· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Jam berganti, hari juga ikut berganti. Hiruk pikuk dalam kantor sudah meramai sejak tadi pagi. Hilir mudik dari puluhan atau bahkan ratusan orang pun juga tak dapat terhitung jari. Bisikan-bisikan excited dan angan untuk 7 jam ke depan mulai terucap.
"Wah gila, sih!"
"Demi apa ini kayaknya bakal lebih keren dari tahun lalu."
"HUWAAA GUE MAU PULANG CEPET POKOKNYA! GUE MAU NYALON DULU!"
Begitu contohnya. Itu hanya tiga dari sekian banyak celotehan riang lain yang memenuhi divisi perencanaan. Sudah bisa Devon tebak sebenarnya.
Rapat final tiga minggu yang lalu benar-benar memukau, meski ada sedikit selisih paham di dalamnya—rapat besar pertama yang ia ikuti semenjak internship. Rasanya itu normal, perselisihan dan beda pendapat itu pasti ada di setiap pertemuan.
Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Namun pendapat siapa yang paling logis dan memperhatikan setiap detil dalam proses, memperhatikan poin kecil setiap sebab-akibat yang mungkin akan terjadi ke depannya.
That's the point.
"Emang yang tahun kemarin kayak gimana, sih?"
Suara cempreng yang sudah familiar di indra pendengarannya yang hampir setengah bulan ini tak henti-hentinya merecoki Devon, akhirnya menampakkan eksistensinya juga.
Tak heran jika Diva bertanya seperti itu ketika melihat semua pegawai tetap divisi perencanaan yang sejak tadi pagi tak henti keluar-masuk ruangan dan melontarkan kalimat yang sama berulang.
"Bagus banget!"
"Wah gila, ajib!"
Dan kalimat-kalimat lain sejenis yang memiliki makna yang sama. Sorot mata berbinar tetapi takut untuk pindah tempat atau sekadar pindah posisi duduk terlihat jelas di wajah ayu Diva. Penasaran namun takut.
"Demi apa lo nggak tau?" Jawaban yang menyerupai pertanyaan dengan nada meledek dan intonasi tinggi terdengar nyaring di sisi samping Devon yang lain.
"Oh ayolah, gue udah pusing lihat orang mondar-mandir. Berisik! Jangan ditambah lagi dong," dumel Devon dalam hati.
"IDIH—"
"Tasya ...." Seperti biasa, kalimat itu akan terpotong saat lirikan maut, nada suara yang sangat rendah dan dalam dari Mbak Bita membungkam semuanya.
Perempuan itu adalah pawang dari semua spesies manusia magang di divisi ini. Juru kunci yang selalu bisa mengendalikan setiap situasi. Tolong ingatkan Devon untuk bertanya pelet apa yang digunakan Mbak Bita.
"Maaf, Mbak."
Mengenal Tasya membuat Devon mengerti definisi ucapan sebatas manis di mulut saja. Mulutnya mengutarakan permintaan maaf, tetapi gerak tubuh dan sorot mata yang dipancarkan Tasya melakukan hal sebaliknya.
"Awas aja lo!" Devon mampu menerjemahkan itu dari Tasya.
Belum menjawab rasa penasarannya, Diva kembali bertanya, "Diva 'kan lagi nanya, Mbak."
"Beneran lo nggak tau, Div?" Bukan Tasya atau Mbak Bita lagi, Ali juga ikut menimpali.
Diva mengangguk polos.
"DEMI APA?!" Satu botol air mineral kosong melayang tepat mengenai pelipis Ali. Hadiah mewah dari Mbak Bita untuk sambutan yang Ali berikan.
"Berisik, Li!"
"Sorry, Mbak. Hehehe." Kembali menatap Diva dengan penuh keheranan, Ali lagi melontarkan pertanyaan yang mengganjak di benaknya. Kali ini dengan intonasi yang lebih normal. "Seriusan?"
Diva mengangguk. "Iya, gue serius."
"Gila, sih. Terus gimana caranya lo masuk sini?"
"Masuk mah tinggal masuk. Lewat pintu bisa."
Ya nggak salah, sih. Ingin rasanya Devon menjitak kepala Diva. Bagaimana tidak? Sudah didengarkan sefokus mungkin, malah ia berusaha melucu.
"Kayaknya Ali nanya serius, Div."
"Lah? Siapa yang lagi ngelawak, Dev? Gue nanya lebih serius."
"DEMI APA LO BENERAN NGGAK TAU?"
"Tasya, diem!" Lagi-lagi, pelototan dari Mbak Bita kembali menghiasi percakapan yang cukup alot ini.
"Iya, gue seriusan nggak tau. Emang wajah gue nggak semeyakinkan itu?"
"EH SUMPAH, SUMPAH, SUMPAH. REKOMENDASIIN MUA KE GUE SEKARANG DONG! YANG BISA DIBOOK H- BERAPA JAM GITU, ADA NGGAK?"
Satu teriakan yang keluar ketika ada satu orang dari belasan penghuni divisi perencanaan keluar dari lift. Teriakan yang sudah tak terhitung urutan ke berapa sejak pagi hampir menjelang jam makan siang. Mata berbinar, senyum semringah, dan gerakan tangan yang overdosis adalah penyebab yang sama yang dapat Devon tangkap.
"Emang yang tahun lalu kayak gimana, sih? Itu Ci Ven bisa girang gitu."
Masih sama, Diva terlihat masih amat penasaran dengan apa yang terjadi di gedung utama tepat di sebelah kantor.
"Lo nggak tau ini?" Tasya menunjukkan sebuah postingan i********: yang Devon kenal sebagai anniversary Fundamental tahun lalu.
Diva menggeleng lemah. "Mana coba lihat." Sembari tangannya menggapai iPad milik Tasya. Posisi Devon yang berada di tengah mereka berdua terasa sangat menyulitkan. Dua wanita dewasa dengan karakter yang berbeda ini seringkali bertengkar dan membuatnya sakit kepala.
"Sabar, tenang. 2 bulan bentar lagi abis."
"GILA, BAGUS BANGET," puji Diva. Bola matanya menjulur keluar beberapa mili tanpa berkedip.
Ali terperangah melihat respons Diva. "Oi lu baru tau?"
"Huum." Diva mengangguk. "Temanya bisa princess gini, ya? Berasa kayak negeri dongeng gila."
Bukan hanya Ali yang heran, Devon juga heran. Bukan merasa bahwa Fundamental paling merajai pasaran kosmetik dan skincare. Tapi siapa yang tidak mengenal brand ini? Apa ia harus mencari tahu di mana letak kesalahan di bidang promosinya?
"Lo ke mana aja bisa sampek nggak tahu? Perasaan tahun lalu sampek masuk berita di akun gosip. Gimana bisa ceritanya lo nggak tau?"
Mata Diva menyipit, menentang statement 'sampek masuk berita di akun gosip'. "Kalo gue bilang nggak tahu, ya itu beneran gue nggak tahu. Berasa kolot banget deh gue, diintimidasi gitu nanyanya. Gu-e-be-ne-ran-nggak-ta-hu!"
Masih tidak ingin menyerah untuk memojokkan Diva, Tasya kembali melontarkan kalimat-kalimat pedas. "Lo lahir di jaman purba, huh? Nggak cuma di akun gosip kali, semua berita juga nyiarin tayangan yang sama 3 hari berturut-turut waktu itu. Jangan bilang lo juga nggak punya TV?"
"Gini ya, T-A-S-Y-A! Dengerin gue, baik-baik biar kadar kekepoan lo itu nggak mendarah daging. Lo?" Telunjuk Diva menjulang tinggi di depan d**a. "Lo nggak bisa menyamaratakan semua orang itu punya kebiasaan yang sama kayak lo."
"Sstt!" Diva menaruh telunjuknya berpindah ke bibir, mengisyaratkan agar Tasya tidak memotong ucapannya. "Contohnya gue. That's right, gue nggak ngikutin akun lambe-lambean kebanggaan lo itu. Dan sebelum ini, gue kerja. Dari pagi sampek ketemu pagi lagi, jadi gue nggak bisa seenaknya leyeh-leyeh nonton tivi. Dari sini paham?"
"Idih ...."
"Gue serius. Masa' iya dari semua penjelasan panjang-lebar gue tadi, lo masih nganggep gue bohong? Ya kali."
"Enggak!' Tasya mengibaskan sehelai rambutnya menyampir ke telinga. "Maksud gue, masa' iya sejak Fundamental udah berkibar dan berjaya hampir 5 tahun, lo sama sekali nggak ada ngikutin gitu?"
"Iya, gue nggak ngikutin sama sekali."
"Kenapa lo nggak ngikutin? Nggak kepo gitu sama produknya? Gue yang cowok aja kepo," jelas Ali.
"Ya mau gimana lagi? Dompet gue nangis kalo lihat harganya. Beli yang travel sizenya aja keberatan."
Tangan panjang Tasya menerobos sekatnya dengan Devon hingga menembus ke sekat Diva. "Ck, kaum dhuafa. Sini balikin iPad gue."
Berada di tengah perempuan yang bersikeras merasa bahwa masing-masingerasa paling benar adalah cobaan terkeras yang harus Devon tahan selama ini. Bola matanya terus berlarian ke sana-ke mari seiring perdebatan antara Diva dan Tasya yang belum ada tanda-tanda akan berakhir.
"Noh, noh, noh makan tuh iPad second. Belagak amat jadi orang, doain kek yang menang sayembara itu gue. Kali aja bisa dapet gratisan."
"Kalo lo nggak ngikutin, gimana caranya lo apply ke sini?" Itu suara Devon.
"Apply mah tinggal apply, Dev. Selagi CV gue mumpuni dan ehem ... NGGAK PAKE JALUR ORANG DALEM." Mata Diva melirik tajam ke arah Tasya. "Apa sih yang nggak bisa dilakuin di dunia ini? Iya, kan, Sya?"
"Elo nyindir gue?"
"Emang elo masuk pake orang dalem? Baru tau gue, Sya. Ngomong-ngomong caranya gimana? Bagi tips dong, newbie nih gue."
"DIVAAA. LO Y-YA—"
Dug.
Hanya satu hentakan. Tenang, ini bukan karena baku hantam Tasya dan Diva. Dua perempuan itu masih cukup waras untuk tidak berbuat ulah di kantor—meski faktanya tidak ada sehari pun yang mereka lewatkan tanpa bertengkar.
"Berisik!" geram Bita.
Hawa lapar karena mendekati jam makan siang mungkin salah satu faktor yang memicu kemarahan Bita. Ditambah para pegawai tetap yang tak henti-hentinya mondar-mandir tak karuan keluar masuk ruangan dan pertikaian Diva dan Tasya yang tidak ada habisnya merupakan faktor pendukung merusak mood Bita saat ini.
"Diva duluan tuh, Mbak."
"Dih, orang gue cuma nanya. Apa sal—"
"Dibilang lo duluan, ya elo!"
"LO!"
"Lo!"
Dug.
Lagi, satu hentakan buku yang menghantam meja kembali menjadi alunan di tengah percekcokan yang semakin memuncak. "Berisik! Kalian berdua bisa dibilangin pake mulut, nggak? Ngerti bahasa Indonesia, kan?!"
***
Ting!
Kotak besi ini menurunkan sekitar 8 orang di lobby, Devon termasuk salah satunya. Jangan lupakan Ali, Tasya, dan Diva yang mendorongnya turun untuk makan siang. Jika bukan karena ajakan mereka bertiga dengan dalih menyelamatkan dirinya dari kemurkaan Mbak Bita, Devon tidak akan turun.
"Makan gado-gado enak kali, ya?" usul Diva.
Bayangan sayuran dengan dibalur sambal kacang di dalamnya cukup terngiang di otak Devon. Sayang, belum sempat menyetujui, Devon kalah cepat dengan Tasya yang menyergah.
"Enggak! Gue nggak mau jerawatan gara-gara makan kacang."
"Siapa yang ngajakin elu? Orang gue nanya ke diri gue sendiri. Kegeeran banget jadi orang."
"Tapi kayaknya enak juga deh kalau makan gado-gado begini, terus minumnya es kelapa. Cess ...."
"Noh, Ali aja ngiler bayangin gado-gado. Lo mau ikutan sekalian nggak, Dev?"
Devon yang ditanya seperti itu langsung mengangguk. "Boleh, deh."
"Tuh, Devon aja juga mau, Sya. Gimana dong." 3 lawan 1. Kekalahan sudah di depan mata Tasya, jarang ... atau memang tidak pernah sama sekali semenjak mengenal Diva, dirinya tidak pernah menang melawan Diva?
Tasya mengentakkan kakinya sebal, meninggalkan tiga manusia yang terlihat menyebalkan akibat setiran tangan Diva. Tidak lupa mengacungkan jari tengahnya—satu hal yang tidak bisa ia lakukan jika ada Bita.
"Idih, sok banget gayanya, Buk." Seperginya Tasya dari sana, Diva menggapit kedua lengan Ali dan Devon bersamaan di kedua sisi tangannya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin selayaknya tengah melindungi putri raja.
"Dev, gue nanti numpang lagi, ya?" []