Dua Puluh Tujuh

1428 Kata

Jam menunjukkan pukul 9 malam, ketika Ardi mengetuk pintu ruangan Hendra. Semenjak menikah, sudah jarang sekali sahabatnya itu bermalam di kantor. Sebisa mungkin ia akan pulang, mengangkut segala pekerjaan yang memang harus diselesaikan ke rumah. Lebih senang dirinya membawa bertumpuk-tumpuk berkas, asalkan itu berarti dia akan menghabiskan malam menyelesaikan segala pekerjaan itu dengan sang istri tertidur di sampingnya. Ardi tau betul seberapa Hendra menyayangi istrinya itu, jadi melihat bagaimana Hendra mendadak lembur di kantor menjadi sebuah alarm tersendiri bagi pria itu. "Lo nggak pulang?" tanya Ardi sembari meletakkan satu cup coklat panas yang sempat ia beli dari kafe di lantai bawah. Matanya menangkap lembar kertas yang terhampar di atas meja sang sahabat, menyadari bahwa kertas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN