Percayalah, anak kecil adalah makhluk paling pintar yang ada di muka bumi ini di balik topeng lugunya.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Malam minggu adalah hal yang paling dinantikan oleh sebagian banyak orang. Entah itu untuk me time, menghabiskan waktu romantis seperti berkeliling kota bersama orang terkasih, atau hanya sekadar untuk mengerjakan assignment yang seakan tidak ada habisnya.
Berbeda dengan Devon, waktunya berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah sabtu malam saja. Mau tidak mau dan suka tidak suka, sebagai lelaki dewasa yang dipegang ucapannya, Devon berusaha untuk menepati janji. Janji yang didengar disepakati oleh dirinya sendiri.
Monster kecil yang terlihat menyeramkan ini—terlebih kepangan rambut nanasnya yang sangat ketat dan rapi yang menimbulkan kesan maskulin jika dilihat dari belakang—kontras sekali dengan es cream dan permen kapas besar yang dibawa tangannya.
"Om."
Devon ingin berpura-pura tuli saat ini.
"Om. Psst ... pstt, Om Devon."
Melangkah terus, Dev. Abaikan Lily yang bertambah menyebalkan ini setidaknya khusus untuk malam ini.
"Psst! Hei, Om Devon!"
Seperti bisa membaca jalan pikiran Devon, bukannya berhennti merengek, Lily malah semakin gencar melakukan amunisi kepada Devon. Semua itu terbukti dengan Lily yang menarik paksa tangan mungilnya dari genggaman Devon.
"OM DEVON!"
Kaki mungil Lily mengentak-entak lucu ditambah dengan bibirnya yang mengerucut, Lily benar-benar peniru ulung. Entah siapa yang ditiru oleh Lily, di mata Devon tindakan Lily tergolong menyebalkan dibanding lucu.
"OM DEVON!"
Intonasi yang digunakan Lily meninggi satu tone suara karena tidak mendapat respons dari Devon sama sekali. Tidak ingin menebak seberapa persen kdar menyebalkan Lily akan bertambah, bahu Devin sudah merosot lelah bahkan sebelum berbalik.
"Astaga, anaknya Brandon, persis bapaknya. Gen setannya Brandon banget," batin Devon.
Tidak terkejut, posisi mata Lily yang melotot dan tangan mungil itu yang berpindah posisi menjadi bertolak pinggang dengan menyisakan 2 buah permen kapas yang terbungkus rapi tergeletak di atas paving ... Devon tidak bisa berkata-kata lagi.
"Lily mau beli itu sama itu!"
Mata Devon bergerak seiring arah tunjuk jari Lily. Oh tidak, jangan sekarang atau Devon akan hanya tinggal nama jika Shannon mendapati Lily jatuh sakit sehari setelah bersama Devon.
"No." Bibir Lily semakin memberengut bersamaan dengan gelengan dan penolakan Devon.
Kaki mungil dengan cahaya yang berkelip yang datang dari lampu saat sepatunya mengentak itu berjalan layaknya monster besar yang mematikan ke arah Devon. Tangan Lily menarik ujung kaos polo yang Devon kenakan. Tarikan itu mengencang seolah Lily bisa menyeret Devon untuk beranjak dari tempatnya berdiri.
"AYO CEFFAT. LILY MAU MAM ITU, OM."
"Lily, come on. Ayo kita pulang, ini sudah hampir malam."
Lily menggeleng. "No no no, beli itu baru pulang!"
"No, Lily. Come on."
Lily tidak menyerah, ia mengerahkan segala tenaga yang ia punya untuk menarik ujung kaos polo Devon. Sayang, hasilnya nihil. Tarikan monster sekecil Lily tidak mampu membuat Devon bergerak barang seinchi pun.
"AYO CEPAT LILY MAO BELI ITU. NANTI KALO PULANG TERLAMBAT DIMARAHI GRANDMA."
Devon menunduk ke bawah di mana tangan mungil itu sepertinya tidak akan menyerah sebelum keinginannya dituruti. Meski pun tenaga Lily tidak seberapa, tapi Devon yakin seratus persen ujung polonya akan molor setelah ini.
"Ayoo! Nanti grandma marah-marah."
Devon mendengkus dan membatin, "Kan ini juga gara-gara lo juga yang bikin ribet. Hih! Dasar bocil."
Devon pasrah jika memang beberapa hari lagi ia akan diadili oleh Shannon. Lihat saja, bisa-bisanya Lily tidak berkedip melihat jajaran food court di seberang sana.
Dengan menurunkan emosi, Devon bertekuk lutut mensejajarkan dirinya sama dengan Lily. "Lily mau apa?"
"Lily mau itu, Om!"
Seperti tebakan Devon tadi, panganan yang Lily mau adalah hal yang sama yang sejak tadi gadis kecil itu pelototi. Seolah jika ia berkedip barang sedetik saja, food court di depannya akan lenyap.
"Dan itu."
Wait ..., what?
Mata Devon langsung membulat seketika, saat gadis mungil itu lagi-lagi membuatnya terkejut. Hei, bahkan ini belum ada dua jam dari Devon menjemput Lily tadi ... t-tapi, Lily sudah membuatnya olahraga jantung berkali-kali. Memang benar adanya kalau Devon harus lebih banyak bersabar dan mengelus d**a belakangan ini.
"Pilih satu, Lily."
"Dua."
"Tapi Lily sudah beli ini, nanti siapa yang akan mengabiskan semuanya?"
Lily menepuk dadanya pongah. "Me."
"Me? Seriously, Mrs. Lily?"
"Aha."
Negosiasi alot dengan Lily adalah putusan final yang menyatakan sisa hidup Devon tak akan lama lagi. Devon hanya bisa berharap jika beberapa hari setelah ini Lily tidak sakit.
"Come on, Om!"
Devon sempat melongo sepersekian detik, setelah pikirannya berhasil kembali ke tempatnya berasal sebelum Lily semakin berulah.
Hell.
Mana yang tadinya merengek dan menariki ujung polonya untuk membeli jajan. Bocah tengil satu itu, kini malah berjalan bak model yang menggeol-geolkan pantatnya tanpa peduli dirinya membawa uang atau tidak untuk membeli makanan. Manipulatif sekali.
"Bibi, mau ini dua."
"Satu, Lily," sahut Devon di belakangnya.
"Satu, Bibi."
Lily berbalik badan, kedua tangannya menutup rapat mulutnya yang Devon bisa tebak tengah tertawa terbahak-bahak. Mungkin dalam hati kecilnya ia sedang menertawakan kebodohan Devon yang gampang sekali tertipu dengan akting bohongan yang sering Lily mainkan.
Devon mulai berhitung dalam hatinya saat penjual itu hampir selesai mengemas pesanan Lily.
"Terima kasih, Bibi."
3.
2.
1.
Sesuai dan selalu tepat. Tanpa rasa bersalah, lagi-lagi Lily langsung pergi meninggalkan stand food court tanghulu tadi begitu saja tanpa berpikir untuk membayar.
"Argh .... Dasar Lily! Shshshs," geram Devon dalam hati.
Mantra yang selalu Devon tancapkan ketika berurusan dengan makhluk menyebalkan berjenis kelamin perempuan. "Tarik napas, hembuskan. Tenang, Dev. Semakin cepat lo nurutin Lily, semakin cepat lo sampek rumah."
Tak ingin berlama-lama, Devon mengangsurkan beberapa lembar uang kepada penjual tanghulu di depannya ini.
"Ayo Om, kita pulang."
Apa kata Lily? Devon tidak salah dengar, kan? SHS—
Ingin rasanya Devon membenturkan kepalanya ke tembok saat ini juga. Devon saja baru saja menyelesaikan transaksi dengan penjual tanghulu ... atau mungkin bisa dikatakan hampir selesai—belum selesai.
Tapi, Lily?
Tangannya yang mungil agak kesusahan membawa satu kantong tanghulu, macaroon, selonjor kentang spiral, dan ... cola? Belum ada 5 menit Devon berkedip, tetapi Lily sudah memborong semuanya. Devon mengalihkan pandangannya ke belanjaan Lily yang ada dibawanya.
Es cream dan permen kapas.
Bukan beberapa hari lagi sisa hidup Devon, namun beberapa jam lagi. Mamanya mungkin juga akan membunuhnya saat mendapati Lily memborong makanan sebanyak ini.
"AYO CEPAT, OM. INI BERAT!"
Devon memutar bola matanya malas. Apa Lily tidak ingat kalau Devon harus membereskan ulahnya terlebih dahulu? Shhssh mengapa jadi terbalik seperti ini? Harusnya Devon yang marah, bukan?
Kaki Devon melangkah gontai menemui satu per satu stand food court yang telah didatangi Lily. Membiarkan monster jelek itu terus-terusan memberengut di samping mobilnya.
"Biarin aja, Dev. Salah lo sendiri sih, janji pake segala bawa Lily. Ya udah, rasain. Kemakan omongan sendiri kan jadinya."
Hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk Devon menyelesaikan semua kekacauan yang dibuat Lily.
"LAMA!"
Huh? Coba jelaskan pada Devon siapa yang sebenarnya membuat ini menjadi lama? Perlahan tapi pasti, Devon mendekat ke mobilnya. Bukan untuk membuka mobilnya, tetapi untuk membenturkan kepala.
"HAHAHA, KURANG KERAS, OM."
Hwe? Ini telinga Devon sedang tidak bermasalah, kan? Ini? Mengapa Lily dari tadi selalu memancing terus?
Napas Devon terasa berat. Tawa Lily terdengar seperti sedang benar-benar meledek Devon. Meledek janji Devon yang sebenarnya jika ia ingkari pun, tidak ada orang yang tahu. Meledek semua kebodohan-kebodohan Devon yabg selama ini jarang ia sadari. Jiwa-jiwa psikopat dalam diri Lily mulai tampak.
"Geez, ini belum ada dua jam, tapi gue rasa gue mulai gila."
Pip! Pip!
Suara sahutan sensor mobil dari keyless yang dipencet menandakan bahwa pintu mobil tak lagi terkunci. Devon meraih Lily yang masih setia tertawa terbahak dan memposisikan senyaman mungkin makhluk mungil itu agar tidak rewel lagi.
Untung saja Lily masih fokus mengendalikan tawanya sehingga Devon dengan cekatan bisa mengelabuhi Lily dan memisahkan monster itu dengan makanannya sementara waktu.
"Semoga pas sampek rumah nanti, Lily lupa sama makanannya," harap Devon.
Setelah menyembunyikan makanan Lily di jok belakang, Devon buru-buru mengitari mobilnya menuju bangku pengemudi di sebelah kanan.
Keburu Lily inget.
Devon melirik takut-takut ke jok samping kirinya. Untung saja satu monster kecilnya tengah menyibukkan diri dengan dress dan jaketnya. Tidak lupa akan keselamatan Lily, Devon memasangkan sabuk pengaman. Doakan saja semoga Lily tidak berulah.
"Angkat tangannya, Lily."
Lily mengangkat tangannya ke atas seperti seorang penjahat yang tertangkap basah oleh pihak yang berwajib lengkap dengan pelatuk yang bisa kapan saja melayang mengenainya.
"Done."
"Thank you, Om."
Satu langkah baik dari Lily dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa jiwa-jiwa monster Lily akan muncul ke permukaan lagi.
"Fuh ... kurang itungan menit, bakal nyampe rumah," pikir Devon.
Devon sudah bersiap untuk memasukkan kunci mobilnya ke dalam slot sebelum Lily mengulurkan tangannya tepat di depan muka Devon. Tanpa curiga apapun, Devon menjabat tangan Lily—melakukan gerakan salim.
"Tumben si bocil jadi baik," batin Devon.
Tangan kanannya mulai memutar kunci mobilnya agar segera bisa di-stater. Anehnya, tangan Lily tak kunjung turun setelah Devon menyaliminya beberapa detik yang lalu.
"Apa?"
Kerutan yang timbul di dahi Devon menandakan bahwa dirinya sudah mencium adanya tanda-tanda yang tidak beres.
"Cola Lily mana?"
Baru juga tadi Devon puji Lily adalah anak baik. Belum ada 5 menit bahkan. Tidak berminat untuk mengingatkan Lily tentang makanan-makanan kurang sehat yang dibelinya tadi, Devon merogoh laci dashboardnya. Beberapa kotak s**u full cream adalah benda yang selalu menjadi penghuni tetap tempat itu jika Lily di dekatnya.
"Nih." Angsuran Devon langsung tertolak mentah-mentah.
"Maunya cola, titik!"
Devon tetap menyodorkan sekotak s**u itu sampai ada pergerakan Lily akan menerimanya—harus. Atau Devon yang akan kena penggal, kalau Lily sakit tenggorokan.
"Minum s**u dulu, Lily. Colanya diminum kalau sudah sampai rumah."
Telunjuk Lily terangkat menuju dagu seiring dengan tatapannya yang menajam, seolah tahu bahwa Devon sedang memanipulasinya.
"Lily minum s**u, tapi ...."
Devon tersenyum meski hatinya berteriak, "Bunuh gue sekarang! Bunuh cepetan! Ini kenapa si unyil ada-ada aja, sih! Argh."
Lily tak henti-hentinya melirik ke arah dashboard depan Devon. "Lily mau iPadnya Om Devon."
"Kalau sedang berkendara tidak boleh bermain alat elektronik, Lily."
"Yups, you're right. Tapi Lily tidak sedang berkendara. Om Devon yang akan mengemudi, bukan Lily. Jadi tidak apa-apa. Cepat, kemarikan!"
Bunuh Devon sekarang juga, tolong! []