· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Lega rasanya.
Mengingat kurang sedikit lagi apa yang sedang dipertaruhkan menemui hasil. Belum, baru akan. Lagi-lagi Devon tidak boleh berbesar kepala dan berangan yang mampu menjatuhkan ekspektasinya nanti.
Hanya orang bodoh yang mengulang kesalahannya dua kali. Dikejar emosi, dipeluk panik, dan berakhir dengan berendam dalam kubangan yang sama.
Ah, kurang baik apalagi Tuhan?
Dua bulan mungkin waktu yang terbilang cukup singkat, namun dua bulan terakhir benar-benar menguras energi Devon, baik itu pikiran maupun keringat.
__________
audiueo: Thank you, Kak ʕ ꈍᴥꈍʔ. Kalo kataku sih, yang gambar naganya gagal, malah mirip uler keket, hiks. [10:50 pm]
__________
Devon mengumbar senyumnya lebar. Hatinya menghangat mengingat dirinya tak perlu lagi bersembunyi di belakang second account. Pesan-pesannya tak perlu mengantre dalam lautan request message i********:.
Beauty privileged itu memang nyata. Devon berhutang banyak terima kasih kepada Lily dan Cia. Bukan norak, tapi pernah nggak, sih? Ngefans sama orang di sosmed terus ketemu di real life, tatap muka dalam satu ruangan yang sama. Berbagi udara yang sama, bener-bener sedeket itu, bruh. How does it feel?
"Biasa aja kali, segitunya banget. Gini nih, kalo yang biasanya diagung-agungin berubah jadi ngagungin orang," batinnya menonjok, melempar Devon ke dasar laut.
"Bodo amat yang penting gue seneng, periodt! Whoopsie!"
Hati yang berbunga dan pemandangan city light yang menyegarkan mata, tak ayal membuat manik mata Devon semakin berbinar. Berputar mengelilingi kota untuk pulang.
Bukannya semakin malam, semakin meredup. Ini malah semakin berbinar. Aura gemerlap itu terpancar benderang ditambah hiruk pikuk kota yang seakan tak mau surut adalah nilai tambah tersendiri.
"Mampir beli makan dulu enak kali, ya?" pikir Devon.
Tangan kanan Devon bersiap untuk memutar arah kemudi sebelum 37 meter di depan sana menemui drive thru junk food yang masih buka. Ada 4 antrean lagi sebelum dirinya bisa memesan.
"Gila, sih," komentar Devon.
Bukan karena antreannya, namun satu mobil pengantre di depannya. Gemuruh sorai dalam mobil itu menggelegar terdengar sampai luar. Membagikan keasyikan tersendiri yang mampu membuat keirian tersendiri bagi yang melihat.
Devon merebahkan kepala ke stir kemudi, menikmati apa yang tengah dilihatnya sekarang ini. "Pengen deh, kalau udah in relationship nanti kayak mereka."
Berbagi keluh kesah keseharian, menunggu jam bertemu bersama, deep conversation, atau melakukan hal menyenangkan lainnya bersama. Betapa serunya jika hal itu terjadi? Hanya satu pertanyaan besar yang melekat di benak Devon. Kapan?
Mungkin itu akan menjadi wishlistnya nanti, entah kapan waktunya akan terjadi biarlah mengalir dengan sendirinya. Devon tidak ingin terburu meski dirinya ingin.
Carpool sampai suara serak, berkeliling kota tanpa arah hanya untuk melihat city light, piknik di kala weekend, atau stargazing di pantai. Semoga aja rencananya bukan sekadar wacana.
"Kalo ada pasangannya enak sih, Dev," sindir otaknya.
"Tapi kenyatannya cari yang satu frekuensi itu susah!" teriak hatinya.
Dua hal dalam diri Devon yang selalu bertolak belakang. Bagaimana bisa dirinya melakukan reparasi hati dan otak kalau tukang reparasinya adalah dirinya sendiri. Rasa ragu dan takut yang terpupuk damai dalam alam bawah sadarnya. Yang perlu berdamai adalah dirinya sendiri.
"Why are they so cute?"
Bayangan sepasang manusia dalam mobil itu benar-benar berhasil membuat Devon iri. "Kapan gue bisa kay—"
Tin!
Suara klakson dari pengendara mobil tak sabaran di belakangnya, mengingatkan Devon untuk segera maju. "Ah, kayaknya gue kehipnotis sama pasangan tadi."
Devon sedikit memajukan mobilnya untuk menjangkau speaker drive thru. Menyebutkan pesanan yang ia inginkan untuk menghabiskan malam ini. Ia tahu terlalu banyak junkfood memang tidak baik. Tapi sedikit bersenang-senang untuk malam ini tidak ada salahnya, bukan?
"Dih, sok iye banget lu, Dev. Kalo ngelarang Lily aja sok bener, ngaca woi ngaca!" Otaknya lagi-lagi kembali berkoar. Ya nggak salah juga.
"Pesanannya sudah betul ya, Kak? Silakan ditunggu dan maju untuk pembayarannya. Terima kasih."
Devon menampilkan senyum simpul sebatas formalitas dan berlalu. Antre, bayar, lalu pulang. Make this as simple as he can. Sudah waktunya Devon tidur nyenyak malam ini setelah dua bulan otaknya dipacu unyuk berpikir keras.
"Permisi, Kak." Suara bernada sama dengan operator yang didengarnya melalui loud speaker barusan menyapa Devon. "Pesanannya."
Devon menerima kantong pesannya seraya menyerahkan sejumlah uang sesuai harga yang harus dibayar. "Terima kasih."
Tak ingin berlama-lama di sana, Devon langsung tancap gas untuk melenggang bebas meninggalkan tempat itu. Dirinya merasa terintai, terlebih pengemudi di belakangnya tadi sempat membunyikan klakson. Salah satu jenis orang yang perlu dihindari.
"Mari kita pul—"
Ckit. Tin!
AAAAAA!
"s**t!" Hari menyenangkan ini rupanya sedang tidak berpihak pada Devon. Tinggal mengemudi untuk pulang dan harinya akan berakhir tenang, namun ini?
Bukan salah orang lain, dirinya juga ikut andil di dalamnya. Devon meletakkan segelas es kopinya yang tersisa setengah di tempat yang datar—setengahnya telah tumpah akibat tragedi barusan.
Tangan Devon mengambil kotak tisu di dekatnya secara serampangan. Membersihkan air yang mengenai celana kainnya secara kilat.
Aneh, bukan karena tumpahan kopi di dalam mobilnya, melainkan orang di seberang sana. "Kenapa dia diem aja?"
Devon menunggu orang itu mengetuk kaca mobilnya, memaki, mencak-mencak sembarangan, beradu argumen, dan kegiatan lain yang biasanya dilakukan ketika dua pihak tengah terlibat perkara hampir kecelakaan.
"Jangan bilang kena?" ujarnya ragu, "tapi jaraknya jauh." Devon mengangkat pantatnya sedikit mengintip lalu kembali terduduk.
Sepenglihatan Devon, orang itu adalah seorang perempuan. Rambutnya khas menjuntai menutupi wajah. "Tapi dari tadi diem."
Ini sudah lewat dari tiga menit dari Devon membersihkan celananya yang terkena tumpahan es dan perempuan itu tetap diam tak ada pergerakan sama sekali. "Ya kali hantu." Devon kembali mengintip ragu, memastikan kaki perempuan itu memijak tanah. "Napak kok.
Mata gelap Devon memicing sekali lagi, ragu untuk melangkah keluar. "Ini bukan penipuan berkedok kecelakaan, kan?" gumamnya.
Pikiran buruk sudah menguasai kepala Devon bahkan sebelum tubuhnya bertindak. Ragu, perlahan tapi pasti jemari Devon membuka pintu mobilnya. Ini akan tetap menjadi misteri jika dirinya tidak mencari tahu.
Tungkai panjangnya melangkah perlahan. Netra Devon menangkap pergerakan punggung mungil itu tersendat naik-turun secara cepat. Devon tebak perempuan ini sedang menangis, gerakannya sangat jelas tertangkap mata telanjang.
Getaran punggung itu semakin terlihat seiring dengan mendekatnya jarak Devon. Isakan yang mulanya lirih juga semakin mengencang.
"AAAA!" Teriakan itu terdengar menyayat telinga ketika telapat tangan Devon berhasil mendarat di pundak ringkih itu. "Nggak!"
"Ini gue mau nolongin, please. Jangan sampek dikira mau nyulik anak orang nih."
"Umm sorry gue—"
"Dev?" Perempuan itu menghambur ke pelukan Devon sepersekian detik setelah berbalik badan, seolah tengah mencari perlindungan.
Devon setengah kaget. "Diva?"
Diva tidak menjawab, Devon juga tidak ingin bertanya lebih panjang. Devon cukup tahu diri untuk membiarkan Diva menangis hingga berhenti sendiri ... meski di pinggir jalan, yang dilewati orang berlalu lalang.
Benar-benar diam, menunggu Diva berhenti menangis.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Delapan menit.
Dan Diva belum ingin berhenti menangis, tangisan Diva awet membanjiri pipi cantik wajah ayu milik Diva.
Dengan penuh keraguan, Devon mengarahkan telapak tangannya menyentuh belakang kepala Diva. "Sstt! Kenapa nangis?"
Hell. Satu kesalahan yang Devon laukan tanpa sengaja kurang dari tiga puluh menit setelah kejadian hampir kecelakaan ini. Benar sekali, tangis Diva kini bertambah kian lama.
Devon menggeret Diva menuju mobil, lalu mengitari mobilnya untuk menuju sisi kemudi. Melajukan mobilnya dari jalan dekat pelataran tempat drive thru.
"Div." Alunan nada sapaan dari Devon mengalun rendah, memotong tangisan yang terdengar menyayat hati itu.
Nihil, tangisan Diva hanya berhenti sekian detik sebelum setelahnya berubah menjadi sesenggukan gagal tertahan.
"Div." Devon mencoba memanggilnya lagi. Semenit selanjutnya usaha itu terbilang gagal dengan tidak adanya sahutan lagi dari Diva. "Hei, kenapa nangis?"
Berhasil, pertanyaan dongonya barusan menemui tanggapan meski sebatas tolehan kepala tanpa kata. Devon sebenarnya mengetahui jalan menuju rumah Diva, namun aneh rasanya jika melihat lawan bicanya hanya diam sepanjang jalan dan tidak berhenti menangis. Belum terlalu jauh mengemudi, Devon memilih menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan berhenti.
Diva yang mengerti jika Devon akan meminta penjelasan padanya pun langsung menggeleng. Luberan air mata menjatuhi pipinya semakin deras.
Devon membuka seatbelt yang melilitnya. "Div, hei kenapa nangis." Tangannya yang lain menjanagkau dashboard untuk mengambil timbunan air mineralnya di sana.
"Nggak!" Diva menolak mentah-mentah minuman itu. "Dev, gue nggak salah." Tangisannya terdengar semakin menyayat.
Devon mengangguk. "Iya, nggak salah. Ini minum dulu, ya."
"Dev, g-gue nggak salah. G-gue—"
"Iya, minum dulu, ya."
Lumayan tenang, meski Devon harus memaksanya terlebih dahulu. Tangannya menjangkau kotak tisu yang sudah teronggok akibat ulahnya yang serampangan tadi.
Waktunya mengakui kesalahan!
"Div, gue tadi—"
"Nggak! Itu gue. Gue lihat dia, gue lihat mereka. Emang se-nggak berarti itu ya gue, Dev?"
Hah, maksudnya? I-ini? Bukannya mereka tengah membicarakan kejadian Diva yang hampir tertabrak tadi?
"Kenapa dia bisa lupain gue secepet itu? K-kenapa? Padahal posisinya kita tiap hari komunikasi. S-salah gue di mana? K-kenapa bisa secepet ini?"
Diva bicara melantur tak tentu arah, sangat jauh dari pembahasan hampir tertabrak. Ini Diva nggak lagi ketempelan, kan?
"Div, udah ... ssst jangan nangis lagi, ya?" Devon mengusap pucuk kepala Diva pelan, mencoba menenangkan.
Gayung bersambut, Diva merebahkan kepalanya masuk ke pelukan Devon. "Gue k-kalah, Dev. Gue buruk. Gue udah berakhir, haha." Tawa yang terdengar begitu pilu. "Pasti abis ini lo b-bakal ledekin gue kalo gue nangisnya jelek parah."
"Kenapa mikir gitu? Div ..., di dunia ini nggak ada yang buruk, nggak ada yang kalah. Come on, look at me and cheer up!"
Diva menggeleng keras, kepalanya semakin masuk ke pelukan Devon. "Gue udah kalah," ujarnya pilu. "Gue bodoh banget ngebiarin orang yang gue suka buat nunggu. G-gue manusia paling bodoh yang ngebiarin orang yang suka gue cari kesibukan lain selagi nunggu gue. Gue bodoh, Dev."
"Sekarang dia udah sama dunianya ... dan gue sendirian. L-lo lihat mobil di depan tadi, kan?" jelas Diva. []