“Eh, Pak. Itu, ibuku sakit KP. Beliau batuk-batuk sampai akhirnya pingsan kemarin. Tapi, sekarang sudah baikkan. Itu kenapa, seharusnya aku segera pulang.”
Delia pun memberitahu orang yang baru dikenalnya itu dengan jujur perihal kondisi sang Ibu. Lagi pula, ia tak ingin berbohong di hadapan Jenny. Lantas, Delia pun berdiri.
“Pertama-tama, duduklah lagi. Biar sopirku yang mengantarmu. Dia lagi otw ke sini, kok. Ke dua, tolong jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Aku ini masih muda. Bukan bapakmu pula!”
“Aih!” batin Delia, hampir saja tertawa. Dia pikir, orang sedingin Luis ternyata bisa bercanda juga. “Makasih,” katanya kemudian.
Luis mengangguk. Lantas, sebelum duduk, ia pun memanggil Mbak Mina yang tengah sibuk di dapur. Pekerjanya itu memang selalu mendahulukan pekerjaan di dapur, daripada yang lain. Karena Luis mau pun Jenny, keduanya suka sarapan pagi-pagi sekali. Entah itu masak nasi goreng, bikin gorengan, atau bikin roti panggang isi.
“Masak apa hari ini?” tanyanya, begitu Mbak Mina menimpali sambil menghadap. Hari ini, untuk pertama rumahnya dikunjungi seorang wanita. Luis pikir, Mbak Mina harus menyiapkan sesuatu yang lezat.
“Tadi, sih sudah bikin gorengan, Pak. Tapi, kalau mau dibikinkan yang lain juga boleh.”
“Ya, sudah. Bikin roti panggang isi saja, ya. Masih ada, kan ... bahan-bahannya?”
“Ada, Pak. Sebentar, biar saya bikinkan dulu,” timpal Mbak Mina seraya menganggukkan kepalanya. Lantas, usai mendapat lemparan senyum dari semua orang yang duduk di kursi makan, ia pun kembali masuk ke dapur.
“Omong-omong, aku lupa sama ponsel dan motor di rumah Billi. Tapi, aku nggak mungkin pergi ke sana untuk sekarang ini.” Delia, yang merasa sudah srdikit jauh lebih dekat dengan si pemilik rumah pun memulai percakapan.
“Jadi, besok-besok masih mau pergi ke sana? Yakin?” tanya Luis. Setelah menyaksikan aksi kriminal yang dilakukan Billi pada Delia, Luis merasa aneh jika Delia masih ingin pergi ke sana. Ia pikir, seharusnya, Delia enggan meski hanya sekadar bertemu saja.
“Entahlah. Tapi, yang pasti, aku butuh pekerjaan untuk bisa bertahan hidup.”
“Profesimu itu seorang guru, bukan? Aku rasa, pekerjaan itu jauh lebih cocok untukmu. Ketimbang jadi seorang model.”
Mendengar itu, Delia pun menarik sebelah sudut bibir tipisnya. Ia berdecak, karena hidupnya jelas tak seenak orang-orang kaya seperti Luis. Menjadi seorang guru, memang impiannya sejak kecil. Pekerjaan itu juga amat berharga dan berjasa. Tapi, jika dipikir, pekerjaannya itu, bahkan tak dapat mencukupi kehidupan keluarganya.
“Kenapa?” tanya Luis, yang menyadari diamnya Delia karena ucapannya itu. Ia menoleh ke arah Delia, meski tak dapat melihat apa pun selain kegelapan.
“Tidak. Hanya saja, aku pikir, aku harus mencari pekerjaan baru mulai sekarang. Karena kamu benar, meski Billi adalah temanku, aku tak lagi mungkin bisa menemuinya setelah kejadian kemarin.”
“Good job! But, pekerjaan apa kira-kira yang kamu ingin?”
“Aku belum memikirkannya. Tapi, semoga saja aku bisa melamar kerja dengan hanya modal ijazah SMA.” Di akhir kalimat, Delia menyengir lebar.
“Aamiin, Aamiin. Semoga saja, ya. Hm ... Dari aromanya, Mbak Mina kayaknya udah selesai, tuh. Kita siap-siap makan sekarang. Kamu juga, ya, Sayang!” katanya pada Jenny, yang sedari tadi hanya menyimak obrolan dua dewasa di kedua sampingnya itu.
“Siap, Yah. Jenny pasti makan yang banyak,” timpalnya antusias. Terlebih saat Mbak Mina datang membawa hidangan yang dipesan. Air liur Jenny, seketika melumer.
***
Selesai sarapan, Firman yang dihubungi Luis untuk segera datang pun tiba di rumah mewah bak istana raja di negeri dongeng itu. Dia membawa kantong plastik berisi pesanan Luis juga, yang setibanya di sana langsung ia berikan pada Delia.
“Apa ini?” Gadis berbulu mata lebat dan lentik itu pun bertanya perihal apa yang disodorkan Firman.
“Bukalah. Terus pakai. Katamu, kamu harus segera pergi ke rumah sakit, kan? Cepatlah. Biar kita sekalian pergi. Aku mau ke kantor,” jelas Luis.
“Ini pakaian?” tanya Delia lagi. Kali ini seraya meraih kantong keresek tersebut.
“Ya, iya. Apa lagi? Karung goni?” ledek Luis, sembari menahan tawa.
“Ish! Ya, sudah. Kalau gitu, aku ganti baju di mana?”
“Ya, di kamar. Atau di kamar mandi. Mau di sini, sih, ya terserah.”
“Astaga!” Delia pun langsung menggeleng-geleng. Sementara Firman, ia menahan tawa. “Dia pikir, ini rumah siapa? Ntar, kalau aku salah masuk kamar, siapa juga yang marah. Pasti dia lah!” umpatnya.
“Ganti di kamar semalam saja, Mbak. Di sana, kan?” ucap Firman, seolah tahu umpatan dalam hati Delia.
“Oh, iya-iya. Makasih!” balasnya, sembari memaksa senyum. Kemudian ia buru-buru melangkah, menuju kamar di mana semalam dirinya tidur dengan begitu nyenyak. Namun, sejurus kemudian Delia tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa kalau di balik juteknya Luis, ayah dari Jenny itu adalah orang yang baik.
Dibukanya kantong keresek yang Delia bawa tadi. Kemudian ia mengeluarkan isinya yang tak lain adalah sepotong dress berwarna merah muda. Bagian tangannya pendek, lengkap dengan renda halus di ujung. Pun di bagian perut, renda putih itu melingkar. Delia melihatnya dengan saksama, dress itu sangat cantik dan mahal.
Ingat kalau dirinya tak memakai pakaian dalam, Delia pun merasa bingung. “Ya, masa nggak pakai celana dalam sama sekali?” batinnya, sembari memelak pinggang. “Eh, tapi bentar!”
Diraihnya kembali kantong keresek yang ia simpan di tepi ranjang. Lantas, ia membukanya kembali, guna mencari barang yang mungkin disiapkan Luis juga. Dan, yang dipikirkannya pun benar. Ada pakaian dalam berwarna senada dengan dress-nya di dalam.
“Astaga! Ukurannya pas,” batin Delia setelah mengangkat kedua pakaiannya itu. “Kok, bisa tahu? Aih!”
“Hello! Sudah selesaikah?” teriak Luis dari luar kamar. “Aku buru-buru BTW!”
“Eh, iya-iya. Sebentar!” timpal Delia. Buru-buru ia pun melepas jas milik Luis. Lantas segera memakai pakaiannya itu sampai selesai. Tanpa merapikan rambut atau pun wajah, Delia langsung bergegas keluar karena merasa terburu-buru. “Aku sudah selesai!” katanya, sembari membuka pintu.
Luis yang menunggunya di ruang tengah pun langsung menoleh, melihat apa yang tak bisa dilihatnya. Ia tersenyum, membayangkan Delia memakai pakaian yang ia pilihkan lewat Firman. “Kita berangkat sekarang kalau gitu,” katanya sambil berdiri. Lantas, ia berjalan pelan, dengan sebelah tangan meraba-raba kursi.
Delia yang merasa iba pun mendekat. “Biar kubantu,” katanya, sembari meraih sebelah tangan Luis. Kemudian, ia menggandengnya keluar. “BTW, makasih dress-nya. Aku suka.”
“Sama-sama. Tapi, pas, kan?” tanya Luis sambil menyengir. Kalau nggak muat, Luis takut pakaian untuk Delia itu terlalu longgar.
“Pas ... banget,” timpal Delia pelan. Karena sebenarnya, mengingat pakaian dalam, ia merasa malu sendiri.
“Maaf, ya. Aku udah lancang beliin kamu pakaian dalam. Tapi, aku nggak tega biarin kamu pulang dalam keadaan seperti tadi. Aku juga nggak mungkin ngasih pakaian bekas bundanya Jenny.”
“Um ... iya nggak apa-apa. Tapi, Jenny mana?”
“Jenny udah nunggu di mobil. Oh, iya ... kamu nggak masuk ngajar dong hari ini?” Di samping Delia, Luis pun bersikap amat peduli pada guru anaknya itu. Padahal, kemarin, ia sangat tidak menyukai Delia karena sudah menabrak Leo.
“Aku udah izin nggak masuk dari kemarin. Atau mungkin, setelah dapat pekerjaan baru, aku nggak bakal masuk ngajar lagi,” jawabnya, dengan nada sedih. Delia yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru itu ... memang merasa berat jika harus meninggalkan pekerjaan tersebut. Tapi, keadaan tetap memaksanya untuk memilih.
“Sayang sekali. Tapi, hidup memang pilihan bukan? Semoga saja, pilihanmu itu adalah jalan terbaik.”
“Huum. Semoga saja,” timpal Delia. Ia sudah sampai di luar rumah, sehingga tampak mobil yang semalam membawanya dari rumah Billi. Di dalam, Delia lihat ada Firman dan Jenny juga. “Kita sudah sampai di luar.”
“Aku tau,” timpal Luis, lagi-lagi seolah dirinya dapat melihat.
“Kok?” Delia pun merasa heran.
“Karena dari sini, aku bisa menghirup udara segar,” timpalnya, seraya melangkah lebih dulu.
“Eh, eh. Sebentar!” ujar Delia yang seketika tertarik oleh tangan Luis. “Awas jatuh!”
Namun, karena Luis yang sudah mengetahui seluk beluk rumahnya itu, ia tak merasa takut sama sekali. Malah, ia sudah tiba di samping mobil dengan selamat. “Ayo, masuk!” titahnya, kemudian.
“I-iya!” Delia pun sampai tergagap saking takjubnya dengan kelebihan Luis, di balik kekurangannya.