“Ah, Delia sayang!” Fotografer bernama Bili itu mengulurkan tangannya begitu Delia datang. “Tiap kali aku melihatmu, wajahmu selalu terlihat begitu manis dan cantik. Andai saja aku dapat memotretmu, dari pada memotret mereka yang katanya model itu.”
Delia yang mendengarnya pun tertawa sembari menyibak rambut hitamnya yang panjang, bahkan sampai sepinggang. “Selalu saja begitu. Apa nggak ada kata-kata lain selain itu? Aku bosan,” katanya.
“Tapi aku yakin. Bukan hanya aku yang mengatakan hal seperti itu. Benar bukan?”
Memang benar, penampilan gadis bertubuh tinggi layaknya seorang model itu kerap mendapatkan pujian. Bukan hanya dari Bili. Melainkan dari orang-orang yang ada di sekitarnya juga.
Tuhan menciptakan Delia dengan amat sangat sempurna. Ia memiliki mata yang indah dengan manik hitam gelap nan lembut, kulit putih bersih, juga rambut hitam yang lurus. Tubuh tinggi semampai, kian sempurna dengan betisnya yang jenjang.
Sebenarnya, Delia tak begitu memuja kecantikan. Namun, tahu kalau orang lain mengagumi kecantikannya, ia pun menikmati setiap pujian-pujiannya. Meski, terkadang ia merasa bosan saat orang memujinya secara berlebihan.
Mendapati Delia tersenyum simpul, Bili pun membimbing temannya itu untuk kemudian duduk di ruang kerjanya sambil mengoceh. “Apa yang membawamu datang ke sini? Terakhir, kamu menolak tawaranku untuk menjadi model bukan? Padahal, itu saran yang bagus untuk menambah penghasilan. Lalu sekarang, apa kamu berubah pikiran?”
Sambil tersenyum yakin, Bili duduk lebih dulu di salah satu kursi yang biasa diduduki model-modelnya. Ia seolah menantang, bahwa tebakannya itu adalah benar. Namun, raut wajah Delia justru berubah masam.
“Sebenarnya, tawaranmu itu adalah kesempatan yang bagus. Aku juga lagi butuh uang yang banyak akhir-akhir ini. Tahu sendiri, kan, ibuku sakit? Beliau harus selalu kontrol ke rumah sakit. Belum lagi adikku. Udah beberapa bulan menunggak biaya sekolah.
Akhirnya, Delia pun mengeluarkan keluh kesahnya. Meski sebenarnya, itu adalah keluh kesah yang sama tiap kali berbicara dengan Bili. Tak ada masalah lain dalam hidupmu kecuali tentang ibu dan adiknya.
“Kan, sudah aku bilang. Sebaiknya kamu terima tawaranku sekarang. Kebetulan, aku ada kontrak dengan perusahaan baru. Hasilnya pasti bagus kalau kamu yang main. Kameraku akan menangkap kecantikan dalam dirimu.”
“Aku pikir juga begitu. Tapi, kamu tahu kalau aku gada bakat buat jadi model, kan? Percuma penampilan mendukung kalau gayanya kaku. Nggak bakal bagus. Yang ada, nanti malah malu-maluin. Kamu gada solusi lain gitu? Kerjaan yang bisa aku ambil setelah ngajar?”
Mendengar pernyataan Delia, Bili pun menggeleng-gelengkan kepala. “Kerjaan itu banyak. Di resto contohnya Tapi, melamar pekerjaan di tempat seperti itu nggak menjamin kamu bisa masuk dengan mudah. Bahkan, kadang perlu uang sogokan. Lah, kamu kan boro-boro buat menyogok. Betul?” tanyanya.
“Iya, sih!”
“Makanya! Menurutku, terima sajalah tawaranku kali ini. Jadi model itu kerjanya gampang. Dapet duitnya juga gampang. Kamu hanya perlu berpose di hadapan kamera. Jepret! Jadi, dah.”
Bili pun tergelak begitu menjelaskan mudahnya bekerja sebagai model, sembari memperagakan dirinya sedang memotret Delia. Membuat Delia yang duduk di hadapannya itu menengadah sejenak, sebelum kemudian mengembuskan napas kasar sambil bersandar di sandaran kursi.
“Kamu nggak bakal nyesel. Aku jamin, setelah kamu mencoba, kamu akan merasa ketagihan,” katanya begitu yakin. Terlebih, Bili sering menghadapi gadis semacam Delia ini. Awalnya memang menolak dengan alasan malu. Tapi, ujung-ujungnya justru betah dan selalu minta job.
“Ok. Tapi, kapan kira-kira aku harus bekerja? Aku nggak mau hari ini, besok atau pun lusa.”
“Kenapa?” serobot Bili. Ia merasa senang begitu mendengar Delia menyebutkan kata ok. Tapi, seketika mengernyit saat Delia juga menolak untuk bekerja sampai tiga hari ke depan. Masalahnya, pemotretan akan dilakukan lusa.
“Karena aku perlu belajar. Aku nggak mungkin langsung bergaya di depan kamera bukan? Bisa pipis di celana nanti!” jawabnya sambil terpingkal. Sebab lucu, melihat ekspresi Bili yang takut kecewa.
“Astatang! Kirain apa. Itu, sih gampang. Pemotretan besok lusa. Dan, kamu bisa belajar dari sekarang. Sekalian liat model-modelku bergaya sore ini.” Bili langsung melihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. “Sebentar lagi model-modelku datang. Jadi, mau minum apa kamu?”
“Ya, ampun. Aku udah duduk sejak tadi di sini. Dan, kamu baru nawarin aku minum? Keterlaluan. Aku mau camilan, deh, sekalian!” timpalnya, menggunakan kesempatan dalam kesempitan.
“Harap maklum. Aku terpesona oleh kecantikanmu, sampai-sampai lupa kalau aku belum bawain minum. Tapi, untuk camilan, sorry. Aku belum belanja. Beli sendiri aja sana. Di depan ada mini market, kan.”
“Hilih!” Delia pun mendesis, diiringi mata mendelik. Temannya itu memang sialan.
***
Delia duduk termenung di sudut ruang sembari memperhatikan model yang bekerja untuk Bili. Sebelah dari kakinya menyilang, sehingga gaun selutut yang dipakainya itu sedikit menyingkap. Namun, tak sampai memperlihatkan paha mulusnya. Sementara tangannya melipat di d**a, seraya sesekali menggigit bibir karena melihat model-model di hadapannya, Delia tak yakin bisa melakoni pekerjaan yang ditawarkan temannya itu.
Ia menghela napas lembut tanpa memalingkan pandangan dari para model, juga Bili sebagai juru fotonya. Lantas, detik berikutnya, apa yang dilihatnya tiba-tiba berganti menjadi dirinya sendiri. Di sana, di tengah-tengah ruangan khusus yang sudah didekorasi secantik mungkin, Delia melenggak-lenggok di hadapan Bili. Bibirnya menyungging nakal, senakal tatap matanya yang indah. Lantas, ia berpose layaknya seorang gadis dewasa untuk majalah dewasa.
“Delia Sayang ...!” seru Bili yang sedari tadi memperhatikannya. Namun, Delia yang terbengong membayangkan dirinya sedang menjadi model itu tak menyahut. Malah kian bergeming meski Bili sudah di hadapannya. “Hei!” Bili berseru lagi. Kali ini, sembari menjentikkan jari di depan wajah Delia.
“Eh!” Delia pun langsung mengerjap. “Apa?” tanyanya sambil mengernyit heran. Lebih heran lagi setelah dirinya sadar, kalau ia baru saja membayangkan diri berada dalam ruang pemotretan.
“Kamu yang apa! Kenapa coba barusan?” Bili pun menyelidik, karena merasa heran. Temannya itu, bukannya menyimak acara pemotretan, malah melamun sampai terbengong-bengong.
“Kenapa apanya? Aku dari tadi di sini, Bil. Jangan aneh-aneh, deh!” umpatnya, demi menyembunyikan rasa malu. Dia tak mau kalau Bili sampai tahu, apa yang ada dalam benaknya barusan tadi.
“Gitu, deh. Tapi nggak apa-apa lah. Besok, kamu coba ke sini lagi. Kita sambung belajarnya. Jadi, daripada kamu bengong di sini, pulang sana!” titahnya kemudian. Bili sebenarnya ingin agar Delia ada di sana. Tapi, melihat Delia, ia rasa temannya itu tak bisa berkonsentrasi.
“Ish! Kok, gitu? Emang acaranya udah selesai?” Delia pun menengok ruang yang sedari tadi ia pandangi. “Lah, itu modelmu masih ada di sana. Kenapa ditinggalin? Pemotretan belum selesai, kan?”
“Ya, emang belum. Tapi sekarang udah malam. Kamu harus pulang, atau ibumu akan cemas.” Di hadapan Delia, Bili pun tersenyum nakal. “Kecuali, kalau kamu emang mau nginap di sini!”
“Ish! Nggaklah. Aku mau pulang kalau begitu. Dan, besok pagi aku ke sini mumpung sekolah libur.”
Delia tahu betul kalau lelaki bujang di hadapannya itu adalah seorang pria nakal. Bahkan, tak jarang Delia mendapati Bili berkencan dengan model-modelnya yang selalu ingin mendapat pekerjaan. Itu kenapa, seberapa sering Bili menunjukkan rasa suka terhadapnya, ia tak begitu menanggapi. Bili adalah kakak kelas yang menjadi temannya semasa SMA dulu. Dan akan selalu menjadi teman, pikirnya.
“Mau kuantar?”
“Nggak usahlah. Kamu belum selesai, kan? Lagi pula, aku bawa motor sendiri, kok.” Sehalus mungkin, Delia pun menolak tawaran Bili sambil meraih tasnya yang ia simpan di meja. Lantas berdiri untuk segera pergi.
“Oh, iya. Sejak kapan punya motor? Kerenlah. Katanya nggak ada duit.”
“Aku butuh,” timpal Delia sambil menyengir. Makanya, begitu dapat arisan langsung aku beliin motor. Bekas itu, makanya kejangkau sama isi dompetku.”
“Dan kamu nggak bayar SPP adikmu demi motor?” Bili menyelidik. Merasa Delia lebih mementingkan kendaraan ketimbang biaya sekolah adiknya sendiri.
“Aku bayar. Tapi nggak semua, Bil. Dahlah. Ngobrol sama kamu itu selalu saja nggak ada habisnya. Dadah!” katanya, seraya berlalu pergi. Tak peduli dengan Bili yang seketika terbengong sambil menggeleng.
“Untung cantik!” Bili pun berdecak sembari menyunggingkan sebelah dari sudut bibirnya. “Siap?” tanyanya kemudian, pada para model yang baru saja selesai memoles wajahnya lagi dengan bantuan asisten Bili. Model-modelnya itu mengangguk penuh goda. “Ok! Kita lanjut sekarang.”