Bab. 13. Cemas Tak Berkesudahan

1513 Kata
Setibanya Billi di rumah sakit tanpa Delia, Adel yang menunggu kakaknya sejak semalam itu pun benar-benar khawatir. Apalagi saat Billi memberikan tas Delia, Adel pun kian cemas. Diraihnya tas kakaknya itu sambil bertanya, “Kak Delia di mana? Kok, tasnya bisa sama Kak Billi? Dia nggak kenapa-kenapa, kan?” Seperti kereta api, pertanyaan Adel beruntun dalam sekali helaan napas. Sementara pandangannya mengedar, melihat ke sekeliling. Delia tidak ada di sana, mau pun di belakang Billi setelah ia mengeceknya sendiri. “Ngomong toh! Kenapa malah diam? Kak Delia di mana? Kenapa tasnya ada sama Kak Billi? Astaga!” cerocosnya kembali. Kali ini sembari memelak pinggang. “Kakak lu baik-baik saja, Del. Untuk jelasnya, lu tanya dia aja langsung nanti. Sebentar lagi, kakak lu pasti datang!” jawabnya, cepat dan irit diiringi pandangan kikuk. Billi menggaruk tengkuk saking bingung harus menjawab apa. “Um ... gue balik dulu lah kalau gitu. Salam buat Ibu, ya.” “Eh, tapi—“ “Sudah. Kakak lu baik-baik aja, kok, Del. Sebentar lagi juga ke sini pasti. Dah, ya. Bye!” sela Billi, sembari melangkah pergi. Tak lupa, ia pun melambaikan tangannya itu sebagai perpisahan. “Ish! Apa coba?” omel Adel. Dia yang masih berdiri di depan pintu ruang ranap inap itu pun menunduk, melihat tas dalam genggamannya. “Tasnya udah balik. Tapi, pemiliknya entah di mana. Kakak di mana, sih? Heran!” Sembari memutar balik tubuhnya dalam posisi sama, Adel pun berniat untuk kembali masuk ke ruang di mana ibunya tengah terbaring lemah di dalam. Namun, baru saja tatapan juga tangannya mencapai pintu, suara Delia terdengar pelan dari belakang. Sontak, Adel kembali berbalik badan. “Loh, Kak? Kakak dari mana aja? Kenapa baru balik? Pake baju kek gitu pula. Ini lagi, Kenapa tas Kakak ada sama Kak Billi?” Lagi, pertanyaan Adel serupa kereta api yang tengah lepas landas. Tanpa bisa direm di tengah jalan. Namun, alih-alih menjawab, Delia justru melewati Adel begitu saja. Ia langsung membuka pintu, kemudian masuk untuk menemui ibunya di dalam. Karena adanya beberapa perawat jaga, Delia pun menganggukkan kepalanya sedikit sembari mengembangkan senyuman tipis pada mereka, sebagai tanda sapa. Barulah setelah itu, ia melesat masuk ke kamar. Ibunya yang sudah tua renta sedang terbaring di ranjang yang sama. Begitu melihat Delia datang, wanita bertubuh tinggi kurus itu menarik kedua belah sudut bibirnya lebar-lebar. Senang, karena akhirnya, salah dua anaknya telah kembali. “Dari mana aja kamu, Nak? Adikmu sampai cemas sepanjang malam tadi. Dia bilang, nomormu tidak bisa dihubungi.” Nada bicara ibunya itu terdengar lemah sekali. Akan tetapi begitu antusias bertanya, karena rasa cemasnya juga. “Ponselku lowbat, Bu. Semalam nggak sempat cas karena aku ketiduran,” timpal Delia, yang jelas-jelas berbohong. “Kesehatan Ibu gimana sekarang? Udah baikkan?” “Alhamdulillah udah agak enakkan, Sayang. Kalau bisa, Ibu juga mau minta pulang. Di sini tuh selain suasananya nggak enak, Ibu nggak betah. Ibu mau tidur di ranjang ibu sendiri. Bukan di ranjang sempit kayak begini,” cerocosnya, mengeluhkan banyak hal. Delia sudah terbiasa, karena itulah yang kerap dikeluhkan sang Ibu tiap kali dirawat di rumah sakit. “Sebentar lagi saja, Bu. Tunggu sampai Ibu benar-benar fit. Dokter pun, pasti akan memberi izin pulang,” jelas Delia. Ia yang sedari datang berdiri pun, kemudian duduk di tepi ranjang. Lantas, diraihnya sebelah tangan sang Ibu. Kemudian menciumnya di sana dengan begitu khidmat. “Ibu sudah sarapan?” “Udah barusan, Nak. Adikmu tuh yang belum. Semalam, dia juga nggak makan.” Sembari menimpali Delia, ibunya pun melirik Adel yang sudah sedari tadi berdiri di belakang anak sulungnya. Membuat Delia seketika menoleh, melihat adiknya itu. “Kamu belum sarapan?” tanyanya. “Belum, Kak.” “Ya, Allah. Dia pasti nungguin aku dari semalam. Aku lupa, kalau dia nggak pegang uang sama sekali,” batinnya, diiringi air mata menggenang di pelupuk. “Ya, sudah. Ayo, kita sarapan. Kakak juga belum sarapan,” lanjutnya, lagi-lagi berbohong. Kemudian, ia kembali melihat ibunya seraya pamit untuk ke kantin dulu. Karena lapar, Adel pun mengiyakan ajakan kakaknya itu. Kemudian, ia berjalan lebih dulu, keluar dari ruangan tersebut masih dengan tas Delia di tangannya. Ia pikir, uang kakaknya itu ada di sana. Tak lama, Delia yang kasihan akan adiknya pun sudah menyusul. Lantas, buru-buru ia menggandeng tangan Adel untuk segera membawanya ke kantin. Namun, alih-alih melangkah maju, Adel justru mematung. Ia ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu sebelum pergi. “Kenapa Kakak berbohong sama Ibu? Sudah jelas kalau ini adalah bukti, di mana Kakak nggak ketiduran dan sampai lupa ngecarger HP. Sebenarnya, Kakak itu dari mana?” tanyanya, penasaran. Karena Delia bersikap tak biasa, Adel rasa, ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya itu. “Nanti aku jelasin. Sekarang, lebih baik kita makan dulu. Kamu lapar, kan?” *** Sembari menikmati sarapan di kantin rumah sakit, Delia pun menceritakan apa yang dialaminya pada Delia, setelah mengajukan syarat agar tak memberitahu ibu mereka. Dari awal sampai akhir. Tak ada yang terlewat, meski barang secuil. Bahkan, perihal Delia yang pernah menabrak seekor anjing pun ia ceritakan pada adiknya itu. Berharap, agar Adel menjadi jauh lebih berhati-hati terhadap orang lain. Karena buktinya, kenal dekat pun tak menjamin seseorang akan bersikap baik. Miris saat mendengarkan cerita kakaknya itu, tanpa sadar Adel menangis. Barulah saat air matanya bercucuran, ia buru-buru menyekanya agar tak terlihat cengeng. Meski begitu, tetap saja, di mata Delia, Adel adalah gadis cengeng yang manja. “Kalau mau nangis, nangis aja. Kan, memang benar, apa yang dialami kakakmu ini begitu menyedihkan. Kenapa harus ditahan?” Delia pun melempar tawa renyah pada adiknya itu. Sehingga membuat Adel langsung memeluk, juga menciumi Delia. “Ya, memang sedih. Aku kasihan juga. Karena demi aku sama ibu, Kakak harus bekerja lebih keras lagi. Tapi, aku nggak nau dikata adik yang cengeng. Alu mau jadi adik yang kuat seperti kakak. Karena itu, seharusnya aku berhenti sekolah aja, Kak. Terus cari kerja,” cerocosnya, panjang lebar. “Aih!” Delia pun langsung menoyor kepala adiknya itu sampai menjauhkan mereka yang berpelukan. “Sekali lagi ngomong begitu, tak pites mulutmu! Kerja itu memang penting untuk bisa bertahan hidup. Tapi, sekolah juga jauh lebih penting.” “Galaknya!” timpal Adel, yang seketika mencipta tawa renyah di antara mereka. Obrolan bahkan terus berlanjut. Mereka membahas banyak hal, perihal kehidupan yang entah akan mereka nikmati atau tidak di masa depan. “Dah, dah, dah. Ngobrol mulu kita. Kapan selesainya ini makan? Perutku udah kenyang pula ini. Duh ... begah, dah!” omel Delia. Dia yang sudah sarapan roti, kemudian kembali sarapan kopi juga gorengan, seketika merasa perutnya hampir meledak. *** Sekembalinya dari rumah sakit, Billi yang sejak semalam merasa bersalah itu pun tak henti-henti memikirkan Delia. Berulang kali ia memukul kening dengan kepalan tangannya sendiri. Berulang kali pula ia menonjokkan kepalan tangannya ke pintu kaca mobil, saat tak juga mendapat cara yang tepat untuk meminta maaf. Apakah dengan menemui Delia langsung, atau menghubungi temannya itu lewat chat dan telepon. Yang membuat bingung, Billi yakin kalau Delia tak kan memberi maaf. Tapi, dirinya tak kan merasa tenang sebelum melakukannya. “Astaga! Apa yang harus gue lakuin setelah ini coba?” umpatnya, kali ini sembari memukul setir. Sementara pandangannya, tetap fokus pada jalanan di hadapan. Billi berdecak kesal pada dirinya sendiri, yang sudah dengan bodohnya melakukan apa yang biasa ia lakukan pada gadis lain. Ia bahkan mengacak-acak rambut berjambulnya sampai berantakan. Diliriknya kaca spion depan. Billi menatap pantulan wajahnya sendiri di sana. Sekejap, karena harus kembali fokus pada laju mobil. Namun, tatapannya barusan berhasil membuat ia semakin geram pada dirinya sendiri. “Cuman gara-gara melihat kemolekan tubuh Delia, gue sampai kehilangan akal. Bahkan, sampai menyamaratakan Delia dengan gadis yang kerap rela menyerahkan harga dirinya demi sebuah job. Tuhan!” umpatnya lagi. Kali ini sembari menginjak rek kuat-kuat, karena Billi melihat adanya kucing yang tiba-tiba menyeberang. “Astaga! Hampir saja.” Karena syok, Billi pun tak melanjutkan perjalanannya. Ia menepi barang sebentar, setelah satu dua kali klakson mobil di belakangnya berbunyi. Lantas ia bersandar, sembari menyisir dan meremas rambutnya dengan kedua tangan. Sementara itu, kedua matanya pun terpejam kuat. Sebab ia, sebelum melanjutkan perjalanannya, ingin agar kejadian semalam enyah dari salam pikiran. Sayangnya, beberapa saat menenangkan hati juga pikiran, tak membuat Billi segera melupakan kejadian semalam. Yang ada justru kian terngiang, dibarengi cacian kemurkaan yang keluar dari mulut Delia. Sadar kalau dirinya tengah berhalusinasi, Billi pun segera membuka mata. 8a menggeleng-geleng kuat, kemudian menarik dan membuang napas panjang perlahan-lahan. Dan, itu dilakukannya berulang kali sampai merasa jauh lebih baik. Detik berikutnya, saat ponselnya tiba-tiba berdering, Billi yang tengah terbengong itu pun terenyak. Ia sedikit terkejut, meski setelahnya langsung meraih benda pipih itu dari kok samping. “Pak Bos?” batinnya, sebelum kemudian membuka dan membaca chat tersebut. “Kontrak dibatalkan! Loh?” lanjutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. “Kontrak dibatalkan? Ya, nggak bisa gitu, dong! Gue udah capek-capek kerja juga!” umpatnya, seraya kemudian menekan tombol hijau. Billi pikir, dirinya harus bicara secara langsung. Namun, Luis tak mengangkat teleponnya sama sekali meski Billi terus mencoba. Karena ini penting, lelaki yang sudah rapi sejak pagi itu pun langsung menyalakan mesin mobilnya lagi. Kemudian, mobilnya ia lajukan menuju kantor Luis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN