BAB 32| Tarzan Cantik

1633 Kata
Usaha berbanding lurus dengan hasil ... itu mutlak. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Penghujung minggu yang entah mengapa sangat Devon tunggu sekali minggu ini. Pesan dari Cia yang akan mengatakan akan take video di rumah orang tuanya membuat tekad Devon bersemangat sejak pagi, bahkan sejak dirinya bangun tidur tadi. Sesemangat itu. Devon melarikan netranya untuk menengok sekilas arloji yang terpasang di pergelangan tangannya. Pukul 05:58 am, ingin rasanya Devon berlari secepat yang ia bisa untuk segera pulang ke rumah. Tapi ini? Monster kecil di sampingnya ini masih setia menempeli sejak kemarin malam. Jelas saja, Devon tidak bisa mengambil keputusan grasak-grusuk pagi ini karena ada bocah bayi yang harus diasuhnya. Bibir komat-kamit khas Lily jika menikmati makanan, seolah sedang meledek Devon. Meledek semua hal yang selalu Devon putuskan secara terburu-buru, lalu berujung menyesali semuanya seketika itu juga. "Om, minum," pinta Lily dengan mulut penuh. Devon menyodorkan segelas teh hangat yang masih tersisa separuh. "Apa bener anak kecil kalo makan-minum, bibirnya selebay ini?" pikirnya. Hei, Lily tidak sedang benar-benar menggodanya, kan? "Thank you." "Hm." Oke, katakan apa yang harus Devon lakukan selagi menunggu Lily sarapan? Lari pagi di hari minggu dan berakhir sarapan bubur ayam dan sate telur puyuh di pinggir jalanan adalah rutinitas yang seringkali keluarga besarnya jalani. Namun sepertinya, sekarang Devon ingin membolos dari rutinitasnya. Lihatlah, cara Lily makan melebihi lambatnya seekor kura-kura anemia. Mengapa bocah ini selalu menghalanginya melakukan sesuatu. Ya Tuhan, sekali ini saja. Devon hanya ingin ini cepat selesai dan segera mengembalikan Lily pulang. "I-iii." Oh tidak, apalagi sekarang? "I-ii." Tangan bantet Lily tidak cukup panjang untuk menjangkau apa yang ia inginkan di tengah meja sana. Sebaliknya, gadis mungil itu juga tidak ingin untuk meminta tolong. Devon juga tidak ingin men-treat Lily lebih lama di tempat ini, hanya berminat untuk melihat saja dan akan turun tangan menolong jika sewaktu-waktu bocah di depannya ini menangis tiba-tiba. Devon kembali melirik arlojinya. Geez, berapa lama lagi ini? "Ck, OM DEVON! YA AMPUN, LILY MAU TAMBAH SATE TELURNYA! TANGAN LILY NGGAK SAMPAI!" Devon menghela napas pasrah ketika teriakan Lily terdengar. Wanita dan segala gengsinya. Bibit emak-emak yang tidak mau salah dan selalu menganggap dirinya benar, sudah tertanam di diri Lily sejak kecil. Sebenarnya dari awal ia bisa meminta tolong secara baik, tanpa perlu mengeluarkan tenaga dan berteriak. Tapi apa? Jalur ego dan gengsi yang tinggilah yang selalu dipilih. "Cewek yang gede gengsinya atau lo yang kurang peka, Dev?" Tiba-tiba suara lain dari hatinya menyerukan suatu yang berbanding terbalik dari pikirannya. Devon berdecak, mengabaikan semua halusinasi semu pagi hari dengan mulai menyodorkan 3 tusuk sate telur yang Lily minta. "Maaciw, Om." "Hmm." Tidak ada kata lain yang Devon katakan. Oh, God. Lalu? Apa Devon harus benar-benar menunggu Lily? Sepertinya iya. Sarapannya sudah tandas sejak beberapa menit yang lalu. Lily? Lily terlihat sangat menikmati sarapan paginya. Ternyata aktivitas menunggu da menghitung setiap pergerakan jarum di arloji sangatlah memuakkan. "Mm, yummy!" Suara yang tertahan akibat mulut yang penuh bubur itu bergumam riang mengomentari makanannya. Hell, mangkuk Lily masih terbilang cukup penuh untuk porsi balita. Mungkin masih tersisa setengah mangkuk—bahkan lebih. "Lily," panggil Devon. Bocah kecil itu menoleh dengan area bibir penuh noda bubur yang belepotan. Tidak berniat untuk menjawab panggilan Devon, ia hanya menaikkan alisnya saja tanda tengah menanyakan sesuatu. "Om suapi, ya?" Lagi-lagi Devon harus benar-benar bersabar jika mengasuh Lily. Jari lentik di depannya bergerak ke kanan dan ke kiri secara berulang. "No, no. NO! Lily bukan bayi kecil lagi ya, Om. Lily sudah besar tahu." Terserah. Tolong cekik Devon sekarang juga! Siapapun. *** Kaos lengan panjang dengan strip biru tua yang melintang horizontal dipadu dengan overall dress warna maroon, serta bandana polkadot yang menghiasi kepalanya membuat outfit gadis itu sangat menggemaskan. Nampaknya, tidak bagi Devon. Gadis mungil yang tengah duduk di samping kemudinya dengan jari-jarinya yang bantet, namun masih terlihat lentik itu sibuk menekan dan membuat pola abstrak di layar sana. Merupakan suatu bencaana bagi Devon saat Lily mengatakan ingin kembaki ikut Devon hari ini. Monster ini merasa kurang saat merecoki hidup Devon kemarin dan ingin melanjutkannya hari ini. "Gendong, Om!" Lily merentangkan kedua tangannya ke depan tanpa melihat ketika dirasa Devon membuka seatbelt miliknya. "Lily mau main sama dedek Fanny. Lily kangen!" Kebohongan pagi ini yang entah telah Devon dengar beberapa kali dari mulut Lily. Jika ditilik lebih lanjut, memang tidak sepenuhnya salah. Kangen menjahili Fanny lebih tepatnya, mungkin. Devon menarik iPad-nya dari pangkuan Lily dan mulai berjalan menuju pintu masuk yang terhubung langsung dengan garasi. Cklek. "YUHU, LILY CANTIK DI SINI." Pergerakan Lily yang tiba-tiba merosot dari gendongannya, membuat Devon sedikit oleng. Bukan karena kaget Lily akan jatuh, namun penampakan orang-orang di dalam sana yang membuat dirinya kaget. Wow. Untung saja kantong belanjaan Devon dan i-Pad di genggamannya tidak jatuh. "Ayo, sini masuk," sapa Tante An yang tengah duduk di sofa dengan dua orang gadis lain di depannya. Devon berkedip, setengah sadar ketika mendapati Lily sudah sampai tiba ruang tengah. "Lily mau ini. Lily mau ini!" Kan? Devon sudah bilang tadi. Seanggun dan secantik apapun outfit yang dikenakan Lily, tetap saja bocah itu pasti memilih menjadi monster perusuh. "Lily! Jangan rusuh! Ini mau dibuat konten, nanti rusak semua!" Cia mendelik, namun tak membuat Lily gentar.q "Ck, makanya bagi. Lily juga mau cantik tahu." Devon bisa melihat dengan jelas bagaimana anak berumur lima tahun itu menyerobot ke tengah-tengah dua orang remaja yang Devon perkirakan usianya tidak terpaut terlalu jauh. "Dari rumah, Dev?" Pertanyaan dari Tante An mengalihkan pandangan Devon dari sana. Devon mengangguk. "Hehe iya, Tan." "LILY! Jadi bocah nakal banget, sih! Balikin, nggak?! Cepet!" Lagi, pertikaian antara dua jenis manusia berbeda usia itu terus-terusan terjadi jika mereka berdua bertemu dan disatukan dalam satu ruangan. "Udahlah, Ya. Kamu ngalah, pinjemin dulu. Orang alat make up kamu juga banyak." Mendengar An berada di pihaknya, Lily mengangkut hampir setengah dari barang-barang Cia yang tercecer di meja. "Loh ... tapi 'kan, Ma—" "Sst! Nggak ada tapi, Cia. Mama mau nengokin Fanny dulu." "Nyenyenye .... Nyenyenye." Ritual menggeolkan p****t khas Lily ketika meledek dan lagu kebangsaannya terdengar nyaring ketika kemenangan tepat di depan matanya. Hal ini sebanding dengan pelototan yang Cia layangkan kepada Devon. Pandangan yang mengatakan 'kenapa bawa bocil ke sini, sih!' itu melekat selama hampir satu menit. Tak ingin ikut campur, Devon hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. "Udah, kita bikin kontennya sekalian ngajak Lily aja gimana?" Suara yang tak asing memasuki telinga Devon. Suara yang biasanya hanya bisa ia dengar secara virtual, kini ia bisa dengar secara jelas. Yang pasti lebih merdu dan sopan saat memasuki indra pendengarannya. "NGGAK!" "Boleh!" Penolakan terdengar dari pihak Cia dan teriakan excited menggaung dari bibir mungil Lily. Dua jawaban yang bertolak belakang sama-sama kuat menjawab usulan Audy. Yaps, itu Audy. Gadis yang selama ini Devon kagumi dalam layar ponsel. Tidak hanya di dunia maya, ternyata positive vibes yang Audy tebarkan juga masuk dalam dunia nyata. "Nggak! Nggak ada main bareng dia," tolak Cia. Lily yang sedang disibukkan dengan mempreteli semua barang Cia yang ia bawa ikut menyahut, "Bilang aja, takut kalah cantik sama Lily." "Berisik!" Tak ingin kalah omong dari Cia, Lily kembali mendumel. "Yang penting cantik!" Perdebatan sengit itu mungkin tidak akan berhenti, jika salah satu kubu belum ada yang melontarkan pernyataan mengalah—read: menangis. Audy terlihat kebingungan melihat peprangan antara dua sepupu itu di sana. Layaknya orang asing yang bingung harus apa, takut-takut kalau salah melangkah malah Audy yang turut kena imbasnya. Bukan hanya Audy, sudah lama Devon menjadi sepupu dan paman dari Cia dan Lily juga masih membuatnya merasa asing. Devon benar-benar masih asing dengan segala pertengkaran random para perempuan di sekitarnya. Terlebih Devon adalah anak tunggal dan para sepupunya rata-rata laki-laki. Perempuan adalah makhluk rumit baginya dan mindset itu masih tertanam utuh belum menemui jawaban yang pas sejauh ini. "Mm udah?" Kentara sekali Audy takut untuk menengahi perdebatan alot dari Cia dan Lily. "Bisa balik fokus ke konsep aja?" Cia mengangguk, masih dengan hati yang dongkol. Samar tapi pasti, Devon hanya mampu melirik ke arah seberang. "Hallo, peeps. Back again with me, Florenciaaa. Jadi—" "Flolenciaaa," ulang Lily dengan nada meledek. Cia berhenti dan mendengkus di tempat. Audy hanya bisa pasrah melihat perubahan mood Cia yang sangat ia tahu bahwa itu akan benar-benar mempengaruhi proses berkonten dan hasilnya nanti. Sebagai influencer, dirinya juga pernah merasakan hal yang sama. "Mau pindah tempat?" tawar Audy. Cia menggeleng, Audy samar dengan tangan Cia yang memegang foundation berbotol kaca. Takut jika sewaktu-waktu barang itu melayang entah ke mana. Devon melambaikan tangannya pertanda memanggil Lily. Masih ingin membantah, Lily mengernyit seraya menaikkan dagunya untuk bertanya. "Ck, kemarilah." "Kenapa, sih?!" Dengan hati yang dongkol, Lily mendekat dengan mengentakkan kakinya kaku. "Mau gambar, nggak?" Devon sangat waswas tidak ada perubahan raut di wajah Lily. Kalau Lily tantrum terus nggak betah malah gawat. "Ayo, Om ajarin." Masih tidak ada perubahan. Devon menghela napas lelah, jangan sampai dia diharuskan pergi dari sini sebelum bertemu Steve. Oh, atau itu hanya alibi dan Devon masih belum ingin meninggalkan tempat ini? Tangan Devon kembali melambai ke arah Lily. Kali ini, dengan ajakan lebih lembut. "Kemarilah." Lily maju satu langkah lebih dekat. "Tapi Om yang gambar buat Lily, ya?" Devon mengangguk. "Hmm." Satu senyuman menyambut disertai acungan kelingking di hadapan Devon. "Pinky promise?" Lagi-lagi Devon mendesah frustasi, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menyetujui Lily. "Promise." "Oke, sekarang Lily mau gambar tarzan cantik!" Tanpa mereka semua sadari gaungan antusias yang lontarkan, membuat satu orang di ruangan itu membeku di tempat. Tak lama, ruangan menjadi senyap ... hanya dipenuhi suara Cia dan Audy yang tengah mengobrol asyik di depan kamera dan Lily yang tertarik menatap layar iPad Devon tanpa berkedip. Tangannya mengukir garis-garis indah di atas layar itu dengan tatapan yang terkunci pada satu sisi di sebelah sana. Lengkungan ke atas di bibir Devon menandakan bahwa weekend kali ini adalah weekend terbaik yang ia punya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN