Lima Puluh Dua

1731 Kata

Walaupun sudah di beri tahu sebelumnya, tetap saja Elang tidak bisa menampik fakta ia merinding setengah mati. Ardi tanpa berbasa-basi langsung mengajaknya ke sebuah lahan pemakaman tepat setelah mereka menginjakkan kaki di tanah Pasundan tersebut. Pria itu berdiri beberapa meter lebih jauh darinya, seolah memberi ruang bagi Elang untuk berbicara pribadi dengan 'jiwa' yang telah meninggalkan raga yang terkubur di dalam tanah. Pikiran Elang akan reaksi ibunya jika mengetahui ini tidak terbayangkan, salah satu temannya terjebak di rumah sakit jiwa dengan kondisi mental yang tidak bisa dikatakan sepenuhnya stabil sementara yang lain telah lebih dulu tiada. Hanya beberapa bulan sebelum mereka kembali ke tanah air. Terlebih perempuan yang tiada itulah yang memegang kunci utama dari kebenaran y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN