· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Drtt! Drtt!
Bunyi notifikasi yang masuk ke ponsel Devon seakan memintanya untuk segera mengecek apa yang terjadi di sana. Pandangan mereka terarah menuju tangan Devon. Layar yang menyala itu sedikit membuat Diva penasaran.
"Siapa?" tanya Diva penasaran.
Lagi-lagi, Devon mendorong dahi Diva menggunakan telunjuknya untuk menjauh. Belum ingin kalah, Diva memelototkan matanya mencoba fokus mengintip notifikasi apa yang memasuki ponsel Devon secara beruntun.
"Siapa, sih? Pelit banget," tanya Diva lagi.
"Yang nanya." Telunjuk Devon masih menunjukkan eksistensinya untuk mendorong dahi Diva menjauh. "Jangan deket-deket gue mau mandi."
Kaki Devon melangkah mundur dua kali dari hadapan Diva. Mata wanita itu memicing seperti menyadari sesuatu. Jari telunjuk dan jari tengahnya mengacung ke matanya lalu ke mata Devon seperti sedang mengintai musuh. "Gue tandain lo, Dev."
"Nggak usah aneh-aneh ya, Div," peringat Devon.
"Gue aneh?" Diva menunjuk dirinya. "Lo kali yang aneh. Kulkas isinya sayuran sama buah, psikopat lu. Udah gitu nggak punya selai atau cokelat dan semacamnya gitu? Flat banget hidup lo, Dev."
"Buta lo? Itu di dapur ada peanut butter."
"Butter is different from jam, right?"
"Tapi sama-sama di dalem jar, apa salahnya?" Bersikap bodoh sesekali tidak masalah, kan? Begitulah pikiran Devon saat ini. Mari kita lihat bersama bagaimana respons manusia di depannya satu ini.
"Sorry? Gimana?" Diva berhenti berjalan dan tangannya membentuk seperti corong memegangi telinganya. "Bisa ulangin lagi?"
"Jawaban lo kayak cewek banget, Dev. Sumpah!" sambung Diva.
See? Even perempuan pun bisa sebel sama sikap spesiesnya sendiri. Gimana gue sebagai laki yang tiap harinya kudu nahan emosi?
"Ya terus?"
DRTT!
Bunyi notifikasi ponsel Devon terdengar sumbang. Kembali mengalihkan arah pandang Diva yang tadinya sudah lupa, kini ingat kembali. Wanita itu lagi-lagi memicingkan mata tanda curiga.
"Siapa?"
"Yang nanya," sahut mereka berdua bebarengan. Nampaknya Diva sudah mulai mengerti permainan Devon. Dirinya sudah siap siaga ketika Devon, kembali meledek pertanyaannya.
"Ck." Decakan kecil keluar dari bibir merahnya. "Gue nanyanya serius, Dev."
"Lah emang yang lagi bercanda siapa?"
Diva mendekat, langkahnya seperti orang yang tengah dilanda kepanikan. "Oh atau jangan-jangan itu dari bini lo? Please, Dev. Gue nggak mau disangka pelakor. Sembunyiin gue. Sembunyiin gue."
Devon hanya bisa menghela napas pasrah dan berdoa agar hari segera malam. Satu ruangan dengan Diva berdua seperti lumayan bisa membuat otaknya menggila. Bagaimana tidak? Kehebohan Diva, bisa dirate 11-12 seperti Lily.
Tidak beda jauh mereka seperti satu nyawa dalam tubuh yang berbeda. Devon takut memikirkan bagaimana menyebalkannya nanti jika sudah dewasa.
"DEV, OI!" Diva menggoncangkan bahu Devon secara brutal. Tenaga wanita ini cukup kuat untuk membuat Devon bergeser. "DEVON, CEPET SEMBUNYIIN GUE SEKARANG JUGA!"
Tadinya Devon ingin kembali mendorong dahi Diva menggunakan jari telunjuknya, namun menilik tenaga Diva yang entah dari mana datangnya hingga sekacau ini. Devon meletakkan telapak tangannya di dahi Diva, nyaris terlihat seperti seorang yang ingin membantu temannya untuk mengusir roh jahat dalam tubuh seseorang.
"Ih, Devon! Apaan, sih?" tukas Diva, "udah cepet buruan umpetin gue, keburu bini lo dateng."
Ctak!
Bunyi jentikan jari Devon yang tepat mengenai tempurung kepala Diva yang keras, seketika itu membuat Devon bergumam, "Pantes batu, kepalanya keras banget."
"ANJIR, SAKIT BEGO!" Diva refleks memukul d**a Devon.
"Ugh!" ringis Devon. Pukulan yang Diva layangkan tidak hanya mengenai d**a Devon, melainkan mengenai ulu hatinya juga. "Lu jadi cewek beringas banget, sih."
"Jidat gue sakit bego, awas aja kalo sampek jari lo ngebekas di jidat gue." Diva mengepalkan kedua tangannya geram, mengeluarkan kaca kebanggannya dari dalam saku blazer yang ia kenakan. "AAA DEVON!"
Devon menutup telinganya untuk mengantisipasi agar gendang telinganya tidak pecah.
"Ih, Devon! Dahi gue merah! Ah elo mah, kalo gini gimana ceritanya gue ke pesta ulang tahun perusahaan nanti?!"
"Ya tinggal ke pesta, lah."
Tatapan buas tanpa perasaan yang Diva tampilkan untuk Devon nampaknya menyentuh hati dan pikiran Devon. Seolah dirinya telah melakukan satu kesalahan. "Ya ... apalagi?" tanya Devon ragu.
"Gitu, ya? Rata-rata cowok pada rese semua." Diva menyibak anak-anak rambut yang menutupi sebagian dahinya. "Kalo ini nggak ilang pas ditutupin foundation gimana?"
"Kenapa ditutupin foundation? Kenapa nggak diplester aja? Kalau sakit itu diobati, dikasih obat merah. Bukan dikasih foundation."
"Kalo ditempel plester jadi tambah keliatan dong, Dev. Ck, gimana sih? Lo mau bikin gue cosplay jadi mamang codet? Kenapa lo nggak sekalian ngusulin gue buat pake perban sekalian?"
"Ide yang bagus." Devon mengangguk-anggukan kepalanya. "Boleh dicoba, Div."
"AAA DEVON! LO TUH Y—"
Drrt! Drtt!
Lagi, setelah sekian menit ponsel Devon diam. Kini benda itu mulai memunculkan eksistensinya lagi.
"Itu siapa?" Diva mengulangi pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang ia ajukan beberapa menit yang lalu, pertanyaan yang hingga detik ini masih belum terjawab. "Itu dari istri lo? Orangnya udah sampai mana? Ayo buruan umpetin gue. Gue lagi nggak mau jambak-jambakan, Dev."
Devon mengurut hidungnya pelan berharap rasa pusing tidak jadi menjalar ke kepalanya. Diva masih mengira notifikasi yang memenuhi ponselnya berasal dari istri Devon.
"Gimana mau punya istri, orang pacar aja dia nggak punya. Jangankan pacar, gebetan aja nggak punya," ledek otak Devon.
"Gimana mau pacaran, orang dia cita-citanya nikah sama orang-orangan sawah." Tak hanya otak, hati Devon ikut-ikutan menjadi sekutu untuk menyiyiri hidup Devon.
"Gue belum nikah. Gue belum punya istri. Stop bicara ngelantur, Div."
"Terus itu siapa? Atau jangan-jangan itu pacar lo, ya? Dia mau main ke sini? Ayo cepet umpetin gue."
"Bukan," jawab Devon singkat.
"Hah, bukan? Terus siapa dong? FWB-an lo? Simpenan lo? Oh atau jangan-jangan lo punya sugar baby, ya?"
Tolong dong pinjemin mesin waktu atau pintu ajaib punyanya Doraemon. Otak gue mau pecah rasanya. Kalo emang nggak ada, boleh deh baling-baling bambu juga nggak apa.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Devon ingin sekali memiliki kekuatan menghilang barang sejenak. Kira-kira untuk menghadapi masalah yang seperti ini.
Tarik napas, buang!
"Emang muka gue mirip om-om yang kayak gitu, Div?"
"Ya enggak, sih. Tapi kan nggak ada yang tau. Who knows? Nothing's impossible, Dev."
Devon meraup mukanya untuk menurunkan kadar emosi dalam diri. "Menurut lo dengan wajah gue yang kayak gini, gue termasuk orang-orang yang lo sebutin tadi?"
"Mm ... ya enggak. Tapi siapa tahu lo begitu."
"Enggaklah. Makanya stop nonton drama menye-menye biar lo mikirnya nggak aneh-aneh, Diva."
Diva bersedekap, satu tangannya ia gunakan untuk menumpu dagu. "Kalo gitu itu siapa?"
"Sales asuransi," jawab Devon asal.
"Bohong ya, lo?" Diva menatap Devon waswas.
"Emang gue pernah bohongin lo?" Kalimat ajaib itu akhirnya keluar dari mulut Devon juga. Kalimat yang selalu ia dengar jika seorang perempuan yang menjadi lawan bicaranya terdesak.
Ampuh. Diva mengelus tengkuknya pelan, menyampirkan untaian anak rambutnya ke belakang telinga khas orang yang tak enak hati setelah menuduh tanpa kebenaran.
"E-eh nggak gitu. Maksud gue ... mm–"
"Apa?" Berbeda dengan mulutnya, Devon tertawa puas di dalam hatinya. "WKWKW sampek pucet gitu mukanya. Lucu juga ngerjain orang."
"M-maksud gue nggak gitu. Tapi otak gue bilang kalau lo tuh nggak asing. Gue kayak pernah ketemu sama lo sebelumnya. Tapi gue lupa di mana. Iya, kan?"
"Gue juga takut kalo amit-amit kejadian perang jambak-jambakan sama bini atau pacar lo gegara dia tau gue di sini," lanjut Diva.
Setetes keringat merembet turun membasahi d**a Devon, pikirannya mulai berspekulasi jika Diva tahu kehidupan nyatanya di luar Fundamental. "Kita belum pernah ketemu sebelumnya." Helaan napas berat menyusul setelahnya. "Gue masih sendiri."
Devon tahu senyum itu berpotensi meledeknya, raut wajah Diva benar-benar menyebalkan. "Nggak usah ngeledekin orang kalo sendirinya juga sendiri."
"Tapi gue nggak sebegitu yakin kalo lo masih sendiri deh, Dev." Devon rasa spekulasi tentang Diva yang akan meledeknya adalah prasangka buruk semata. Perempuan di depannya ini menanyakan kebalikannya. Lalu apa maksud senyum Diva tadi?
"Kenapa gitu?" Devon berusaha menetralkan nada bicaranya agar Diva tidak kentara jika dirinya di ambang kepanikan.
"Soalnya, menurut gue ... lo itu nggak asing, kayak familiar gitu. Kedua, apartment lo. Denger-denger ini tuh kawasan elit, dengan lo yang sama kayak gue penyandang status anak magang, rasanya aneh. Ya nggak aneh-aneh banget sih. Gini-gini kalo kita puterin dengan bonyok lo yang orang kaya, menurut gue masih make sense, sih."
"Lo nggak lupa kan kalau gue sebelumnya berstatus pekerja dan mahasiswa?"
"Sttt!" Diva meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Gue nggak lupa, jangan potong gue dulu. Pendapat gue yang satu ini diperkuat dengan luasnya apartment lo. Kalau lo nyewa buat yang single mungkin masih bisa diterima akal. Tapi? Apartment ini cukup luas buat dipake sendiri, apalagi dengan status lo yang masih bujang. Terus, apartment lo yang bersih."
"Nanana, Devon." Diva menyergah Devon untuk berbicara sebelum dirinya selesai berbicara. "Iya, gue tau lo orangnya pecinta kebersihan. Gimana sama isi kulkas lo? Kabinet-kabinet dapur lo? Sebagai anak kos yang tiap harinya magang gue nggak bakal mikir sayuran dan gaya hidup sehat. Karena apa? Pulang kerja aja udah capek, fast food yang jadi rewardnya. Apalagi lo yang bakalan kerja lagi sepulang magang? Gue yakin seribu persen dapur lo dan seisinya itu sentuhan bini atau pacar lo."
"Apakah gue benar, Bapak Devon?" tanya Diva.
"Salah. Apa lo lupa kalau semua orang bisa mempekerjakan ART?" sanggah Devon.
"ART? Gue rasa lo bukan tipe orang yang suka ada orang lain selain keluarga atau temen deket lo masuk ke ranah pribadi lo."
Mampus! Diva kesurupan apa, sih? Atau jangan-jangan dia suruhan orang buat masuk ke apart gue? d**a dan punggung Devon sudah basah.
"Dan mana ARTnya? Jam kerja ART biasanya dari pagi sampai sore kan, Dev? Kalau ART yang lo pekerjakan cuma dateng pas weekend, gue rasa apartment lo nggak bisa serapi ini."
DRTT!
Belum sampai Devon membuka bibirnya untuk bicara, mereka berdua kembali dikagetkan dengan keberadaan ponsel Devon lagi.
"Gue juga nggak yakin kalo notifikasi yang muncul berulang kali di handphone lo itu dari sales asuransi. Biasanya sih tipikal-tipikal orang nggak sabaran itu kalau bukan pasangan yang minta kabar, ya adek rese' yang terlahir buat morotin duit kakaknya."
"Terus apa salahnya sales asuransi? Siapa tahu orangnya gigih?" []