Hanya perlu percaya bahwa kamu bukan kalah, kamu hanya lelah.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Bola mata Tito mungkin bisa saja keluar jika hanya menempel dan tidak permanen erat dengan tubuhnya. Jangan tanya alasan apa yang mendasari itu. Selama 30 menit terakhir berdua diselimuti keheningan di dalam ruang kerja di apartemen Devon, hanya terdengar umpatan-umpatan Tito, gebrakan meja, dan kata 'apa?' yang menggambarkan seberapa kagetnya Tito dengan apa yang barusan ia dengar.
"Segoblok apalagi sih lo, Dev?"
Bendelan kertas yang Tito pegang memiliki probabilitas terlempar ke kepala Devon 50%. "Harusnya lo tuh bilang-bilang kalau mau ngapain aja!"
"Hmm." Devon melipat tangannya, bersedekap di lengan kursi yang tengah ia duduki.
Tito berdecak. "Ck, ham hem ham hem doang sih, lo." Tangannya yang memegang bendelan kertas itu menahan diri untuk tidak menggampar Devon saat ini. "Untung saudara. Kalau enggak, udah gue tonjok dari tadi."
Devon melirik Tito sekilas, tidak benar-benar ingin menanggapi ucapannya. Tidak untuk sekarang, di saat pikirannya sendiri penuh dengan benang-benang tak kasat mata yang membelit di sana-sini meminta Devon memberi perhatian penuh untuk mengurai semua itu.
"Sumpah ya, Dev." Tito menggerakkan sebendel kertas di tangannya berancang-ancang untuk melayangkan itu ke arah Devon. "Muka lo tuh lama-lama ngeselin, tahu enggak? Sebel gue."
Tito merogoh sakunya, mengeluarkan sekotak benda dari sana. Tak lain dan tak bukan adalah sekotak rokok lengkap dengan korek api.
Ctak. Ctak.
Bunyi pemantik itu menggaung memasuki telinga Devon.
"Gue bakal bunuh lo, kalau sampai rokok itu nyala." Nada tenang dan datar khas Devon saat tidak ingin diganggu melantun dalam.
"Ck!" Entah decakan ke berapa semenjak Tito memasuki apartemen Devon hari ini saking banyaknya tingkah Devon yang membuatnya geram. "Gue yang bakalan bunuh lo duluan! Gue bersumpah hari ini kadar nyebelin lo nambah berkali-kali lipat, Dev. Gue enggak bohong, mood gue buat bunuh orang hari ini lagi bagus-bagusnya."
Di satu sisi laporan magangnya menunggu, namun di sisi lain Foreign juga meminta Devon untuk produktif. Melihat respons Tito yang meledak-ledak seperti ini, Devon sudah mendapatkan jawaban tanpa perlu melakukan penawaran lebih lanjut.
Devon menyugar rambutnya ke belakang, anak-anak rambutnya mulai panjang seperti masalah yang ia hadapi belakangan ini.
Dag.
Pintu geser yang terhubung ke balkon terbuka secara paksa. Devon menarik napasnya panjang, menginstuksikan dalam otaknya untuk tidak terpancing. Besar-kecilnya akibat yang ia ambil adalah bentuk kesalahannya juga.
Devon melirik sekilas ke arah belakang tanpa ingin menengok, yang sayangnya Tito menangkap pergerakan Devon.
"Apa liat-liat? Gue sambit juga lo."
Bunyi pemantik terdengar berulang kali. "s**t, sialan!"
Amarah yang dibarengi ketololan sedang diputar secara nyata malam ini. Kepala Devon sendiri dipenuhi kekusutan yang tak kunjung usai, entah langkah mana yang akan ia ambil lagi.
Ctak! Ctak!
Bunyi yang sama terus Devon dengar berulang kali setelah Tito membuka pintu balkon dan hal itu cukup menyita perhatian Devon yang mencari ketenangan untuk menemukan jalan keluar.
"Apa liat-liat?!"
"Berisik!"
"Biarin, salah sendiri nyari penyakit! Sekarang bingung, kan? Ya udah rasain, nggak usah protes!"
Devon melayangkan tatapan sinis yang ia punya. Tito benar-benar menepati ucapan malam ini. "Bacot, berisik!"
Bukannya malah tenang, Tito malah semakin menjadi-jadi. Tangannya berulang kali memainkan roll lighter hingga bunyi 'ctak' terdengar seperti genderam perang di telinga Devon.
Tito menghentikan permainannya setelah tanda-tanda bendera putih dikibarkan oleh Devon—lebih tepatnya Devon mengacungkan jari tengahnya.
"Mampus! Gue doain makin nggak karuan, masalahnya makin ribet. Mampus, mampus dah lo."
"Bacot!"
"Lo tuh bacot mulu, kerja kagak! Udah sana tuntasin, ngapain masih liat-liat gue?! Rasain, rasain. Entar kalo gagal lagi, gue ketawa paling depan ... paling keras, sambil jedotin pala lo ke pintu. Seriusan."
Devon memalingkan muka untuk mengembalikan fokusnya pada layar laptop. Dirinya sendiri juga tidak menyangka imbasnya akan sebesar ini. Tinggal 12 hari lagi untuk menginjak dua bulan.
"Fokus, Dev. Fokus!" rapalnya dalam hati. "semangat tinggal 12 hari lagi."
Drtt!
Langkah Devon untuk menyentuh mouse terhenti akibat deringan notifikasi memasuki ponselnya. Berusaha untuk acuh, Devon mengabaikan itu dan mulai fokus menatap berbagai macam grafik di depannya.
"k*****t, tikus satu ini meminta dimutilasi ternyata."
Air muka yang ditampilkan Devon begitu keruh. Sejak dari kantor lalu masuk apartemen beberapa jam yang lalu membuat matanya menyala. Sedikit tidak percaya dengan apa yang dipegangnya kini. Segebok laporan yang di tangannya, banyak angka yang terpampang di laptopnya, dan grafik yang rata-rata naik adalah penolakan tegas untuk keraguan Devon.
"b*****t!" umpatnya setelah sekian menit menekuri semua itu.
"Syukurin!" Tito berteriak lantang dari balkon seolah ada Agatha di sekitar sana. "Tante Tatha nih anaknya ngeyel, lelepin lagi aja, Tan. Timbang jadi beban."
"Berisik!"
Tito menirukan perkataan Devon. "Birisik! Silih sindiri, tiking ngiyil."
Drrt! Drt!
Devon meraup mukanya kasar. Tito yang berisik dan tidak membantu sama sekali, ponselnya yang terus berdering, dan data-data yang menyebalkan ini? Otak Devon semakin tidak kuat untuk memikirkan semua hal ini secara bersamaan.
"Syukurin, yuk bisa yuk. Please, meledak. Please, meledak. Biar gue bisa sukuran."
"Geez. Kalau lo masih tetep berisik, gue yang bakal jorokin lo dari balkon, To. Biar gue yang bisa syukuran."
"Uluh-uluh, kok ngamuk?"
"Diem di situ atau beneran gue jorokin ke balkon?"
Devon sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparkan salah satu kamus terdekat yang bisa tangannya jangkau dari laci. Kepalanya mulai berdenyut dan denyutan itu akan semakin bertambah, jika dirinya meladeni Tito.
Tito memajukan bibirnya, berniat untuk menirukan Lily ketika sedang mencibir. "Nyenyenye, diem di situ atau gue jorokin! Ih atut."
Berbeda dengan apa yang baru saja ia ucapkan, Tito semakin menjadi dengan melangkah lebih dekat dengan pintu pemisah balkon.
"Demi apapun gue bakalan jorokin lo dari lantai 9, kalau asap rokok lo masuk ke kamar! Ini peringatan, gue serius!"
Drtt!
Fokus Devon sejenak terpecah, entah notifikasi dari siapa yang sejak tadi memasuki ponselnya.
"Terus gue harus peduli gitu sama lo? Ehe, literally?"
"Sabar, Dev. Sabar, bukan malem ini." Hatinya mendoktrin Devon untuk tetap fokus dan dalam jalan yang benar.
"Loh kok diem? Capek?"
Srak.
Sayang sekali, otak Devonlah yang memenangkan pertandingan kali ini. Berbeda dengan hatinya yang cenderung tenang, otak Devon sudah keburu panas mendengar ocehan Tito yang tidak ada habisnya. Kamus pegangannya benar-benar melayang, nahasnya tidak sampai mengenai kepala Tito yang berada di teras balkon. Nasib kamus itu hanya mendarat sampai depan pintu saja.
"Dih, kayak udah kayak Lily pas lagi rewel aja lo, Dev. Mana banting-banting barang segala lagi."
Drrt!
"Sst!" Devon meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Berisik, tolol."
"Ya ya ya ya, terserah. Awas aja kalau ujung-ujungnya minta tolong."
Pikiran Devon seketika itu langsung melalang buana, ada hal penting apa hingga notifikasi dari ponselnya tak henti-hentinya berbunyi.
Sepersekian detik setelahnya, Devon memelotot teringat akan satu hal yang belum tentu kebenarannya. "Apa jangan-jangan," tebak Devon dalam hati.
Bahu Devon langsung merosot lega mengetahui pikiran negatif yang sejak tadi memenuhi rongga kepalanya hanyalah bayangan semu semata. Bayangannya akan raut pucat Clara yang kebingungan menghubunginya, serta kabar buruk tentang produksi packaging mengalami permasalahan langsung musnah seketika.
Kekalutan yang sejak tadi bergumul di benak Devon tiba-tiba meluruh. Netranya berbinar menemukan notifikasi itu di sebelah sana.
Audinya kembali.
Mungkin ini hari ketiga atau keempat Audy menampakkan diri lagi setelah postingan terakhir yang ia post kala itu.
"Hah?"
Tanpa Devon sadari respon yang ia berikan barusan terlalu berlebihan, bahkan nyaris bisa dikatakan berteriak. Baru satu postingan snapgram Audy yang baru Devon buka namun ini benar-benar mengejutkannya.
Screen capture dari obrolan chat Audy dan Cia adalah hal pertama yang Devon lihat. Memastikan bahwa apa yang dilihatnya nyata, Devon terus membuka postingan itu sampai habis.
"Demi?"
Lengkungan di bibir Devon yang awalnya cenderung tertarik ke bawah, kini berubah menjadi senyuman super lebar. Seolah semua pikirannya tentang Foreign sejak tadi langsung lenyap.
Tanpa pikir panjang lagi, Devon ingin memastikan info yang ia dapatkan ini ke orang yang bersangkutan. Siapa lagi kalau bukan Cia. Beberapa minggu lalu, Lily yang mengejutkannya ... dan kini? Ganti Cia yang mengejutkannya.
Setidaknya ada hal yang Devon bisa syukuri memiliki saudara perempuan seperti mereka berdua.
Cia is calling...
Devon menatap ponselnya dengan penuh harap. Menunggu kata memanggil berubah menjadi berdering. Belum ada satu menit, namun entah mengapa bagi Devon hal ini terasa lama.
Devon mengetukkan pena di mejanya secara berkesinambungan. "Please, angkat."
"Halo? Kenapa, Bang?" Entah bagaimana bisa, tetapi suara Cia yang biasanya menyebalkan, kini terasa bagaikan suara surgawi di telinga Devon.
"Yang di postingannya ... y-yang i-itu. Y-yang—"
"Hah gimana? Ini sinyalnya lagi jelek deh kayaknya? Suaranya nggak jelas."
Devon menarik napasnya dalam-dalam. "Baru juga tadi dipuji, sekarang udah balik ngeselin lagi," batin Devon.
Tidak tahu apa yang dikatakan Cia tadi murni pertanyaan atau sedang meledek Devon, Devon tidak peduli. Tujuannya hanya satu.
"Orang yang pernah menang giveaway lo dulu ...."
"Iya, kenapa dia?"
"Itu beneran?"
"Apanya?"
Fix, Cia sedang mempermainkannya. Devon mencoba untuk tidak geram dan lebih bersabar lagi. Ubun-ubunnya sudah panas sejak tadi dan dia tidak berniat untuk membuat itu semakin panas.
"I-itu yang di post. Itu beneran?"
"Ya kali nggak beneran?"
Senyuman Devon mengembang sempurna, dirinya bahkan sedikit kesusahan untuk mengontrol suaranya agar tidak terlihat bahagia.
"Kapan? Di mana?"
Sial! Nampak sekali Devon gagal menyembunyikan ekspresinya. Semiga saja Cia tidak menyadari makna tersembunyi di balik pertanyaan beruntun darinya barusan.
"Akhir pekan ini, di rumahnya mama."
"Oh." Devon menjeda ucapannya agar tidak lepas kendali. " Ya udah makasih."
Pip.
Setelah berjam-jam bergelut dengan laporan yang tak kunjung menemui jalan keluar, kini kobaran semangat tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ini harus selesai ... sebelum akhir pekan," tekadnya.
Perasaan lega dan hati yang plong sekarang tengah Devon rasakan. Senyuman bahagianya mengiringi Devon untuk segera cepat-cepat menyelesaikan masalahnya.
Devon mengangkat cangkir kopi yang isinya sudah mulai mendingin. "Ah."
Punggungnya menegap, matanya sangat terang. Devon sudah bersiap untuk menjangkau mouse, sialnya ayunan tangan Devon menggantung di udara akibat sergapan Tito secara tiba-tiba.
Devon menaikkan salah satu alisnya yang menandakan ia bertanya tanpa ingin bersuara.
"Tales."
"Hah? Ngapain?"
Tidak segera menjawab, Tito malah menarik tangan Devon untuk segera berdiri dari singgasananya saat ini.
"Mau ngapain ke Tales?" tanyanya sekali lagi.
"Nyembuhin lo."
"Maksudnya?"
Devon semakin tidak mengerti dengan apa yang diperbuat Tito, membuat hati Devon semakin bertanya-tanya. "Nyembuhin? Ke Tales? Tales kan bar? Nyembuhin apa ke bar?"
"Lo kan udah gila. Tadi abis dapet masalah, muka lo butek. Eh abis angkat telepon malah ketawa. Gue ngeri kalo lo tiba-tiba ada gangguan, Dev. Mana dipanggil, nggak nyahut." []