Keesokan paginya, setelah Delia mengisi beberapa lembar formulir lagi bersama Billi, ibunya pun dipindah tempatkan ke ruang rawat inap. Bersama Adel dan Billi pula, Delia berjalan cepat di belakang kursi roda yang didorong perawat laki-laki sampai akhirnya tiba di satu ruang yang cukup jauh dari UGD.
“Alhamdulillah, Kak. Akhirnya sampai juga kita di sini. Capek aku. Ruangannya jauh banget dari UGD,” bisiknya, tepat ketika ketiganya masuk ke ruang rawat inap.
“Haish! Kamu ini,” timpal Delia seraya menoyor kepala adiknya itu. “Dah, sekarang lebih baik kamu tungguin Ibu, ya. Kakak harus pulang dulu.”
“Loh, baru juga nyampe?”
Adel yang tak membawa apa-apa sebagai bekal menginap di rumah sakit itu pun duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang pasien. Kemudian ia mengangguk pelan pada perawat yang baru saja selesai membantu pasien berbaring. “Makasih, Mas,” katanya. Pun dengan Delia dan Billi, keduanya mengucapkan terima kasih pada perawat tersebut sebelum pergi.
“Kakak harus bawa baju ganti, Dek. Ya, masa kita nggak mandi-mandi?” Kakaknya itu pun mencium keteknya sendiri. “Masih wangi, sih. Tapi lengket. Nggak enak!”
“Dih! Jorok banget, sih, Kak. Ada temannya juga. Nggak malu apa?” singgung Adel, karena melihat Billi di samping kakaknya itu. Dia pikir, kakaknya itu terlalu barbar.
“Dia?” tunjuk Delia pada Billi. Adel mengangguk sambil menimpalinya dengan nada ngegas. “Dia mah udah biasa liat kebarbaran kakak. Iya, nggak, Bill?” tanyanya, sambil menahan tawa.
Namun, Billi justru menggeleng dan lebih memilih untuk berpihak pada Adel. “Auk, tuh kakakmu. Emang gada urat malunya. Jauh sama Adel yang manis, peminim pula.”
“Hilih! Dahlah, kakak pulang dulu, ya. Assalamualaikum,” katanya seraya menghampiri ibunya. “Ibu baik-baik sama Adel, ya. Aku nggak lama, kok.”
“Iya, Nak. Kamu hati-hati di jalan juga, ya,” timpal sang Ibu setelah sedari tadi hanya menyimak. Bukan mengapa, tapi, tubuhnya itu terasa begitu lelah dan lemas sebab batuk yang sesekali masih mendera. Padahal, biasanya, ia selalu mudah tertawa kalau ada yang lucu.
“Iya, Bu. Assalamualaikum,” katanya lagi. Namun, belum sempat Delia beranjak pergi, ibunya kembali melontar tanya. Dengan siapa dirinya pulang. “Aku pulang send—“
“Delia pulang sama aku, Bu. Jangan khawatir. Aku akan membawanya kembali tanpa kekurangan apa pun,” sela Billi, seraya mendekati wanita paruh baya di hadapannya itu. Kemudian, ia meminta salam seraya mengucap salam. Padahal, Delia hendak pulang sendiri.
“Syukurlah kalau begitu. Kalian hati-hati.”
Mendengar itu, Delia pun bergeming barang sesaat. Ia, sebenarnya tak ingin merepotkan Billi kembali. Namun, mengingat dirinya harus menunggu angkot di depan, Delia pun memilih untuk pulang dengan diantar Billi.
“Kamu gada job emang?” tanya Delia, saat keduanya berjalan di lorong rumah sakit. Pandangan Delia lurus ke depan. Tapi, isi pikirannya tak dapat beralih dari kecupan Billi di punggung tangannya malam tadi. Ia benar-benar masih merasa canggung.
“Ada, sih. Tapi aku kensel.”
“Loh? Kenapa harus membatalkan job? Apa itu semua gara-gara aku? Aih. Nggak mau, ah. Aku nggak mau bikin kamu kehilangan pekerjaan,” cerocos Delia, seperti kereta api. Dia bahkan berhenti berjalan, sebelum kemudian menyuruh Billi pulang dan menyelesaikan pekerjaannya. “Alu bisa pulang sendiri, kok. Pake motor.”
“Bawel banget, sih? Siapa bilang, gue batalin job gara-gara lu?” Billi pun sedikit terbahak karena gadisnya itu.
“La, terus?” Delia tak mengerti dengan ucapan temannya itu.
“Gue batalin job karena hari ini modelnya izin. Dia sakit. Jadi, gue harus cari model yang baru dulu buat gantiin!” jawabnya.
“Aku!” seru Delia, antusias.
“Apaan lu?” tanya Billi, yang juga tak mengerti dengan apa yang diucapkan Delia.
“Ya, aku. Aku mau jadi model pengganti.” Sambil menyengir, Delia pun menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Ia memohon. “Biar aku bisa bayar utang, secepatnya!”
“Dih!”
“Kok, dih?”
“Ya, dih, aja.”
“Aku serius, Billi. Boleh, kan kalau aku jadi model pengganti? Katanya, kamu mau jadiin aku model, kan?” Akhirnya, Delia pun mengungkit tentang janji Billi yang akan memperkerjakannya sebagai model.
“Ya, iya. Tapi bukan job yang ini.”
“Lah, sama aja, kan?”
“Iya, sih. Tapi, bedanya—“
“Aku nggak peduli. Pokonya, aku mau jadi model pengganti. Kapan mulai pemotretannya?” Delia benar-benar antusias sekali. Padahal, ia belum mendengar penjelasan apa pun dari Billi perihal pemotretan apa yang harus ia kerjakan.
“Nanti malam, Nona.”
“Setuju!” timpal Delia, yang kemudian kembali berjalan cepat.
Sementara itu, Billi pun menggeleng sambil mengikuti Delia lagi. Lelaki berambut sedikit gondrong itu tak habis pikir, kalau Delia akan mengubah jalan pikirnya setelah berulang kali menolak tawarannya untuk menjadi seorang model.
***
Setelah mengantar Delia pulang, Billi kembali mengantar gadis yang disukainya itu ke rumah sakit. Tak ada obrolan khusus saat di perjalanan. Hanya saja, beberapa kali Delia mengungkit soal upah yang akan didapatnya nanti. Bahwa, ia hanya akan mengambil sedikit untuk bekal sehari-harinya. Sementara sisanya, akan ia berikan pada Billi untuk mencicil hutang.
Namun, menanggapi ucapan demi ucapan Delia, Billi justru menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia memang mengutangkan uang, sesuai dengan keinginan Delia. Tapi, dia bukan seorang rentenir yang akan memeras orang seperti lintah darat.
“Kerja juga belum, udah mikirin upah. Santai aja, sih. Lu itu udah kek minjem uang sama rentenir tau nggak? Astaga. Apa gue seseram itu, sampai seorang Delia seperti takit kalau tidak membayar hutangnya.”
Sambil tergelak, lelaki yang juga sedang fokus menyetir itu pun mengomel. Ia benar-benar menyindir Delia, agar gadis yang disukainya itu lebih mementingkan pekerjaannya dahulu. Menjadi model, mungkin memang terlihat mudah. Tapi, sebenarnya, Delia akan membutuhkan waktu untuk belajar mencintai pekerjaannya itu sendiri.
“Ya, kan cuman berencana. Lagi pula, aku bingung harus bicara apa selama kita dalam perjalanan,” gumamnya yang masih dapat tertangkapnya oleh pendengaran Billi. Pandangan yang semula lurus ke depan pun, seketika beralih ke samping kiri. Di tepi jalan, Delia melihat banyak sekali pedagang. Mulai dari pedagang kaki lima, sampai ruko-ruko yang memenuhi pinggiran jalan.
Karena Billi tak menimpalinya lagi, juga karena semalam tak dapat tidur dengan benar, tiba-tiba saja Delia merasa ngantuk. Matanya yang belo itu mulai berkedip lambat, sampai akhirnya ia tertidur pulas.
Menyadari Delia tidur dalam keadaan miring, Billi membenahi duduk gadisnya terlebih dahulu setelah menghentikan mobil di tepi jalan. Lantas, ia menarik pelan pundak gadis yang disukainya itu sampai duduk bersandar di sandaran kursi. Karena rambut panjang Delia tak beraturan sampai menutupi sebagian wajah, Billi pun menyekanya ke samping perlahan-lahan.
Ditatapnya wajah Delia yang lugu dan tanpa make yang tebal. Billi merasa kian tertarik saja pada gadis tersebut. Bahkan, lagi-lagi, otak mesumnya seketika bergejolak. Ingin sekali ia mengecup, juga mencumbu selengkung berwarna merah jambu itu.
Billi menelan ludahnya dengan susah payah, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Delia. Lantas, ia mencondongkan wajahnya itu sampai benar-benar dekat dengan Delia. Namun, begitu bibirnya hampir saja mencapai apa yang diinginkan, Delia meracau tak jelas.
“Astaga!” batinnya, terkejut. Billi langsung menarik diri. Kemudian menjalankan mesin mobilnya lagi. “Ya, Tuhan! Cobaan macam apa ini? Gue udah biasa melakukan hal seperti apa yang sekarang ada dalam pikiran. Tapi, kenapa gue lupa caranya bermain-main jika bersama gadis ini!”