BAB 34| Sayembara (?)

1681 Kata
Life must go on, right? · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Pergerakan mengulet badan yang dilakukan secara massal itu bukan lagi pemandangan yang luar biasa bagi Devon. Hal lumrah dan mungkin menjadi kebiasaan terjadwal ketika jam-jam pulang kantor akan datang. Keluhan-keluhan atas pekerjaan satu hari full serta gunjingan-gunjingan terbuka untuk para senior keji juga kerap dan sudah tidak asing lagi mendarat di telinga. "Ya udah gitu aja dari aku. Nggak ada yang perlu disesalin buat kemarin dan hari-hari lalu, life must go on, and ya. Have a nice day, okay?" Satu unggahan snapgram yang Devon telat lihat dari akun Audy sore ini benar-benar relate dengan keseharian banyak orang. Setelah bertatap muka dengan Audy kemarin, Devon rasa ... dirinya semakin menyukai kepribadian gadis itu. Life must go on. True AF. Krak! Krak! Suara retakan tulang akibat pelemasan jari yang ia lakukan secara tiba-tiba, rasanya amat nikmat. Seakan semua beban yang menumpuk di tubuhnya juga ikut lenyap perlahan. Lucu, netranya lagi-lagi kembali melarikan diri untuk melihat arloji yang terpajang di pergelangan tangan. Masih ada sisa 15 menit lagi sebelum absen terakhir pulang kantor resmi dibuka. Ah! Devon berniat menyandarkan punggung ke tatakan kursi yang ia tempati sebelum suara indah itu mengusik telinganya. "Dev, Dev, bisa bantuin gue sebentar, nggak?" Nyaris. Kurang dari sepersekian inch saja untuk punggung Devon bisa menempel. "Diva, argh!" Umpatan itu hanya tertahan sampai di tenggorokan Devon, selebihnya tergantikan dengan, "Iya, mau minta tolong apa, Div?" "Ini cara ngubah jadi psd. gimana, ya? Kok nggak mau ke convert sih dari tadi? Deadlinenya tinggal 30 menit lagi woi, gue harus gimana dah? Ya kali udah lembur malah gagal submit. Dev, Dev, tolongin gue, please." Bisa bantu Devon untuk menerjemahkan rentetan ucapan Diva barusan? Dengan wajah cengo, Devon berusaha memahami Diva. "Modelan gini kalo panik bisa ngalahin duta rap internasional ini, mah," pikirnya. "Dev." Panggilan itu semakin mengeras seiring dengan laju jarum jam yang kian berlari kencang. "Devon! Buru." "Iya. Apa?" Kerutan menumpuk di dahi mulus yang dipenuhi keringat itu. "Hah? Lo nggak dengerin gue, ya?" Diva melayangkan pukulan ke bahu Devon, tangannya menyerobot ke sela pembatas di antara mereka demi melampiaskan kekesalannya. "Nyebelin banget sih jadi orang." "Dev. Div." Lantunan sapaan dengan tone nada rendah mengingatkan dua orang manusia berbeda jenis itu untuk tidak memicu keributan. Mata Devon bisa melihat dengan jeli, bahwa manusia bawel di sampingnya, kini tengah meneguk ludah ketakutan. Aura Mbak Mala benar-benar semenyeramkan itu. "Sorry, Mbak ... hehe," ucap Diva kikuk. Nampak jelas sekali peluh yang awalnya memenuhi wajah ayu itu bertambah semakin deras. Devon baru saja ingin menertawai Diva sebelum cubitan panas yang mendarat di lengannya terasa pedih. Pelototan maut dan cubitan panas dari Diva adalah perpaduan amunisi yang pas. "Bantuin gue, please!" cicitnya. Ada nada panik dan marah yang terselip menjadi satu di sana saat Diva mengatakannya. "Ya udah iya, apa? Gimana?" "Ini cara nyimpen ke bentuk psd. gimana sih, Dev?" Nada suara rendah yang lebih menyerupai suara seseorang yang akan menangis namun tertahan khas Diva jika sudah sangat panik dan tidak dapat terkontrol lagi, membuat Devon menghela napas pasrah. Tangan Devon menengadah di balik sekat pemisah di antara mereka yang menandakan bahwa ia menanti Diva menyerahkan iPad agar segera bisa Devon cek. "Yang mana?" tanyanya setelah benda persegi milik Diva mendarat di tangannya. "Ini!" Diva menggeser kursinya menjadi lebih dekat dengan Devon. "Yang fix, yang ini." "Yang ini?" tunjuk Devon sekali lagi untuk memastikan. 'Wah' adalah ekspresi yang ia tampilkan pertama kali saat kertas kerja dari aplikasi gambar mulai memunculkan hasil karya Diva. Sepertinya sayembara logo Fundamental kali ini benar-benar beda dari tahun-tahun sebelumnya. Desain buatan Diva terkesan simpel, classy, namun tidak meninggalkan kata mewah. Mm, mungkin dengn sedikit sentuhan riddle di dalamnya ... Devon kira begitu. "Ini artinya apa?" Devon menunjuk gabungan-gabungan huruf yang mungkin jika dipecah huruf-huruf itu mengandung semua huruf Fundamental lengkap. Unik. "Ada-lah, buru simpenin terus convert. Waktunya mepet banget ini." Tanpa basa-basi lagi, jempol Devon sudah sangat siap untuk memencet tombol save yang terpampang nyata di layar ... sebelum, lagi-lagi sebelum sergahan dari Diva yang menghentikan semuanya. "Apal—" "Tunggu dulu, kok ini ada coretannya sih. Aduh gimana dong?" Lagi, Diva mengatakannya dengan kepanikan yang semakin menjadi. "Tenang, Div, dicari dulu." Jemari Diva saling serobot memencet berbagai jenis tumpukan layer hasil gambarnya mecari dimana letak kesalahan itu. Warna turqoise yang terang-terangan mencolok di pojok kanan bawah, sangat kontras dengan nuansa logo yang mayoritas berwana silver dan rose gold ini. "Woi, aduh gimana nih. Tolonglah jangan kayak gini." Diva mulai kelabakan dan memencet asal puluhan layer yang terpampang di layar iPadnya. Devon yang merasa begah, menampik jari Diva untuk menyingkir sejenak. Dirinya hanya perlu menekan coretan itu beberapa detik saja dan walaa ... masalah selesai. Tidak perlu sesulit dengan menelan semua hal yang ia temui di layar secara acak. Diva menutup mulutnya kagum. "Dih, kok lo bisa, sih? Apa gue doang yang baru tahu caranya?" Ujung bibir Devon terasa gatal dan ringan untuk terangkat, telunjuknya juga perlahan mendekat menyentuh pelipis. Pergerakannya yang lebih seperti sedang memancing keributan, tak ayal membuat Diva melayangkan toyoran ke pelipis yang ditunjuk Devon. "Najis! Sok iye banget lo jadi orang." Sedetik setelah Devon menurunkan iPad dari pandangannya, Diva kembali menaikkan benda persegi itu sejajar ... ralat, lebih tepatnya menusuk pandangan Devon. "Jangan ngambek, Dev, ih. Bercanda doang juga. Please, bantuin gue." Memang benar adanya, panik membuat otak manusia membeku dan menjadi orang paling bodoh saat itu juga, I guess. Diva menggoyang-goyangkan lengan Devon tak beraturan. "Buru, tolong save-in sekalian convert-in, Dev. Waktunya udah mepet, ntar nggak keburu lagi." "Iya." Hanya ada suara hening dan gemerisik yang berasal dari 3 orang yang duduk di sekitar mereka. Jam-jam darurat, di mana semua orang ingin cepat hengkang dari kantor dan terbebas dari kata lembur. Entah itu ingin me time dengan berhura-hura menghirup asap kendaraan di tengah kemacetan atau cepat-cepat mendekam di bawah selimut yang menawarkan kehangatan. "Lo ikutan submit sayembara?" Suara yang datang dari sisi kiri Devon ini sangat ia yakini sekali berpeluang memancing amarah mbak Mala. "Iya dong, event gede kayak gini sayang banget kalo dilewatin gitu aja. Belum tentu tahun depan ada beginian." Diva menjawab pertanyaan itu dengan sangat bangga, sebelum Tasya mencari gara-gara. "Belum tentu juga elo bisa menang. Iya, kan?" Brak. Sudah bisa Devon tebak, bahkan belum ada lima menit dari dugaannya tadi. "Kata siapa nggak bisa menang? Kalau pun gue nggak menang nantinya juga nggak ngerugiin lo, ini. Ribet banget idup lo." Masih ingin memancing suasana menjadi semakin memanas, Tasya tersenyum sinis. "Dih yakin banget lo bakalan menang. Gambaran apaan tuh? Paling juga dapet dari pesen aja bangga." "HEH! Ini gambaran gue sendiri, ya!" "Div," ingat Mbak Mala. Semarah apapun mereka berlima, kalau mbak Mala sudah turun tangan akan repot urusannya. Meski, emosi Diva tengah meledak-ledak, gadis dengan wajah beinyak dan rambut yang mencuat di sana-sini ini memilih untuk tidak jadi melangkah menjambak rambut Tasya. Dengan berat hati, Diva menggugurkan keinginannya untuk menghindari semprotan mbak Mala, meski dalam lubuk hatinya paling dalam ia sangat ingin. Diva mengacungkan jari telunjuknya, jaraknya dan Tasya sebenarnya agak jauh terlebih letak Devon yang berada di tengah kubikel antara mereka berdua. "Gambar gue bagus! Dan gue nggak butuh validasi dari lo, periodt!" Good girl and good choice. "HEH—" "Tasya ...." Dengan nada yang sama, sapaan maut dari mbak Mala kembali terdengar. "Balik duduk! Lo nggak berniat buat kita semua jadi lembur, kan?" Si empuny nama sepertinya sedang berpura-pura menulikan telinganya hingga mbak Mala harus mengulangi gertakannya dua kali. "Duduk, Tasya!' Devon ikut ambil andil dengan menggeret lengan Diva agar ia kembali duduk ke tempatnya semula. Menyerahkan kembali iPad milik gadis itu, agar dia beralih menyibukkan diri dengan mengisi form sayembara daripada meneruskan peperangan sengit dengan Tasya. "Gini kek, kan enak kalau damai." Saat mungkin hormon adrenalin Diva dan Tasya sudah agak leram. Ganti Ali yang menggali kuburannya sendiri. Buktinya bola mata mbak Mala sudah siap keluar dari sarangnya saat merespon Ali. Menit-menit terakhir jam kantor berubah senyap, semua orang memilih untuk menyibukkan diri masing-masing. "Makasih ya, Dev," bisik Diva. Devon mengangguk. Pikirannya tak lagi ingin merespon sekitar ketika netranya melihat jam yang tampil di lockscreen sudah menunjuk jam pulang lebih tujuh menit. Rentetan hentakan masing-masing kaki juga mulai bergemuruh dari segala penjuru. Suara Ali, sang manusia anti lembur juga mulai terdengar kembali. "Yok pulang. Pulang! Emak di rumah udah masak banyak, kasian kalo nggak ada yang abisin. Yok, pulang!" Antrean card sensor untuk absen pulang kian memanjang. Semua orang berbondong segera ingin cepat pulang dan ini selangkah bagi Devon untuk cepat-cepat segera menyelesaikan pekerjaannya yang lain di luar jam magang—Foreign. Ah, gue rindu jam-jam butek di kantor lagi. Tinggal beberapa step lagi dan semuanya bakal balik kayak semula. Tangan Devon bergerak maju mengarahkan kode yang tertera dalam kartu magangnya ke arah scanner sebelum interupsi dari Diva lagi-lagi menggagalkannya. "Dev, lo juga ikutan sayembara, kan?" "Ikut." Ingatan Devon melayang pada hari yang benar-benar mengesankan baginya itu. Idenya seakan lancar akibat imbas positive vibes dari Audy. Menatap Audy secara langsung sembari mengerjakan sayembara, rasanya tangannnya tidak dapat berhenti menggerakkan garis di atas iPad. Jangan lupakan Lily yang memberinya tugas untuk menggambar tarzan cantik di saat yang bersamaan. Hari itu benar-benar menyenangkan. "Widih, ntar kalo lo menang tapi bingung mau kasih hadiahnya ke siapa. Gue siap nampung kok, Dev." "Iya deh, iya." Devon hanya berniat cepat keluar dari kantor sore ini, mengiyakan semua oranv yang bertanya atau meminta pendapat padanya adalah jalan ninja Devon. Ting! Lift terbuka dan masih cukup ruang untuk membawa beberapa orang turun ke bawah. "Seriusan ya, Dev. Ntar bakal gue tagih lagi kalo lo lupa," kata Diva setelah mereka berdua di dalam lift. Devon mengangguk, ia amat yakin ada selipan canda di sana lalu buat apa dipikirkan terlalu jauh. Ini baru angan. "Nanti kalo dapet hampers gue kasih ke lo," ungkap Devon berbisik. Ting! Senyap, hanya ada pergerakan dari kotak besi yang berhasil membawa mereka ke lantai satu. "Widih, mantep tuh. Yaudah kalo gitu gue balik dul ...." Kata-kata Diva menggantung saat mereka berdua baru akan melewati pintu utama kantor. Seperti ada sesuatu yang tengah mencekat di lehernya. "Eh gue boleh nebeng lo dulu nggak, Dev?" tanyanya lirih. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN