BAB 39| Tertangkap Basah

1639 Kata
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Gue duluan deh Dev yang mandi. Mules gue debat kusir sama lo cuma ngeributin sales asuransi." Itulah kira-kira kalimat yang Devon dengar terakhir kali sebelum Diva menghilang di balik pintu yang ia sebut kamar mandi. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu ... atau mungkin lebih? Dirinya sendiri tidak ingin memusingkan hal itu. Nampaknya sales asuransi yang Devon sebut mampu membuat Diva bungkam. Oh atau wanita itu tengah terkena mental setelah berdebat dengannya? Devon tidak peduli yang penting identitasnya masih aman. Pelajaran yang dapat diambil hari ini adalah jangan pernah mengijinkan sembarang orang masuk ke tempat tinggalmu. Mm ya, mungkin seperti itu. Benar, kan? Gemuruh tepuk tangan memenuhi pikirannya. "Bodoh sekali Bapak Devon ini. Umur udah mau 25 kok masih bego, sih?" cela otaknya. E-eh gimana? Lisannya tak bergerak, Devon sibuk membatin. Kenapa otaknya selalu saja tidak sinkron dengan tubuhnya? Ini bukan kelainan, bukan? "Bego dipelihara sih, Dev ... Dev. Katanya cuma orang bodoh yang mau jatuh ke lubang yang sama berulang kali? Oh ternyata itu nyindir diri sendiri, hm?" "Hah? Maksudnya?" Devon sama sekali tidak mengerti dengan isi kepalanya sendiri. "Pelajaran yang sebenarnya bukanlah jangan pernah mengijinkan sembarang orang masuk ke tempat tinggalmu. Lalu bagaimana dengan kurir paket? Petugas kebersihan? Tukang laundry mingguan?" "Setidaknya mereka adalah orang yang kukenal," bela Devon. "Seberapa persen mereka mengenalimu? Apa bedanya dengan Diva?" Otak Devon sepertinya lebih mengenal Devon lebih dari dirinya sendiri. Tidak pernah sekalipun dirinya menang melawan jalan pikir otaknya sendiri. "Kok diem? Nggak bisa menjawab, Bapak Devon?" "Dev ... Dev, mengelak adalah perbuatan payah. Dasar pecundang. Masa' sih belum bisa nyimpulin pelajaran yang lo dapet hari ini?" "Ya apa?" Mungkin Devon bisa menghindari Diva, namun dirinya tidak bisa menghindari dirinya sendiri. "Ck, Dev ... Dev. Kenapa sih gue harus ditakdirin ngikut lo? Punya majikan pinter dikit kek, pekalah peka. Jangan bilang lo udah lupa kejadian lo sama Lily?" "Lily?" Keponakan Devon yang satu itu adalah biangnya masalah. "Kejadian apa maksudnya? Lily berulah setiap waktu. Mana gue hafal." "Gue janji bakal jagain dan jajanin Lily akhir pekan nanti, kalo mama sama Brandon nggak lihat gue. Inget?" Devon mengangguk menuruti perintah dari otaknya. Meski banyak kejadian buruk saat bersama Lily namun jika disebutkan yang mana, Devon pasti ingat. Tidak sehari pun saat dirinya bersama Lily, bocah nakal itu tidak mungkin tidak melakukan hal aneh yang membuat Devon naik darah. "Ya itu tandanya lo disuruh mikir dua kali sebelum ngelakuin sesuatu. MIKIR DUA KALI! Paham sampe sini? Nyesel doang terus dilakuin lagi ya buat apa? t***l itu namanya. Belajar dari kesalahan! Ngomong doang, eh sendirinya masih begitu. Malooo!" Devon mengedikkan bahunya. "Ya itu kan—" DRTT! Lantunan dari ponselnya yang terdengar panjang dan nyaring memotong perdebatan alot melawan otaknya sendiri. Bukan pop up pesan teks lagi, melainkan notifikasi panggilan. Bukan notifikasi yang sedang ia tunggu. Levin is calling... "Kenapa lagi sih nih anak?" Kehidupannya tidak bisa jauh-jauh dari sana. Kalau bukan mamanya yang menelepon meminta pulang, ya pasti Brandon yang meminta bantuannya untuk dititipi Lily. Kalau bukan mereka berdua, pasti Levin yang sedang berulah dan berniat mengajaknya. Devon sudah hafal. Lihat saja, dari dering panggilannya saja sudah sangat menunjukkan bahwa si pemanggil juga sama tak sabarannya. Benar-benar tidak beda jauh. "Ck, lama banget, sih!" Sebenarnya bukan salah Devon kalau-kalau dirinya ingin mematikan panggilan itu sekarang juga. "Dev, nanti gue—" Pip. Luar biasa. Jarang sekali hal ini Devon lakukan meski dirinya begitu ingin melakukannya sejak lama. Suara Levin berpeluang membuat kepalanya pecah. Satu saja sudah cukup, untuk saat ini dia membiarkan Diva yang merecoki hidupnya. Hanya Diva, tidak boleh ditambah Levin. Panggilan tanpa adanya sapaan di awal pembuka pembicaraan mungkin bisa Devon jadikan salah satu alasan kalau Levin bertanya nantinya. DRTT! Belum ada 30 detik dan Levin kembali menghubunginya. Kan? Sudah bisa Devon tebak. Untuk itu ada baiknya untuk seharian ini, dia akan memblokir nomor Levin sementara waktu. Drrt! Drtt! Devon berdecak, "Apalagi, sih?" Untung saja benda pipih yang terus menyala itu tidak sampai terlepas dari tangan Devon. Devon kira itu Levin. Selama hampir 25 tahun menjabat menjadi sepupu, Levin terbilang tidak bodoh yang menerima apapun begitu saja. Tapi kali ini, takdir benar-benar berada di pihak Devon. Nyatanya itu bukan Levin. Itu adalah salah satu pop up chat dari Audy. __________ @audiueo: boleh kok kak kalo mau ambil slot, aku yang makasih banget @audiueo: kalau mau liat-liat standnya juga boleh banget, minggu depan di kampus @audiueo: stand nya di lapangan depannya gedung H kak. __________ Devon mengukir senyumnya tipis. Benar-benar tipis menyerupai garis. Suatu peningkatan yang harus ia akui keberadaannya. Dulu yang awalnya, pesan yang ia kirim hanya berakhir mengendap di request message, kini berbalas. Ya meski ini bukan pertama kalinya Devon berbalas pesan dengan Audy, tetapi Devon sangat senang. Yang biasanya hanya berani mereply snapgram, kini mereka punya topik perbincangan sendiri. Meski sebenarnya topik yang didapat juga hasil dari mereply snapgram, tetap saja bisa disebut kemajuan, bukan? Pokoknya Devon ingin menyebut ini sebagai kemajuan, titik! Kalau orang lain tidak mau, Devon tidak peduli. Kedua jempol Devon menari di atas keypad dengan lancar, mengetikkan sesuatu di sebelah sana sebagai balasan. send. __________ Devon: boleh minta id line yang bisa dihubungi? biar gampang komunikasinya. __________ Devon membaca ulang pesan yang barusan dikirimnya itu. Ini tidak terlihat cringe, kan? Dirinya tidak terlihat seperti buaya yang sedang mencoba merayu mangsa, kan? Iya, kan? "Semoga Audy nggak mikir yang aneh-aneh. Semoga," rapal Devon dalam hati. Mungkin sudah sepuluh detik Devon tidak berkedip saat menatap ponselnya. "Ini Audy nggak ngira kalau gue cringe atau freak, kan?" Menit masih belum berganti, namun pikirannya. sudah melalang ke mana-mana. Tidak ada tanda-tanda Audy akan membalas pesannya. Layar ponsel Devon pun juga masih menampilkan laman roomchat yang sama. "Ayo bales dong." "AAAA!" teriak Devon setelahnya. Masih kalut dengan kegundahan pesannya yang tak kunjung menjumpai read bahkan balasan, Devon terkaget dengan sesosok manusia putih di samping pintu kamarnya. Seolah tidak merasa bersalah, Diva mengacungkan kedua jempolnya di depan d**a seraya menampilkan deretan giginya yang rapi. Busana serba putih—tidak, maksudnya bathrope putih lengkap dengan handuk kepala putih itulah yang mengusik Devon. Devon rasa, jantung sangat tidak aman. Keberadaan Diva membawa pengaruh besar bagi kesehatan jantungnya. "Kenapa ngagetin?!" ZXCVBNM! Pertanyaan bodoh. "Eh gue ngagetin lo, ya?" Diva menunjuk dirinya sendiri. "Ehehe sorry, nggak sengaja." Devon masih sibuk menetralkan debaran jantungnya akibat ulah Diva. Mungkin benar adanya jika ia harus berpikir berulang kali sebelum menyetujui membawa manusia berjenis kelamin perempuan untuk masuk apartmentnya. "Mm ... l-lo ng-nggak marah sama gue, kan, Dev?" tanya Diva seraya mengerucutkan bibirnya. Tidak berhenti sampai situ, rupanya wanita satu ini masih ingin berulah. Itulah yang Devon tangkap. Arah pandang Diva yang menunduk ke bawah dengan posisi tangan yang memilin ujung tali bathrope. "ARGH! Dia nggak lagi berniat buat bunuh gue sekarang, kan? Nggak mikir apa kalau itu dimainin bakal bisa buka semuanya?!" batin Devon. "Sorry deh, Dev, kalo gue pake peralatan mandi lo nggak minta ijin dulu. Tas gue ketinggalan di dapur." Diva menunjuk salah satu kursi yang berada di sana, di tempat ia meletakkan benda itu. "Tadi gue keburu mager, sorry deh. Gue janji nggak bakal ngulangin lagi." BODO AMAT! GUE NGGAK PEDULI! BISA STOP MAININ TALI BATHROPE LO, NGGAK?! NTAR GUE DIKIRA NGAPA-NGAPAIN ANAK ORANG DI APARTMENT! "Oh iya," sambung Diva setelah sekian lama berkutat dengan tali bathrope. "Soal handuk sama bathrope, g-gue juga lupa ijin. Tapi lo tenang aja, Dev. Gue nggak panuan kok, biar lo percaya nanti gue cuciin deh kelar gue pake." Gue nggak peduli, please! Doraemon tolong pinjemin baling-baling bambu sekarang! Ini perintah! "Kok lo diem aja sih, Dev? Lo beneran marah sama gue, ya? S-so—" "Enggak." Devon menunjuk kursi yang menampung perkakas Diva, lalu menunjuk ke arah munculnya Diva datang. "Ambil. Cepet ganti baju." "O-oh oke." Diva memberikan dua jempolnya, berjalan menuruti perintah Devon. Belum sampai setengah jalan, Diva berbalik. "Apa?" sahut Devon secara spontan, refleksnya cukup bagus hanya dengan melihat kepala Diva meleng dari jalur yang seharusnya. "Btw, lo beli sabun mandi di mana? Baunya enak banget kayak ada mangga-mangganya gitu. Ntar kalo lo mau beli lagi, gue nitip ya." "Divaaa. Ck, buruan!" Belum ada satu jam setelah membuat kekacauan, bahkan kekacauan itu belum beres sepenuhnya. Bisa-bisanya Diva sudah leluasa kembali membahas hal-hal yang kurang penting. "Ehe sorry lagi, Dev." Wanita itu mengambil langkah seribu sebelum Devon benar-benar menelannya. "Punten, a'." Cklek! Bunyi pintu yang baru saja tertutup itu membuat Devon sedikit bernapas lega. Beban dalam dadanya yang sejak tadi ditahan juga perlahan terangkat. "Eh, Dev." Mampus, sekarang bebannya nambah jadi lima ton. Kepala yang menyembul keluar pintu tanpa aba-aba, membuat d**a Devon kembali terhimpit. "Lo ada hair dryer, nggak? Pinjem dong." "Jangan ngagetin, Div." "Sorry lagi deh, Dev. Lo punya nggak?" "Ada di atas rak besi samping meja." "Tencuu, gue pinjem, ya." Brak! HSHSJAAK menyebalkan! Kalau dipikir ulang, sepertinya semua jenis perempuan dengan perbedaan generasi di dalamnya sekali pun, mempunyai kadar menyebalkan yang sama besarnya. Perlu digarisbawahi semua macam jenis perempuan yang pernah Devon temui, baik seumuran mamanya maupun sekecil Lily. "DEV, TOLONGIN GUE DONG!" Apalagi kali ini? Meski batang hidungnya tidak terlihat, Diva sepertinya belum puas membuat Devon frustasi. Kini suara lantangnya memenuhi seluruh penjuru apartment. Cklek! "Apa?" "Tangan gue nggak nyampe, Dev. Tolong ambilin ehehe." Devon berjalan mendekat. Mungkin setelah ini dirinya akan begitu membenci cengiran, senyuman tipis, atau apapun bentuk jenis kawanan dari hal yang sama. Sungguhan. Diva tak berpindah dari posisinya ketika tangan Devon menggapai hair dryer itu. Rak besi yang Devon maksud adalah rak buku yang lumayan cukup tinggi puncaknya. Nakasnya tidak cukup untuk menyimpan barang ini dan ia memutuskannya untuk meletakkan benda itu. "Dev, nanti gue neb—" Ucapan itu terputus sebelum Devon menyentuh hair dryer permintaan Diva. "Oops sorry, gue nggak tau ehe." Tangan Levin menarik pintu kamar Devon agar tertutup dari luar. Jangan lupakan cengiran Levin barusan. Mulai sekarang cengiran adalah hal yang sangat Devon benci keberadaannya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN