Hari ini Dini tak henti-henti menatap jam dinding dengan perasaan tak sabar. Sesekali ia akan bangkit dari kursi hanya untuk sekedar meregangkan badan, kemudian menuju pantri menyeduh makanan, kembali ke meja dan membuka laci terbawahnya. Semua itu ia lakukan dengan berulang-ulang, membuat rekan timnya diam-diam bertukar pandang. Kebingungan kenapa perempuan itu kelihatan gelisah, namun tak ada satu pun orang yang berani menegur atau bertanya. "Din, lo udah ngirimin rancangan budget dari tim pendanaan ke Mario sama Tamara belum? Udah ada respon dari mereka nggak?" Suara keras laci yang di dorong hingga tertutup terdengar, Fian yang melongokkan kepalanya dari pembatas bilik berjengit. Kaget bukan main, mengira Dini merasa kesal karena dia mengganggu perempuan tersebut. Namun ia mendapati

