Sampai di dokter hewan langganan Luis, sekaligus teman semasa kuliahnya dahulu, lelaki berperawakan tinggi tegap itu langsung turun dari motor yang dikendarai Delia. Ia berlari seperti orang tak mempunyai keterbatasan fisik sampai akhirnya tiba di depan pintu. Sementara itu, Delia yang masih merasa sakit di bagian lututnya pun segera menyusul dengan kaki terpincang-pincang.
“Luis.” Dokter hewan yang diketahui Delia bernama Anggara itu pun menyapa, sesaat setelah membukukan pintu. Namun, tatapannya seketika tertuju pada anjing dalam gendongan Luis. “Anjingmu, kenapa?”
“Seseorang menabraknya, Ga. Tolong, cepat periksa dia!” timpal Luis, dengan nada cemas yang bahkan tersirat jelas dari raut wajahnya. Membuat dokter di hadapannya itu langsung meraih Leo dan membawanya ke dalam. “Dia masih hidup, kan?” Luis kembali berucap. Sementara Delia yang berdiri di belakangnya tampak begitu merasa bersalah.
Anggara yang setengah berlari membawa Leo ke ruang pemeriksaan pun tak menimpali temannya itu. Dia sama cemasnya dengan Luis, karena luka di kaki Leo tampaknya memang serius.
“Aku minta maaf!” bisik Delia, gugup. Dia benar-benar menyesal.
“Berdoalah agar Leo-ku selamat. Karena kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu!” Dengan nada kesal, Luis menimpali orang yang sudah menabrak anjingnya itu sambil berjalan lunglai ke ruang di mana anjingnya sedang ditangani. Meninggalkan Delia yang terduduk lemah di kursi tunggu.
Gadis bermanik cokelat kehitaman itu mendongak, menatap punggung ringkih Luis sampai menghilang di ambang pintu. Rasa bersalah serta khawatirnya membuat tatapannya terhalang oleh cairan bening yang menggumpal di pelupuk. Buru-buru Delia menarik wajahnya itu sampai tertunduk. Lantas, ia menangkup wajahnya itu dengan kedua tangan.
“Selamatkan anjingnya, Tuhan. Aku mohon!” pintanya, dalam isak dan sendu. “Karena kalau tidak, celakalah aku.”
Sementara itu, di ruang pemeriksaan, Anggara sedang berusaha menyelamatkan Leo. Mulai dari memeriksa denyut jantung, sampai membersihkan darah yang membuat bulu-bulunya basah. Kemudian, ia memberikan perban di bagian yang terlukanya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Luis, begitu datang dan menghampiri ranjang di mana Leo terbaring lemah di sana. Meski tak dapat melihat, ia memalingkan wajahnya itu ia arah di mana Anggara berdiri di sampingnya. Kemudian, ia meraba-raba anjingnya perlahan dan penuh kelembutan.
“Bersyukurlah, Luis. Anjingmu ini sangat kuat. Dia baik-baik saja setelah aku melakukan berbagai pemeriksaan. Tentu, itu karena kamu cepat membawanya ke sini juga.” Setelah melewati rasa tegangnya, Anggara akhirnya dapat tersenyum puas dengan hasil kerjanya itu. “Tapi, apa yang terjadi sebenarnya?”
“Aku sedang ingin menghirup udara segar, Ga. Makanya jalan-jalan di sekitaran perumahan. Tapi, karena lapar, aku berencana membeli sesuatu bersama Leo. Sayangnya, belum sampai di minimarket, seseorang menabrak Leo dengan kencangnya.”
“Wanita yang ada di luar itu?” tanya Anggara, memastikan. Ada sedikit senyum dari bibirnya, karena mengingat wanita yang bersama Luis adalah seorang gadis cantik.
“Dia yang menabraknya, Ga. Benar-benar sialan!” umpatnya, kesal. “Dia itu seperti nggak punya mata!”
“Hust! Nggak boleh gitu, ah. Mungkin, dia memang nggak sengaja, Bro.” Anggara pun menepuk pelan pundak temannya itu sambil tertawa pelan. “Dan lagi, dia itu gadis yang cantik.”
“Aku tahu, standar cantik menurutmu itu seperti apa, Ga,” ledeknya.
“Serius. Dia itu cantik banget, Bro. Standar cantik menurut seorang Luis!” ungkapnya, yakin.
“Jangan bercanda. Aku sedang tak ingin memikirkan wanita, Ga. Leo dan putri kecilku saja sudah cukup melengkapi hidup,” katanya seraya menarik diri dari elusannya di kaki Leo. Lantas, dengan tatapan kosong, Luis pun menghadap Anggara. “Anjingku bisa dibawa pulang, kan?”
Teman sekaligus dokter hewan langganannya itu pun menggeleng seraya melarang Luis. Leo harus dirawat, setidaknya sampai beberapa hari ke depan. “Aku akan menjaganya.” Ia menambahkan. “Sekarang, sebaiknya kamu pulang. Kasihan juga, gadis yang menunggumu di depan itu. Dia pasti sama cemasnya denganmu.”
“Baiklah, aku percayakan Leo padamu, Ga. Tapi, aku bisa pulang sendiri. Masalah gadis di depan itu, aku tak peduli!” katanya, seraya berucap pamit.
“Dasar keras kepala. Kamu pikir, ada kendaraan umum di jam semalam ini?” Anggara memberitahu temannya itu agar tak menyesal.
“Jangan khawatir. Aku bisa pulang sendiri!”
Namun, kenyataannya, Luis tetap pulang bersama Delia. Karena gadis yang tak sengaja menabrak Leo itu bersikeras memaksa untuk mengantarkan Luis, sebagai rasa bersalahnya. “Aku mohon!” pintanya, sambil meratap. “Tolong, jangan buat aku semakin merasa bersalah.”
Luis yang merasakan penyesalan Delia pun mengangguk, meski masih merasa sedikit kesal juga terhadap wanita di hadapannya itu. Lantas, tanpa kata, ia membiarkan Delia menuntunnya sampai ke halaman. Sementara di ambang pintu, Anggara hanya memperhatikan sembari tersenyum simpul. Dan, entah kenapa, ia merasa yakin akan kedekatan yang akan terjadi di antara teman dan wanita itu.
“Hati-hati!” katanya, kemudian. Sesaat setelah Luis naik dan duduk di belakang Delia. Namun, setelah Delia melajukan motornya, Anggara ingat kalau dirinya tak sempat mengobati luka di lutut wanita itu. “Ah, sudahlah. Aku rasa, dia akan baik-baik saja.”
***
Masih dengan raut wajah masam, Luis yang baru saja turun dari motor Delia itu mengucapkan terima kasih. Bahkan, untuk menghargai kerelaan Delia yang sudah mengantarnya pulang itu, Luis menawarkan Delia untuk masuk sebentar. Karena haus dan juga lelah setelah mengendarai motor dalam keadaan terluka, Delia pun mengiyakan ajakan lelaki di hadapannya itu.
“Omong-omong, terima kasih karena sudah mau memaafkan aku,” katanya, begitu masuk ke ruang di mana di dalamnya terdapat perabotan super mewah. Delia sampai terpana, saking takjub dengan apa yang dimiliki orang yang baru dikenalinya itu.
Namun, mendengar Delia berucap seperti itu, Luis yang hendak pergi ke dapur seperti layaknya orang normal, berdecak sambil berucap. “Kamu pikir, aku sudah memaafkanmu? Ahaha. Yang benar saja. Anjingku memang selamat. Tapi, dia belum benar-benar dipastikan sehat kembali, Nona. Bayangkan, seandainya dia tak bisa berjalan normal!”
Seketika, Delia pun menelan ludah. Tatapan yang semula berpendar, karena melihat keistimewaan di dalam rumah tersebut, seketika beralih dan berubah sendu kembali. “Aku pikir—“
“Aku menerima tawaranmu, serta menawarkanmu masuk, bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Itu, hanya karena aku memang tak mungkin mendapat kendaraan umum. Juga kasihan kalau tak memberimu segelas minum. Lagi pula, kakimu itu terluka bukan. Aku rasa, Anggara lupa mengobatimu juga.”
“Aku minta maaf. Aku nggak apa-apa,” katanya, kian sendu. “Kalau begitu, aku pulang sajalah!” Delia yang merasa tak enak pun seketika berpaling sembari pamit.
Namun, Luis yang memang merasa kasihan pun mencegahnya. Ia berbalik, sehingga menghadap Delia yang sudah membelakanginya. “Setidaknya, minumlah dulu.”
“Nggak perlu. Datang ke sini saja, rasanya sudah merepotkanmu. Sebaiknya aku pulang sekarang.”
“Tunggu!” sela Luis kembali, yang dia sendiri bingung, kenapa merasa cemas saat Delia berucap pamit. “Kalau begitu, biarkan aku mengobati lukamu dulu.”
Namun, kata-kata Luis barusan sudah membuatnya benar-benar tak enak hati. Dia memang bersalah, tapi, dia sudah berusaha melakukan yang terbaik. Sementara itu, Luis begitu keras kepala. Delia pun menggeleng seraya melangkah pergi, meninggalkan Luis dan segala kata-katanya yang terus membujuk agar Delia mau diobati.
“Dasar keras kepala!” umpat keduanya.