Billi pikir Delia bangun. Tapi kenyataannya, Delia hanya mengigaukan sesuatu yang Billi tak paham sama sekali. Namun, ia dapat mendengar dengan jelas saat Delia menyebut nama Luis.
“Kek pernah dengar nama itu. Tapi di mana, ya? Halah. Nggak penting juga itu nama. Sebaiknya, sekarang gue jalan lagi. Berabe kalau sampai Delia bangun, dan gue malah berhenti di pinggir jalan kayak gini. Bisa mikir macam-macam dia.”
Usai merutuk pada dirinya sendiri, Billi pun menajamkan pandangannya sebelum menginjak gas. Ia melihat kaca spion tengah, lalu spion kiri dan kanan untuk memastikan ada atau tidaknya kendaraan lain di belakang. Lantas, setelah yakin dirinya aman, mobilnya pun ia lajukan dengan kecepatan sedang.
Perjalanan menuju rumah sakit masih lebih dari setengah jam lagi. Billi harus cepat. Karena selain kasihan pada Adel, ia juga tak ingin membuat ibu dari Delia itu menunggu terlalu lama.
“Kalau saja lu mau jadi istri gue, Del. Gue nggak bakal bikin keluarga lu sengsara kayak gini. Tapi, dari dulu hobinya nolak mulu. Padahal, gue itu beneran suka sama Lu,” gumamnya, sembari melihat Delia sesekali. “Apa yang kurang coba dari gue? Ganteng iya, manis iya, banyak duit pula.”
“Karena kamu itu Playboy cap kapak, Bill!” timpal Delia parau. Dia, ternyata sudah bangun. Sambil menyengir tipis, gadis berambut panjang itu mengusap wajahnya pelan.
“Aih, lu dah bangun?” Billi pun benar-benar dibuat kaget oleh Delia. Dia pikir, untung saja gadis itu tak bangun saat dirinya hendak mencium. “Tapi, Playboy dari mananya coba?” Dia menyangkal. Padahal, bukan hanya Delia yang mengetahui kenakalannya akan setiap gadis dan bahkan janda muda.
“Gosah nyangkal. Aku dan teman-teman kita tahu, kok. Kamu itu suka gonta-ganti pasangan. Coba dipikir, gimana bisa aku suka sama cowok kayak begitu? Lagian, kita itu lebih cocok temenan. Karena kalau pacaran pasti ada berantem-berantemnya. Terus, kalau pacaran, pasti ada putusnya.”
“Hilih!” umpat Billi. Dia yang tengah fokus menyetir itu mendelik sambil tersenyum sinis. Kata-kata Delia benar-benar menyinggungnya.
“Hilih, hilih aja bisamu. Udah nyampe mana kita? Kok, berasa lama banget?” Delia pun melirik jam di layar ponsel yang dirogohnya dari dalam tas. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. “Udah lebih dari satu jam kita.”
“Bentar lagi sampai, kok. Lu, kalau mau tidur ya tidur aja lagi. Ntar gue bangunin kalau udah sampai.”
“Nggaklah. Kantukku udah hilang soalnya.”
“Ya, sudah. Tapi, please! Gosah julid.”
“Lhaaaa?! Julid apaan?”
Tawa pun membahana dari bibir gadis yang disukai Billi itu. Dia menangkup mulut. Sadar dan tahu betul dengan apa yang dimaksud Billi. Namun, dia pura-pura tak memahaminya. Sengaja untuk membuat Billi merajuk.
“Mbuh. Dahlah!”
“Dih?! Nggak jelas banget, sih!” Delia pun tertawa lagi. Kali ini dirinya sambil berbalik badan, menghadap Billi yang tengah fokus menyetir. “Lihat aku,” pintanya kemudian.
“Apaan? Gue lagi nyetir ini.” Billi pun hanya meliriknya sekilas, karena jalanan tengah ramai, ia tak boleh lengah.
“Nggak apa-apa. Cuman pen bilang aja kalau aku lagi syantik,” godanya.
“Udah tahu dari dulu, Del. Gosah aneh-aneh, deh. Bentar lagi kita sampai. Tuh, lihat!” tunjuk Billi dengan bibirnya yang dimajukan.
“Ha, iya. Ahaha.”
“Ketawa dia. Dasar gadis aneh!”
“Udah tahu aneh, kenapa masih suka? Heran!” balas Delia yang lagi-lagi tergelak lepas.
“Ya, mana gue tahu. Mungkin, lu punya pelet!”
“Loh. Fitnah itu! Mana ada pelet-peletan! Kecantikanku ini murni, hasil perpaduan Emak sama Bapak. Ahaha.”
“Astaga. Dah, dah. Kita dah sampe ini. Ayo, turun!” ajak Billi setelah memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Buru-buru ia melepas sabuk pengaman, sebelum kemudian membuka pintu mobilnya.
“Yelah!”
Delia menyusul turun. Lantas, keduanya pun buru-buru masuk ke tempat di mana ibu Delia sedang menjalankan perawatan. Namun, baru saja sampai di lorong pertama, telepon Billi berdering. Ia mengangkatnya. Karena ada hal mendesak, Billi pun memutuskan untuk kembali pulang tanpa menemui ibu Delia dulu.
“Ya, sudah. Hati-hati di jalan kamu,” ucap Delia.
“Huum. Kamu juga baik-baik di sini. Jangan lupa untuk selalu ingat aku,” balasnya, menggoda.
“Tetep!”
***
Seperti kesepakatan pagi tadi, selepas Maghrib, Delia pun langsung meluncur ke tempat di mana Billi melakukan pemotretan tanpa memberitahu Ibu atau pun Adel, ke mana dirinya akan pergi. Awalnya, Adel tak mau ditinggal pergi. Tapi untungnya, Delia bisa meyakinkan adiknya itu untuk tetap tinggal di rumah sakit.
Mengingat anjing yang tak sengaja ditabrak olehnya malam kemarin, Delia pun berencana untuk menengoknya sebentar di rumah dokter hewan. Ia khawatir kalau-kalau kondisi anjing itu malah memburuk.
Namun, sesampainya di sana, anjing yang ia tahu bernama Leo itu sudah diambil Luis siang tadi. Katanya, “Syukurlah kalau begitu. Tapi, apa kondisinya membaik, Dok? Maksudku, apa dia bisa berjalan lagi?”
“Untuk saat ini, luka di kakinya belum membaik. Kemungkinan, untuk bisa berjalan lagi, setidaknya butuh waktu sampai satu-dua minggu.”
“Ya, Allah. Itu lama sekali,” gumamnya, setelah mendengar penjelasan dari dokter hewan tersebut. Delia pun mangut-mangut. “Ya, sudah. Kalau gitu aku permisi, Dok. Terima kasih sebelumnya.”
“Sama-sama, Mbak. Silakan,” timpal sang dokter lagi.
Bergegas Delia pun kembali melajukan motornya setelah pamit dan keluar dari ruang dokter tersebut. Dia harus segera pergi ke rumah sekaligus studio foto milik Billi. Teman yang sekarang sudah jadi rekan kerjanya pun sudah berulang kali menelepon untuk memastikan di mana keberadaan Delia.
“Aku sudah di jalan. Sabar!” katanya, dalam telepon yang baru saja ia angkat dan tersambung ke headset.
“Aku dah sabar dari tadi, Del. Ini pemotretannya udah mau dimulai. Lebih-lebih, orang yang bayar jasa gue ada di sini juga. Dia mau tahu prosesnya langsung,” jelas Billi.
“Iya-iya. Bentar lagi gue sampai, kok. Tunggu!”
Delia pun menaikkan laju motor yang dibawanya. Ini adalah kali pertamanya menjadi seorang model. Jelas, ia tak boleh mengecewakan Billi. Beruntung, jalanan tak seramai biasanya. Sehingga ia tak menemui kendala.
Setengah jam berlalu, Delia pun akhirnya sampai di halaman rumah Segera ia memarkirkan motornya di sana sebelum kemudian masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Delia tahu, ke mana ia harus pergi.
Namun, setibanya di ruang pemotretan, Delia justru dikejutkan dengan kehadiran seseorang. “Permisi,” katanya, ragu-ragu. Sementara tatapannya tak beralih dari sosok tinggi tegap dan tampan. Dan, dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya itu.
“Ah, Delia. Akhirnya lu datang juga. Ayo-ayo! Kita langsung mulai pemotretannya sekarang.”
Billi yang tengah mengobrol dengan rekan kerjanya itu pun berdiri, menyambut kedatangan orang yang sedari tadi ditunggunya. Senyum merekah pun terurai dari bibirnya yang merah kehitaman.
“A-aku harus ngapain sekarang?” tanya Delia, yang tiba-tiba merasa gugup.
“Ganti bajulah. Terus make up-an,” jelas Billi seraya mendorong tubuh Delia ke ruang ganti. Lantas, ia menunjuk asistennya untuk membantu Delia. “Pertama-tama, tenangkan hati lu ok!”
“I-iya, Bill.”
Tiba di tuang ganti, pandangan Delia langsung mengedar. Ia melihat ada banyak sekali pakaian yang menggantung rapi di tempatnya. Juga ranjang, dengan seprai dan selimut tertata rapi di atasnya.
“Ini kamar atau ruang ganti?” singgungnya, pada wanita yang tengah memilih baju untuk dipakai oleh Delia.
“Kamar sekaligus ruang ganti, Mbak. Para model biasa beristirahat di sini kalau lelah. Tapi, berhubungan hari ini modelnya cuman Mbak, ranjangnya masih rapi.”
“Oh ....” Pandangan Delia pun kemudian tertuju pada asisten Billi. “Baju itu ... untukku?” tanyanya. Kening Delia bahkan mengernyit saat melihat pakaian yang dipegang wanita cantik di hadapannya.
“Iya. Hari ini, tema pemotretannya memang seperti ini. Kamu harus memakai lingerie untuk majalah dewasa.”
“What?”
Delia pun kian terkejut, begitu mendengar penjelasan dari asisten Billi tersebut. Bahkan, seketika dirinya ingat saat Billi berusaha menolaknya untuk menjadi model pengganti. Namun, membatalkan kesepakatan pagi tadi sekarang, Delia tahu itu sudah terlambat.
“Kenapa, Mbak? Mbak nggak tahu soal ini?”
Wanita di hadapannya pun mendekat. Delia hendak menjawab, kalau dirinya memang tak mengetahui apa pun soal tema dan lain hal. Namun, belum sempat ia berucap, suara Billi terdengar nyaring dari luar. Temannya itu kembali mengingatkan tentang waktu yang terus berjalan.
“I-iya, Bill. Aku lagi siap-siap ini. Sabar!” jawabnya, balas berteriak. Lantas, Delia pun meraih lingerie yang harus dipakainya dari tangan asisten Billi. “Biar kucoba!”
Namun, tangannya tiba-tiba bergetar saat menatap lingerie dalam genggamannya. Seumur-umur, Delia belum pernah memakai barang tersebut. Apalagi di hadapan banyak orang. “Ya, Tuhan,” desisnya.
“Apa, Mbak?” tanya si asisten lagi.
“Eh, ng-nggak, Mbak. Aku pakai sekarang, ya bajunya.”
***
Sedari Delia datang, Luis merasa tak asing dengan suara gadis yang ditunggunya bersama Billi itu. Namun, karena tak ingin mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Luis pun enggan membuktikan pendengarannya.
Di ruang pemotretan Luis menunggu sampai Delia keluar dari ruang ganti. Meski dirinya tak dapat melihat apa pun, tapi, telinganya itu dapat menangkap suara langkah kaki sekali pun.
Ini bukan yang pertama kalinya Luis memakai jasa Billi untuk pemotretan majalahnya. Namun, ia baru mendengar suara Delia yang dikenalnya di jalan malam kemarin. Sehingga, ia pikir, Delia pastilah model baru. Ditambah dengan keterlambatannya, seorang model profesional tak mungkin menyepelekan waktu.
Dalam hati, Luis pun merutuki Delia. Bahwa, gadis itu tak hanya ceroboh. Tapi juga seperti karet, karena tak dapat menempati waktu. Lantas, tak lama setelah itu, Delia pun terdengar keluar dari ruang persiapan. Sehingga Luis, kemudian menajamkan pendengaran.
Billi yang sudah menunggunya tanpa sabar, seketika langsung bergeming begitu melihat gadis di hadapannya. Delia begitu cantik saat memakai pakaian lengkap. Tapi, gadis yang disukainya itu jauh lebih cantik saat hanya memakai lingerie. Billi tercengo. Matanya benar-benar membulat. Sementara bibirnya bergerak berulang kali, karena hanya menahan liur yang tiba-tiba mencair.
Sementara itu, Delia sendiri justru terlihat begitu malu-malu. Ia tak begitu percaya diri karena harus menunjukkan sekujur tubuhnya, dengan hanya memakai lingerie saja. Bahkan, saking malu dan gugupnya, kedua pipi tirusnya itu langsung merona. Dia juga gemetar, sampai-sampai seperti tengah ada gempa.
“Beautifull!” puji Billi tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah serta tubuh Delia. Lantas ia melangkah maju, mendekat ke arah Delia. “Sempurna!” lanjutnya, sambil menyeringai lebar. “Tapi, satu hal yang masih tampak mengganggu.”
“Katakan!” pinta Delia, yang masih dalam posisinya: memegang bagian d**a dan bagian tubuh sensitifnya dengan maksud, menghalanginya dati tatapan orang-orang.
“Gugup. Tubuhmu tampak gemetar,” bisik Billi setelah dirinya begitu dekat dengan Delia. “Tapi, alu suka!”
“Hilih!” Delia pun langsung menoyor kepala teman sekaligus rekan kerjanya itu. Kemudian berjalan menuju tempat di mana ia harus berpose. “Setidaknya, aku harus latihan dulu, kan? Ini pengalaman pertamaku, loh. Jangan heran kalau gayaku seperti katak mati!”
Dan, gelak tawa pun kemudian terdengar nyaring dari bibir Luis. Dia lepas kontrol, saking meresapi apa-apa yang dikatakan Delia. Lelaki tampan bertubuh tegap itu pun seketika menghentikan tawanya dengan berdeham-deham, sok berwibawa. Membuat Billi dan orang-orang yang ada di ruangan tersebut langsung menahan tawa.
“Dih! Bisa ketawa juga ternyata dia. Dasar aneh!” umpat Delia, sambil berdecak. “Apa yang lucu coba? Orang serius juga!”
“Baiklah!” ujar Billi, sambil menepukkan kedua tangan sebagai tanda, kalau dia meminta perhatian. “Kita latihan dulu sebentar!”