BAB 25| Kuliah, Magang, Foreign

1390 Kata
Bayangan awal orang saat mengenalmu adalah penentu perlakuannya untuk selanjutnya. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Gue Diva. Salam kenal, ya." Gadis berkuncir kuda itu memicingkan matanya untuk bisa melihat dengan jelas nama yang terukir di name tag yang menggantung di leher lawan bicaranya. "Mm Devon? Oke, salam kenal Devon," bisiknya. Devon mengangguk. Ini adalah 15 menit pertama di hari pertama Devon magang di perusahaan mamanya. Ia sangat optimis tidak ada yang curiga atau bahkan mengenali identitasnya hingga saat ini, menilik 'Diva' berani menyapanya barusan. "Oke, selamat datang teman-teman semua. Sebelumnya, perkenalkan nama saya Sarah. Selamat bergabung di divisi perencanaan." Riuh tepukan pegawai magang memenuhi ruangan. Antusiasme mereka masih membumbung tinggi, Devon tersenyum tipis, mari kita lihat seburuk apa realita menghancurkan ekspektasi mereka. "Lihat aja kalau nanti udah dikasih tugas, pasti ngeluh sama nangis," batin Devon. Bukan meremehkan, tetapi ini kali keduanya Devon menjalani magang di perusahaan—ralat, perusahaan yang berbeda lebih tepatnya. Pengalaman magang pertamanya dulu, senior akan lebih banyak menumpahkan tugas pada anak magang. Entah itu hanya di perusahaan Brandon atau di perusahaan lain juga begitu, Devon tidak tahu. Devon sendiri bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok saat dirinya magang dan mengatur perusahaan. Untuk jawaban lebih jelasnya, hanya Devon dan Tuhan yang tahu. "Saya harap kita semua mampu bekerja sama dengan baik selama 2 bulan ke depan." Ah, divisi perencanaan. Devon tidak begitu fokus mendengarkan sambutan yang Sarah berikan, telinganya hanya menangkap jika ini akan cepat berakhir Dan tugas si hari pertama magang akan segera diberikan. Benar! Dugaan Devon seratus persen benar. Mereka digiring menuju meja panjang yang berhadap-hadapan dan hanya diberi sekat pemisah untuk jarak satu sama lain. Devon menghela napas pasrah. Yang akan menjadi rekan kerjannya selama dua bulan ke depan terpantau absurd. Meja depannya ditempati oleh Ali, seorang anak magang yang sudah berulah di hari pertamanya magang. Di samping kanannya ada seseorang yang tidak Devon ketahui namanya, yang pasti perempuan itu hobi sekali dan tidak dapat lepas dari kaca kesayangannya. Satu lagi, di sebelah kirinya ada Diva yang setia mengintili Devon sejak dari upacara penyambutan tadi. "Devon! Psst ... pstt, Dev." Diva berjinjit untuk berbisik mendekatkan diri sejajar dengan telinga Devon. "Hmm?" "Nanti kalau gue ada yang enggak bisa. Tolong bantuin gue, ya." Devon melayangkan lirikan tak percaya ke arah bisikan halus di belakangnya sebelum menarik kursi yang akan menjadi saksi bisunya magang selama dua bulan ke depan. Diva masih menunggu jawaban Devon, meski wajahnya tetap stay cool dan sangar. Devon bisa melihat ada rasa cemas yang terselubungi ketakutan dalam manik mata cerah itu. "Pesimis sebelum bekerja, hum?" "Dih, enggak ya!" Diva memelototkan matanya tak terima. "Siapa juga yang pesimis? Orang cuma jaga-jaga aja, sekalian nyari relasi." Bibir Devon melengkung segaris. "Hahaha, bercanda." Ia berusaha membangun first impression yang terlihat friendly, mencoba beramah-tamah dengan orang yang baru Devon kenal meski dalam lubuk hatinya terdalam tidak ingin. Bagi Devon untuk apa berpura-pura di depan jika semua orang bisa melihat apa yang akan terjadi di belakang nanti? Biar proses dan waktu yang akan membantunya. Terima kasih untuk realita karena telah mengajarkan Devon banyak hal. Terlebih untuk sesuatu yang bagus tidak akan sepenuhnya atau selamanya akan tetap bagus. "Sstt!" Ali meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Jangan berisik bisa, enggak? Toa banget mulut lo. Nanti gue diomelin senior lagi, mampus banget kalau gue dapet surat peringatan di hari pertama magang, ck." "HAHAHA, anggep aja itu tadi upacara penyambutan  khusus buat lo, Li." Diva melemparkan permen dari saku roknya ke arah Ali. Ali menyambut permen yang teronggok di depan mejanya dengan menaikkan satu sudut alisnya ke atas menandakan dirinya bertanya. "Biar mood lo bagus." Devon mengangguk ringan di tempatnya. Satu orang lagi yang belum ada 1x24 jam Devon kenal, membuatnya terkesan dalam pertemuan pertama. Perlakuan Diva kepada Ali barusan mengingatkan Devon tentang Audy yang juga sama-sama menjadi penyebar positive vibes. Hal sekecil apapun itu terlihat berbeda jikaDevon lihat dari perempuan yang suka menyebarkan positive vibes. Bahkan jika biasanya Devon sering mengeluhkan perempuan yang suka memperhatikan hal-hal sepele, perlahan Devon bisa melihat sesuatu yang berbeda dari masing-masing orang yang berbeda di matanya. "Emang tadi lo diapain, Li? Eh nama lo Ali, kan?" Perempuan bergincu glowing dengan cermin gagang kayu di tangannya itu menyahut. Ali memutarkan matanya. "Enggak usah kepoin urusan orang. Duduk, gih! Kerja atau ngapain gitu, Tas?" Devon yang awalnya tidak ingin terseret masuk dalam perdebatan sengit yang Ali bangun, hanya menajamkan telinganya dan sedikit melirik. "Anastasya Lee? Nama yang indah." Devon benar-benar hanya mendengar dan sedikit melirik. Devon tidak ingin membayangkan bayangan-bayangan buruk yang muncul secara tiba-tiba di kepalanya saat ini, menilik Ali bahkan mengangkat pantatnya untuk sekadar melihat nama yang tercetak di name tag Tasya. "Ehm!" Deheman keras yang sengaja dibuat-buat oleh seorang laki-laki yang Devon tebak usianya memasuki awal tiga puluhan itu membuat semua pasang mata kompak menoleh. "Saya harap kita semua bekerja dengan tangan, bukan dengan mulut!" "Saya Max, penanggungjawab di divisi ini. Saya harap semua yang ada di sini bisa bekerja sama dengan baik dan tepat waktu," jelas Max diiringi dengan bantingan setumpuk jenis map di atas meja. Brak. *** Devon mulai melepas kancing kemejanya setelah ia menutup pintu apartemen. Baru akan melangkah dan mendinginkan kepala, Devon mendengar teriakan familiar yang tak asing lagi di telinganya. "OM DEVON!" Gedoran pintu mengikuti setelahnya. "OM DEVON, BUKA PINTUNYA! LILY MAU MASUK!" Iya itu Lily. Devon melirik sekolah ke arah jam dinding yang terpasang di dinding dapurnya, yang masih terjangkau di pandangan Devon. Mata Devon menyipit. "Hampir setengah 6 sore. Ngapain ke sini?" "OM DEPON!" Gedoran dan teriakan samar dari luar sana semakin mengencang menandakan orang yang ingin bertamu sudah tidak sabaran. Cklek. Lily yang berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya adalah pemandangan pertama yang Devon lihat saat pintu dibuka. Bocah kecil satu ini merentangkan tangannya ke arah Devon. Devon menggeleng. Tubuhnya penuh dengan peluh, badannya sangat basah, Devon saja sudah risih dan ingin cepat mandi. "Tolong ya, Lily. Jangan nambahin cobaan," batin Devon. "AAA." Lily merengek dalam gendongan Brandon, mengacungkan rentangan tangannya semakin mendekat ke Devon memintanya untuk menyambut. "Hmm." Devon mengembuskan napas lelah. Semua perempuan selalu membuatnya tak habis pikir akan segala tingkah yang mereka lakukan. Tak hanya yang sudah dewasa saja, yang masih kecil juga sama saja. Tanpa mempersilakan tamunya untuk masuk, Devon membawa Lily masuk ke dalam apartmentnya. "Argh, lengket. Pengen mandi!" teriak Devon dalam hati. Merasa ada yang aneh, Devon menoleh ke belakang—Brandon dan Shannon. Devon menaikkan satu alisnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. "Titip Lily ya, Dev. Kita mau ke kondangan." Netra Shannon beralih menatap Lily. "Lily jangan nakal, ya." "Iya, Mama. Lily ikut Om Devon yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung ini, Lily janji akan nakal!" "Lily." Shannon memperingatkan Lily dengan intonasi yang agak menekan. Lily tertawa seraya menutup mulutnya. "Sike, whoopsie." "Ya udah kalau gitu, gue berangkat sekarang, Dev," pamit Brandon. Satu paperbag berwarna coklat ikut ditinggalkan di dekat pintu sebelum pintu ditutup dari luar. Lily merosot dari gendongan Devon mendapati papanya meninggalkan paperbag yang sedari tadi menjadi incarannya digeletakkan begitu saja di sana. "Cookies!" Lily kegirangan saat memeluk paperbag itu. Langkahnya yang kecil berjalan melewari Devon dan mendudukkan diri di sofa ruang tengah. "Berada rumah sendiri ya, Ly," batin Devon. Dunia Lily yang tadinya dipenuhi rengekan, kini akhirnya teralihkan ke paperbag yang dipenuhi cookies. Devon mengangguk, ini saatnya meninggalkan Lily untuk mandi. "Om Devon mau ke mana?" Belum ada 5 menit dari Devon memiliki noat untuk meninggalkan Lily, nampaknya bocah satu itu sudah mengetahui niatnya. "Mm ... mandi." Lily merosot dari sofa, tangan Lily tetap menggenggam erat cookiesnya. "Ikut!" Devon menggendong Lily, bukan untuk diajak menungguinya mandi melainkan dikembalikan ke tempat awal Lily sebelum beranjak tadi. "Lily nunggu Om Devon di sini aja, ya." Lily mengeratkan rangkulannya di leher Devon, salah satu upayanya untuk melancarakan aksi tidak ingin ditinggal sendiri. "No!" "Sebentar aja, ya," bujuk Devon. Lily menggeleng, tetap kukuh dengan pendiriannya. "No." "Lily ingin menonton princess?" Devon menawarkan berbagai macam pilihan. "Atau Lily ingin menonton kartun? Om Devon punya banyak film kartun." Lily menggoyangkan telunjuknya tepat di depan mata Devon. "NO! Lily tidak mau sendirian!" "Tapi kalau Lily boleh main game, Lily bisa pertimbangin lagi," sambungnya. Great! Anak kecil licik yang pernah Devon temui adalah Lily. Hatinya menyayangkan mengapa Lily harus dititipkan saat Devon baru pulang magang. Jika Shannon dan Brandon datang 20 menit lebih telat, mungkin rencana-rencana licik yang Lily miliki hanya akan mengendap dan sekadar rencana semata. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN