BAB 31| Hari Buruk Bersama Lily [2/2]

1598 Kata
Lagi cosplay jadi patung kucing. Penting? Temui besok lagi—Devon. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Seharian ini, Lily makan ice cream, makan ayam, makan ikan, makan buah pisang ...." Jemari Lily menelungkup seiring dengan apa-apa saja makanan yang ia sebutkan. "Terus Lily makan cokelat, makan cake, makan candy, makan ayam lagi, makan cokelat lagi." Agatha mengelus rambut Lily ringan, cucu dari keponakannya ini luar biasa menggemaskan. "Lily suka?" Lily yang merasa dirinya ditanggapi, mengangguk antusias. "Suka banget dong, Devon yang duduk di samping mereka berdua, miris mendengar makanan-makanan kurang sehat yang dikonsumsi Lily seharian ini. "Hari yang buruk." "Sst! Dev." Agatha menendang punggung Devon yang duduk lesehan di samping sofa tanpa mengeluarkan suara. Oh jangan lupakan permen kapas, tanghulu, macaroon, kentang spiral, cola, ... dan ice cream—lagi. Jajanan yang Lily pilih sore ini juga menambah kadar ketidaksehatan untuk tubuh mungilnya. Bayangkan betapa jahatnya Devon sebagai paman? "Ah iya tadi Lily juga makan kentang benyek." "Hah? Apa?" Dahi Devon semakin mengerut mendengar ocehan Lily berjam-jam. Seberapa persenkah hal yang tidak Devon ketahui dari bocah sekecil Lily, pikirnya. Lily yang merasa ada yang menanggapinya selain Agatha, merosot dari sofa, lalu hinggap merangkul leher Devon dari belakang—atau lebih tepatnya mencekik. "Iya, tadi siang Lily dikasih kentang benyek. Iyuh, wlee. Rasanya enggak enak." "Kentang benyek?" Devon mengulangi pertanyaannya lagi. "Hu'um kentang benyek. Lily mengangguk, mulutnya sibuk menjilati bumbu barbeque kentang spiralnya. Lily berbalik, mencomot secuil kentang dalam bungkusan yang dibawa Agatha. Tangan mungilnya mengangkat cuilan kentang itu tinggi-tinggi. "Lebih enak ini, Om. So delicious." Sangat amat tidak tahu dirinya Lily, tangan bekas dari jilatan mulut mungilnya itu melipir dan mendarat tepat, meraup wajah Devon. Devon mendelik. "Jorok." "Nyenyenye, yang penting kentang ini enak, enggak benyek. Harusnya tadi beli 2, Om. Ini enak banget tahu." Devon melayangkan pandangan tajam. "Anak kecil nggak boleh kebanyakan micin, Lily." "Apa? Aduh nggak kedengeran, Om." Tungkai kecil Lily bergerak menjauh seraya menutupi telinganya. "Pokoknya kentang benyek itu tidak enak, periodt!" "Kentang benyek itu apa, sayang?" Agatha yang mendengar celotehan Lily sedari tadi, lama-kelamaan menjadi penasaran makanan semacam apa yang Lily elu-elukan. Pergerakan Lily meledek Devon terhenti. Kedua tangannya yang sibuk menutupi telinga, kini beralih seperti menjabarkan sesuatu. Tabgannya menyatu membentuk sebuah mangkuk berukuran kecil. "Seperti ini, Oma." Mulut yang mengerucut dan dahi yang mulai in berkerut menandakan bahwa otak Lily kesusahan untuk menyuruh mulutnya mendeskripsikan sesuatu. Mulut mungilnya berdecak, "Ck, itu loh seperti yang sering dimakan kak Cia." "Cia?" Kini ganti dahi Devon yang mulai berkerut dalam. "Kentang benyek macam apa yang sering dimakan Cia?" pikirnya. Tidak butuh waktu lama, otak Devon mampu menangkap apa yang dimaksud Lily. "Mashed potato?" Kepala Lily mengangguk antusias layaknya boneka dashboard. "Iya, itu adalah kentang benyek." Terserah. Devon hanya bisa tabah untuk bisa masuk dalam jalan pikiran perempuan. Entah perempuan ajaib mana yang nanti akan menjadi istrinya. Anggap saja ini adalah pembelajaran sebelum dirinya nanti menemukan pendamping hidup. Terlebih bocah kecil seperti Lily yang lebih layak disebut monster ini, selalu menjawab dan bertanya dalam satu waktu yang bersamaan. Entah Lily yang salah didikan atau Lily yang terlalu kritis ... atau malah Devon yang intoleran terhadap pikiran perempuan yang menurutnya terlalu tidak masuk akal. "Om Devon." Tanpa Devon menoleh ke samping pun, ia sudah mengetahui bahwa jarak Lily sangat dekat dengannya dan nada bicara Lily barusan? Sepertinya gadis kecil itu tengah merayunya. Devon sendiri tidak tahu hal gila apalagi yang merasuki pikiran Lily. "Mau minta itu, Om." Devon berbalik ragu, otaknya sudah tidak lagi mampu mengira apa arti 'itu' yang Lily inginkan. Wajah innocent lengkap dengan puppy eyes dan bibir penuh liur. "Apa?" "Itu! Lily mau itu." "Hell, apalagi, sih?" Kebingungan Devon kembali bermula saat tidak ada barang apapun yang cocok untuk anak kecil seusia Lily di depannya. "Lily titisan siapa, sih? Itu? Itu apa? Itu yang mana?" Kini Devon benar-benar menyesal mengucap janji secara sembarangan. Lily mengentak, kakinya bergerak ke sisi kanan Devon. Gemerlap sinar dari mata Lily mengarah ke satu-satunya gelas yang ada di meja itu ..., es kopi. "No!" Devon berhasil memindahkan kopinya ke kolong bawah meja dekat dengan kakinya yang mustahil terjangkau Lily. Tidak! Jangan lagi. Kurang random apalagi hidup Lily dengan memakan semua makanan tanpa difilter terlebih dahulu. Jika Devon mengiyakan permintaan Lily untuk yang satu ini, seberapa jahat Devon ikut mendukung Lily untuk hidup tidak sehat. "OM DEVON! Oma li—" Lily sudah sangat siap menyemprot Devon dengan segala omelannya dengan posisi berkacak pinggang, sebelum suara lain mengalihkan perhatiannya. "Selamat malam." "Om Levin?" "Loh ada Lily?" Sepertinya bukan hanya Devon saja yang kaget jika menemui Lily di sembarang tempat, buktinya Levin juga. Raut wajah penuh tanda tanya tergambar jelas dalam muka Levin saat melihat makhluk yang paling ia hindari ada di sini. Benar saja, semakin jelas ketidaksukaan itu terlihat di wajah Levin, semakin besar pula keinginan Lily menghampirinya. Rok dress Lily mengembang seiring langkahnya yang semakin cepat ke arah Levin. Mari kita lihat apa yang akan terjadi. Tangan Lily meraih satu kantong belanjaan besar dari tangan Levin. Bocah setan itu ternyata lebih tertarik menyambut bawaan Levin daripada menggandeng tangan Levin. "Lily mau ini!" Bahkan Devon sendiri tidak tahu barang apa yang dibawa Levin, namun si mungil Lily malah sudah menandainya terlebih dahulu. Lelucon apalagi yang terlewatkan oleh Devon tentang cara pikir perempuan? "Om Wil ada di rumah, Tan?" Agatha menggeleng. "Ke rumahnya Brandon sama Lim—ayahnya Brandon—nggak tahu ngapain, tadi bilangnya mau ngomongin pembangunan di mana gitu. Tante lupa." "Terus ini?" Pandangan Levin memicing ke arah Lily yang masih setia menggelayuti tangannya. "Kok ada bocah udik di sini, sih, Tan?" Hebatnya Lily adalah dikatai seperti apapun pasti akan tetap tersenyum. Entah apa maksudnya, Devon sendiri tidak paham. Siapapun tidak ada yang tahu pasti apakah Lily sedang meledek atau sebenarnya Lily tidak tahu apa yang dimaksud orang-orang sekitarnya. Dagu Agatha menunjuk Devon yang duduk berleseh di samping sofa. "Tuh yang bawa tadi." Devon yang sadar bahwa dirinya menjadi tersangka yang akan dihakimi selanjutnya langsung melengos. "Devon yang bawa balik Lily ke sini, Tan?" "Iya, betul sekali." Bukan Agatha yang menjawab, tapi Lily. Jawaban yang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya. Monster kecil itu menyeret ujung baju Levin untuk mempercepat langkah ke sofa dan segera membuka barang bawaannya. Dan benar, belum ada sedetik Levin mendaratkan bokongnya di sofa, belum sampai kantong bawaannya mendarat di tempat yang seharusnya. Lily sudah kembali merecoki pemuda itu dengan mode brutal. "Lily mau ini, Om. Lily mau ini!" "Apa, sih?" Levin memindahkan belanjaan ke tangannya yang lain. "Orang ini buat Tante Aga, bukan buat Lily." Merasa kalah, Lily berbalik, menatap Agatha dengan cebikan maut. Gaya andalannya jika terdesak karena keinginannya berkemungkinan tidak dituruti. "Oma Aga, Lily mau itu!" Agatha hanya mengangguk, menyetujui itu. "Iya." "OM LEVIN! Mau itu!" Levin yang melihat bahwa Lily pasti menang hanya bisa berpasrah diri dan berakhir dengan meletakkan bawaannya tepat di depan Lily berdiri saat ini. Membiarkan monster itu mengobrak-abrik apapun isi yang ia bawa. "Kamu udah makan malam, Vin? Kalau belum, makan, gih. Tante masak jamur sama opor, di dapur masih banyak," tawar Agatha. Levin manggut-manggut, menunggu lengan mungil Lily yang lebih terlihat seperti bantalan roti selesai mengacak-acak belanjaannya. Bunyi 'krek-kres' itu semakin lama, semakin menjadi. Seolah si pembuat bunyi sedang menabuh genderang peperangan. "Lily berisik!" Dari kacamata Devon, dia bisa melihat semua isi dalam kantong belanjaan yang Levin bawa. Jangan tanya bagaimana kondisi belanjaan itu saat ini, yang pasti meluber ke mana-mana isinya. Makanan-makanan itu tercecer, melimpah ruah di lantai. Setelah sekian lama merusuh, Lily mengusungi semua pilihannya berjalan menjauh. Oh tidak, malah mendekat ke arah Devon. "Jangan bilang kalau anak itu mau minta perlindungan." Rasanya, dugaan Devon berpeluang benar hampir 100%. Badan Lily yang mulai oleng karena sebagian besar fokusnya terarah pada cara membawa makanan pilihannya agar tidak ada yang tertinggal, membuat kakinya mulai terseok. Dan tepat sekali, arah jalannya benar-benar menuju Devon. Geez. Kentang, ayam, nugget, milo, dan ... es krim lagi? Hell, bahkan ini belum ada seperempat jam dari Lily menghabisakan penganannya tadi. Dan ini? Lalu ke mana perginya permen kapas, tanghulu, dan antek-anteknya tadi? Devon bisa jamin kalau bukan beberapa bulan lagi, kalau Lily tidak obesitas, kemungkinan besar Lily akan sakit gigi. Tak ayal, dua orang dewasa berbeda generasi yang ada duduk di sofa mulai terperangah oleh ulah Lily. "I-ini buat Tante Aga sama om Wil loh, Li. Kenapa makanannya diangkut semua?" Sepertinya Devon wajib diacungi jempol atas tingkat kewarasan otaknya menghadapi Lily, buktinya Levin bisa dibilang otw K.O. "Ini Lily bagi sama Om Devon." Bullshit yang seringkali Devon dengar. "Om Levin disuruh makan ini?" tunjuk Levin ke arah bawah. Lily mengangguk tanpa menoleh. "Iya." 2 kotak pizza, dua kantong kertas berisi buah , 2 botol air mineral, dan 2 paket salad ukuran large ... mm, dan sebungkus burger. Kalau Devon tidak salah tebak, makanan-makanan itu yang tidak masuk dalam list Lily. "Dev." Levin memicing meminta penjelasan. Devon balas mengedik, ia sendiri juga kurang tahu dengan polah Lily. Tidak bertemu lebih dari seminggu, membuat Lily terlihat seperti monster sungguhan. "Lo nggak salah gitu bawa balik bocah setan ini?" Devon melotot, kepalanya muncul warning tentang kepekaan telinga Lily dan akan bahaya jika bocah mungil yang tengah asyik melahap nugget di sampingnya ini bertanya yang tidak-tidak. Bad words. "Ini malem minggu, Dev. Kalo gue jadi elo sih, gue bakal ngajakin si Clara jalan atau cewek unyu yang pernah lo anterin pulang itu. Manusia aneh mana lagi yang mau jagain bocah udik kayak monster begini, mana malem minggu lagi. Gue juga bakal mikir dua kali." "Siapa?" Suaranya mamanya yang melantun ringan seakan menjadi palu bagi Devon. Lengkap sudah, deritanya malam ini. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN