Bab. 4. Firasat

1239 Kata
Masuk ke kamar, Delia langsung melempar tubuhnya ke ranjang sambil merentangkan kedua tangan. Ia kemudian menggeliat, karena merasa tubuhnya itu begitu pegal. Ia juga menghela napas panjang, mengingat apa yang tadi dialaminya. Bertemu Luis, adalah hal yang membingungkan. Perasannya benar-benar kesal. Tapi, sebagai seorang manusia, yang juga kerap bersikap baik, Delia amat kasihan dengan kondisi Luis. Lelaki yang ditemuinya itu Buta. Tapi sayangnya sombong. “Benar-benar nggak bisa dipercaya. Jadi orang kok sombong dan keras kepalanya kebangetan!” rutuknya. Delia yang semula telentang pun mengubah posisi tidur, ia berbalik sebelum kemudian menelungkupkan tubuhnya sambil terpejam. Bahkan, karena otaknya terus saja memutarkan kejadian tadi, Delia langsung menangkup kepalanya dengan bantal. Diam sejenak. Rasa kantuk yang tadi sempat menderanya di jalan, tiba-tiba saja menghilang. Delia tak bisa tidur. Terlebih, tiba-tiba ia terpikir akan kondisi ibunya juga. Penyakit kanker paru-paru yang diderita sang Ibu sejak satu tahun lalu, tepatnya setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan, benar-benar membuat Delia khawatir setiap waktu. Ia takut, kalau-kalau ibunya juga pergi untuk selamanya. Karena kian khawatir, Delia pun kembali bangkit dari tidurnya. Lantas, ia beranjak pergi untuk memastikan sang Ibu tidur, atau justru masih terbatuk-batuk. Dan, firasatnya ternyata memang benar. Tak ada siapa -siapa di kamar ibunya itu. “Bu?” Raut wajah Delia pun seketika berubah kian cemas. Namun, secepat kilat ia langsung berbalik untuk memastikan ibunya ada di mana. Pertama, ia menengok kamar Adel yang ternyata, juga tidak ada ibunya di sana. Lantas, Delia kembali mencari. “Ya, Allah. Ibu di mana?” gumamnya lagi. Kali ini, Delia sudah mengeceknya di seluruh ruang kecuali dapur. Yang seketika, membuat ia ingat, kalau ibunya hendak menyimpan sate terlebih dulu tadi. Buru-buru Delia pergi ke dapur, sampai kakinya tak sengaja tersandung kaki meja. Ia mengaduh kesakitan. Tapi, tak peduli karena matanya kemudian menangkap sosok yang ia cari di dapur. Ibunya itu meringkuk dengan darah di telapak tangan. “Bu! Ya, Allah, Ibu!” Delia langsung menghamburkan dirinya, duduk bersimpuh seraya meraih tubuh ibunya kemudian. Ia membalik tubuhnya itu dengan tangan gemetar, kemudian mendekapnya perlahan sebelum menepuk pelan sebelah pipi ibunya itu, untuk menyadarkan. “Bangun, Bu. Aku mohon bangun!” katanya, di tengah-tengah isak. Lantas, Delia pun berteriak memanggil Adel yang tengah tertidur pulas. Berulang kali, sampai adiknya itu akhirnya bangun. Sembari mengucek mata, Adel mengedarkan pandangan. Ia juga berlari setelah yakin kalau yang berteriak itu adalah kakaknya. Ia juga yakin, kalau suara kakaknya itu berasal dari dapur. Sehingga begitu ia sampai di sana, rasa kantuk yang masih menguasai matanya seketika menghilang. “Ibu!” ratapnya, di sebelah Delia. “Ibu kenapa, Kak?” “Kakak juga nggak tau. Begitu datang, Ibu udah pingsan. Tapi, sepertinya, penyakit Ibu kambuh.” Di tengah-tengah isak tangis, juga rasa takut dan khawatir, kakak dari satu adik itu menjawab tanya yang terlontar dari bibir mungil sang adik. Namun, pandangannya sama sekali tak beralih dari sang Ibu. “Ya, Allah. Kalau gitu, kita bawa Ibu ke rumah sakit, Kak. Ayo, Kak!” Tangis Adel pun kian menjadi saat mengajak kakaknya itu untuk membawa sang Ibu ke rumah sakit. Namun, Delia justru bergeming. Dia benar-benar bingung, karena tabungannya tak mungkin cukup untuk mengobati sang Ibu. “Kenapa diam, Kak? Ayo!” ajak Adel kembali. “Kakak nggak punya uang, Dek. Gimana bayarnya nanti?” “Yang penting kita bawa Ibu berobat dulu, Kak. Please!” lirih Adel yang sama takutnya dengan Delia, kalau sampai sang Ibu pergi. Delia pun menelan ludah yang terasa asin itu. Kemudian ia menyapu air mata juga ingusnya sambil menghela napas panjang. “Kamu benar. Kalau gitu, ayo bantu Kakak. Kita bawa Ibu pakai motor. Kamu pegang Ibu dari belakang, ya?” pintanya dalam isak. “Tapi, sebelum itu, kamu ambil dulu pakaian hangat untuk ibu.” Meski bingung, dengan apa Delia akan membayar biaya berobat sang Ibu, ia pun tetap membawa ibunya itu ke rumah sakit bersama Adel. Tak peduli meski keduanya bak seorang gembel karena wajah dan rambutnya yang berantakan. Mereka tak sempat memikirkan penampilan dalam keadaan genting seperti itu. “Ibu akan baik-baik saja, kan, Kak?” Adel berucap lirih di tengah-tengah embusan angin malam yang dingin. Suaranya tak terdengar sama sekali. Kabur, bersama embusan angin yang mengelebat. Namun, adanya kontak batin, Delia seolah menjawab pertanyaan adiknya itu. “Ibu pasti sembuh, Dek. Semuanya akan baik-baik saja, Dek,” gumamnya, diiringi derai air mata. Namun, tiba-tiba saja, Delia pun teringat akan tawaran pekerjaan dari temannya. Membuat ia seketika berencana untuk meminjam uang terlebih dahulu, sebelum mulai bekerja. *** Sampai di rumah sakit, Delia langsung membawa ibunya itu ke UGD bersama beberapa perawat yang menyambutnya di depan, dengan menggunakan brankar. Lantas, ia dan Adel pun mengisi beberapa formulir dengan tangan gemetar. “Terima kasih,” ucapnya pada penjaga di meja pendaftaran. Wanita yang melayaninya itu menjawab sambil tersenyum ramah. “ Kita duduk di sana, Dek,” lanjutnya pada Adel. Keduanya lantas berjalan, meski sebenarnya terasa tak menapak sama sekali. Kemudian duduk di antara deretan kursi bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu keluarganya. Dalam hati, keduanya pun berdoa terus menerus untuk kesembuhan sang Ibu. “Kakak ke toilet dulu, ya. Kamu tunggu di sini bentar. Jangan ke mana-mana!” kata Delia, tak lama setelah ibunya masuk ke ruang di mana sekarang sedang dalam penanganan dokter. “Iya, Kak.” Adel menjawab parau, sembari mendongak, melihat kakaknya itu. Buru-buru Delia pun pergi untuk menelepon Bili di toilet, agar Adel tak perlu mendengarnya mengemis pada orang lain. Karena itu, adalah satu-satunya jalan yang terpikir oleh Delia. Satu kali, panggilannya tak mendapat jawaban. Barulah setelah Delia menelepon untuk yang ke tiga kali, temannya itu menjawab dengan suara parau. “Sedang tidur pun, kamu masih saja menggangguku, Honey. Ada apa?” tanyanya. “Maafkan aku, Bill. Tapi, ini darurat. Ibu—“ “Ibumu kenapa?” sela temannya yang seketika membuat ia terbangun dari rasa kantuk. Bahkan, Billi langsung terduduk. “Ibu sakit lagi. Sekarang dah aku bawa ke rumah sakit. Tapi—“ “Soal biaya?” sela Billi kembali. “Iya. Aku, kan udah mau kerja sama kamu. Gimana kalau—“ “Jangan khawatir. Aku berangkat sekarang.” Billi menyela lagi. “Tapi, Bill. Dengerin aku dulu,” punya Delia yang merasa, Billi terlalu cepat menanggapinya. “Aku paham. Kamu mau pinjam uang dulu, kan? Bayarnya pake gajimu nanti, kan? Dah, nggak usah banyak pikiran. Aku berangkat sekarang pokonya. Bye!” Tut! Telepon langsung tertutup, karena Billi tak mau menunda-nunda waktunya untuk segera menyusul Delia ke rumah sakit. Sementara Delia, dia yang tak menyangka kalau Billi akan sebaik itu, seketika bergeming seraya menatap layar ponselnya yang kemudian meredup, lalu mati. “Makasih,” gumamnya. Delia, kemudian berbalik dan hendak kembali untuk menemani Adel di ruang tunggu. Namun, nyatanya, Adel justru ada di hadapannya. “Del?” gumamnya, kaget. Namun, adiknya itu seketika menghambur dengan tangis menjadi. Ia memeluk erat tubuh kakaknya itu setelah mendengar percakapan Delia yang ia tak tahu dengan siapa. “Sebaiknya aku berhenti sekolah, Kak. Aku mau kerja aja buat bantuin Kakak.” “Hust!” Delia langsung mendorong tubuh adiknya itu, kasar. “Kalau kamu nggak sekolah, mau kerja apa? Inget kata Ayah, dulu. Sekolah dulu yang benar, baru hidupmu akan dihargai dunia.” “Tapi, Kak?” “Nggak usah tapi-tapi!” jawabnya sambil tersenyum haru. Kemudian, Delia mencubit hidung bangir Adel sebelum menggandeng dan membawanya kembali ke ruang tunggu. Ia sama sekali tak memberi kesempatan untuk adiknya beralasan. “Kaki dan tanganku ini masih sanggup untuk membiayai kalian. Doakan saja, Del!” batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN