· • -- ٠ ✤ ٠ -- • · "Om Devon, haii." Lily melambaikan tangannya tanpa bersuara. Gadis kecil itu seolah tahu masalah apa yang sedang dihadapi Devon. Namun sayang, seringaian itu tidak bisa Devon kontrol. Lily bukanlah orang yang dapat ia setir. Dirinya hanya berharap bocah itu tidak mengacau saat ini. Atau ...? Atau bukan hanya Diva yang mengetahui identitasnya. Please, gue nggak mau mati berdiri di sini. Mana antreannya masih panjang lagi. Jemari Devon mengintip dan menghitung antrean yang mengular di depannya. "Satu, dua ...," batin Devon. Kepanikan pun mulai terjadi saat Diva mengagetkannya. Tangan Diva menepuk lengan Devon kencang. "Ini sebenernya boleh ngambil dua nggak, sih? Laper banget gue." Devon menahan napas, bulir-bulir keringat yang menggenang di pelipis dan dahinya pun

