Bab. 11. Ibu Guruku

1795 Kata
Bangun dari tidur sepanjang malam, Mbak Mina kebingungan sendiri. Dia yang biasa tidur bersama Jenny, seketika celingukan mencari anak majikannya itu. Namun, tak ada siapa-siapa di sisi kiri ataupun kanan. Begitu juga di seluruh ruangan, yang ada hanya serentetan boneka dalam lemari, di meja, juga di atas kepala ranjang. Buru-buru Mbak Mina pun bangun. Ia langsung beranjak pergi untuk mengecek keberadaan anak dari majikannya itu. Namun, karena hari baru saja melewati adzan Subuh, rumah bak istana dalam negeri dongeng itu pun masih sepi dari aktifitas. Tidak ada seorang pun yang sudah terjaga, selain dirinya sendiri. Masuk ke ruang di mana Jenny kerap bermain-main sendiri dengan mainannya, Mbak Mina tak menemukan siapa-siapa di sana. Lantas, ia pun mengecek setiap kamar sampai akhirnya ia tiba di kamar tamu. “Aih, siapa dia?” batin Mbak Mina, di ambang pintu. Diedarkannya pandangan, Jenny pun tidak ada di sana. Ingat akan majikannya, Mbak Mina pun langsung berlari menuju kamar Luis. “Mungkin, Jenny juga ada di dalam,” batinnya lagi, setelah sampai di depan kamar Luis. Mbak Mina ketuk pintu kamar majikannya itu. Lantas, ia buka perlahan, karena tak kunjung ada jawaban. Dari ambang pintu, ia pun dapat melihat adanya Jenny di kamar Luis. Membuat ia seketika merasa tenang dan lega. “Kapan pindahnya coba?” pikir Mbak Mina. Lantas, ia pun buru-buru menutupnya kembali. Sekarang, ia bisa tenang bekerja. Namun, baru saja Mbak Mina berbalik, orang yang dilihatnya di kamar tamu tiba-tiba ada di belakangnya. Membuat Mbak Mina seketika terenyak karena terkejut. “Ya, Allah!” serunya. Mbak Mina langsung menyapu wajah sembari beristigfar. “Maaf, Mbak.” Delia yang hanya mengenakan jas hitam Luis itu pun menyilangkan kedua kaki telanjangnya. Sementara tangan berjari lentiknya saling bertaut di depan perut. Delia merasa bingung, di mana ia berada sekarang. “Ini rumah siapa, ya?” tanyanya. “Loh? Dia baru saja tidur di rumah orang. Tapi nggak tau, tidur di rumah siapa. Aneh,” batin Mbak Mina, seraya memperhatikan Delia dari atas sampai ke bawah. Barulah setelah itu ia menjawab, “Ini rumah bos saya, Mbak. Namanya Pak Luis.” “Luis?” Delia menelan ludahnya dengan susah payah, begitu mendengar dan menyebutkan nama lelaki yang semalam menyelamatkannya dari Billi. Delia pikir, semalam Luis mengantarkannya pulang ke rumah. Tapi, kenyataannya malah dibawa pulang ke rumah Luis sendiri. “Iya, Mbak. Maaf, saya permisi dulu. Saya harus bekerja,” pamit Mbak Mina. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum pergi. Namun, baru dua kali kakinya itu melangkah, pintu kamar Luis terbuka. Delia dan Mbak Mina pikir, yang baru saja menarik pelatuk pintu itu adalah Luis. Namun, begitu pintu terbuka seluruhnya, yang keluar dari sana adalah Jenny. “Jenny?” batin Delia, yang tak asing dengan wajah gadis kecil di hadapannya itu. Ia langsung mengernyit. Sebab benaknya langsung berpikir. “Mungkinkah, Jenny ini anaknya Luis?” “Ibu guru?” Jenny pun sama mengernyit. Ia heran, kenapa gurunya itu ada di hadapannya. Dalam keadaan setengah telanjang pula. “Ibu guru kok ada di sini?” Sementara itu, Mbak Mina yang ada di antara mereka pun sama bingungnya. Dia baru sadar, kalau wanita yang baru saja bicara dengannya itu adalah guru Jenny. Guru Jenny yang sering kali dilihatnya di sekolah. “Jenny bisa kenal. Kok, aku lupa, ya? Aih. Tapi, yang bikin bingung banget ... kenapa gurunya Jenny ada di sini? Pake acara bingung sendiri juga dianya,” batin Mbak Mina. Karena tak ingin membuat kepalanya pusing, Mbak Mina pun memilih pergi untuk mulai bekerja. *** Delia pun langsung berjongkok setelah Jenny bertanya perihal keberadaannya di rumah itu. Lantas, ia meraih kedua belah pundak gadis kecil itu sambil menyengir. “Semalam Ibu ketiduran di mobilnya Pak Luis. Jadi, Ibu juga nggak tau kenapa bisa ada di sini. Mungkin, Pak Luis yang bawa Ibu ke sini,” katanya, setengah berbisik. Sementara tatapannya, melihat ke sisi kiri dan kanan, seperti seorang maling yang takut ketahuan. “Kalau Jenny. Kok, Jenny ada di sini?” “Ini rumah Jenny, Bu. Dan yang Ibu maksud itu adalah ayahnya Jenny.” Mengingat malam tadi Jenny memikirkan ibu gurunya itu, ia pun langsung tersenyum penuh harap. Jenny pikir, apa yang ada di hadapannya itu adalah jawaban dari doanya. Bahwa, Tuhan akan segera mengabulkan apa yang dia ingin. “Begitu, ya.” Senyum Delia pun seketika berubah kikuk. Ia pikir, betapa dunianya begitu sempit. Sehingga dalam waktu sebentar, ia bertemu dengan orang-orang yang justru saling berhubungan. Billi misalnya. Teman yang semalam hampir menodainya itu ternyata adalah seorang fotografi langganan Luis. Sekarang giliran Jenny. Anak didiknya itu, tak lain adalah anak dari Luis. “Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan?” batinnya, seraya mengusap lembut puncak kepala Jenny. Anak itu adalah anak kesayangannya. Karena selain cantik dan manis, Jenny juga anak yang cerdas. “Iya, Bu. Ibu mau tinggal di sini?” tanya Jenny dengan polosnya. “Ibu pasti mau jadi Ibu barunya Jenny, ya? Semalam, Jenny habis bahas itu sama Ayah.” “Ha?” Delia pun menganga, sebelum akhirnya ia kembali merapatkan mulutnya. Delia tak mengerti, kenapa Jenny bisa berpikir seperti itu. Dan lagi, apa iya kalau Luis sendiri yang membahasnya pada Jenny. “Iya, kan, Bu?” tanya Jenny kembali. Membuat ia begitu terlihat semakin antusias menunggu jawaban dari ibu gurunya. “Um, itu ... Ibu cuman nggak sengaja tidur di rumah Jenny, Sayang. Jadi, sekarang pun Ibu harus pulang. Maaf, ya, Sayang. Tolong bilang makasih juga sama ayahnya Jenny, ya.” Tak ingin terlalu membuat Jenny berharap lebih, Delia pun langsung mengalihkan topik pembicaraan sambil berdiri. Delia pikir, ia memang harus segera pulang agar bisa secepatnya ke rumah sakit. “Loh, kok gitu? Jenny pikir, Allah udah ngabulin doa Jenny. Jenny pikir, Allah udah kirim Ibu buat jadi Ibu barunya Jenny.” Akhirnya, raut wajah bahagia Jenny pun berubah masam. Senyum dan semeringah antusiasnya juga menghilang dari selengkung merah jambu gadis usia enam tahun itu. Jenny merasa amat sangat kecewa, begitu mendengar jawaban dari Ibu gurunya itu. “Ya, Allah. Gimana ini?” batin Delia. Ia yang sudah berdiri tegak itu pun kembali berjongkok, berlutut di hadapan Jenny. “Bukan begitu, Sayang. Tapi—“ “Ibu guru harus pulang dulu, Sayang. Ibu gurunya Kenny kan harus mandi, ganti baju, terus dandan biar cantik,” sela Luis yang tiba-tiba muncul di antara anak dan guru dari anaknya itu. Luis menguping sejak Jenny membahas tentang seorang Ibu baru pada Delia. Sehingga ia yang tak lain adalah Ayah Jenny, tahu betul akan kekecewaan Jenny saat Delia mengalihkan topik pembicaraan. Itu sebabnya, Luis merasa perlu untuk mengembalikan semeringah di wajah anaknya itu. “Ayah?” Jenny langsung berbalik badan. Ia bahkan mendongak, demi untuk melihat ayahnya itu. Pun dengan Delia yang seketika terkejut karena kehadiran Luis di hadapannya. Perlahan, Delia pun bangkit berdiri sembari merapikan anak rambutnya yang berantakan. Barulah setelah itu, Delia berusaha mengalihkan tatapannya ke berbagai arah. “Ayah sudah bangun?” tanya Jenny kembali. Luis mengangguk. Lantas, demi untuk menjangkau anaknya itu dengan sentuhan tangan, Luis pun duduk berjongkok. “Ayah baru tahu kalau wanita ini adalah ibu gurumu, Sayang,” bisiknya. Sengaja, agar Delia tak menguping. “Iya, Ayah. Dia guru Jenny. Cantik, kan?” balas Jenny, kembali berbisik. Masam yang tadi sempat menghiasi wajahnya itu, seketika beralih ceria lagi. “Tapi, Jenny pikir, Ibu guru akan tinggal di sini. Kan, semalam udah tidur di sini juga,” lanjutnya. Mendengar bisik-bisik, seperti bisik-bisik tetangga, tatapan Delia pun mencuri-curi pada kedua orang yang ada di hadapannya itu. Ia ingin menguping. Tapi, obrolan keduanya begitu pelan. “Ya, nggak bisalah, Sayang. Ibu guru nggak bakal bisa tinggal di sini,” bisik Luis kembali. “Kenapa? Bukannya semalam Ibu guru tidur di sini?” “Itu karena nggak sengaja, Sayang.” “Oh. Terus, kapan Ibu guru bisa tinggal sama Jenny?” Pertanyaan Kenny pun akhirnya membuat Luis bergeming. Ia tak tahu lagi harus menjawab apa. Sementara itu, Delia yang sudah merasa terlalu lama berdiri pun berdeham. “Aku, sepertinya harus pulang,” katanya, pelan. “Makasih sebelumnya, karena sudah menolongku.” “Sama-sama,” timpal Luis sambil berdiri. Ia yang sudah kehabisan kata menghadapi pertanyaan Delia pun, merasa tertolong oleh ucapan Delia. “Tapi, sebaiknya kamu sarapan dulu. Biar nanti aku suruh Firman buat nganterin kamu.” “Oh, nggak usah, Pak. Biar aku pulang sekarang aja,” balas Delia. Namun, saat dirinya hendak melangkah, ia ingat akan tubuhnya yang hanya memakai jas. Itu pun milik Luis. “Soal jas ini—“ “Aku bilang tunggu saja dulu sambil sarapan. Kamu nggak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu bukan?” Luis pun tersenyum tipis. Ia merasa geli sendiri, mengingat Delia yang sedari semalam hanya mengenakan jas. Bahkan, tanpa pakaian dalam. “A-aku,” “Sudahlah. Ayo, Jenny ... ajak ibu gurunya ke ruang makan. Mbak Mina pasti udah masak,” titahnya pada Jenny. Lantas, anaknya itu pun menurut. Jenny langsung meraih tangan Delia, sebelum kemudian ia tarik menuju ruang makan. Sementara Luis sendiri, berjalan pelan-pelan di belakang mereka. Meski buta, Luis sudah hafal betul isi rumahnya. Sehingga ia jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah tersandung barang. Terlebih jika ada Leo, anjingnya itu akan menuntun ke mana pun Luis ingin. Tiba-tiba mengingat Leo, Luis pun menyempatkan dirinya untuk pergi ke kamar anjingnya itu. Dia ingin melihat perkembangan Leo, setelah beberapa hari terbaring di ranjang khususnya. Dan ternyata, anjingnya itu begitu antusias menyambut. Sehingga gonggongannya sampai ke telinga Delia di ruang makan. “Loh, ayahmu mana?” tanya Delia, pada Jenny. “Itu, suara Leo bukan?” “Ibu guru tahu nama anjingnya Ayah? Iya, itu memang Leo. Ayah pasti ke sana dulu. Kasihan soalnya Leo. Dia lagi sakit. Belum bisa jalan.” Panjang lebar Jenny bicara. Namun, sejurus kemudian, gadis kecil itu menyuruh ibu gurunya duduk. “Ibu mau sarapan apa? Biar Jenny minta bikinkan sama Mbak Mina,” tanyanya kemudian. “Apa ajalah, Sayang,” timpalnya, seraya duduk di samping anak didiknya itu. “Lagian, Ibu harus buru-buru pulang.” “Kenapa nggak tinggal sama Jenny aja, Bu. Jenny sama Ayah pasti senang. Soalnya, Jenny udah lama banget kesepian. Kalau main, paling-paling juga sama Mbak Mina. Bosan,” ungkapnya. Lagi-lagi, Jenny memasang wajah murung. Padahal, sebelumnya ia ceria. “Duh, gimana, ya, Sayang. Ibu nggak bisa jelasinnya. Tapi, yang jelas, Ibu nggak bisa tinggal di sini. Kan, ini bukan rumah Ibu. Ibu juga ada keluarga yang harus diurus.” “Ibu udah punya suami?” tanya Jenny, lagi-lagi tampak begitu polos. Sampai-sampai Delia heran, anak seperti itu kok bisa tahu tentang adanya suami juga istri. “Eh, nggak ... Sayang. Tapi, Ibu punya Ibu dan Adik yang harus diurus. Jadi ... Ibu nggak mungkin ninggalin mereka. Tambah lagi, sekarang ibunya ibu lagi di rumah sakit. Ibunya ibu sakit, Sayang.” “Sakit apa ibumu?” Lagi, Luis pun tiba-tiba ada di antara mereka. Ia membuat Delia juga Jenny terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN