Bab. 6. Gombal dan Rayuan

1103 Kata
Wajah-wajah yang sedari tadi cemas kian merengut begitu dokter baru saja keluar dari ruang UGD. Delia melangkah maju sembari menangkupkan kedua tangan karena gemetar. Matanya sendu, bahkan berair karena takut akan hasil yang dikatakan dokter nanti. Pun dengan bibirnya, ia gigit saking gugup. Sementara itu, Adel yang tak punya keberanian untuk menerima setiap penjelasan itu tetap berdiri di belakang Delia. Tubuhnya mendadak tak bisa digerakkan. Juga kedua tangan yang lurus sambil mengepal di kedua sisi pinggang. Sesekali, tatapannya melihat dokter. Nun, kemudian beralih pada kakaknya yang sama takut. Sedangkan Billi, dia yang datang memang untuk membantu sekaligus menenangkan, kemudian beranjak mendekati Adel. Dia pikir, adik dari Delia itu butuh sekadar usapan agar merasa jauh lebih tenang. Oleh karena itu, dengan perasaan tulus ia memeluk dan mengusap-usap puncak kepala gadis usia sembilan belas tahunan itu. “Alhamdulillah, kondisi pasien sudah membaik. Beliau juga sudah sadar. Tapi—“ “Tapi apa, Dok?” sela Delia yang tak sabaran. “Pasien harus istirahat total. Sepertinya dia kecapean, kedinginan juga.” “Ya, Allah. Itu karena Ibu pasti mencuci terus. Ibu ... padahal sudah kularang, kan?” gumam Delia, begitu mendengar penjelasan dokter di hadapannya. “Alhamdulillah. Terima kasih, Dok. Tapi, apa ibuku sudah boleh dijenguk?” tanyanya. Dokter di hadapannya itu tersenyum sambil mengangguk. “Boleh. Tapi, jangan masuk semua, ya. Gantian,” jawabnya. Lantas, ia pun berucap pamit karena masih ada begitu banyak pasien yang harus diurus. Merasa lega, Adel pun melepas diri dari pelukan Billi. Lantas, ia pun menghambur ke dalam pelukan kakaknya sambil berucap penuh syukur. “Ibu nggak mau diam, Kak. Dia terus saja bekerja meski sudah kularang. Bahkan, setelah makan, Ibu nggak ngebolehin aku cuci piring,” lanjutnya. “Nggak apa-apa. Yang penting sekarang Ibu sudah baikkan. Kamu mau nengok duluan?” tanya Delia, seraya menyunggingkan senyum. Sama seperti Adel, Delia pun merasa sangat lega. “Nggak apa-apa aku duluan?” Adel pun mendongak, melihat raut wajah kakaknya sambil menyengir. “Iya, nggak apa-apa. Biar nanti, kakak nengok setelah kamu. Gih!” titahnya. Adel pun langsung bergegas. Ia berbalik dan berlari ke ruang di mana ibunya baru saja selesai ditangani dokter. Sementara itu, Delia menghampiri Billi yang masih di tempatnya. “Makasih,” ungkapnya dengan nada sendu. “Kehadiranmu udah bikin aku kuat menghadapi situasi ini.” “Apa, sih, yang nggak buat nona yang cantiknya melebihi artis-artis ini?” tanyanya, sambil berlagak sok jadi pahlawan. Lagi-lagi, kata-katanya itu mengandung gombal. “Haish! Dah, dah. Aku dah kenyang makan gombalanmu terus, Bill. Ya, Tuhan.” Seperti apa yang dikatakannya, Delia memang sudah benar-benar kenyang, bahkan bisa dibilang muak karena selalu saja disuguhi gombalan Billi. Namun, sebagai teman yang ingin selalu menjadi teman, Delia harus menahan rasa mukanya itu. Terlebih, sekarang ia akan karena hutang. “Oh, iya. Sekarang kan Ibu udah siuman. Kamu, kalau mau pulang, pulanglah. Di sini juga nggak bisa masuk, kan? Aku nggak mungkin bisa menemani kamu juga di luar. Kasihan Adel.” Setelah duduk kembali, Delia pun membebaskan Billi untuk pulang. Namun, teman yang akan menjadi rekan kerjanya itu justru menggeleng. Katanya, “Aku bisa tidur di mobil untuk malam ini. Besok baru pulang.” “Kenapa? Kan, nggak enak kalau tidur di mobil?” Delia pun melebarkan senyum canggungnya, karena kian merasa tak enak hati. Billi yang biasa tidur di kasur empuk, sekarang akan tidur di mobil demi dirinya. “Nggak apa-apa,” timpal Billi, sembari balas tersenyum. Ia juga mendekatkan wajahnya ke arah Delia, sampai membuat gadis itu kian merasa kikuk. “Untuk uang yang kamu minta, mau ambil sekarang atau besok aja?” “Pinjam, Bill. Bukan minta!” timpal Delia seraya menoyor dan mendorong kening Billi sampai menjauh dari wajahnya. “Dan, besok aja. Aku nggak mau pegang duit banyak-banyak. Lagi pula, kamu nggak bakal pulang, kan? Sekalian aja kamu yang bayar biaya rawatnya Ibu, besok.” “Aih?!” Billi langsung meraih telunjuk Delia yang menoyornya. Lantas, ia meremas jemari itu dalam genggam tangannya. “Tapi nggak apa-apa. Demi lu, nona cantik!” lanjutnya yang kemudian mencuri kecup di punggung tangan Delia. Refleks, Delia pun menarik tangannya itu. “Maaf, sebaiknya kamu keluar sekarang, deh. Aku mau nyusul Adel ke dalam,” katanya, diiringi degup jantung yang tak beraturan. Billi sudah berani mengecup punggung tangannya. Dan, itu membuat Delia salah tingkah. “Ya, sudah. Kamu baik-baik di sini, ya. Jangan lupa istirahat juga,” kata Billi seraya bangkit berdiri. Ia mengusap-usap kedua tangannya yang dengan sengaja menggenggam tangan Delia. Kemudian meminta maaf sebelum pergi, karena sudah berani mengecupnya. *** “Apa, sih, dia? Kenapa coba berani ngecup-ngecup begitu? Argh! Ini pasti karena aku udah minjam duit sama dia. Tapi, aku kan minjam dan bakal bayar dengan gaji hasil dari jadi modelnya. Bukan bayar pake mau dikecup-kecup begitu!” Setelah Billi meninggalkannya di ruang tunggu, Delia merutuk dalam hatinya karena kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Untungnya, Billi mau pergi dan meminta maaf juga. Kalau tidak, mungkin, Delia akan membatalkan acara pinjam-meminjamnya demi untuk menghindari perbuatan seperti tadi. Namun, tiba-tiba, Delia justru teringat akan anjing yang ditabraknya malam tadi. Apakah semakin membaik, atau justru memburuk keadaan anjing tersebut. Karena masih merasa bersalah, besok atau lusa, Delia akan menyempatkan diri untuk menjenguknya di rumah dokter hewan yang bernama Anggara itu. “Semoga aja kesehatannya nggak menurun,” gumamnya, seraya menangkup wajah. Kemudian Delia menghela napas panjang, sebelum mengembuskannya. Merasa lelah, Delia pun menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi. “Kesehatan Ibu udah membaik, Kak. Alhamdulillah, sekarang Ibu udah tidur,” kata Adel, yang tiba-tiba sudah duduk di samping Delia. Dia mendengar apa yang digumamkan kakaknya itu. “Eh, Dek?” Delia langsung kembali tegak begitu menyadari kedatangan Adel. “Ibu udah tidur?” “Iya, Kak. Tapi, kalau kakak mau mastiin lagi, ya bagus. Biar aku tunggu di sini.” Sekarang, giliran Adel yang duduk bersandar di kursi samping Delia. Ia memejamkan matanya sambil menghela dan membuang napas cepat. Tubuhnya benar-benar lelah setelah dikuras oleh perasaan cemas sepanjang tadi. Sekarang, akhirnya, ia bisa duduk tenang. “Nggak usahlah. Biar besok aja kakak tengok Ibu. Sekarang, sebaiknya kita istirahat. Kakak ngantuk banget,” katanya. “Oh, ya sudah. Aku juga ngantuk, Kak. Tapi, kita tidur di sini?” Adel pun mengedarkan pandangan. Di sekitarnya, orang-orang berlalu-lalang. Termasuk juga satu dua perawat yang keluar masuk ruangan. Ruang berdinding cat putih itu jauh lebih luas dari kamarnya. Sehingga rasa dingin, terasa memeluk tubuhnya yang hanya memakai kaos tidur berlengan panjang. “Ya, iya. Mau di mana lagi?” timpal kakaknya itu sambil menyengir. “Tapi, kalau kamu mau bobok di masjid ya sana. Kalau kakak mah nggak mau jauh dari Ibu.” “Ogah!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN