· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"I-itu kan Levin? Gue nggak salah lihat, kan?" Diva menampar pipinya sendiri dua kali. Kiri lalu kanan, mencoba mengoperasikan otaknya untuk berpikir jernih.
"AWH!" Jeritan yang menyerupai desahan membuat Devon ingin membungkam mulut Diva dan menyadarkannya untuk berhenti bertindak bodoh. "Sakit."
TOLONG DONG OTAKNYA DIPAKAI! NAMANYA JUGA DIGAPLOK, YA PASTI SAKIT.
Belum sampai Devon menceramahi Diva untuk menghentikan sikap bodohnya, Diva kembali berteriak, "J-jadi gue nggak mimpi? JADI YANG GUE LIAT ITU BENERAN? I-ITU LEVIN? L-LEVIN ANDERSON? DEMI APA SIH GUE BISA KETEMU LEVIN HUHUHU."
"SSTT!" Mau tak mau, akhirnya tangan Devon mendarat di bibir Diva. Tangan, noted telapak tangan. Bukan jari telunjuk, melainkan telapak tangan. "Bisa diem nggak, sih? Berisik banget jadi orang."
Diva memberontak akan aksesnya berbicara yang ditutup oleh Devon. "L-LO TEMENNYA LEVIN? KOK LO NGGAK BILANG-BILANG KE GUE SIH KALO LO TEMENAN SAMA DOI."
"Jangan berisik, Divaaa," geram Devon. Telapak tangannya kembali menyekap bibir Diva. "Jangan teriak-teriak, nanti dikira ngapa-ngapain sama orang."
"Lepas! Tangan lo pengap. G-gue harus ke sana!" Yang dimaksud Diva adalah ke luar kamar, di tempat Levin berada. "GUE MAU MINTA FOTO, GUE MAU MINTA FOLBACK, GUE MAU MINTA PERASAANNYA HUHU."
Devon meraih bahu Diva, menarik turun handuk kepala yang dipakainya hingga menutupi muka. "Dibilangin jangan berisik, Divaaa."
Diva memberontak, menggerakkan tangan dan kakinya tak tentu arah agar pelukan Devon bisa lepas. "LEPASIN, DEV. ENGH, GUE MAU KETEMU LEVIN ANDERSON!"
"Ck!" decak Diva setelah wajahnya terbebas dari handuk kepala bekas rambutnya. "Gue mau ke sana, gue mau ketemu sama Levin And—" Ucapan Diva yang awalnya sangat bersemangat dan menggebu, kini luruh seketika.
Tangannya menunjuk Devon. "L-lo?" Dan menunjuk ke arah pintu yang ditutup oleh Levin tadi. "D-dia?"
"L-Levin Anderson? Devon Anderson? K-kalian bukan cuma temenan? K-kalian sodaraan?" Diva mengatakannya secara terbata, seakan pikirannya sudah kembali ke tempat asalnya dan sekarang tenah berfungsi dengan baik. "J-jadi kalian? Eh i-itu sodara?"
Devon tidak menjawab pertanyaan Diva, dirinya membalik kembali pernyataan excited yang Diva lontarkan beberapa detik yang lalu. "Masih mau nemuin Levin?"
Diva mengangguk bersemangat. "MASIH!"
"Yakin mau ketemu Levin nggak pake baju?" sindir Devon.
Diva mendelik, kepalanya menunduk takut-takut melihat ke arah bawah. "Hehehe lupa gue!" Diva mendorong Devon menyingkir mendekat pintu. Tidak lupa dengan sedikit cengiran khasnya.
Blam!
Devon dihadapkan kembali ke kenyataan yang ada di depannya. Lihat saja, manusia yang tak diharapkan kedatangannya ini masih senyam-senyum meledeknya sembari fokus menatap layar ponsel. Devon rasa Levin sudah tidak waras, dentingan ponsel yang sedari tadi bergetar di saku celananya pun hampir tak terasa saking banyaknya.
Mungkin bisa dibilang dia mengalami deja vu, ponselnya sekarang tak kalah heboh dengan kejadian akun Devon terpampang dalam berita di akun gosip.
Jangan bilang Levin anggota inti akun gosip itu?!
Devon masih sebal, ketukan kakinya yang mengenai lantai dan jari tangannya yang tak henti bergemeletuk di atas meja tak mampu mengalihkan perhatian Levin dari ponselnya.
"Vin," panggil Devon dengan nada rendah.
"Sumpah gue nggak bercanda!" Levin mengarahkan ponselnya mendekat dengan bibir, matanya menyorot ke Devon seolah meminta validasi. "Kalau nggak percaya, tanya orangnya langsung gih. Telfon gih, telfon. Kalau perlu datengin sekalian."
Bukannya takut, Levin semakin menjadi. "Gue serius, yang kali ini nggak bercanda. Pantes aja disuruh pedekate sama Clara nggak mau, orang udah punya. Cakep juga orangnya, seksi gitu ya kali Devon meleng."
"Ibarat kata nih ya, emang bener adanya kalau janda itu berpengalaman. Tapi mending ngajarinlah, ye kan? Lebih challenging." Levin menaik-turunkan alisnya mengakhiri pesan yang Devon tebak adalah voice note.
"Vin." Devon memperingatkan Levin sekali lagi.
Levin nampaknya masih tetap acuh, pria itu lebih memilih menyibukkan diri dengan membalas pesan siapapun yang mendarat dalam pop up ponselnya yang rata-rata tidak percaya dengan perkataannya tentang Devon kali ini.
"V—"
DRRT!
Mulut Devon yang gatal ingin kembali memperingatkan Levin harus terhenti sejenak mendengar getaran yang berbeda dari ponselnya. Getaran panggilan masuk. Dan kebetulan apalagi ini? "Mama?" cicitnya, "Apa yang sebenarnya tengah Levin lakukan?"
Dengan menggeser tombol merah setelah menekan tombol power beberapa detik adalah langkah aman yang Devon ambil untuk menyelamatkan diri.
"Levin!" Pelan dan penuh penekanan.
"Sstt ... ssst! I know you happy right now, Dev. Thanks me later. Balik aja ke kamar, have fun lagi. Gue nggak bakal ganggu kok, cuma mau nebeng ke anniversary kantornya tante Aga," jelas Levin dengan pandangan yang masih terfokus pada ponsel.
"Vin, itu tuh nggak kayak yang lo lihat!" Wlee, dirinya ingin muntah rasanya, kenapa di sini Devon malah terlihat seperti kekasih yang sedang terpergok selingkuh?
"Udah sih, Dev. Gue nggak lihat, seriusan deh. Gih balik sono. Nanti gue pasang airpod biar nggak kedengeran suaranya."
"LEVIN! Bisa diem nggak sih? Tadi gue tuh cuma ...." Entah mengapa otak Devon tiba-tiba kehilangan kosa kata sopan untuk menjabarkan apa yang sebenarnya terjadi sebelum Levin datang.
"Cuma? Cuma apa? Cuma mau quickie terus gue dateng? Sorry deh, Dev. Ya lagian ponsel lo ringing doang. Mana gue tau kalo mau maen."
"Vin, gue nggak kayak gitu. Jangan asal omong."
Levin meletakkan ponselnya di atas paha. "Gimana caranya gue percaya kalo omongan lo bener? Secara posisi kalian berdua sama-sama semi naked, di kamar, himpit-himpitan," jelas Levin. "Udahlah, Dev. Nggak usah denial gitu, it's normal buat seumuran kita. Yang nggak normal itu kalo lo nggak suka cewek. Udah sih, cantikan cewe itu lagi daripada Clara. Makanya kalo punya cewek bilang-bilang. Biar orang-orang nggak susah-susah jomblangin lo."
"Vin." Kali ini Devon melunak dan lebih pasrah, pemikiran Levin sudah meluber ke mana-mana.
"Dibilangin thanks me later, Dev. Nggak lama lagi palingan cewek lo diundang ikut acara bulanan keluarga sama tante Aga. Udah saatnya show up, Dev. Cantik gitu diumpetin mulu. Btw, lo kenal di mana?"
***
__________
Diva: Psst! Dev [06:48 pm]
Diva: Devon woi! [06:48 pm]
Diva: Oi ganteng, lirik dong hapenya. Fokus banget. [06:48 pm]
Diva: Awkward banget ini [06:52 pm]
Diva: Gue kudu ngapain ini, Dev [06:55 pm]
Diva: Anjim si Devon, diem mulu sariawan lo [06:56 pm]
Diva: KENALIN KE GUE KEK! KENALIN! [06:56 pm]
Diva: GUE GAMAU TAU, LO PUNYA UTANG KE GUE. BUAT NGENALIN GUE KE SODARA LO YANG CAKEP INI. TITIK! [06:56 pm]
__________
Ponsel Devon akhirnya kembali menyala setelah dia tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasi kebosanan di pinggir ballroom ini.
Sudah hampir setengah jam dirinya di sini—mungkin. Hiruk pikuk orang yang berlalu lalang, meriahnya suasana dan tempat pesta, serta antusiasme dari semua orang yang berbindong untuk mencapai tengah ballroom membuat Devon menepi.
Seperti biasa, hati Devon merasa sepi meski ramai orang. Beribu notifikasi aktif memnuhi ponselnya sejak ia memutuskan untuk menyalakan benda itu. Bayangan akan Levin adalah salah satu anggota inti dari akun gosip menghilang.
Grup keluarga besarnya dan grup yang berisikan sepupu-sepupunya nyaris bisa menyaingi hebohnya tragedi Cia yang membajak akun Devin dan memberi like secara random yang berakhir masuk akun gosip kala itu.
Panggilan tak terjawab juga menjadi tampilan yang tak asing untuk dilihat kali ini. Hampir seluruh anggota keluarganya malah. Devon bisa melihat runtutan itu ... secara jelas.
Kini yang tertinggal dibenaknya adalah identitas yang ia tutup rapat dan berusaha disembunyikan secara rapi ini akan terbongkar? Devon sudah menyampaikan kepada Levin untuk mengatakan ke seluruh anggota keluarga agar tidak ada yang menemuinya malam ini.
Hanya itu.
Tapi entah jika Lily masih ingin mengujinya dengan tiba-tiba datang dan merengek. Semoga pemikiran buruk itu hanya sekadar angan. Semoga.
"Dev, kenalin ke gue kek."
Pernyataan yang sama lagi-lagi dari perempuan yang sama tak henti-hentinya merecoki Devon. Dirinya sudah setengah waswas dengan Diva. Keputusan membawa pulang—read: mengijinkan mampir—wanita itu ke apartmentnya adalah tindakan yang salah.
"Devh ...." Merasa tak ditanggapi, wanita yang mengenakan dress satin berwarna soft cokelat itu kembali memanggil Devon, mencoba menarik perhatian pria itu.
"Ghue nnggak nyangkah kalo lo itu sodaraan sama Levin." Masih dengan mulut yang penuh dengan buah berlumuran cokelat, Diva memaksakan diri untuk bicara.
"Telen dulu."
"Gue masih nggak nyangka kalau lo itu sodaraan sama Levin. Bener sih, lo berdua cakep. Tapi gue nggak ngeh kalo nama belakang lo itu 'Anderson', terus nih yang paling nggak masuk dinalar gue ...." Diva menjeda ucapannya, bersusah payah menelan secepat yang ia bisa. "Jadi gue bener, kan?"
"Bener apa?" Devon sebisa mungkin mengontrol nada bicaranya agar tidak terlihat gugup, minus dengan keringat yang mulai timbul di dahinya.
"Ya itu, gue tuh kayak pernah ketemu lo sebelumnya. Di luar interview sama perkenalan pertama kali di kantor. Gue tuh kayak nggak asing, tapi siapa gitu. Terus di mananya gue juga nggak inget."
"Mirip doang kali," bantah Devon.
"Nggak mungkin gue halu! Orang itu tadi di apartment lo ada Levin. Fix valid no debat, kalian sodaraan. Nama belakang lo juga sama. Mau ngelak apalagi, hum?" Diva melotot, masih dibarengi dengan mengunyah makanannya. "Username IG lu yang beneran apaan dah? Gue yakin itu bukan akun asli. Iya, kan?"
Devon menarik napas panjang, hari ini akan berakhir panjang. "Itu asli."
"Tapi followers lo di bawah 1000. Yakin asli? Gue lihat-lihat gerak-gerik lo di kantor jadi mencurigakan, Dev."
"Mencurigakan gimana? Perasaan lo aja."
"Gue serius, elah lo mah sok misterius banget." Diva mencak-mencak seiring dengan habisnya buah di piring yang ia pegang. "Eh tapi yang gue bingungin, kenapa lo masih ikut interview buat masuk sini, Dev? Lo bisa gunain privileged lo buat masuk cuma-cuma dan milih ditempatin sesuai yang lo mau, kan?"
"Apa sih, Div? Gue sama aja kayak lo, jangan sebar hoax." []