Gugup, malu dan canggung dirasakan Delia sekaligus. Namun, ia terlanjur menyanggupi pekerjaan tersebut. Ia juga amat sangat membutuhkan uang, untuk saat ini. Oleh karena itu, meski begitu, Delia tetap menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Di belakang Billi, Delia berjalan lambat sampai akhirnya tiba di tempat pemotretan. Di sana terdapat ranjang berukuran sedang, lengkap dengan bantal, guling dan selimut. Di tengah-tengah, kelopak bunga mawar pun bertebaran sebagai hiasan. Sesekali, Delia pun menoleh ke arah Luis. Laki-laki yang dikenalnya malam kemarin itu tengah menatap kosong ke sembarang arah.
Namun, padahal, Luis yang dilirik oleh Delia itu sedang menajamkan telinga juga fokusnya. Sehingga begitu Billi menyebut nama Delia, Luis pun yakin kalau Delia yang ada di studio foto Billi adalah Delia yang dikenalnya.
Hanya saja, karena anjingnya sudah kembali sehat, juga sedang dalam keadaan bekerja, Luis tak ingin lagi membahas apa pun tentang kejadian kemarin. Dia ingin melupakan dan pura-pura tak mengenal Delia.
Sementara itu, Delia pun melakukan latihan. Ia berpose dengan dibantu arahan Billi. Dan, karena ini adalah pengalaman pertama, susah bagi Delia untuk bisa tampil dengan sempurna. Berulang kali dirinya salah. Berulang kali juga dirinya mengulang gaya yang sama sampai akhirnya berhasil.
Billi yang kegirangan pun bersorak sembari memutar tubuhnya. Ia juga memelak pinggang, diiringi seringai senang dari wajahnya. Teman Delia itu senang betul, karena akhirnya, Delia dapat berpose dengan santai.
“Sempurna! Apa gue bilang, lu pasti bisa. Pasti bisa!” serunya, yang kemudian bertepuk tangan. Lantas, ia berbalik ke arah Luis yang sebenarnya sudah merasa BT karena mendengar Delia gagal terus. Bahkan, tadi, dia sempat meremehkan Delia dan menyuruh Billi untuk mengganti modelnya saja. “Usaha tidak akan mengkhianati hasil, Bos. See!”
“Baiklah. Sekarang, gue percaya sama lu. Lanjutkan!” timpal Luis. Dia yang belum juga bicara perihal dirinya yang sudah mengenal Delia itu pun bangkit berdiri. “Karena sekarang sudah malam banget, gue pulang duluan, ya. Gue percayakan pekerjaan ini sama lu!”
“Laksanakan, Bos! Besok, dijamin hasilnya mantap!”
Billi pun begitu percaya diri dengan hasil kerja samanya dengan Delia. Bosnya itu mengangguk canggung. Karena sebenarnya, dia masih ingin tinggal di sana. Hanya saja, ia tak mungkin pulang terlalu malam jika anaknya sedang menunggu untuk makan malam. Lantas, setelah pamit pada semuanya, Luis pun meninggalkan studio foto tersebut dengan dibantu sopirnya.
Sementara itu, Delia yang kaget karena tak menyangka kalau dirinya akan memahami setiap pose dalam waktu singkat, terbengong menyaksikan sekaligus mendebarkan obrolan antar Luis dan Billi. Dia juga tak menyangka kalau Billi sudah terhubung dengan Luis yang anjingnya tak sengaja ia tabrak di jalan.
“Apa mungkin kalau dia pura-pura tak mengenalku? Atau, dia memang sudah melupakanku juga kejadian kemarin?” Delia membatin saat Billi menyuruh teamnya untuk kembali bersiap. “Ah, tapi ... terserahlah!” lanjutnya, sebelum kemudian merespons ucapan Billi yang baru saja menyentuh bahunya lembut. “Bismillah. Semoga aku bisa konsisten, ya.”
“Pasti. Gue mah yakin seratus persen kalau hasil kerja lu bakalan bagus banget!” Pujian Billi, kemudian membuat kedua pipi tirus Delia merona, untuk pertama kali.
***
“Seharusnya, tadi tuh gue ngomong sama si Billi, kalau gue udah kenal sama Delia. Dia kan yang sudah membuat anjing gue cedera. Gue yakin, gue nggak salah orang. Tapi, kenapa kok rasanya kelu banget ini mulut!”
Di perjalanan menuju pulang, Luis yang masih memikirkan Delia pun meracau dalam hatinya. Ia merasa bingung, karena sudah bersikap lain dari biasa. Dia, dari dulu, lebih suka blak-blakan. Apalagi menyangkut pekerjaan. Tapi, kali ini Luis merasa beda. Karena Delia benar-benar sudah mengacaukannya isi pikirannya sejak kemarin.
“Tapi, Billi sama Delia sepertinya sudah berteman akrab, deh. Cuman kok bisa itu si Delia kaku banget gayanya. Si Billi mpe kewalahan kayaknya.” Luis kembali bicara dalam hati. Namun, kali ini sembari menahan tawa. “Andai aku bisa melihat setiap gerakannya, Delia pasti terlihat begitu lucu.”
Sementara itu, Firman, sopirnya itu tetap fokus berkendara. Meski sesekali, pandangannya melirik sekilas ke arah Luis yang duduk di kursi belakang, dari kaca spion depan-tengah. “Si bos kenapa itu senyum-senyum ditahan gitu? Hm ... kek orang jatuh cinta aja!” pikirnya, dalam hati.
***
Meski tak sebaik model-model senior, Delia merasa puas dengan hasil kerjanya sendiri. Bahkan, ia benar-benar tak menyangka kalau dirinya akan berpose di depan sebuah kamera, yang dimainkan temannya itu. Apalagi setelah berulang kali ia menolak pekerjaan itu.
Hanya saja, saat Delia melihat potret dirinya yang hanya memakai lingerie dengan beberapa model dan warna, rona di wajahnya kembali muncul. Ia merasa malu sendiri, terlebih saat Billi berulang kali menggoda dengan memuji kecantikan serta kemolekan tubuhnya. Dia pikir, rekan kerjanya itu terlalu berlebihan.
Mengembalikan kamera yang dipegangnya itu kepada Billi, Delia berusaha menyembunyikan rona di wajahnya itu dengan mengusap wajah berulang kali. Ia juga terus saja berpaling, menghindar dari tatapan Billi.
“Kamu belum sisiran?” tanya Billi, seraya menyimpan aset berharganya: kamera. “Berantakan banget rambutnya.” Lelaki yang kian terpesona dengan Delia itu kemudian kembali menghadap modelnya itu. Kedua belah sudut bibirnya ia tarik, sehingga mencipta senyum begitu lebar. Lantas, tangannya itu meraih sebelah dari kepala Delia, sebelum kemudian mengusap dan menyelipkan beberapa helai rambut ke balik telinga wanita di hadapannya itu.
“Um, eh, iya belum. Tadi buru-buru keluar setelah ganti baju. Hehe. Makasih,” timpal Delia, seraya menarik diri. Ia meraih kepala, juga rambut yang sebelumnya disentuh Billi.
“Kenapa? Nggak suka aku sentuh rambutmu?” singgung Billi. Dia tahu betul kalau temannya itu sedang merasa risi dan gugup.
“Aih. Nggak, kok. Hehe. Cuman, aku sebaiknya pulang sekarang. Udah malam juga, kan? Adel pasti udah nungguin dari tadi.”
Untuk mengalihkan rasa gugupnya, Delia pun langsung mengubek isi tasnya. Ia mencari ponsel untuk mengecek apakah ada pesan atau tidak dari Delia. Namun, tidak ada pesan di sana. Yang ada hanya notifikasi-notifikasi dari f*******:.
“Adel ada chat?” tanya Billi, penasaran.
“Huum!” Delia langsung mengangguk, berbohong untuk bisa pulang lebih cepat. Lantas, ia pun pamit seraya hendak berbalik. Namun, belum sempat kakinya itu melangkah, Billi mencengkeram tangannya erat. “Ya?” Delia refleks menoleh.
Alih-alih menjawab apa yang dikatakan Delia, Billi justru menarik tangan Delia yang dicengkeramnya keras-keras sampai membuat gadis di hadapannya itu menghambur ke dalam pelukan. Delia langsung terenyak, terpejam, merapatkan bibir sampai tersentak karena terkejut.
Belum juga sempat Delia menarik diri, Billi sudah mendekap tubuhnya erat dalam pelukan. Lelaki bertubuh tinggi tegap dan sedang itu pun langsung meraih dagu Delia dengan sebelah tangan. Ia menatapnya dalam, sebelum kemudian mendekatkan wajahnya perlahan.
“Jangan, Please!” pinta Delia, setengah bergumam saking tercekat bibirnya dibuat Billi.
Akan tetapi, Billi seolah tak peduli. Ia terus saja mendekat, sampai akhirnya yak lagi ada jarak di antara mereka. Membuat Delia seketika terpejam kuat seraya merapatkan bibirnya lebih erat lagi, agar kecupan Billi tak sampai menembus bibirnya terlalu dalam.
Nyatanya, Billi justru tak kalah akal. Dia yang sudah begitu tergoda oleh pesona Delia, seketika menurunkan kecupannya perlahan sampai tiba di antara rahang Delia. Sehingga membuat gadis dalam dekapannya itu langsung berontak. Tubuh Delia menggeliat, tak terima dengan apa yang dilakukan Billi.
“Aku harus pulang, Bill. Please! Jangan lakuin ini sama aku. Kita hanya—“
Cup!
Dalam sekejap, bahkan seperti kelebat kilat, kedua belah bibir Billi langsung melahap selengkung merah muda Delia tanpa diketahuinya. Membuat Delia seketika terbelalak. Ia, bahkan kehilangan keseimbangan karena keterkejutannya. Membuat dua tubuh yang berdiri di samping kursi itu langsung terjengkang menimpa kursi.
“Aw!” seru Delia dalam hati, karena bibirnya masih saja terkunci oleh ciuman Billi. Beruntung, kepala bagian belakangnya ada dalam dekapan Billi. Sehingga begitu jatuh, kepalanya itu tak menimpa kayu bagian pinggir kursi.
Menit berikutnya, setelah berulang kali Delia berusaha melepas diri, Billi pun merenggangkan dekap juga cengkeramannya. Membuat Delia seketika bernapas lega, meski belum sepenuhnya bebas karena Billi masih ada di atasnya dengan tatapan tanpa dosa.
“Apa yang sudah kamu lakukan, Bill? Kenapa ku nggak mendengarkan alu sama sekali? Kenapa kamu—“
“Aku hanya ingin memilikimu!” sela Billi seraya mendekap tubuh Delia lagi. Kali ini, tak begitu erat. “Aku hanya ingin bersamamu,” lanjutnya, seraya menyusupi kedua belah tangannya ke balik baju yang dipakai Delia.
“Lepasin aku, Bill. Please! Ini nggak seharusnya kamu lakukan. Kita cuman teman bukan? Dan itu sudah dari dulu. Aku minta, tolong jangan hancurkan pertemanan kita dengan hal seperti ini. Aku nggak mau!” ujar Delia seraya melawan dan menolak apa yang dilakukan Billi. Meski, tenaganya itu jelas kalah dari Billi. Sehingga, tangan Billi sudah menjangkau kedua belah dadanya yang menggunung.
“Aku menolak pertemanan kita sejak lama, Delia. Aku ingin memilikimu, lebih dari sekadar teman. Percayalah padaku. Aku tak sedang bermain-main,” bisiknya, tepat di sebelah telinga bagian kiri Delia. Bahkan, ia terus saja mengecupi telinga Delia yang terus bergerak karena gelengan kepala. Sementara tangannya, tengah membelai lembut apa yang ada di balik pakaian Delia.
“Jahat kamu, Bill. Aku nggak ngira kalau kamu akan menyamaratakan aku dengan model-modelmu. Padahal, kamu tahu betul kalau aku mau menerima pekerjaan ini karena apa. Aku ingin mencari uang. Bukan ingin melakukan hal seperti ini denganmu!”
Kali ini, cerocos Delia diiringi desah pilu karena tangisnya. Ia bahkan terus memukul punggung dan mendorong pundak Billi agar melepaskannya. Namun, Billi tetap saja melakukan aksinya, sampai sudah berani membuka kancing celana yang Delia pakai.
“Setelah ini, aku yakin, kamu tak kan menyesal, Delia. Percaya padaku. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Selamanya!” ungkap Billi, kian beringas. Ia yang sudah berhasil membuka kancing celana Delia pun langsung menarik diri untuk dapat membuka celananya juga.
Delia yang seperti mendapat kesempatan pun langsung menyusul duduk. Ia ingin berlari, secepat apa yang dilakukan Billi sedari tadi. Namun, lagi-lagi, cengkeram tangan Billi menahannya. Membuat ia lagi-lagi harus terduduk dalam dekapan Billi.
“Kamu, mungkin bisa memaksaku untuk melakukan hal ini, Bill. Tapi, kamu tak akan pernah bisa memaksa perasaan seseorang. Aku tidak akan pernah mencintaimu, hanya karena kamu sudah menodai aku!”
Tangis Delia kian menjadi. Bahkan, isaknya telah berubah menjadi sesenggukan. Dan, itu membuat tenaga Delia, yang juga sedari sore perutnya itu belum terisi nasi, habis terkuras emosi juga tenaga yang ia kerahkan untuk berontak. Billi masih saja tak peduli. Ia tetap berusaha untuk bisa memiliki Delia seutuhnya. Sampai begitu Billi berhasil melucuti satu per satu pakaian Delia, begitu Billi hendak melakukannya dengan paksa, seseorang masuk ke studio foto tersebut tanpa mengeruk pintu.
“Bos, mereka?!”
Lelaki muda bernama Lintang itu pun memberitahu bosnya, perihal apa yang dia lihat. Lantas, Delia yang sudah putus harapan pun langsung merasa akan tertolong. Gadis yang tak lagi berpakaian itu pun berteriak, meminta pertolongan.
Dan, adegan panas yang baru saja akan dimulai Billi, terhenti seketika dalam sekejap. Ia dengan ekspresi malunya pun menarik diri dari tubuh Delia. Lantas beringsut, sedikit lebih mundur sehingga Delia bisa merapatkan kedua kaki telanjangnya sambil terisak. Ditangkupnya kedua d**a dengan dua tangan. Delia masih belum berhenti menangis.
“Gila lu, Bill!” seru Luis yang tak menyangka akan apa yang baru saja ia ketahui di hadapannya, berkat sang sopir. Lantas, ia melangkah maju dengan dibantu sopirnya juga, guna menyelimuti tubuh Delia dengan jas yang dipakainya. “Bodoh!” umpatnya pada Billi, setelah berhasil menyelimuti Delia.
“Bos, gue—“
“Jangan cari alasan! Apa yang ada di hadapan gue ini sudah jelas, meski gue tak melihatnya langsung. Gila lu. Anak orang mpe dibikin bugil begini?”
Luis pun berkata tegas. Namun, ia tak mengira sama sekali kalau Delia akan bangkit dan mendekapnya erat-erat dengan hanya sehelai jas yang menutupi sebagian tubuhnya. Gadis yang tak sengaja menabrak anjingnya itu lantas berucap dalam isak. “Aku mau pulang.”
Sementara itu, sopir Luis mengedarkan pandangan ke sekitar. Mereka memutar balik perjalanan pulang sehingga mendapati tindakan tak senonoh Billi terhadap Delia, karena dompet dan ponsel Luis tertinggal di kursi tempatnya duduk sedari sore tadi. Dan, ia menemukannya.