXING TIME!" Teriakan dari video Audy terdengar merdu di telinga Devon. "Sebelah sana mana suaranya?" Video itu menunjukkan Audy tengah memberikan mic khayalan dan satu tangannya yang lain bergaya seolah dirinya menunggu orang lain menyahuti tingkahnya barusan. "Oke, cukup main-mainnya." Audy terlihat menyatukan tangannya, berdoa. "Ya Tuhan, sebenarnya gue tuh nervous banget tahu. Ini baru barang giveawaynya doang yang ketemu sama gue. G-gimana kalau neng Cia yang hadap-hadapan, face to face sama gue? Mampus, mati berdiri gue." "Udah diunboxing, Bang?" tanya Cia tepat setelah durasi video Audy selesai.  Devon melirik Cia sejenak. "Belum, masih ngehaluin kalau nantinya dia ketemu lo." Cia terbahak nyaris tersedak mendengar penuturan Devon. "Impressive, kapan-kapan ingetin gue buat agendain ketemuan sama dia ya, Bang." "Hmm." Ingat lagi teori semakin cepat mengiyakan, semakin cepat selesai. Devon sedang mempraktekkan itu saat ini. Satu bulatan notifikasi pembaruan postingan Audy tertangkap oleh Devon sebelum akhirnya ponselnya berdering. Untuk kali ini mata Devon dapat mengalahkan fitur pengingat ponsel. "Oke, bentar. Lihat, deh!" Audy membandingkan satu buku tebal dan giveaway Cia berdampingan. "Tebelnya aja ngalah-ngalahin buku pengantar ekonomi mikro. Fix, gue mau meninggal." Devon sedikit terkikik mendengar perumpamaan yang Audy utarakan. "Dy ... Dy, bisa aja," batin Devon. "Oke lanjut, ayo kita buat otak gue semakin bobrok ngelihat isinya." Audy mulai menggunting wrap pembungkus kardus dengan brutal. Menarik ujungnya dengan tenaga kuda. Devon dapat melihat dengan jelas, peluh-peluh yang bercucuran di pelipis Audy. "Tunggu dulu, gue capek gegara terlalu excited." Napas Audy nampak ngos-ngosan saat mengatakan itu. "Taraa~" Audy memamerkan kardus yang berhasil dibukanya di depan kamera. Devon sendiri dapat melihat dengan jelas kardus pack itu masih sama kokohnya dengan yang terakhir kali ia lihat tadi. Great! "Udah diunboxing?" Cia menjulurkan kepalanya tinggi-tinggi untuk menjangkau ponsel Devon. Devon mengangguk. "Terus-terus?" "Kardus packnya masih bagus." Devon menunjuk meja dengan dagunya. "Bagi burgernya satu." Cia melemparkan burger yang diminta Devon. "Tangkapan yang bagus." "Easy!" Devon menjentikkan jarinya ketika mendengar pujian dari Cia. "Habis ini Cia nonton drama Korea di TV, ya." "Terserah." Devon meninggalkan Cia di ruang tengah. Pikiran Devon kini hanya terpaku pada satu hal. Sebaik apapun seseorang menyembunyikan bangkai, baunya akan tetap menguar. Entah cepat atau lambat, itu hanya masalah waktu. Satu bukti sudah dapat Devon kantongi saat ini. Devon berbelok ke dapur untuk membuat es kopi. Dirinya butuh kopi untuk membuatnya mampu berpikir jernih saat ini. Hanya campuran kopi dengan takaran yang pas dan es batu. "Mau ke mana, Bang Dev?" Cia menolehkan kepalanya ketika mendapati Devon tidak berbalik ke ruang tengah setelah dari dapur. "Mau lanjut kerja." "Oh oke." Cia mengacungkan jempolnya. "Semangat kerjanya, oppa!" Cklek. Devon menikmati langkahnya dari dapur hingga sampai di depan kursi kebesarannya. Meletakkan es kopi yang ia bawa di atas tatakan seperti biasanya. "Argh." Devon meregangkan tangannya ke atas, beban yang selama ini menumpuk di pundaknya satu per satu mengurai secara perlahan. "Semesta pasti punya penjelasan di balik semua permasalahan. Devon menggeret kursinya untuk diduduki, menempatkan diri di posisi paling nyaman. "Permainan ini akan sedikit menguras tenaga." Tak cukup hanya dengan meregangkan tangan, Devon menarik kepalanya ke kanan-kiri hingga terdengar bunyi 'krak' secara bergantian. Sudah cukup hingga sini saja ketegangan-ketegangan itu menyelimuti Devon, saatnya meluruskan apa yang sudah berjalan sesuai jalurnya masing-masing. Devon membuka laptopnya. "Kita lihat siapa pemenangnya." Jemari Devon bergerak dengan lincah di atas keyboard menciptakan nada yang menenangkan. Tak hanya itu, telunjuknya juga sama lincahnya dalam memainkan mouse. Semua itu terasa apik ketika menyatu, kalau kata Lily 'kan satisfying'. Punggung Devon bersandar ke kursi kerja setelah seperempat jam mengamati kurva dan angka dalam laptop secara nonstop. Hanya butuh waktu dan titik terang akan muncul dengan sendirinya. Seringaian yang sangat jarang terukir manis di bibir Devon, akhirnya muncul. "Tinggal tunggu langkah ini berakhir dan  semuanya akan ... boom." Devon membuka iPadnya, mencari kontak yang sering sekali ia hubungi, dan menyambungkannya menjadi panggilan. Tut .... Devon menatap tulisan yang awalnya 'memanggil' sudah berubah menjadi 'berdering', tinggal menunggu orang di seberang sana menerima panggilannya. "Halo! Lo di mana, Dev?" "Tolong cari tahu udah sampai mana progress produk baru ke divisi produksi." "Di mana lo?" Bukan itu jawaban yang Devon inginkan. "Tolong cari tahu udah sampai mana progress produk baru ke divisi produksi." Devon mengulangi permintaannya. "Sekarang lo di mana? Buruan ke kantor sekarang!" Devon meraup mukanya lelah, berbicara lembut dengan seorang Tito adalah hal yang mustahil. "Please." Devon tahu jelas Tito mendengar permintaannya. Orang bodoh mana yang akan tetap budek saat mendengar 2 kali perkataan yang sama secara berulang? Hanya orang-orang yang sedang berpura-pura menjadi budek saja yang bisa melakukan hal itu. "Produk mana yang lo maksud? Jangan bilang kalau–" "Iya, produk terbaru 48n." Devon dapat mendengar desahan kasar yang samar dari Tito dalam sambungan teleponnya. "Kenapa enggak lo cek sendiri aja? Sekarang lo di mana, sih? Kenapa enggak berangkat ke kantor?" "Please," ulang Devon. Pip. Drtt! Hanya berjarak 2 detik dari sambungan teleponnya dengan Tito dimatikan secara sepihak, iPad Devon menerima panggilan masuk. Bukan dari Tito, namun dari ... mama. Devon menekan tombol received dengan ragu. "DEVON!" Belum ada semenit, rasa ragu Devon langsung terbukti ketika mamanya mengawali telepon dengan berteriak. "Kenapa telepon Mama dari tadi enggak diangkat? Mana ditelepon di nomor yang satunya enggak bisa! Sekarang kamu di mana?" Devon mengernyit. "Kenapa semua orang hobi menanyai 'kamu di mana' hari ini?" "DEVON! KAMU DENGERIN MAMA NGOMONG ENGGAK, SIH?!" "Ehem!" Devon berdeham untuk menetralkan suaranya. "Denger, Ma. Ada apa Mama telepon Devon?" "Kamu magang di tempat Mama? Kenapa enggak bilang-bilang Mama dulu? Kapan kamu applynya? Ini Mama tahu dari Sean. Kenapa kamu harus pilih divisi---" "Ma." Panggilan Devon dengan nada lembut itu menghentikan mamanya yang berbicara cepat tak tentu arah. Doakan saja, semoga Devon tidak termasuk anak durhaka karena menyela mamanya berbicara. "Devon udah dapet tempat bagus, kok. Mama tenang aja, ini cuma magang." "Ya tapi, kan." Ada jeda yang cukup lama dari bantahan Agatha di seberang sana. "Sama aja, Dev." "Ini maunya Devon, Ma. Mama tenang aja, i-ni-cu-ma-ma-gang." Devon menekankan setiap ucapannya. "Cuma 2 bulan doang. Devon sayang Mama, nanti Devon hubungi lagi, ya. Bye, Mama." Pip. Devon mengembuskan napas lelah, menelungkupkan kepalanya di atas meja. Takdir berada di pihaknya hari ini, sayangnya terlalu bahagia membuat kepala Devon agak sedikit sakit. Baru sebentar Devon merebahkan diri, ia bisa merasakan getaran kuat dari iPadnya. "Siapa lagi?" Seulas senyum menghiasi bibir Devon. "Permainan yang bagus." []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN