Bab. 5. Pinjaman

1148 Kata
Secepat kilat Billi mengendarai mobilnya. Ia juga tak lupa menarik uang tunai terlebih dahulu saat di perjalanan, agar begitu sampai, ia bisa langsung memberikan uang tersebut pada Delia. Bahkan, ia mengambil uang dengan jumlah lebih, barang kali Delia juga butuh untuk biaya sehari-hari di rumah sakit. Rasa sukanya terhadap Delia memang besar, walaupun dirinya juga tahu, Delia tak pernah menganggap perasaannya. Itu kenapa, tak sulit baginya untuk membantu Delia saat ia mendapat permintaan tolong. Tapi, ini adalah kali pertama Delia meminta tolong padanya. Karena dulu, sebutuh apa pun Delia, gadis itu selalu menolak pertolongan darinya. Billi pikir, keadaan Delia pasti sudah ada dalam situasi memprihatinkan. Itu kenapa, temannya itu meminta tolong dengan sangat. Padahal, dati dulu, Billi selalu ingin membantu. Di pertengahan jalan, Billi menelepon Delia untuk memastikan temannya itu ada di mana. Dia pun memberitahu Delia, tentang posisinya sekarang yang tak butuh waktu lama lagi, akan segera sampai di halaman rumah sakit. “Aku tunggu di luar sekarang. Kamu fokus menyetir saja, Bill. Nanti aku telepon lagi,” katanya. Delia yang masih duduk bersebelahan dengan Adel itu pun berdiri. Lantas, setelah mendapati jawaban, panggilan telepon ia tutup segera. “Kak Billi udah sampai?” tanya Adel. Adiknya itu mendongak, melihat Delia dengan perasaan harap-harap cemas. “Belum. Tapi, katanya sebentar lagi. Ini Kakak mau nunggu di depan, Dek. Kamu nggak apa-apa di sini sendirian?” Juga dengan perasaan harap-harap cemas, Delia pun memaksakan senyum di bibirnya yang tipis. “Nggak apa-apa, Kak. Jangan lama-lama tapi. Takutnya dokter keluar, aku nggak bisa ngadepin.” “Ya, sudah. Kakak pergi dulu kalau gitu. Kamu jan nakal!” pamitnya, kali ini sembari cekikikan. Setelah mendapat kabar dari Billi, Delia memang merasa sedikit lega. Karena itu artinya, ia tak lagi harus memikirkan biaya untuk pengobatan sang ibu. Meski, nanti, ia harus bekerja keras untuk membayar hutangnya. Dengan langkah cepat, Delia pun akhirnya sampai di parkiran. Napasnya terengah-engah, yang kemudian ia atur sembari memejamkan mata sekejap. Sementara kedua tangannya meremas ponsel di depan d**a. “Terima kasih, ya, Rabb. Engkau telah mengirimkan orang baik padaku. Aku nggak tahu lagi harus minta tolong sama siapa, kecuali sama Billi,” gumamnya, seraya mengedarkan pandangan. “Semoga saja si Billi ikhlas.” Mengingat uang yang dipinjamnya dalam jumlah besar, Delia tersenyum getir sembari memperhatikan sekitar. Di area parkir, orang-orang tampak sedang menunggu. Beberapa di antaranya sibuk memainkan ponsel pintar. Sementara yang lain tengah asyik mengobrol satu dengan yang lain. Namun, ada juga yang hanya duduk dan berdiri seorang diri seperti keadaan Delia sekarang ini. Namun, tak lama kemudian, pandangannya itu menangkap sosok yang sedang ia cari. Mobil Billi baru saja datang. Delia yang tak sabar pun langsung berlari menghampiri temannya itu. “Maaf, ya, kalau aku lama datangnya.” Begitu keluar dari mobil, Billi langsung menyunggingkan bibirnya lebar. Ia tersenyum sembari menutup pintu mobilnya lagi, saat mendapati Delia sudah di samping mobil. “Nggak apa-apa. Uangnya belum dibutuhin sekarang, kok. Mungkin besok, atau lusa.” Delia pun menanggapinya dengan gugup. “Cuman, aku khawatir aja kalau kamu bohong.” “Dih?! Kapan coba, aku bohong? Yang ada, kamu nolak bantuan dari aku terus. Ingat?” sindirnya, pada Delia yang seketika menangkup mulut. “Hilih! Malah ketawa.” “Ya, dah. Adikku sendirian di dalam. Mending sekarang kita masuk.” Delia pun langsung mengalihkan pembicaraan, di mana dirinya yakin, Billi akan bicara panjang kali lebar kali tinggi kalau sudah membahas soal pinjam-meminjam. “Ya, dah ... ayuk! Emang pintar ngalihin pembicaraan kamu, tuh!” desisnya, yang seketika membuat Delia menahan tawa. Dan, tawanya itu benar-benar menghipnotis Billi. “Gue pelet juga lu!” “Aih. Ngapa jadi gue elu? Ahaha! Main pelet segala lagi. Pamali!” timpal Delia sembari menoyor kepala Billi. Dia yang justru merasa lucu akan perkataan temannya itu justru terpingkal, tanpa menghentikan langkah kaki. “Serius gue! Lama-lama, ntar gue pelet lu,” ungkapnya lagi. Tanpa tawa, meski sebenarnya, Billi ingin sekali terbahak. Namun, ia ingin membuat orang yang disukainya itu percaya. “Hilih. Gue elu lagi. Dah, dah, dahlah!” Delia pun menahan tawanya dengan menangkup mulut. Sebab, langkahnya kini sudah memasuki ruang di mana akan membawa mereka ke ruang tunggu, depan UGD. “Aku kamu itu berasa monoton banget. Gue biasa ngomong gini sama yang lain. Cuman sama lu aja yang agak sopan dari dulu. Tapi, sekarang, gue nggak mau lah main sopan-sopan. Lu-nya kagak peka.” Mendengar Billi kembali bicara banyak, Delia pun menggeleng sambil menyunggingkan bibirnya yang seksi. Kekocakan Billi benar-benar berhasil memancing selera humor dalam dirinya. Padahal, kondisi sang Ibu juga sempat membuat jiwanya penuh ketakutan. Sadar kalau dirinya akan segera sampai di tempat tujuan, Delia berdeham pelan. Ia tak mau terlihat semeringah di hadapan Adel yang jelas-jelas masih bersedih hati akibat penyakit yang kembali mendera ibunya. Sementara itu, Billi, teman yang bersamanya itu tetap bersikap seperti apa adanya dirinya. Dia bahkan langsung duduk di samping Adel begitu sampai untuk menghibur adik dari gadis yang disukainya. Iseng, dia juga menyikut Adel yang tak menyadari kedatangannya dengan Delia. “Bengong!” Ucapan Billi pun membuat Adel terkesiap karena terkejut. Dan, dia justru tertawa senang melihat keterkejutan Adel. “Kesambet, nyaho!” tambahnya. “Haish! Amit-amit,” timpal Delia yang seketika duduk di sisi lain Adel. “Kamu tuh, kalau ngomong nggak boleh sembarang! Kejadian, nyaho!” “Ya, maaf. Lagian, adikmu ini bengoooong aja dari tadi. Mpe nggak sadar kita datang.” Billi membela diri. Lantas, dia yang semula duduk tegak sembari menghadap Adel, kemudian berbalik lurus ke depan sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Aku sedih, Kak. Aku takut Ibu kenapa-kenapa.” Adel pun akhirnya berucap dengan nada lirih. Kekhawatiran dan ketakutannya memang belum berkurang sedari tadi. Terlebih, dokter tak juga keluar dari ruang UGD. Makin cemas saja pikiran Adel. Dan, kata-katanya itu seketika berhasil membuat Billi sadar bahwa, adik dan kakak yang ada di sampingnya itu sedang dalam keadaan kacau. “Maaf,” gumamnya yang kemudian dirinya kembali duduk tegak. “Tapi, ibumu pasti baik-baik saja. Percaya sama aku.” “Percaya itu sama Allah. Bukan sama kamu!” timpal Delia, menyela ungkapan Billi yang sepantasnya ia timpali seperti itu. “Ya, iya. Tapi, ini tuh umpamanya begitu.” Billi kembali beralasan. Padahal, pikirannya tak sampai ke arah sana, di mana Delia menjelaskan untuk siapa kepercayaan yang seharusnya ditujukan. “Hilih!” Delia pun berdecak karena menyadari ketidaktahuan Billi, dari raut wajah temannya itu. “Dahlah. Jangan dengerin dia, Del. Tapi yang pasti, sebaiknya kita terus berdoa untuk kesembuhan Ibu.” “Iya, Kak.” Di tengah-tengah isak tangis, Delia pun menghamburkan dirinya ke dalam pelukan hangat sang kakak. Ia pun membenamkan wajah, menyusup di d**a Delia sampai terdengar degup khawatir dari jantung kakaknya itu. Namun, situasi mengharukan itu berlangsung singkat. Sebab, saat itu juga, dokter yang menangani ibunda Delia keluar dari ruangan. Sehingga membuat kakak beradik itu saling melepas diri, sebelum akhirnya berdiri bersamaan dengan Billi. “Gimana kondisi ibuku, Dok?” tanya keduanya, beriringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN