Tanpa kita sadari 'judging' kerap kali terjadi dengan sendirinya.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Padat merayap adalah penggambaran yang cocok untuk petang ini. Bicara soal petang yang identitasnya buram dan remang-remang, sepertinya penumpang di samping Devon sedang dalam kondisi yang kurang baik.
Mungkin kondisi hatinya sama layaknya keremangan petang ini. Gelap, pekat, dan kurang bersemangat.
Kruk.
Suara yang mendominasi dalam mobil Devon saat hening dan beberapa kali terdengar auman spion sebagai penanda jalan yang tengah dipadati kemacetan.
"Engh sorry, Dev," ringis Diva setelah kebungkamannya sejak mendudukkan diri di mobil Devon.
"Laper, ya?" Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang bergumul di otak Devon tapi entah mengapa pertanyaan bodoh satu itu yang malah keluar dari mulutnya.
Mikir dikit kek, Dev. Orang udah jelas perutnya bunyi, ya kali orangnya ngantuk. Nggak jelas banget sih lo, pekik hati Devon.
Hanya gelengan yang Devon terima dari Diva. Selebihnya, gadis di sampingnya ini memilih untuk kembali bungkam.
Senyap mengerubungi mereka berdua, inisiatif Devon untuk memutar radio juga sudah tertimbun dan enyah ke mana tahu. Sunyi yang diselingi bunyi klakson beruntun dari pengendara nakal, tidak tahu diri, dan ingin cepat sampai rumah.
Sepuluh menit dan tidak ada pergerakan apapun, manusia di sampingnya ini masih setia bungkam dan menutup diri. Sepengalaman Devon selama hampir 25 tahun hidup, terlebih untuk kasus seperti yang dialami Diva saat ini. Rasanya jika dirinya menanyai 'kamu kenapa?' atau 'ada masalah apa, sih?' atau pertanyaan paling bodoh seperti 'kamu nggak apa-apa?', akan berujung menemui jawaban dangkal sejenis 'aku nggak apa-apa kok'.
Itulah alasan mengapa Devon masih setia buntu dan mendadak kicep ketika dihadapkan dengan masalah seperti ini. Minim pengalaman dan tidak ada yang dapat ia ambil dari apapun menilik circle hidupnya sebatas Lily, Cia, dan beberapa jenis perempuan dalam anggota keluarganya saja.
TIN!
Suara klakson nyaring dari arah belakang, mengagetkannya untuk segera maju. Lihat! Bahkan Diva tetap membatu, Devon tidak dapat melihat ekspresi kaget sedikit pun dalam wajahnya yang ayu.
Dia kenapa, sih?
Pertanyaan yang sama dan memutar beruoang di dalam benaknya saat mobil yang ia kendarai meninggalkan pelataran kantor. Tidak, bahkan lebih dari sebelum itu. Jika ditarik mundur lagi, kira-kira mungkin tepat sebelum mereka menginjakkan kaki keluar dari pintu utama—di lobby.
Kruk. Kruk.
Bunyi perut Diva kembali bernyanyi yang menandakan bahwa cacing-cacing di dalam sana benar-benar kelaparan. "Mm sorry," ringis Diva malu.
"It's okay."
Tangan Devon terulur untuk membuka dashboard ... melewati tubuh Diva tentunya. Seingatnya, ia masih memiliki timbunan beberapa kotak s**u full cream khusus Lily. Kabar baiknya, ternyata ia masih memiliki persedian 2 potong cloud bread ... yang sepertinya masih layak makan dan belum kadaluarsa.
"Ehe, thank you."
"Sure, kita cari makan dulu sebelum gue anterin pulang."
Diva melambaikan tangannya menolak ajakan Devon barusan. "Jangan! Eh, maksud gue ... nggak usah." Tangannya mengangkat roti. "Ini udah cukup kok."
"Gue juga laper, karena lo masuk mobil gue dan jadi penumpang gue. Lo wajib hukumnya ngikutin gue. Nggak ada penolakan ya, Div."
"Tapi gue—"
"Nggak masalah kalo nggak mampir, drive thru bukan pilihan yang buruk kayaknya."
Diva mengangguk pasrah, seakan Devon mampu membaca pikirannya saat ini dan melakukan pemberontakan rasanya juga percuma dan tindakan sia-sia. "Mm okay."
"Are you okay?" tanya Devon. Satu pertanyaan bodoh yang berjenis sama, bedanya hanya dalam jenis bahasa saja.
"Emangnya gue kenapa?" Diva menyeruput s**u kotak sebelum melayangkan pertanyaan untuk menjawab pertanyaan Devon.
"I don't know. I think you look so ... mess? I guess. Did you have a problem?"
"Kayaknya aku nggak pernah kenal Devon yang sering tanya dan pengen tahu masalah seseorang, deh ... kayaknya dia nggak pernah gitu, sih. Seringnya bodo amat malah. Kena0a sekarang—"
"Oke, sorry." Devon cukup tahu diri dan menyadari sapaan 'gue' yang sering Diva gunakan tiba-tiba berubah menjadi 'aku'.
You get in trouble, Dev, sentak otaknya.
"Eh nggak gitu ... maksud gue. G-gue nggak papa kok. I'm fine, don't worry. Thank you for asking."
Perlu ditangguhkan sekali lagi. Pertanyaan yang bodoh akan tetap menemui jawaban dangkal. Beda kalimat saja, maknanya tetap sama.
"Lo bisa cerita kalo mau."
Devon tahu Diva sedang memaksakan bibirnya untuk tersenyum, seolah tengah menutupi sesuatu. "Emangnya gue kenapa sih, Dev?"
Devon menggeleng. "Enggak."
Itulah kata terakhir yang terdengar sebelum kondisi sepi dan sunyi kembali menerpa mereka berdua. Dan itu berlangsung cukup lama ... dari jalanan yang awalnya padat merayap hingga brerubah menjadi ramai lancar.
Lo sih, Dev, bego dipelihara, teriak otaknya.
Les tentang perasaan wanita dulu, Dev, biar nggak salah langkah, kata hatinya.
Devon mengembuskan napas begitu pasrah. Nggak lagi-lagi deh, gue begitu lagi. Tak sampai situ saja penderitaan yang Devon alami. Masih dengan kebungkaman mereka berdua, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring.
"Please, jangan sekarang. Ntar dia mikir aneh-aneh terus ngerasa bersalah lagi." Devon tidak menoleh, hanya melirik Diva tanpa menggerakkan kepalanya sama sekali di tempatnya. "Kalo itu dari Tito atau Levin, sumpah gue bakal toyor kepalanya kalo ketemu."
Drrt!
Getaran ringan selanjutnya memasuki ponsel Devon secara beruntun.
"Ponsel lo bunyi, Dev. Cek gih." Interupsi dari Diva menjadi alarm tersendiri sebagai tanda bahaya yang mengalun rendah di telinga Devon.
Jika diurut dari pagi hingga menjelang pulang. Mungkin mood Diva sudah tidak baik sejak pagi ..., Devon rasa. Dikejar deadline, tugas yang menumpuk, dan terakhir ... bertengkar dengan Tasya, mungkin itu semua adalah tersangka utama yang dapat dipastikan menjadi penghancur mood Diva seharian ini.
Jangan sampai, bunyi ponsel Devon yang menyebalkan karena si empunya benda itu malas melihat notif ikut menjadi nominasi selanjutnya yang memenuhi list tersangka dan halal dibunuh oleh Diva.
Devon menempelkan sidik jarinya untuk membuka ponsel. "Syukurlah itu Audy. Bukan Tito atau Levin," ucapnya dalam hati.
Sedetik setelah Devon mematikan ponselnya, Diva kembali angkat bicara. "Kenapa dibiarin?"
"Eh?" Devon memicingkan matanya. Tolong banget moodnya Diva yang normal-normal aja, yang jadi temen ngobrolnya pusing woi. "Nanti masih bisa dihandle. Itu cuma—"
"Cuma? Nggak ada yang boleh direndahin, meski itu sekedar hal kecil sekali pun, Dev. Lagian lo ngapain sih, orang masih macet gini, masih nunggu lampu merah juga. Apa sih susahnya ngetik balesan di sana, nggak sampek sepuluh detik kali, seenggaknya orang yang hubungin lo dapet kabar."
Okay, rupanya suasana hati Diva benar-benar sedang tidak baik.
"Males banget deh kalau semua cowok pemikirannya sama. Heran, buat apa ngejar cowok yang nggak pernah mau buat nengok ke belakang. Nggak guna banget, tahu nggak?"
See? Tanpa gadis ini sadari, ia telah membuka kartunya sendiri sebelum Devon bertanya lebih lanjut. Interesting.
***
Devon menuliskan satu kalimat pujian seperti biasa di kolom komentar di sebelah sana. Bedanya kini, ia tak lagi bersembunyi dalam second account. Keberaniannya menanggung risiko akan akun-akun gosip yang bisa saja menjadikannya sasaran empuk untuk dikulik lebih dalam, berani ia abaikan.
Ringisan malu-malu itu masih membekas di benaknya. Devon ingat jelas bagaimana ekspresi Audy saat itu ... saat Cia menawarkan username milik Devon untuk berteman dengan Audy.
"Loh aku udah difollow? Maaf banget, Kak. Aku nggak tahu kalau ini akun kakak. Aku nggak bermaksud sombong kok. Seriusan, deh."
__________
devonand: Keren❤️.
send.
__________
"Anjai, dateng juga nih yang dari kita tunggu-tunggu."
Devon tersentak ketika kakinya belum ada 2 langkah lebih menjauh dari pintu garasi rumah Sreve. Sabar, tahan, bunuh orangnya nanti aja. Sekarang ada yang lebih penting dari itu.
"Oh jadi ini yang telat dateng ... abis nganterin gebetan dulu, ya? Makanya telat."
Bagus, terus. Sindir terus. Yok, ciri-ciri saudara yang halal untuk dibunuh. Devon melarikan netranya untuk mengecek jam gantung di rumah Steve. Ya, mereka berlima—Devon, Brandon, Tito, Levin, dan Steve—membuat janji di rumah Steve.
Tepat sekali, Devon datang 45 menit lebih lambat dari jam yang telah dijanjikan. Sedetik saja sudah bisa dikatakan terlambat, bagaimana dengan yang ini? Oke gue akuin, gue terlambat, dumel Devon dalam hati.
"Bacot banget jadi orang."
Tidak ingin berhenti meledek Devon, Levin semakin gencar melemparkan candaan lain. "Ceilah salting nih boss ceritanya. Bilang aja kali, kita bisa kasih rekomendasi gedung, catering, sama WO kalo lo mau." Levin melirik sekitar, mencari supporter. "Iya, nggak?"
Devon berdecak, "Ck, apaan sih, Vin. Jangan ngelantur."
"Oh jadi 'apaan sih' itu keywords-nya Devon kalo lagi salting? Menarik, baru tahu gue." Good job, Levin. Sekarang Brandon jadi ikut-ikutan.
"Emang gebetan yang mana, Vin?" tanya Tito, "jadi relasi bisnis yang ini lanjut jadi relationship nih? Saik." Ya anjir, kenapa malah jadi niat mojokin gue banget gini?
"Demi apa seriusan jadi sama Clara?" Cukup, ini berlebihan. Steve yang pendiam dan cenderung bodo amat, kini ikut tersulut pancingan Levin.
Tidak tahu dirinya, si penyebar api itu malah tertawa bahagia mengetahui ikan tangkapannya banyak yang terperangkap. Devon melayangkan pandangan tajam bermakna 'selesein atau gue penggal pala lo?'.
"Sst! Satu-satu dong, jangan kebanyakan berspekulasi dan jadi shiper sesuka hati gitu dong." Good, Levin bangkit dari keberhasilannya untuk menyuruh semua orang menerka kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
"Bukan janda, kok. Saudara kita yang satu ini masih doyan perawan, santai aja." Stupid, Levin. Bukan meluruskan malah menambahi yang tidak-tidak.
Baru Devon akan angkat bicara, Kevin sudah menyelanya teroebih dahulu. "Ah iya, bukan masalah yang serius sebenernya. Itu kan preference masing-masing. Nggak masalah juga mau perawan atau janda. Ya nggak, Dev?" sambungnya.
"Oh jadi bukan Clara?"
Shit, dude. Pembicaraan ini tidak akan menemui akhir kalau Devon tidak meluruskannya sendiri. Mungkin setelah ini Devon membutuhkan rekomendasi peti mati dan tukang rias jenazah eksklusif untuk mengantarkan Levin ke peradaban terakhirnya sebelum dikebumikan.
"Vin! Apa sih! Nggak jelas banget jadi orang. Jangan bilang kalo lo orang yang sama, yang masukin gue ke akuun gosip lagi."
"Chill, Dev. Gue turut berbahagia buat lo hari ini. Mana ada sih, orang yang nganterin cewek puoang berturut-turut kalo enggak ada maksud." Levin menjeda perkataannya, menyiapkan kedua jemarinya membentuk tanda kutip. "Ehem, tertentu. Gas aja lagi, gue dujung lo sepenuhnya. Jangan kebanyakan pedekate, kalo ujung-ujungnya nggak jadi. Kalian pernah ketemu temennya dia yang sama-sama magang nggak?"
"Heh—" Levin mulai menggiring opini lagi.
"Keliatannya sih anaknya asik parah," tebak Levin. "Oh iya, lain kali kalo ngajak cewek makan. Bisa kali lo ngajaknya ke restoran atau tempat makan mana gitu, lo juga buka cabang Foreign di mana-mana. Kenapa malah drive thru sih?"
Devon rasa, dirinya tahu di mana duduk perkara yang sedang disinggung Levin.
"Nggak ada kesan romantisnya, bego. Candle light dinner gih, Dev. Atau lo mau dibantuin nyiapin plan buat confess? Mau gue bantuin?"
Devon memutar bola matanya malas. "Udah? Bacot banget jadi orang."
"Emang lo mau nyari yang gimana lagi sih, Dev?" Kalau Steve sudah turun tangan, itu artinya dunia Devon sedang tidak baik-baik saja. Mayday ... mayday.
"Apa, sih? Asik enggaknya suatu hubungan itu relatif. Buat apa maksain punya pasangan kalo cuma buat ikut-ikutan. Sabar ae kali, ntar juga dateng sendiri." []