Bab. 2. Tabrakan

1000 Kata
Keluar dari halaman rumah Bili, sekaligus studio bagi temannya itu, Delia pun menancap gas. Karena sudah malam, juga situasi perumahan yang lengang, ia menambahkan kecepatan pada laju motor yang dikendarainya sendiri. Awalnya, perjalanannya itu berjalan lancar. Sampai tiba-tiba, sesuatu masuk ke matanya yang besar itu. “Astaga!” serunya, yang refleks menutup mata. Karena terkejut, tangannya pun tak sengaja menarik gas sampai membuat motor yang dibawanya setengah mengapung hingga melewati pembatas jalan. Bahkan, seseorang di jalanan sepi itu hampir tertabrak dibuatnya. Delia yang saat itu juga terjatuh, langsung meringis kesakitan tanpa bisa membuka mata karena merasa perih dan panas. Hewan kecil yang masuk ke matanya itu berusaha ia keluarkan dengan mengucek dan melap matanya dengan ujung baju yang ia pakai, sambil menahan sakit di lutut. Sementara itu, tak jauh darinya, seseorang terdengar memanggil-manggil sebuah nama. Leo. Setidaknya begitu yang Delia dengar, sampai akhirnya ia bisa membuka mata. Pertama-tama, yang dilihatnya itu adalah luka di sebelah kakinya. Tepatnya di lutut, karena sakitnya luar biasa. “Berdarah!” gumamnya sambil meringis. Lantas, kembali mendengar suara seseorang, ia pun melihat ke sekitar. “Astaga! Aku menabrak seseorang?” batinnya, seraya bangkit perlahan. Namun, begitu tubuhnya setengah berdiri, ia pun melihat seekor anjing di tepi jalan. “Maaf,” katanya seraya duduk dengan membanting pantatnya sedikit karena tak tahan menahan sakit. “A-aku nggak sengaja. Sesuatu memasuki mataku, sehingga aku tak bisa mengontrol laju motor.” Lelaki di hadapannya itu tak menjawab. Dia sibuk memanggil-manggil anjingnya yang tergeletak di trotoar. Ia duduk berjongkok, berjalan sembari meraba-raba jalan. Perasaan Delia langsung tak enak hati. Ia juga berdebar, saking khawatir. Apalagi begitu melihat lelaki di hadapannya memanggil sebuah nama dengan suara putus asa. “Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya, panik. Ia yang duduk di sana tanpa peduli dengan gaunnya yang kotor itu pun beringsut mendekati anjing yang sudah ditemukan pemiliknya. “Seperti yang kamu lihat, aku baik!” ujarnya cepat. “Tapi dia terluka. Dia pasti terluka. Ya, Tuhan. Leo!” Kembali Delia pun melihat anjing yang sekarang ada dalam dekapan pemiliknya. Darah mengalir dari kakinya. “Ya, Tuhan. Dia terluka!” Delia langsung menangkup mulut. “Apa yang telah aku lakukan? Ke-kenapa aku bisa seceroboh ini?” batinnya. “Dia tidak mati, kan? Dia selamat, kan?” Mendengar lelaki di hadapannya itu bertanya soal anjing yang tak sengaja ia tabrak, Delia pun langsung meletakkan tangannya di d**a anjing tersebut. Dan, untuk pertama kalinya Delia melihat bahwa anjing itu memakai kalung anjing pemandu. Delia pun seketika terkejut. Lantas beralih, ia pun memandang lelaki di hadapannya itu. “Dia buta?” batinnya. Namun, begitu mendapati detak jantung anjing yang tak sengaja ditabrak olehnya itu, ia langsung merasa lega. “Anjingmu masih hidup. Syukurlah,” katanya, seraya menarik diri. “Dan, jika kita membawanya ke dokter hewan secepat mungkin ... aku rasa dia akan selamat.” Delia pun meyakinkan dirinya. Sebab keadaan anjing di hadapannya itu begitu menakutkannya. Pria di hadapannya pun memberitahu Delia perihal dokter hewan langganannya. Serta nomor telepon untuk memastikannya ada di rumah atau tidak. Dengan tangan gemetar, Delia pun menelepon dokter tersebut. Lantas mengatakan bahwa dirinya akan segera datang. “Siapa namamu?” Delia melirik pria di hadapannya itu sekilas. “Luis Bramasta. Katakan, Leo terluka parah!” Delia pun kembali bicara pada orang yang ada di seberang telepon. Lantas, mengatakan kalau dirinya akan segera datang. “Ayo!” katanya, seraya hendak berdiri. “Tapi, aku tau kamu terluka bukan? Bagaimana mungkin kamu bisa membawaku beserta Leo ke dokter hewan?” Lelaki yang Delia tahu mengalami buta itu pun berdiri lebih dulu sembari memeluk Leo. Sementara tatapannya kosong ke arah Delia. Delia yang mendengarnya pun seketika mendongak. “Aku bisa,” jawabnya seraya memaksa diri untuk berdiri. Wajahnya menunjukkan kesakitan teramat. Tapi, ia berusaha menutup mulut agar tak bersuara. Perlahan, Delia pun membangunkan motornya yang terguling di trotoar. Lantas, ia pun menaikinya seraya menyalakannya. “Ayo!” “Aku tak yakin!” “Ayolah! Kita tak bisa membiarkan anjingmu terlalu lama dalam keadaan seperti ini,” katanya. Delia tak sabar, karena takut kalau sampai anjing yang tak sengaja ditabraknya itu kenapa-kenapa. Meski pun ragu, akhirnya lelaki pemilik anjing itu pun naik. Dia duduk sembari menatap anjingnya dengan pandangan kosong dan gelap. Sejauh ini, meski pun dia tak bisa melihat, dia tahu menggunakan indra perasanya. Sehingga, meski pun buta, ia tahu kalau anjingnya itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. “Siapa namamu?” tanya Luis pada akhirnya. “Delia. Aku Delia Permata Sari,” timpal Delia seraya menahan perih di lutut. Lukanya itu memang tak seberapa jika dibandingkan dengan Leo. Tapi, angin yang berembus kencang membuat lukanya terasa kian tersayat. Perih dan menyakitkan. Namun, dalam hatinya, ia justru berdoa untuk keselamatan Leo. “Aku harap kau selamat, Leo. Karena kalau tidak, aku akan sangat merasa bersalah!” batinnya. "Lebih cepatlah. Tolong!" Lelaki yang masih mendekap anjingnya itu mengangkat wajah. Meski matanya tak bisa melihat apa-apa, tatapannya tepat ke arah Delia. "Bisa. Tapi, aku nggak yakin untuk tak membawamu jatuh. Jadi, sabarlah. Aku akan berusaha agar kita cepat sampai!" Delia, di tengah rasa takutnya itu kemudian merutuk tanpa menoleh ataupun melihat kaca spion. Pandangannya itu terfokus ke arah depan, ke arah jalan di mana situasinya sudah tak begitu ramai. "Aku hanya mengkhawatirkan anjingku!" Luis balas merutuk. Ia tak terima, kalau orang yang sudah menabrak anjingnya itu justru mengomelinya. "Aku juga!" timpal Delia. Kali ini, ia sembari melirik kaca spion sekilas. Ia melihat wajah sendu sekaligus kesal dalam ekspresi Luis. Sehingga dalam hitungan detik, ketakutannya berubah menjadi sesuatu yang menegangkan hatinya. "Tuhan!" Ia pun mendesis, seraya kembali memperhatikan jalan. Jantungnya kemudian berdebar lebih kencang. Ia juga merasa teramat sesak, mengingat Luis yang pastinya jauh lebih mencemaskan anjing yang ditabraknya itu. "Aku mohon ... selamatkan dia, Tuhan. Anjing itu malang sekali." "Apakah masih jauh?" tanya Luis kembali. Ia sudah benar-benar ada dalam puncaknya kecemasan. Ia tak bisa menahan ketakutan dalam dirinya lagi. "Sebentar lagi. Sebentar lagi!" timpal Delia, gugup. Sebab, ia yang menjalankan motornya dalam kecepatan sedang, merasa masih harus menempuh perjalanan panjang. "Sabarlah!" desisnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN