Bab. 10. Dekapnya Sebagai Selimut

1636 Kata
Mendapati jas yang diselimutkannya pada tubuh Delia, Luis pun membenahinya, meski tak tahu apakah yang ia lakukan sudah dapat menutup tubuh Delia atau tidak. Lantas, agar tak salah, ia pun menyuruh Delia untuk memakai jasanya itu saja. Delia mangut-mangut, gadis itu menurut sehingga buru-buru ia memakai jas yang seketika menutup setengah dari tubuhnya. “Mari,” ajak sopir Luis kemudian. Dia yang sekarang lebih banyak menemani bosnya, setelah Leo masih dalam perawatan itu pun berjalan lebih dulu. Namun, kali ini tak sembari menggandeng tangan Luis, karena sudah ada Delia di samping bosnya itu. Bahkan, sopir Luis pun meninggalkan bosnya begitu saja bersama Delia. Luis dan Delia berjalan pelan, keluar dari studio foto milik Billi yang saat itu masih tercengo di kursinya. Teman sekaligus rekan kerja Delia itu akhirnya sadar, kalau dirinya baru saja melakukan kesalahan. “Del, Delia!” teriaknya, seraya turun dari kursi. Lantas, ia berlari untuk mengejar bos juga modelnya itu. Luis dan Delia baru saja melewati pintu. Sehingga Billi, tak perlu bersusah payah untuk mencegah mereka pergi barang sebentar. Di depan studio foto miliknya, Billi memohon ampun juga maaf pada Delia yang seketika kembali menyembunyikan wajahnya di balik d**a tegap milik Luis. Ia enggan melihat Billi. Gadis itu benar-benar merasa jijik, sebab mengingat sikap Billi yang sudah berani melecehkannya dengan kasar. “Please!” mohon Billi. Kedua tangannya itu bertaut di depan d**a, diiringi sesal yang seketika menyesakkan napasnya. “Aku kalap. Aku benar-benar kalap,” katanya lagi. Namun, alih-alih menjawab dan memaafkan Billi, Delia justru menarik tangan Luis yang tak berkata apa pun karena tak ingin terlalu banyak ikut campur. Lantas ia berjalan cepat, sehingga Luis refleks mengikuti langkahnya. Meninggalkan Billi, yang tak menyerah memohon maaf. “Ya, Rabb. Ampuni aku,” gumamnya, seraya menyapu genangan air yang baru saja terjun dari kedua belah mata sipitnya. Delia merasa malu, karena hampir saja ternoda, karena kelemahannya. “Sebentar,” ucap Luis, yang seketika menghentikan langkah kaki Delia. Delia pun menoleh sembari membenahi jas yang dipakainya. Padahal, tidak ada yang salah di sana. Ia hanya takut, kalau tubuhnya masih terlihat dari berbagai sisi. “Maaf,” ucapnya kemudian. Ia sadar, sudah waktunya ia mengaku, kalau dirinya adalah orang yang sudah menabrak anjing Luis. “Sebenarnya, aku—“ “Kamu itu, adalah orang yang sudah menabrak Leo, bukan?” sela Luis, sengaja memotong pengakuan Delia. Karena ia mengira, kalau Delia memang ingin mengatakan hal itu. “I-iya,” timpal Delia, yang seketika membuatnya merasa kian malu dan bersalah. “Gimana kabar Leo? Aku sempat pergi ke rumah dokter Anggara. Tapi, katanya, Leo sudah dibawa pulang.” “Kamu bawa motor?” Luis justru menanyakan hal lain. “Tapi, nggak mungkin kamu pulang bawa motor sendiri, dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa, lepas dari kandang singa, kamu masuk kolam buaya. Mau?” “Ng-nggaklah. Aku pesan taksi aja nggak apa-apa. Makasih sebelumnya,” timpal Delia, yang seketika berubah menjadi kesal karena sikap jutek dan songong Luis. Namun, alih-alih menimpali gadis di sampingnya, Luis kembali meraih tangan Delia. “Antarkan aku ke mobil. Biar aku yang antar kamu pulang ke rumah. Ayo!” titahnya, masih dengan nada dingin dan jutek. Karena memesan taksi hanya omong kosong belaka, Delia pun langsung menuntun Luis kembali sampai akhirnya tiba di halaman rumah Billi. Dia, kalau tak menumpang mobil Billi, bisa-bisa kembali masuk ke dalam untuk meminta Billi yang mengantarkannya. Atau, Delia meminta uang bayaran, hasil dari kerjanya tadi untuk membayar taksi. Sebab, selain tak ada baju yang bisa ia pakai, Delia pun tak sedang memegang uang. Di jok belakang, Delia pun duduk berdua dengan Luis. Hening. Hanya kebisuan yang kemudian menjadi pengantar perjalanan mereka, selama mobil melaju dengan kecepatan sedang di antara pengendara yang lain. Sampai-sampai, Delia yang merasa lelah dan ngantuk itu, tak lama langsung tertidur. Luis yang belum sempat menanyakan alamatnya pun seketika merasa bingung. Ke mana ia dan sopirnya akan mengantar Delia. Sedangkan gadis yang tidur di sampingnya itu sama sekali tak bisa dibangunkan. Meski sudah Luis coba, dengan mencolek-colek pangkal hidung, pipi, bahkan bibir Delia. “Wah ... kebo, nih! Dibangunin susah amat!” umpat Luis, bahkan sampai membuatnya ingin tertawa. Namun, ia tahan karena tak enak hati. “Ya, Tuhan. Bangun, sih. Ini gue bingung mau antar lu ke mana!” “Jangan-jangan, si Delia ini pingsan, Bos?” ucap sopirnya, menduga-duga. Barangkali, karena lelah, gadis yang dibawa bosnya itu memang hilang kesadaran. “Nggak mungkin, ah. Dia ngorok, Fir. Pasti cuman tidur!” jelas Luis. Lagi-lagi, ia ingin tertawa. “Gitu, ya. Terus gimana ini? Mau diantar ke mana?” Firman pun melirik kaca spion berulang kali, untuk melihat ke belakang. Tentu saja, tanpa mengurangi fokus an kehati-hatian berkendara. “Apa bawa pulang aja. Kasihan juga liatnya.” “Kira-kira, kalau kita bawa pulang dulu, dianya marah nggak ya? Karena yang gue takut, nanti dia malah mikir yang aneh-aneh,” ungkap Luis. Ia memang merasakan ketakutan akan hal seperti itu. “Ada aku. Biar nanti, aku yang bantu jelasin.” Firman pun meyakinkan bosnya itu. Dia pikir, masa iya mau membuang Delia di jalanan. Sementara, dibangunkan pun tak bangun-bangun. Jadi, lebih baik ya dibawa pulang. Padahal, kalau saja keduanya lebih berpikir lagi, menghubungi Billi pun akan mendapatkan jawaban. Di mana, rumah Delia. Namun, mereka tak terpikir sama sekali. Sehingga, akhirnya, Luis pun mantap membawa Delia pulang. *** Dipangkunya Delia oleh Firman. Lantas, sopir Luis itu berjalan lebih dulu, untuk dapat membaringkan Delia di kamar tamu. Sementara itu, Luis mengikutinya dari belakang. Ia berjalan pelan, karena keadaan membuatnya harus lebih berhati-hati agar tak jatuh. Kemudian, ia membuka kunci pintu rumahnya segera. Karena sudah malam, ia pikir, anaknya yang baru saja naik kelas sudah tak terdengar di sana. Jenny yang tak bisa tidur sendiri itu, sudah pasti tidur bersama pembantunya yang udah bekerja selama bertahun-tahun. Namun, baru saja Luis memerintahkan Firman untuk membawa Delia ke kamar tamu, anaknya itu tiba-tiba bertanya tentang siapa yang Luis bawa, dari lantai dua. “Nak, kamu belum tidur?” Luis pun malah balik bertanya. Ia mendongak, mencari sumber suara yang terdengar mirip dengan almarhum ibu dari anaknya itu. “Kamu di mana, Sayang? Sini, temui ayah,” pintanya. Lantas, dalam hitungan detik, Jenny sudah memeluknya dari belakang. “Aku di sini, Ayah!” katanya sembari cengengesan. “Tapi, kenapa Ayah nggak jawab pertanyaanku? Ayah sama Om Firman bawa siapa tadi?” “Oh, itu. Dia teman ayah, Sayang. Tadi dia ketiduran di mobil ayah. Jadi, ayah pikir, ayah harus membawanya pulang. Kenapa? Kamu keberatan kalau ayah bawa cewek ke rumah, ya?” godanya, mengingat Jenny yang begitu sangat menyayangi ibunya. “Aih. Bukan, Yah. Tapi, Jenny pikir, Ayah bawa calon Ibu buat Jenny,” jawabnya sambil menyengir. Karena sudah sejak lama, Jenny memang merindukan sosok Ibu dalam rumahnya. *** “Calon Ibu?” Sembari memutar tubuh, Luis pun tersenyum tipis. Ia berbalik badan, menghadap Jenny yang masih tertawa-tawa kecil diiringi gelak sesekali. Anak itu, selain cantik seperti ibunya, juga memiliki paras yang manis. Meski tak lagi dapat melihat wajah malaikat kecilnya sejak beberapa tahun lalu, Luis yakin, anaknya masih sama seperti dulu. “Ya, Ayah. Teman Jenny ada yang punya Ibu baru. Jenny juga mau, Yah.” Di hadapan Luis, gadis itu bersikap seolah ayahnya dapat melihat. Ia tersenyum malu-malu sembari menangkup mulut dengan kedua tangannya yang putih mulus. Luis yang mendengarnya pun seketika menggeleng diiringi tawa kecil. Lantas, ia memeluk putrinya itu erat-erat. “Nanti, ya, Sayang.” Luis berbisik sembari mengecupi kening dan pipinya itu. Lantas, ia meminta Jenny untuk menuntunnya ke kamar. “Sekarang kamu harus tidur. Udah malam.” “Jenny mau tidur sama Ayah aja, boleh?” “Boleh. Apa, sih, yang nggak buat Jenny? Ayo!” ajaknya kemudian. Namun, belum sempat Luis melangkah, Firman keluar dari kamar tamu. Sopirnya yang baru saja membaringkan Delia di ranjang, pamit pulang. “Nggak mau nginap aja?” “Nggak usahlah, Bos. Besok pagi saja aku datang kek biasa,” timpal Firman. Setelah mendapati anggukan, Firman pun melengos pergi. Sementara itu, Jenny pun langsung menuntun ayahnya itu menuju kamar sembari tersenyum-senyum riang. Gaya berjalannya ia buat sedikit meloncat dan berjinjit-jinjit. Dalam benaknya berputar-putar, bersama ibu barunya berjalan-jalan di taman. Lantas, ia bermain-main di sana sembari memakan ice cream. “Oh, iya, Ayah.” Sampai di ambang pintu, Jenny berhenti. Ia berbalik, mendongak sambil menyengir. Lagi-lagi, seolah ayahnya itu dapat melihat. “Apa, Sayang?” tanya Luis, sembari menundukkan wajahnya, seolah melihat Jenny. Ia juga menarik kedua sudut bibir merah kehitamannya itu, lebar-lebar. “Jenny kenal sama satu Ibu yang baik banget. Dia sayang sama Jenny. Jenny juga sayang sama Ibu itu. Ayah mau tahu?” ucap Jenny, sedikit berbisik. Lantas, ia kembali melangkahkan kakinya. Masuk ke kamar ayahnya itu. “Wah ... siapakah dia, yang udah mencuri hati malaikat kecil ayah ini?” tanya Luis, penasaran. Luis pikir, setelah kematian istrinya, ia tak pernah mengabaikan Jenny. Tapi, kenyataannya, ada hal yang ia tak tahu. “Ibu gurunya Jenny di sekolah, Yah. Baiknya mirip Bunda. Sayangnya mirip Bunda. Cantiknya juga kayak Bunda,” ungkap Jenny, kian antusias. Dia benar-benar menginginkan ibu gurunya menjadi Ibu baru. Kening Luis langsung mengernyit. “Ibu gurunya belum punya suami? Duh ... kalau udah punya suami mah, jangan atuh, Sayang. Nggak boleh.” Luis pun duduk di tepi ranjang setelah Jenny menuntunnya sampai ke sana. “Um ... Jenny nggak tau, Ayah.” Jenny pun duduk di samping ayahnya itu sambil tertawa-tawa. “Ya, sudah. Kalau gitu, Jenny tidur aja sekarang, ya. Dah malam. Ayah juga udah ngantuk banget ini.” Di peluknya sang anak. Lantas, ia membaringkan anaknya itu di samping kiri sebelum ia meringkuk juga di sana. “Mimpi indah, Sayang. Muach!” “Ayah juga,” balas Jenny, seraya menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Luis. “Mimpi indah, dan bahagia bersama Ibu dan keluarga baru,” lanjutnya dalam hati. Jenny benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan berdoanya, untuk meminta ibu baru dalam keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN