BAB 27| Hari Pertama Magang

1819 Kata
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana cara takdir bekerja. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan dan itu sudah Devon buktikan semenjak ia menempuh bangku sekolah hingga kini bekerja. Devon tidak tahu beban hidup apa yang menyelimuti hari Rabu hingga memiliki dendam terselubung pada Devon. Rasa lelah terlalu cepat menghampirinya di hari Rabu, sangat berbeda dengan hari-hari lainnya. "Dev, bawa correction pen enggak?" Kepala Tasya bertumpu pada sekat yang berada di tengah-tengah mereka. Belum sampai Devon menjawab, lemparan correction pen dari depannya melayang ke arah Tasya. Hanya berjarak beberapa mili correction pen itu nyaris mengenai kepala Tasya. Lemparan itu melesat jatuh menghantam dinding lalu terjatuh mengenaskan ke lantai. Telapak tangan Ali menghadang ke depan, ketika Tasya hendak membuka mulutnya. "No no no. Enggak usah bilang makasih sama gue, temen sendiri juga. Enggak usah sungkan kalau mau minta bantuan lagi, tinggal bilang aja sama gue." Tasya mengepalkan tangannya geram. "Shh! Gue sebel sama lo, Ali!" "Tasya! Ali! Berisik." Pelototan tajam dan gebrakan meja dari Bita, menambah suasana semakin berisik. "Oh jadi gini ya rasanya, satu ruangan sama orang-orang yang masih ada sisi recehnya, masih peduli sama orang lain, sama masih suka saling mengingatkan." Devon menoleh sekilas. Nahas, pandangannya malah tertumbuk dengan Diva. "Magang kedua gue beda jauh sama yang sebelumnya. Di sini lebih asik, di tempat gue dulu orangnya kolot semua. Mereka terlalu ambis sampai kehilangan sisi manusiawinya." Diva menjelaskan apa yang ia rasakan, tanpa Devon tanya. Devon mengangguk, sedikit tertarik untuk mendengar cerita Diva lebih panjang sembari menghilangkan rasa suntuknya akan hari Rabu. "Siapa?" "Yang nanya." Diva melemparkan bulatan tisu di depannya ke arah Devon. "Makasih loh, Dev. Emang ya semua cowok itu sama aja." Devon menyisihkan gumpalan tisu itu menepi. Satu hal yang Devon pelajari hari ini, perempuan adalah makhluk sosial yang suka menyimpulkan keadaan sesuai dengan kapasitas otaknya sendiri tanpa ingin bertanya kebenaran yang sebenarnya. Lihat tadi! Devon bahkan ingin mendengar keadaan di tempat magang Diva yang terdahulu, namun gadis itu malah menjawab pertanyaannya dengan jawaban buntu. "Impressive, sifat-sifat apalagi yang belum gue tahu?" tanya Devon dalam hati. Drrt! Ponselnya bergetar dengan layar yang langsung menyala meski tertindih buku. Devon menimang-nimang apakah ia harus melihat notifikasi dari siapa yang kiranya memasuki ponselnya saat ini atau mengabaikan seolah tidak mendengar apapun sebelumnya? Ini masih jam kerja dan bermain ponsel tidak dianjurkan, bukan? "Jam 11.10? Kurang setengah jam lagi," gumam Devon, "sekalian nanti ajalah." Devon mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer. Data-data dalam tabel, garis-garis penghubung dari anak panah, serta angka tulisan yang terpampang di sana malah membuat kepalanya menjadi pusing. "Istirahat, yuk. Istirahat, jangan dipaksa kalau emang udah capek. Nanti malah hasilnya kurang maksimal. Istirahat aja udah, masih bisa disambung nanti kok," rayu hatinya. "Fuhfuhfuh, andai si Bapak Devon bisa mikir begitu dan enggak terlalu memforsir pekerjaan, kerja kita bakal gampang, Heart." Ingat, otak Devon hanya muncul untuk memberi sindiran. Berguna banget, kan? Sampai-sampai Devon sendiri ingin mereparasi otak dan hatinya agar sinkron. "Fokus, Dev. Fokus." Devon meletakkan telunjuknya di pelipis, mendoktrin dirinya sendiri untuk kembali fokus ke layar laptopnya. "Tinggal setengah jam lagi." Sialnya, mata Devon malah ikut-ikutan mendukung gerakan otak dan hatinya untuk tidak sinkron. Fokus Devon terbelah, angka-angka di depannya terlihat buram dan tidak menarik sama sekali. "t***l!" maki otaknya, "udah 7 tahunan lihat beginian setiap hari, tapi bisa-bisanya tetep bego." "Positive thinking aja Devon udah bosen lihat beginian, cuma butuh refreshing aja," bela hatinya. "Udahlah istirahat aja, ngapain gitu jangan kerja mulu." Shit! Otak dan hatinya ternyata sama saja. Devon melihat sekelilingnya anak magang di divisi perencanaan ini hanya 5 orang. Tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak, jumlah yang pas sebenarnya jika Devon bukan tipikal orang yang hanya bisa fokus saat sendirian saja. "Apa yang harus gue lakuin selama setengah jam ke depan?" Tidak ingin bertopang dagu dan tertebak menantikan jam makan siang, Devon memutar-mutar penanya. Tetap bosan~ Devon mulai mencoret-coret kertas kosong di depannya, menulis apapun yang berkeliaran di otaknya. Nihil, kertas itu tetap kosong dengan pelototan Devon. Devon melirik arloji yang melingkari pergelanngan tangannya. "Pukul 11.16? Hanya bertambah 6 menit, hum?" Lucu sekali saat Devon yang anti makan siang, malah menantikan jam makan siang dan ini semua karena ulah rekan-rekannya yang terlalu berisik. "Alasan bodoh apalagi ini, Dev? Bilang saja fokusmu terpecah karena notifikasi sialan itu, kan? Mengkambing hitamkan orang lain, sayang?" Tidak ada yang lebih mengenal Devon selain dirinya sendiri. Otak dan hati Devon telah membuktikannya. Tolong beri tahu Devon di mana bisa reparasi otak dan hati! Devon mengetukkan penanya ke atas meja ... menimbulkan bunyi 'dug' berulangkali yang berkesinambungan. "Dev, berisik! Kurang kerjaan lo? Mau gue tambahin kerjaaan? Punya gue masih banyak nih," sindir Mbak Bita. Devon berpikir kembali, bagaimana jika dirinya nanti akan memiliki istri atau ank semacam Bita? Perempuan tangguh yang selalu melerai keributan apapun di divisi ini dan hobi marah-marahnya yang tak kenal tempat. Teringat Cia yang selalu menyusahkan setiap bukannya ketika hari merah, melihat Bita yang hobi marah-marah setiap saat membuat Devon berpikir mungkin tiada hari tanpa hari merah bagi Bita. Hal itu membuat asumsi Devon akan sifat perempuan yang menyebalkan bertambah semakin kuat. "Huh." Devon menghela napasnya panjang. "Masih jam 11:22, kurang 18 menit lagi." Devon menekuri arlojinya, mungkin jika ia lihat berlama-lama jarum jamnya bisa malu dan melarikan diri dan bergerak semakin cepat. Sialnya lagi semua rencana Devon itu hanya angan saja. Satu menit menekuri arloji tanpa henti malah membuat matanya panas hingga keluar air mata. Bukannya bergerak seperti kecepatan cahaya, jarum arloji Devon malah merangkak seperti kura-kura yang sedang obesitas. "Psst!" Devon menoleh karena lengannya bersentuhan dengan sodoran sekotak benda dari Diva yang tidak Devon ketahui isinya. Devon mengangkat alisnya bertanya 'apa?' tanpa berbicara. Diva mengendikkan bahunya. "Buka aja." "Brownies?" "Sama-sama, Devon." Deva menampilkan senyum terbaiknya. "Oh okay, makasih, Diva." See? Perempuan butuh pengakuan, satu hal lain yang Devon pelajari hari ini. "Mm ... brownies?" "Bukan, Dev. Tai kucing itu, masih nanya lagi." God, 5 menit sebelumnya baik kalau setelahnya langsung berputar 180°? Tolong beri tahu Devon sifat perempuan yang bagaimana lagi yang belum dirinya ketahui? "Iya tahu. Maksudnya brownies buat apa?" "Ya dimakan dong, anaknya Bu Sarah aja pasti tahu kalau brownies itu buat dimakan." Devon mengernyit tidak mengerti akan hubungan Devon dan brownies ini seperti maksud Diva. "Iya---" "---tahu, makanya kalau punya makanan tuh bagi-bagi. Masa Devon doang yang dikasih? Mbak Bita, Tasya, sama gue enggak dibagi gitu?" Tangan Ali terjulur melewati sekat dan mencomot satu potong brownies dari sana. "Mbak Bit, ayo cepet ambil." Ali beralih menggeret tangan Tasya untuk mendekat. "Ayo, Tas, ambil aja jangan sungkan. Browniesnya legit banget nih." "Berasa yang punya brownies ya, Bujang." Diva berkacak pinggang melihat tingkah Ali. "Yang solid dong, masa Devon doang yag dikasih? Devon juga cuma hah heh hah heh doang. Dari pada mubazir mending dimakan kita-kita ya, enggak?" "Yap." "Tul." Mbak Bita dan Tasya kompak menyetujui Ali. "Kok berisik? Emang ini udah masuk jam makan siang?" Devon menginterupsi kegaduhan yang diperbuat oleh para anak magang di divisi ini. "Jam tangan lo baterainya abis, Dev?" Ali menyodorkan layar ponselnya. "Nih lihat." Mata Devon melebar sesaat setelah melihat angka yang terpampang di locksreeen Ali. Devon membatin, "B-bagaimana bisa? Kenapa tadi pas gue tungguin merambat banget, lah ini? 11:47, huh?" "Ladies and gentleman, sepertinya Bapak Devon wajib dinobatkan menjadi orang gabut di divisi ini. Bisa-bisanya mau lihat handphone aja nungguin jam makan siang." Ali menggeleng-gelengian kepalanya sembari mengunyah brownies. "Mempersulit diri banget, saudara-saudara." Devon meraih ponselnya yang sedari tadi ia anggurkan. Matanya berbinar melihat satu notifikasi dari Audy yang sebelumnya telah lama sering absen masuk ke ponsel Devon. Tak kalah mengejutkannya lagi, mungkin jika bola mata Devon bisa dibongkar pasang, mata Devon akan lepas saat Devon memelototkan matanya seperti sekarang ini. "What the---" Devon mengucek matanya melihat jumlah likes yang nangkring tepat di bawah foto yang baru 36 menit Audy unggah. 208.643 likes? Tidak heran sebenarnya melihat make up art bertemakan dewi yang tergambar apik di wajah Audy. Audynya benar-benar menyerupai seorang dewi. "Cantik." Devon beralih menekan snapgram Audy. Matanya semakin membelalak ketika menekan unggahan demi unggahan Audy. 27K pengikut dalam waktu sesingkat ini? 36 menit? Oh nampaknya saingan Devon yang awalnya hanya 500 sekian orang bertambah berpuluh-puluh kali lipatnya sekarang. "Makan, Dev." Diva menggeser nasi kotak mendekati Devon. Devon menerima pemberian Diva, namun matanya tetap fokus memandangi ponselnya dengan penuh kekaguman. "Thanks, Div." "DEMI APA, SIH? TEMEN-TEMEN ONLINE AKU ADA 27 RIBU ORANG! FIX AKU MAU SALTO BUAT PERAYAAN HUHU. SAYANG KALIAN SEMUA." Devon tersenyum mendengar penuturan Audy dalam video berdurasi 15 detik itu. "Tetep jadi penyebar positive vibes ya, Dy." Hanya itu harapan Devon. Menilik harapannya sudah pupus jika harus bersaing dengan 27K orang, Devon mengetikkan satu balasan untuk snapgram terakhir Audy. __________ |congrats, cantik. [11:58 pm] delivered. __________ "Hah ... akhirnya semua orang telah menemukan akun emas Audy," batin Devon. Tubuhnya menghangat menemukan satu kemungkinan lain jika postingan-postingan Audy bermanfaat bagi banyak orang. Drrt! __________ @audiueo |makasih banyak, sayang (◍•ᴗ•◍)✧*。[12:01 pm] |anak kecil jangan pegang handphone lama-lama ya, nanti kamu dimarahin mama loh [12:01 pm] |belajar yang rajin ya, jangan kebanyakan main handphone mulu [12:02 pm] |oh iya satu lagi, jangan lupa bobo siang [12:03 pm] __________ "Ha?" Kening Devon berkerut semakin dalam melihat satu per satu notifikasi dari Audy yang memasuki ponselnya. "Anak kecil? Gue maksudnya? Apa pria dewasa ini lebih terlihat seperti seorang anak kecil?" Keterkejutannya berlipat ganda. Yang pertama sedikit senang karena Audy membalas pesannya dan yang kedua heran dengan 'anak kecil' mana yang dimaksud Audy. Tak ingin berlarut dalam kebingungan, Devon membuka room chatnya dengan Audy. Good job, Lily! Bahu Devon langsung terkulai lemas menyadari ternyata sudah ada balasan sebelum Audy membalas pesannya yang satu ini ... dan ini karena Lily. "Jangan bilang kalau ini hasil gue ninggalin Lily pas mandi, malem itu?" tanya Devon lirih, menilik semua foto dengan pose sok cantik dari Lily menghiasi room chat Devon dengan Audy. Benar! Satu detik setelahnya, Devon menyadari ada yang salah dari sini. Yang benar saja bagaimana cara anak umur 5 tahun dapat mengoperasikan ponsel dan mengirim pesan? "Setidaknya karena Lily, pesanmu dibalas Audy. Bahkan Lily saja berada satu step di depanmu, Dev. Bersyukurlah memiliki keponakan seperti Lily." Lagi-lagi otak Devon membantah saat Devon akan mengeluhkan Lily. Ada benarnya juga memang. Ingatkan Devon nanti untuk memberi Lily sebuah gift. "OMG! Si Audy cantik banget!" Teriakan Tasya membuat semua orang yang ada di ruangan menoleh. "Ini dia pakai make up merk Fundamental, kan? Merk perusahaan ini, kan? Bagus banget produknya." Satu sambitan pulpen dari Ali melayang tepat mengenai ujung kepala Tasya. "Cantik banget orangnya." "Shsh!" Ali meletakkan telunjuknya di depan bibir saat sanggahan akan keluar dari mulut Tasya. "Enggak usah body shaming. Valid no debat, Audy cantik banget! Gue juga baru lihat dan itu bukan karena produk make up!" Diva mengangguk. "Bener. Mbak Bita, kalau ini orang dijadiin brand ambassador cocok deh kayaknya. Pas sayembara BA sama logo, kita masih magang di sini, kan?" Ide yang bagus. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN