Suara gemertak dari kunci pagar yang terbuka, mengalihkan perhatian Dito dari layar komputernya. Pria itu melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi, hanya tinggal menghitung waktu sampai adzan subuh terdengar. Dito bangkit, menyusun kalimat di dalam kepalanya berencana menyudahi perang dingin yang terjadi di antara mereka selama dua hari ini. Ia paham Dini hanya ingin ia menjaga kesehatannya. Kehilangan dua anggota keluarga dalam jangka waktu yang berdekatan, mungkin membuat Dini tanpa sadar menaruh ketakutan bahwa anggota keluarganya yang terakhir bisa saja tiba-tiba meninggalkannya kalau tidak menjaga kesehatan. "Loh Mas Ardi?" Dito sedikit terkejut, kala mendapati adiknya itu sendirian. Ada Ardi yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, melempar senyum ke arah Dito

