BAB 26| Si Pengganggu

1540 Kata
Hanya perlu percaya dan berterima kasih pada diri sendiri, sebesar apapun kita mampu bertahan. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Ya udah itu aja langsung produksi sebanyak yang udah disepakati di awal, Clar." "Beneran enggak mau dilihat lagi, Dev?" Suara Clara terdengar mendayu dalam membujuk tanpa tatap muka. "Mm ... belum diuji coba juga, kan? Enggak mau dilakuin pengujian dulu?" Devon mengembuskan napas beratnya. "Udah." "Ha? Gimana? M-maksudnya?" Meski hanya via suara, Devon dapat memastikan Clara terkejut di tempatnya. Nada suara Clara berganti menjadi gelagapan di telinga Devon. "Intinya langsung produksi sebanyak yang udah disepakati di awal. Semuanya udah oke, semuanya udah cocok, dan semuanya udah bagus. Kabari saya jika barangnya sudah siap. Selamat malam." Pip. Devon melemparkan ponselnya ke ranjang, nyaris mengenai makhluk mungil yang tertidur pulas di sana—hanya jarak 3 cm ponsel itu berhenti tepat di samping lengan Lily. Monster kecil itu tertidur setelah kecapekan merusuhi Devon. Lagi pula ini sudah jam 10 malam lewat, wajar saja untuk anak seusia Lily tidur. Ingat! Tertidur setelah kecapekan merusuhi Devon dan meninggalkan segala kekacauan yang dibuatnya setelah kelelahan. "Lily adalah monster." Devon mengacak rambutnya yang tidak gatal, kini waktunya membersihkan kamarnya yang lebih terlihat seperti kapal pecah dibanding kamar. Remahan cookies yang bercecer di mana-mana, semua miniatur kayu yang biasanya nangkring di atas meja kerja Devon berpindah menyebar ke atas lantai di seluruh sudut kamar, lalu ada benda hijau menjijikkan seperti ingus. "T-tunggu dulu." Devon menatap benda itu selama beberapa detik, konstan. "Jangan bilang itu slime." Ya Tuhan. Devon dan slime bukanlah sahabat baik setelah slime Lily menempel di kaki Devon tempo lalu dan itu menimbulkan adanya perasaan ingin menjauh dengan semua macam benda yang berhubungan dengan slime, menilik bulu kaki Devon harus tercabut paksa dan belang setelahnya. "Dari mana monster Lily dapet slime?" Devon menebak-nebak muncul dari negeri antah berantah mana slime ini, seingatnya Lily hanya membawa cookies dalam paperbag tadi. "Paperbag? God." Devon menyugar rambutnya ke belakang. "Holy s**t, Brandon. Kenapa kau meninggalkan anakmu yang usil ini dengan slime lagi?" Nampaknya Devon harus sering-sering berkunjung ke rumah Brandon untuk memusnahkan semua persediaan slime yang Lily punya. Benda lengket itu membawa petaka. "Si bodoh Devon masih tidak terima bulu kakinya tercabut paksa rupanya." Otak Devon menyahuti segala macam gerutuan Devon akan slime. Bayangan saja sendiri bagaimana rasanya diwaxing dengan slime. Bahkan brazilian waxing kalah menyakitkan. Benda lembek itu tidak bisa ditarik dengan cepat, layaknya sebuah wax. Menarik slime yang menyangkut di bulu kakinya waktu dulu benar-benar layaknya cobaan bagi Devon. Ibarat kata, Devon lebih memilih langsung ditembak tepat di kepala dan langsung mati ketimbang disayat sedikit demi sedikit yang dilakukan secara perlahan. "Huh." Devon mengembuskan napas seiring dengan pergerakan bahunya yang melemas. Memikirkan semua kerusuhan yang timbul di sekelilingnya adalah akibat dari segala saudara perempuannya entah itu yang sebaya, di bawahnya, di atasnya, bahkan mamanya membuat Devon berpikir berulangkali. Bagaimana nasibnya nanti jika sudah waktunya menikah? Bagaimana nasibnya nanti jika dirinya memiliki anak perempuan? Menjadi anak tunggal dalam keluarga, membuat Devon kurang intens bertemu dengan perempuan kecuali mamanya, terlebih para sepupunya rata-rata kebanyakan cowok. "Cih, udah mikirin nikah sama punya anak aja lo! Emang udah nemu calonnya?" Otaknya kembali menyentil Devon lagi. Devon melirik Lily yang tertidur tenang di atas ranjang—tenang dalam artian tidak berisik, Lily tetap aktif bergerak meski tidur. "Apa perempuan akan tenang saat tertidur saja?" Drrt! Devon melirik ponselnya yang terbaring bergetar di samping Lily. "Jangan bilang kalau itu Clara?" Devon mengacuhkan deringan itu, ia lebih memilih membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Lily. Devon sudah mengkonfirmasi kepada Darwin untuk memproduksi sesuai pesanannya, lantas mengapa Clara mempermasalahkannya lagi? Lagi pula ia dan Clara hanya berhubungan sebatas penentu desain, untuk lain-lainnya Devon memilih menghubungi Darwin ... dan sesuai kesepakatan awal, mereka sudah menyetujui itu. See? Perempuan seribet itu. Drrt! Devon tetap acuh. Tidak ingin dipenuhi keributan, kekacauan, atau kerusuhan sejenisnya lagi. Tidak saat dirinya sedang ribet dengan urusan magang dan tenggat waktu launching produk 48n yang semakin dekat. Devon mengangkat kantung sampah di genggamannya, setelah itu ia menatap Lily yang tetap terlihat seperti monster saat tidur. "Apa yang dilakukan bocah sekecil ini selama 5 jam? Impressive!" Coretan-coretan abstrak di atas kertas membuat pandangan Devon kembali ke arah Lily yang tertidur pulas. "Ini anak maksudnya apaan, sih?" Pandangan Devon jatuh pada laci bawah mejanya yang terbuka. "Astaga. Kenapa bisa kepikiran sampai segitunya?" Devon bisa memperkirakan sebendel kertas A4 yang ia simpan di laci itu, sekarang tinggal separuhnya saja. Separuhnya lagi bercecer menyebar di seluruh sudut kamarnya. Sebagian tercecer dipenuhi tinta spidol dengan gambaran abstrak dan sebagian lagi menggumpal berbentuk bola. Inilah alasan Devon mengapa tidak ingin mengajak Lily pergi ke kamarnya. Jajahan Lily sangat brutal. Meski dia baru saja mengenali tempat itu, Lily sudah menganggapnya sebagai rumah sendiri. Yang artinya akan melakukan apapun yang ia suka di tempat itu. "Baru juga 5 jam ditinggal, gimana kalau seharian?" Devon berjalan ke arah ranjang, menata posisi Lily kembali ke tengah kasur. "Tidur aja masih nakal. Enggak bangun, enggak tidur. Sama aja, tetep nakal." Bagaimana caranya orang tertidur bisa berpindah sejauh itu, padahal baru beberapa menit. Devon memposisikan guling mengapit Lily, menjadikannya sebuah pagar agar Lily tidak terjatuh. Entahlah yang pasti setelah melihat para sepupunya membangun biduk rumah tangga Dan memiliki anak perempuan, membuat Devon berpikir berulangkali bagaimana dengan kehidupannya nanti. Akankah Devon juga akan sama repotnya jika hidupnya kelak akan di kelilingi dengan dan erat kaitannya dengan perempuan, seperti istri dan anak perempuan ... mungkin? "Lily ... yuhu, anak cantik mama di mana? Ayo pulang sayang." Devon mendengar teriakan dari luar kamarnya. "Pemilik Lily udah datang, hum?" Devon membopong Lily, meletakkan kepala mungil itu menyender nyaman di pundaknya. Hampir gagal sebenarnya, tidur Lily sedikit terusik. Ditandai dengan pergerakan kecil yang Lily lakukan menandai bahwa dirinya mengalami keterkejutan dalam tidur. "Sstt ... sst." Devon mengelus punggung Lily, membuat si monster kecil ini merasa senyaman mungkin. "Sst." "Engh." Tangan Lily yang sebesar kunci inggris meregang, menampol muka Devon. "Astaga, tidur aja masih nyebelin ya nih bocah." Devon menangkap lengan itu dan menyampirkannya menjadi membelit leher Devon. "Slrp." Devon menganga tak percaya apa yang barusan dilakukan Lily. "Yang benar saja?! Membeleberkan iler, huh? Astaga, Lily." 5 jam merupakan waktu yang cukup lama untuk Lily mengganggu Devon. Jangan memperpanjangnya lagi. "Lily yuhuu." Devon mempercepat langkahnya untuk keluar kamar. Ia sudah sangat lelah jika harus memperpanjang waktu pelimpahan tugas untuk menjaga Lily lagi. Entah itu siang atau malam, entah itu terbangun atau tertidur. Lily tetap sama menyebalkannya seperti biasa. Cklek. "Tidur?" Brandon mengernyitkan keningnya. "Tumben Lily bisa tidur tanpa mamanya?" Shannon mengangguki pertanyaan suaminya, tak percaya melihat Lily yang sudah tertidur di gendongan Devon. "Tumben banget bocah nakal ini udah tidur. Tadi Lily enggak ngerepotin kamu kan, Dev?" Devon menyerahkan Lily ke gendongan Shannon. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain tersenyum meringis, Shannon saja yang notabenenya adalah ibu kandung Lily mengakui bahwa anaknya itu nakal. "Nyusahin banget!" teriaknya dalam hati. "Tumben Lily anteng. Lo enggak kasih obat tidur ke anak gue, kan?" Brandon meneliti Lily yang ada di gendongan Shannon. "Mata lo." Devon melayangkan tatapan yang tak kalah tajam. "Masuk aja ke kamar gue dan lihat apa yang udah anak lo lakuin." Brandon tersenyum menang, satu tangannya menepuk ubun-ubun Lily. "Good girl, princess! Lain kali Papa bantuin kacauin ruangannya Om Devon." "Hahaha lawakannya lucu banget, Brandon." Devon tertawa lalu sekian detik setelahnya mengubah ekspresinya menjadi datar seketika, layaknya sedang menyindir. "Udah, jangan berantem," lerai Shannon, "makasih ya, Dev. Udah jagain Lily." Shannon menyikut perut suaminya untuk meminta maaf dan berterima kasih. Brandon mengacungkan paperbag yang dibawanya ke depan Devon. Satu menit telah berlalu dan dua pria dewasa itu tidak bergeming dari posisinya, tetap bersikukuh dan tidak ada yang ingin mengawali pembicaraan. "Sayang!" Shannon tersenyum dan menekan panggilannya barusan. Brandon menoleh ke belakang sembari menghela napas berat sebelum meletakkan paperbag yang dibawanya ke atas meja karena tidak menerima sambutan dari Devon. "Martabak." Devon melirik sekilas. "Hmm." Brandon menggeplak kepala belakang Devon. "Makasih kek. Ham hem ham hem doang, sebel gue lama-lama." Devon melongo. "Heh, bego! Lo yang harusnya bilang makasih, t***l!" "Makasih, sepupu." Brandon menampilkan senyuman palsu termanis yang ia punya. "Bodo amat!" "Astaga, Devon." Brandon memegang dadanya secara dramatis. "b*****t banget kamu, ya? Bilang 'sama-sama, Brandon' dong, Panjul. Terus abis itu bilang 'maaf ya, udah bikin kamu kesel' gitu." "Dih, ogah. Orang yang butuh bantuan lo." Brandon menendang tulang kering Devon. "Halah bacot, orang biasanya lo juga masih butuh gue." "Bad words, sayang!" "Maaf, sayang." Devon mengelus pundak Shannon pelan sebelum pandangannya beralih kembali ke Devon. "Gara-gara lo nih, Dev. Ck, sama-sama masih butuh satu sama lain juga." "Kata siapa?" Devon memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Orang udah kelar." Raut wajah Brandon yang awalnya sebal berubah menjadi terkejut seketika itu juga. "Huh? Demi apa udah selesai?" "Seriusan." "Kok bisa secepet ini? Gue kira bakal mundur satu-dua hari atau semingguan gitu." Devon menggeleng. "Gue juga enggak tahu. Doain aja selesai tepat waktu, hari ini awal semuanya dimulai." Brandon mengepalkan tangannya, menawarkan Devon untuk menyambut itu. High five ala mereka berdua untuk menyemangati satu sama lain. "Pasti, Dev." Sudut bibir Devon menyungging mendengar pernyataan Brandon barusan. Perkiraannya tempo lalu semakin jelas hanya angan. Devon tidak menyesal pernah memikirkan ini berhari-hari, meski nantinya tidak akan kejadian. Setidaknya ia punya rencana-rencana lain, jika rencana utamanya ada yang meleset atau gagal. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN