Pepatah mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat, pasti terjatuh jua.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Sorai riuh memenuhi satu ballroom ketika lilin di atas kue ditiup secara resmi. Ledakan confetti dari segala arah pun juga turut menyemarakkan acara hari ini. Sudah hampir lima menit, naun suara meriah ini belum juga surut.
"CONGRATULATIONS!"
"WOO NAIKIN GAJI SAYA, PAK, BU!"
Teriakan bermakna sama sahut menyahut mulai menyeruak terdengar. Bisa dibilang anniversary perusahaan kali ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.
"Diem aja, sariawan lo." Masih bersama orang yang sama, Diva mengikuti ke manapun dirinya pergi. "WOAH CONGRATULATIONS!" teriak Diva setelahnya.
Di saat semua orang masih dilingkupi rasa antusias dalam semarak ini, Devon kembali mundur ke tempat asalnya tadi. Dirinya mengambil posisi di sisi kiri ballroom paling pinggir, meski demikian dirinya hanya maju 3 meter saat acara puncak. Selebihnya, Devon ingin pulang.
"Heh, mau ke mana lo?" Sepertinya Diva mengetahui pergerakannya.
Diam, sama seperti tadi Devon kembali menarik salah satu bangku yang ada di ujung ruangan. Lagi-lagi dengan Diva yang masih setia mengikutinya. Devon hanya meliriknya sekilas lalu merogoh ponsel yang berada di kantong saku, menyibukkan diri dengan benda pipih itu.
Netranya menangkap ada satu pesan masuk yang tak asing di sana. Intuisinya mengatakan bahwa masih ada makhluk tak kasat mata di sebelahnya.
Benar saja, saat Devon menengok. Diva ikut-ikutan mengintip ponselnya. Bahkan jaraknya sangat dekat, salah sedikit saja hidung mereka akan bersentuhan. Telunjuk Devon mendorong dahi Diva untuk sedikit menjauh. "Ngapain?"
"Hah, emang apa?" Diva menampakkan wajah innocent-nya.
Tangan Devon mengibas, menyuruh Diva memberi jarak untuk mundur. "Geseran." Nihil, yang disuruh malah menampilkan wajah bodoh seolah tak mengerti apa yang diucapkan Devon. Mengalah dan tak ingin berdebat di depan umum, Devonlah yang akhirnya bergeser.
[Aman, semuanya udah siap. Tinggal eksekusi.]
Devon mengulas sedikit senyum. Dirinya sangat tidsk sabar menunggu hari itu tiba. Hanya tinggal satu langkah dan semuanya akan berakhir.
Diva melongok mendekat, namun kalah cepat dengan Devon yang sudah membalikkan ponselnya. "Tsk, apa sih? Sok misterius banget! Atau jangan-jangan dugaan gue bener, kan?"
Lagi, Devon mengulangi hal yang sama berulang kali kurang dari satu jam yaitu mendorong dahi Diva menjauh. "Enggak. Jangan halu."
"Hih, tinggal bilang iya apa susahnya sih, Dev? Iya, kan?"
Diva kukuh dengan pendapatnya, Devon juga demikian. "Enggak! Orang dibilang enggak."
"Ah masa?" ledek Diva, "gue nggak mungkin halu, Dev. Orang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri kalau yang di apartment lo tadi sama orang yang berangkat ke sini bareng kita itu Levin. Levin Anderson. Dan lo? Nama lo Devon Anderson. Gue nggak mungkin halu, Dev."
Sedikit goyah dan sudah kehabisan kata untuk melawan Diva. Devon hanya bisa membayangkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi padanya di kantor.
"Nama belakang juga ada yang bisa mirip kali, Div. It's called pasaran," elak Devon.
"Pasaran kata lu? Dev, seumur-umur selama hampir 22 tahun gue hidup. Nggak ada tuh gue nemu temen gue yang nama belakangnya Anderson." Diva bersidekap. "Cepet spill akun real lo. Gue yakin itu bukan akun asli. Dan lebih parahnya lagi dan yang gue nggak habis pikir, kenapa semua orang nggak ada yang familiar sama lo?"
Dari sini Devon bisa menyimpulkan bahwa Diva bukan termasuk dari bagian dari 3,9M pengikut sosial medianya itu. Aman.
"Apa sih, Div? Gue tuh orang biasa sama kayak lo," jawab Devon tenang. Hanya tingkahnya yang tenang, bertolak belakang dengan hati, pikiran, dan bulir-bulir keringat di tubuhnya.
"Ih enggak! Lo tuh the Andersons iya, kan?!" teriak Diva.
Mampus, batin Devon. Teriakan itu sedikit mengundang beberapa pasang mata di sekitar mereka. "Jangan teriak," geram Devon.
"Oopsie, sorry." Diva menyahut tak kalah lirih. Meringis tak keruan di tempat duduknya. "Ehe." Menyapa setiap orang dengan menganggukkan kepala seraya senyuman malu yang menatapnya dengan penuh keingintahuan.
"Emang gue teriaknya kenceng banget ya, Dev?" Tangan Diva menyenggol lengan Devon setelah semua pasang mata yang melihatnya tadi sudah kembali berbalik. "Malu gue," ringisnya, "ini gara-gara elu sih, Dev."
Devon mengerutkan keningnya tanda tak paham. "Kok gue?"
"Y-ya pokoknya ini semua gara-gara lo." Teriakan Diva kali ini sedikit lebih terkontrol.
Beginilah akhirnya. Apapun penyebabnya, siapa pelakunya kebanyakan dari mereka selalu lempar tangan terlebih jika itu adalah perempuan. Oh, jangan lupakan jika mereka dalam kondisi yang tertekan. Memang benar bukan semuanya, tetapi rata-rata yang muncul di hidup Devon semuanya begitu.
"Gue tuh yakin seratus persen kalo lo itu masuk keluarga Anderson," bisik Diva, "gimana caranya lo ngelabuhin HRD? Gimana cara lo menyembunyikan semua identitas lo sampe semua orang nggak mengenali lo?"
"Itu artinya gue orang biasa, Div. Case closed." Devon menyugar rambutnya ke belakang, ini adalah salah satu upayanya agar keringatnya tidak menumpuk dan menetes.
"Terus hubungannya Levin sama lo?" Seolah belum puas dan mendapatkan jawaban sesuai keinginannya, Diva kembali menjejali Devon dengan segala serangannya. "Dia bukan sales asuransi yang lo maksud itu, kan?"
"Bukan, dia itu—" Ucapan Devon menggantung terpotong suara gemuruh perut Diva. Satu keberuntungan bagi Devon untuk bisa mengalihkan perbincangan yang memuakkan ini. "Lo laper?" tanya Devon setelahnya.
Diva memegangi perutnya, pandangan yang waswas mulai ia munculkan di raut wajahnya yang ayu itu. Tadi karena berteriak, sekarang karena cacing-cacing di perutnya yang berteriak.
"Malu gue dilihatin orang," bisik Diva. Wanita di samping Devon ini masih sibuk mengangguk kepada siapapun yang menoleh karena merasa terganggu dari suara barusan. Untung hanya secuil orang di sisi kiri ballroom sekelilingnya saja.
Devon bisa merasakan apa yang tengah dirasakan Diva. Menjadi pusat perhatian sama sekali tidak membuatnya merasa nyaman dan dirinya juga tidak berminat untuk menjadi pusat perhatian.
"Lo laper?" Devon kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
"Dikit, sih." Diva menyengir dengan tetap memegangi perutnya. "Nyari makan ke sana, yuk."
Devon melongo mendengar penuturan Diva. Matanya berserobok mencari ke mana larinya benda itu. Hingga mata Devon memaku ke bawah tempat duduk Diva yang tak jauh darinya.
"Ini?" Devon mengangkat piring kertas bekas makan Diva tadi. Lalu ini apa? Apa tadi yang Diva makan adalah toast hologram buatan Karen istri Plankton.
Diva menyampirkan satu helai anak rambutnya ke belakang telinga. "Masih laper hehehe."
Devon melengos, tidak akan pernah ada habisnya jika berdebat dengan perempuan. Kekeuh, tidak ingin kalah, selalu mencecar, dan mau menang sendiri adalah tipikal perempuan yang selalu datang ke hidupnya.
"Ini gara-gara elu sih, Dev. Ngajakin ribut mulu, tinggal bilang iya apa susahnya, sih?"
Kan? Belum sampai Devon berkedip, Diva sudah membuktikannya sendiri. Fyuh, ia mengembuskan napas kasar. Menetralkan pikirannya agar tidak merealisasikan keinginannya untuk segera pergi dari sini. Jik ia pergi, Diva akan semakin yakin dan percaya tentang spekulasi-spekulasinya.
"Apanya yang iya?" Devon segera memotong ucapan Diva, ketika melihat bibir wanita itu hendak terangkat. "Mending cari makan. Lo kalo ngomel serem."
Diva berdiri dari duduknya, tangannya dengan sengaja menarik satu lengan Devon untuk turut berdiri. Devon hanya melirik lengannya yang terangkat. Satu alis Devon terangkat yang menandakan dirinya bertanya 'apa' tanpa bicara.
"Lo ikutlah."
"Gue nggak laper, Div." Devon menggeleng, tetapi lengannya tak kunjung dilepas.
"Emm ... mm." Telunjuk Diva menari ke kanan lalu ke kiri bergantian. "Nggak mau tau, lo harus ikut. Di apart lo, gue nggak dikasih makan."
"Terus tadi s**u, buah, sama roti itu apa? Hologram?" batin Devon.
"Pokoknya lo harus tanggung jawab udah bikin gue emosi. Ya ..., kecuali lo mau ngaku aja, sih," sambung Diva.
Dengan hati yang setengah ikhlas, Devon terpaksa berdiri. Bukan sekali, dua kali dirinya dikelabuhi seperti ini. Ia sudah cukup kebal. Sedikit beruntung, Diva tidak mengetahui identitas aslinya.
Sedikit ketar-ketir sebenarnya. Mengapa juga Levin harus datang di saat Diva ada di apartmentnya? Mengapa Diva mengenali Levin? Dan mengapa dirinya dan Diva sedang berada di posisi semacam itu saat Levin datang?
Hal ini cukup krusial. Sangat cukup untuk menguatkan alasan Devon tidak memposting seluruh mukanya ke sosial media kala itu. Muka Devon versi full juga jarang bisa ditemui kecuali jika Diva lupa memberi sensor wajah di videonya yang memunculkan wajah Devon secara tidak sengaja atau paparazzi berhasil memotret dirinya menghadiri acara besar bersama keluarga Anderson.
Layaknya seorang yang misterius, feed i********: Devon lebih tepat dibilang sebuah puzzle dan dirinya adalah seorang buronan yang dicari banyak orang. Foto mata. Foto hidung. Foto jambul rambut. Foto tuxedo. Hanya kepingan-kepingan foto, semuanya tidak ada yang full. Devon bermain di belakang layar.
Tapi tetap saja, jantung Devon tetap berdebar dan rasa takut akan Diva yang mengetahui identitas aslinya tetap ada.
"Dev." Diva menyenggol perutnya ringan. "Antri banget."
Perhatian Devon beralih ke stand di depan sana. Belasan orang yang sama laparnya seperti Diva berjajar di sana. "Ini nasi boxnya milih lauk sendiri apa gimana? Yang antri lama banget. Kalo ada nasi padang, gue milih nasi padang deh. Yang di sana itu burger sama toast bukan sih, Dev?" tunjuk Diva.
"Kayaknya."
Antrean panjang di stand depannya ini terlihat sangatlah menyiksa. Devin seperti sedang mengantre menunggu gilirannya untuk mendapat hukuman.
Diva menyeletuk lirih, "Kalo semuanya prasmanan sama tinggal ngantri gini doang, kita ngantri sampek 5 kali enak, Dev kayaknya."
Devon melirik security yang ada di setiap pojok ruangan. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk Diva sebagai kode. "PAK ANGKUT, PAK!" teriaknya dalam hati.
Namun nahas, saat arah pandangnya sedikit menyerong ke kanan, Devon tidak sengaja beradu pandang dengan Lily. Makhluk menyebalkan yang sudah beberapa hari tidak menemuinya.
Gadis kecil itu tengah membekap mulutnya. Senyuman yang ditampilkan Lily lebih menyerupai seringaian kematian bagi Devon. Benar, kan? Dirinya sedang mengantre untuk mendapatkan masalah. []