Jangan pernah sekali-kali membuat keputusan di saat keadaan sedang genting.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"Enggak. Enggak perlu, saya percaya. Akan saya cek sendiri ke kantor sore nanti. Pastikan saja tidak terjadi kesalahan. Selamat pagi."
Pip.
Yang pasti lawan bicara Devon di telepon tadi bukan Tito. Manusia adil satu itu menepati ucapannya, tidak ingin kembali ikut andil untuk membantu Devon akan masalah ini.
"Hah ...." Devon menghela napasnya sebanyak mungkin. Mengeluh sebanyak mungkin di pagi ini dan mengakhiri segala macam keluhan itu secepat yang ia bisa. Moodnya di pagi hari biasanya akan memengaruhi moodnya seharian penuh.
Tangannya memanjang, meletakkan sementara ponselnya di dashboard, ia berusaha mengontrol otot-otot dan syarafnya yang menegang. Ini adalah hari kedua setelah kerusuhan itu memuncak tempo hari. Tidak mungkin ia melalaikan kewajibannya yang lain demi menambal kewajiban lain yang rusak.
Itu bukan solusi, terlebih lagi Devon terlalu takut mengambil langkah gegebah saat ini. Terkesan riskan dan ... Devon tidak ingin melakukannya.
"Yok, bisa yok." Hati Devon bersorak optimis, berbeda dengan otaknya yang memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. "Emang yakin, nggak bakal salah pilih orang lagi? Yang ini baru loh. Yakin kinerjanya dia bakal memuaskan, hum?"
"Sialan," umpat Devon, namun setelah itu ia merapal dalam hatinya semoga tidak ada lagi kejadian buruk yang singgah dalam hidupnya, apalagi dalam waktu dekat. Devon sangat berharap.
Berhasil meredam bayangan-bayangan buruk yang berkeliaran di kepalanya, Devon menggerakkan tangannya untuk meraih handle pintu mobil. "Hello, world! Wel—"
"BAA."
Belum sampai gumaman Devon selesai terucap, bahkan pintu mobilnya pun belum terbuka secara sempurna, makhluk aneh lain yang tentunya bergender perempuan di depannya ini berhasil merusak positive vibes yang Devon susah payah bangun.
"Pagi, Dev."
Devon mengelus dadanya pelan, beranjak dari tempat ternyamannya saat ini.
"Pagi, Div." Sapaan yang terdengar riang, meski hatinya ingin sekali mengumpat.
Cengiran yang ditampilkan Diva sebagai balasan malah membuat Devon semakin ingin menerkam Diva.
"Kenapa sih, semua cewek itu aneh?" Pertanyaan itu hanya menyangkut dalam tenggorokannya saja, tidak benar-benar Devon keluarkan. Ini masih tergolong pagi untuk mengawali baku hantam.
"Dev, lo ikutan sayembara logo, nggak? Gue nggak ada ide, tapi pengen banget ikutan."
"Ikutan, gih."
"Lo?"
"Tahu, liat nanti."
Devon tergagap saat merasakan ada notifikasi yang lagi-lagi memasuki ponselnya. Menilik sekilas, 'apa, siapa, dan tujuannya apa' lalu setelahnya memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.
"Astaga."
Keterkejutan lain, Devon alami saat fokusnya dari ponsel telah lenyap. Jarak muka Diva yang terlampau dekat, cengiran khas wanita itu, rambut panjangnya yang menjuntai menutupi hampir sepertiga muka.
"Siapa?" Wajah innocent Diva berhasil mencekik Devon.
"Yang nanya? Udah kebal gue." Devon mendorong pundak Diva untuk segera meninggalkan parkiran kantor, sebelum wanita satu itu kembali mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
"Buru masuk kantor, belum absen juga, kan?" sambung Devon.
Diva membeku, menahan dorongan Devon sekuat tenaga. "Tunggu dulu."
"Apala—" Pertanyaan Devon terputus bersamaan dengan sebotol cokelat tersodor di depannya. "Buat?"
"Buat lo-lah. Emang ada siapa lagi di sini selain lo?"
Melihat tidak ada pergerakan dari pria menyebalkan di depannya ini, Diva meraih tangan Devon. Meletakkan sebotol cokelat hangat yang dibawanya di atas telapak tangan Devon. "Malah bengong! Cepet, katanya tadi mau absen."
Devon menelengkan kepala dengan tingkah temannya satu ini. Jangka waktu beberapa detik kemudian, Devon menggeleng. Lebih baik mengiyakan apapun, selagi semua itu tidak mengusik Devon.
Ya, itu yang paling tepat untuk saat ini.
***
Jam istirahat sudah lewat dari 20 menit yang lalu namun 5 orang di ruang divisi ini sepeetinya masih belum ingin beranjak dari tempat duduk ternyaman mereka sekarang ini.
Melewatkan makan siang adalah hal yang terbilang cukup lumrah—bagi Devon. Pekerjaan Devon sudah selesai dan seperti yang sudah-sudah, makan siang bukan keinginannya. Lagi pula es kopi miliknya masih tersisa setengah gelas, masih cukup untuk mengganjal energinya yang terbuang.
Waktu istirahat ini, Devon gunakan untuk menyelesaikan urusannya yang lain. Beginilah nasibnya selama 7 tahun belakangan, setiap waktu yang ia punya tergolong sayang untuk disia-siakan.
Bisa dibilang Devon merasa cukup puas dengan kinerja Erbe—salah satu orang kantor yang pernah ia bicarakan dengan Tito untuk promosi jabatan. Belum ada kabar buruk yang Devon terima dari Erbe sejauh ini dan Devon harap tidak akan terjadi juga.
"HAH! INI APA SIH, GUE NGGAK KUAT HIKS."
Gebrakan dan teriakan dari Diva mengalihkan perhatian semua orang dari layar komputer masing-masing. Bukan sekali atau dua kali, Diva berlaku seperti ini saat menjadi rekan kerja Devon kurang dari sebulan. Hal-hal seperti ini akan terjadi jika deadline pengerjaan minta dipercepat.
"Kalo teriak, bilang-biyang dong, Div. Kuping gue pengeng, gila." Ali meniup kepalan tangannya lalu mengarahkan ke telinga berulang kali. "Tuh omangan gue juga jadi typo, kan. Argh."
Hanya Ali yang angkat bicara. Bukannya memperingatkan, malah mendebat. Devon hanya berharap tidak ada masalah dalam magang atau kuliahnya yang akan menjadi taruhan. Untung saja ruangan ini sepi, hanya tinggal mereka berlima yang notabenenya anak magang.
"Gue tuh, enggak bisa diginiin. Bener ini nanti laporannya bisa jadi selesai jam makan siang, tapi abis itu gue juga yang selesai, hiks."
"Ya tap—"
"Bisa diem, nggak? Berisik lo berdua!"
Devon hanya menjadi penonton setia ketika mereka membuat ulah. Diva si pembuat ulah, Ali yang menanggapi, Tasya si pemantik, dan terakhir, Mbak Bita yang menjadi wasit ketika keadaan sudah mulai tidak kondusif di telinganya.
Mbak Bita menyodorkan dua buah gunting berukuran besar dari dalam lacinya. "Nih, gunting."
Tidak ada pergerakan dari dua kubu itu. Mereka berdua saling tatap dengan pandangan 'Mbak Bita ngamuk, t***l'.
"Kenapa diem? Ayo ambil, cepet."
Mbak Bita berdiri, meletakkan satu per satu gunting itu di depan Ali dan Diva. "Cepet baku hantam, biar gue tahu siapa yang bakal mati duluan."
Tangan Devon tertarik secara paksa setelah Mbak Bita menyelesaikan ucapannya dan sebelum wanita bertubuh tambun itu berhasil mendaratkan bokongnya kembali ke asal, dua biang kerok yang tadi berbuat ulah membawanya berlari pergi.
"Woi gue belum selesai, y—"
Suara Mbak Bita terdengar menggema dan sedikit samar ketika mereka bertiga sudah sampai belokan lorong ruang divisi perencanaan.
"Gila! Mbak Bita kayak orang kesetanan, anjim."
"Iya, bener. Bibit-bibit psikopatnya udah muncul. Eh enggak, deng. Kayaknya mbak Bita punya alter ego, deh. Pas sama bu bos, santun buanget. Pas sama kita? Galak parah."
Setelah tadi menjadi lawan di dalam ruang divisi, kini dua orang di hadapan Devon menjadi sekutu yang saling mendukung pergibahan tentang mbak Bita.
Diva melepas pegangan tangannya dari Devon. "Hah-h gila pada-halh ... cuma lari dari ruang divisi sampek depan-h lift ... hah-h bisa ngos-ngosan beg-inih g-hue."
"Halah lebay." Ali menoyor kepala Diva pelan.
Ting!
Pintu lift terbuka tanpa ada yang menumpangi di dalamnya. "Ayo buruan masuk, keburu diuber mbak Bita."
Devon menatap lengannya yang lagi-lagi tergeret. Dua orang di depannya ini tidak memberitahu tentang tujuan mereka keluar ruangan.
"Tunggu."
Satu sahutan dari Devon menghentikan tangan Ali memencet tombol ke lantai 1. "Ini mau ke mana?"
"Nyari makan."
"Ke kantin?"
Mata Devon melirik sekilas ketika bunyi 'ting' terdengar, sepertinya Ali sudah memencet tombol lift.
"Ya enggaklah. Jam segini kantin mah masih rame, kita ke food court depan kantor aja. Ada yang jualan nasi kuning kayaknya, kebab sama burger juga ada."
Sepertinya dua orang di depan Devon ini menyadari kemasaman raut muka Devon, menilik Diva dan Ali melayangkan pandangan penuh tanya.
"Ada yang ketinggalan, Dev?"
Tak ingin kalah dari Diva, Ali juga melemparkan pertanyaan yang bermakna sama. "Dompet lo ketinggalan?"
"Enggak."
Kernyitan yang Ali dan Diva tampilkan, gerak-gerik penasaran, dan kalimat tanya itu secara tidak langsung membuat Devon disadarkan oleh kenyataan bahwa bertemu setiap hari dalam waktu kurang dari satu bulan, nyatanya tidak membuat mereka mengenali kebiasaan Devon.
"OH!" Teriakan Ali sedikit teredam seiring dengan bunyi lift yang terbuka.
Glek.
Seperti menelan kerikil, kerongkongan Devon terasa sakit. Ludahnya susah mengalir untuk sekadar membasahi kerongkongan. Pandangannya terpaku pada satu orang paruh baya dan satu orang lagi yang ia kenal sebagai ibunya dan Brandon.
"Mampus, gue harus ngapain," umpat Devon dalam hati.
Otaknya seperti membeku saat dihadapkan dalam situasi seperti ini. Baru saja tadi pagi, Devon berharap tidak akan bermasalah. Harapan yang tidak muluk-muluk untuk satu hari ini saja, namun sayangnya harapan itu sudah berpeluang pupus ... bahkan ini belum sampai setengah hari sejak Devon berharap.
Langkah dua orang itu semakin mendekat.
"Kenapa?" Devon menegang. Jangan bilang kalau Ali mengetahui apa yang tengah Devon dipikirkan.
"Gue janji kalo mereka nggak lihat gue, gua bakal pulang ke rumah weekend nanti sambil bawa Lily. Gue janji. Please, jangan lihat. Gue janji."
"Kenapa?" Picingan Diva yang mendesak, membuat Devon semakin terpojok.
Buliran keringat Devon mulai bermunculan bersamaan dengan langkah kaki yang semakin mendekat.
"Please, jangan sampek ketahuan." Harap-harap cemas, Devon sudah menghitung mundur dan menunggu bom waktunya meledak.
"Jangan bilang dompet lo yang ketinggalan," tuduh Diva.
Suara Diva yang melengking membuat Devon berani untuk menegakkan pandangan. Kabar buruk dan kabar baik lagi-lagi menghampirinya di saat yang bersamaan lagi. Kabar baiknya, Brandon dan mamanya tidak menyapanya di depan publik. Mereka berdua lenyap tertelan kotak besi khusus petinggi kantor yang Devon lupa sadari saat panik tadi. Kabar buruknya, mau tidak mau dan suka tidak suka ... Devon hatus menepati janjinya—pulang ke rumah dan menjaga Lily saat weekend nanti.
Ali menggeleng. "Bukan, si Tasya masih di atas. Lupa dibawa."
Tak lama dari itu, lampu pijar di kepala Devon tiba-tiba menyala. Ada satu kesempatan baginya untuk kabur dari makan siang ini. "Biar gu—"
Diva adalah seorang Diva yang susah dibantah.
"Enggak ada!" Diva mencekal tangan Devon dan Ali erat. Menyeret mereka menjauh dari depan lift menuju pintu lobby. "Biarin aja tuh mak lampir kejebak di kandang singa. Gue yakin, si Tasya bisa survive seruangan sama mbak Bita sendirian kok. Santai aja." []