Elang berdecak. Ia melirik ke arah jam tangannya, menunjukkan bahwa hari sudah memasuki pukul 5 sore. Ia menatap rumah di depannya dengan perasaan gusar. Rencananya gagal total. Kalau bukan karena, dia terjebak di Singapura selama beberapa jam karena harus mengurusi masalah di kantor utama cabang asia satu itu. Mungkin ia sudah tiba disini, sejak beberapa jam lalu. Padahal Elang sudah sampai melakukan perjalanan seorang diri, tanpa membawa Yola atau bahkan asisten pribadinya agar bisa bergerak cepat. Sayangnya, ada saja yang menghalangi. Pria itu berdecak, menekan tombol bel di salah satu dinding berkali-kali dengan tidak sabar. Emosinya sedang memuncak, karena akhirnya dia menemukan satu-satunya rantai yang menghubungkannya dengan kebenaran di mana adiknya berada. Ia merasa muak, tidak m

