Tian menggeliat dari tidur nyenyaknya. Ia menepuk-nepuk tempat di sebelah kirinya namun tak menemukan Riani di sana. Seketika Tian membuka matanya dan melirik ke sekeliling ruangan kamar, tetap tak menemukan keberadaan Riani. "Sayang!?" panggil Tian serak. Ia berdehem untuk menetralkan suaranya. "Ri...!" ulangnya, namun tetap tak ada sahutan, namun saat akan memanggil untuk yang ketiga kalinya, Tian langsung melirik ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. "Kamu sudah bangun ternyata.." Riani tersenyum melihat wajah bantal Tian. Ia berjalan mendekat sambil membawa segelas kopi hangat untuk disantap Tian saat bangun tidur. Setelah meletakkan kopi tersebut di atas nakas, Riani langsung mencari posisi duduk di tepian ranjang. Siapa sangka, Tian yang mengaku mafia langsung meringsek ke tub

