· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"Gue nanti numpang lagi, ya?"
Tolong artikan apa maksudnya? Setelah Devon mengiyakan permintaan Diva siang tadi. Nampaknya ia harus mulai belajar memahami ucapan seseorang secara spesifik sebelum mengiyakan. Layaknya seperti penandatanganan kontrak, sang penerima harus mempelajari dan membacanya secara matang agar tidak menyesal mengambil keputusan.
Baru sebentar meninggalkan singgasana dan memilih untuk fokus menekuni masa magang, Devon agaknya sedikit kehilangan jati diri.
Mampus!
Diva seperti tidak ingin berhenti berulah hari ini. Indra pendengaran Devon cukup pengang mendengar berbagai macam teriakan hari ini dan wanita satu ini masih cukup tenaga untuk membuat telinganya semakin sakit.
Permintaan 'numpang' yang Diva utarakan tadi, sedikit membuat kesalahpahaman di antara mereka berdua. Devon mengartikan kata 'numpang' sebagai bentuk tebengan untuk mengantar pulang seperti biasanya. Sedangkan, maksud kalimat terselubung Diva itu adalah menumpang ke tempat tinggal Devon untuk berbenah diri sampai acara anniversary kantor nanti malam.
"Kalimatnya nggak salah, sih. C-cuma kurang spesifik aja."
"Aku ingin begini, aku ingin begitu. Aku ingin ini, aku ingin itu banyak sekali. Oh senang sekali~"
Sepenggal soundtrack Doraemon yang memenuhi mobilnya seakan menambar kadar sakit kepala Devon. Aroma aspal yang menguar dari jalanan, cahaya matahari yang meredup menandakan akan tugasnya yang hampir selesai dan akan bertukar peran dengan bulan, lalu ditambah jalanan yang tak luput dari kemacetan bergabung menjadi satu untuk menyerangnya.
"Eh, Dev, Dev lihat, deh. Menurut lo ntar gue cocokan pake eye make up yang mana?"
Devon memilih hanya melirik, kepalanya terlalu nyaman untuk diangkat dari posisi merebah. "Yang mana?"
"Yang ini?" Diva menunjukkan gambar mata dengan d******i warna cokelat. "Atau yang ini?" Gambar kedua menunjukkan hal yang sama.
Hei, lelucon apa ini? Kenapa dia nunjukin hal yang sama persis? Terus apa yang mau dipilih? Diva nggak lagi ngajakin orang baku hantam, kan?
"Div, please."
"Dih, kenapa? Jadi bagusan yang mana, Dev?"
Tak menghiraukan tatapan tajam Devon, Diva malah berpose kawai dengan telapak tangannya yang bergoyang di sekitar area dagu sembari mengedipkan matanya lucu.
Devon berdecak dan memalingkan kepala berlawan arah yang tak ayal membuat Diva bingung. Satu tonjokan mendarat tepat di pundak Devon.
"Woi, ini pilih! Orang ditanya juga."
Devon membalikkan kepalanya. "Div, please."
Diva yang kebingungan dengan kata 'please' yang Devon ucapkan dua kali berturut-turut kembali melayangkan pukulan ke bahu Devon. "Plas, plis, plas, plis mulu. Ini buruan pilih!"
Devon mengangkat satu alisnya. "Apa yang harus dipilih, sih, Div? Orang itu gambarnya sama."
"Engg—"
Tin! Suara klakson yang agak panjang dari pengendara mobil di belakang mereka menyentak perdebatan alot ini.
"Eng apa? Tuh, mobil yang di belakang aja kayaknya setuju sama gue."
Diva berdecak sebal, "Ck! ENGGAK! INI TUH BEDA, DEV. BEDAA!" Telunjuk dan jari tengah Diva menzoom layar ponselnya ke arah dia gambar yang dia katakan berbeda.
"Nih, lihat." Diva menjorokkan ponselnya mendekat ke muka Devon. Itu terbilang cukup dekat, hanya berjarak kurang dari 7 mm sebelum ponsel itu lebih layak disebut mencium hidung Devon. "Ini tuh lebih glittery ketimbang yang ini. Kalo yang ini tuh doff, agak-agak smokey gitu."
"Itu sama, Div. Cokelat semua." Apapun jenisnya, menurut Devon keduanya sama saja. Matanya masih awas, jika hanya membedakan warna saja, dia rasa dia mampu.
"Beda, Devon. Jadi menurut lo bagusan yang ini apa yang ini?"
Devon memilih secara acak, entah yang glittery atau yang doff yang terpilih, itu artinya itu yang bernasib baik dan terpilih.
"Yang ini?" tanya Diva memastikan.
"Mm iya." Devon mengangguk tanpa melihat, menyetujui apapun yang diminta Diva agar perbincangan ini cepat selesai.
"Eh?" cicit Devon kaget. "Oh God, apalagi ini?" pikirnya.
Belum ada semenit Devon menjawab pertanyaan Diva, perempuan satu itu sudah kembali berulah. Melepas seat beltnya secara asal, berdiri menyerobot hingga sedikit menghimpit lengannya, menarik kaca spion tengah dan menatap dengan pandangan ... aneh (?) Devon tidak tahu bagaimana cara menjabarkan ekspektasi Diva saat ini.
Diva mensejajarkan ponselnya dengan mata. Berlenggok ke kanan-kiri secara berulang dengan bibir mengerucut lengkap dengan dumelan tanpa suara.
"Kalo gue pake yang smokey eyes jadi kelihatan tua nggak, sih?"
SO WHAT? Devon menghela napasnya sabar, berusaha tidak terpancing emosi meski ingin. Dirinya bertanya-tanya apakah mungkin ada spesies perempuan yang sifatnya berbeda? Mengapa yang ia temui selalu membuat emosinya memuncak.
Yang sangat tidak masuk di kepala Devon adalah apa gunanya Diva menanyakan pendapatnya jika dia sendiri sudah mengetahui apa yang akan dipilihnya.
Tidak Diva, tidak mamanya, tidak tante-tantenya, tidak sepupunya rata-rata sama. Apa pola pikir wanita memang dibuat seperti itu?
"Menurut lo gimana?" Diva menyenggol lengan Devon untuk melihatnya. "Kalo gue pake eye makeup yang ini jadi kelihatan tua nggak sih nantinya?"
Diva menolehkan kepalanya untuk melihat kaca spion sekali lagi. "Iya, kan?" tanyanya lagi ketika pertanyaannya di awal tak kunjung mendapat jawaban dari Devon.
Bolehkah Devon untuk membenturkan kepala sekarang? Atau menabrakkan diri ke mobil yang ada di depan? Devon rasa dirinya sudah tidak kuat lagi.
***
"Kok gue nggak tahu ya kalo lo tinggal di apartment daerah sini?"
Entah sudah berapa kali Devon mendengar pertanyaan yang sama sejak Diva pertama kali menginjakkan kaki. Ia bisa merasakan dan mengetahui sifat lain dari dalam diri Diva. Perempuan itu tidak akan berhenti menanyakan hal yang sama, jika belum menemui jawaban yang sesuai dengan isi kepala mungilnya itu.
"Ya emang lo pernah nanya?"
Diva meringis. "Ya enggak, sih." Tangan Diva merogoh kulkas Devon layaknya mencari sesuatu di sebelah sana. "Maksud gue, kenapa lo nggak pernah cerita ke orang kantor kalo lo tinggal di sini?"
Devon menaikkan satu alisnya menukik. "Buat apa?"
Klak.
Gigitan sebuah apel terdengar cukup nyaring. "Entah." Hening menyelimuti mereka untuk sepersekian detik. "Ya kan kalo lo ngasih tau di mana tempat tinggal lo, kalo lo kenapa-kenapa atau gimana-gimana. Kan orang bisa dengan mudah mulangin lo. Gitu nggak sih prinsipnya?"
"Jadi secara nggak langsung lo doain gue kenapa-kenapa gitu?"
Uhuk. Respons spontan dan alami itu membuat Devon ingin merekam Diva saat itu juga. Wanita di hadapannya ini terlihat kalah telak dengan segala pertanyaan yang dilontarkannya di awal tadi. "Hahaha, salah sendiri kebanyakan nanya."
Lenyap, segelontor air dingin dalam botol kaca habis tak bersisa di tangan Diva. Wajah yang berkeringat, muka memerah, dan hidung yang berair adalah tampilan Diva terkini.
"Maksud gue nggak gitu tau, Dev. Ah lo mah, pikirannya jelek-jelek mulu." Diva mengentakkan kakinya. "Sebel gue."
"Terus?"
Diva menganga mendengar jawaban Devon. Matanya memicing seolah bisa mengeluarkan power untuk mencekik Devon jarak jauh. "Tau deh, Dev. Emang ya semua cowok tuh sama aja."
Bukannya kebalik? Bukannya semua cewek ya yang sama aja? Sama-sama nggak jelas. Sama-sama mau menang sendiri. Sama-sama nggak mau salah. Iya, kan?
"Thank you for your appreciate, Div."
"For sure, Bapak Devon yang terhormat." Diva berdiri. Setelah puas menjajah kulkas Devon, wanita itu beralih menjajah kabinet Devon. Membuka satu per satu segala macam pintu kabinet yang ia jumpai.
Benar-benar menjabarkan pengertian anggap saja rumah sendiri. Devon hanya bisa berdoa agar apartmentnya tidak berubah menjadi kapal pecah setelah Diva jajah.
"Yakin nih dapur doang yang kejajah? Hati aman, nggak?" Lagi-lagi otak Devon kembali berulah setelah sekian lama beraktivitas normal.
"Aman."
Diva menoleh, tangannya tetap menggantung di gagang pintu yang tengah ia pegang. "Aman? A-aman kok, Dev. Buat ukuran pria dewasa yag tinggal sendiri, menurut gue ini lumayan bersih, sih. Ya sepenglihatan gue, sih ... enggak ada bangkai kecoa, cicak, tikus, atau semacamnya. Paling cuma debu dikit."
"s**t!" umpat Devon dalam hati. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum seadanya, sebelum lawan bicaranya di sebelah sana menyadari tingkahnya yang satu ini. "Otak sialan!"
"Thanks." Satu kata penyelamat yang bisa Devon gunakan saat otaknya tak bisa ia ajak bekerja sama.
"Huh, selamat," batin Devon.
"Eh, Dev tapi kok gue ngerasa ada yang aneh, ya?"
"Jangan bilang kalo ... ini Diva emang nggak ngenalin gue, kan? Apa sebenernya dia dari awal udah ngenalin gue tapi milih diem aja? Terus setelah sekian lama pura-pura diem, hari ini dia sengaja mau ikut nebeng buat mastiin ini beneran gue yang selama ini dia kira apa bukan, gitu?"
"Please, bilang ini nggak bener dan cuma perasaan gue aja," tambah Devon.
"Ada apa?" Dengan nada panik yang susah payah ia sembunyikan, Devon memilih mengakhiri overthinkingnya.
"Persediaan makanan lo lumayan, Dev. Tau gini, tiap balik kantor. gue mampir ke sini dulu bisa kali. Daripada ada yang expired, mubazir buang-buang makanan, Dev. Sumbangin ke perut gue juga sabi."
"Ngusir temen nggak haram, kan?"
"Lo cuma punya ini?" Diva menenteng setoples peanut butter tinggi-tinggi. "Nggak ada selai lain, Dev? Selai buah atau cokelat boleh, sih. Di kulkas lo tadi kayaknya juga nggak ada cheese. Ye, kan?"
Lihat! Belum ada sehari menjajah, Diva bahkan sudah hafal setiap celah apartment Devon.
Devon meredam emosinya yang mulai melonjak. "Jangan berisik, Diva. Makan aja apa yang ada."
"Tunggu!" Langkahnya terhenti, saat suara perempuan itu kembali mengacaukan indra pendengarannya.
"Tarik napas, tahan. Sabar, Devon. Sabar." Devon membalikkan badannya. "Apalagi, Diva?"
Tungkai jenjang dari arah dapur itu mendekat menuju perbatasan dapur dan ruang tengah, tempat di mana Devon berdiri. Tangan kanan Diva mendarat di pipi Devon lalu berpindah ke telinga dan menjelajahi seluruh wajahnya.
"Div, stop!"
"Ups, sorry. Tapi diliat-liat kayaknya gue pernah ketemu sama lo deh, Dev. Tapi gue lupa di mana."
Keringat mulai menggerayangi tengkuk Devon. "Emang pernah," jawabnya santai.
"Tuh, kan? Di mana-di mana? Gue lupa tempatnya tau."
"Di kantor, pas interview magang." Telunjuk Devon mendorong wajah Diva untuk sedikit menjauh dari pandangannya.
"Ih enggak! Minus pertemuan di kantor. Gue kayak nggak asing sama wajah lo tau, tapi gue lupa kita pernah ketemu di mana. Lo ngerasa nggak, sih?"
"Mampus!" Kepala Devon sibuk memikirkan segala macam alibi untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di otak kecil Diva. Hingga pandangan mereka berdua terkunci beberapa menit.
Drtt! Drt!
Bunyi ponsel di genggaman Devon menyelamatkannya, menarik Devon untuk undur diri dari kekacauan yang dibuat Diva. []