Bab. 14. Tawaran Pekerjaan

1903 Kata
“Biar tahu rasa!” umpat Luis, setelah mendengarkan ponselnya yang tergeletak di meja kerja berdering lagi dan lagi. “Si Billi, kali-kali memang harus diberi pelajaran.” Sementara itu, sopirnya yang sekaligus asistennya itu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Sebagai orang yang menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita, ia setuju dengan apa yang dikatakan bosnya itu. “Tapi, menurutku, si Billi bakal ke sini, Bos.” Firman pun akhirnya berkomentar. Karena ia merasa benar-benar yakin, fotografer yang disewa bosnya itu pasti akan segera datang. “Pasti! Aku pikir juga begitu. Tapi biarkan saja. Biar nanti kita dengarkan, apa yang akan dia katakan.” Diiringi seringai sinis, Luis pun menarik kedua belah sudut bibirnya itu sampai lebar. Kemudian ia meraba meja, guna mencari ponselnya itu di sana sebelum kemudian memasukkan ke dalam jas. “Setuju. Kalau begitu, apakah mau sekalian aku buatkan kopi, Bos?” tanya Firman, setelah tak lagi ada yang harus dibahas. “Bolehlah. Jangan lupa, pake gulanya sedikit aja, ya.” Mengangguk, Firman pun seketika langsung keluar meninggalkan ruangan. Karena pantrinya ada di ujung ruang lantai bawah, Firman pun segera menuruni anak tangga yang sedikit mengular. Langkahnya tergesa, sampai membuat ia tersengal. Padahal, jika ingin, Firman bisa naik lift untuk sampai di bawah. Namun, tiba di bawah, ia justru bertemu salah satu karyawan yang katanya ingin menemui bos mereka. Namanya Melati. Dia adalah karyawan lama, yang saat melamar masih berstatus gadis, sekarang sudah menjadi istri orang. Tak hanya itu, di bidangnya, Melati cukup berprestasi karena kegigihan juga kejujurannya. “Ada keperluan apa memangnya?” tanya Firman, memastikan sebelum karyawan bosnya itu dapat menemui Luis. Meski sebenarnya ia tak perlu tahu. Karena Firman adalah orang kepercayaan Luis, karyawan wanita yang tengah hamil muda itu pun mengatakan niatnya. Bahwa, dirinya sudah memantapkan diri untuk berhenti, demi mengurus sang buah hati sedari masih dalam kandungan. Sebab, sejak beberapa minggu terakhir pula, perutnya kerap terasa sakit karena terlalu sering berkendara jauh. “Ya, sudah. Kalau begitu naik sajalah. Aku mau buatkan si Bos kopi dulu,” timpal Firman. Ia yang memang sedang buru-buru itu pun, kemudian meninggalkan karyawan bosnya itu lebih dulu. “Padahal, sekarang lagi susah-susahnya cari pekerjaan yang giat juga jujur. Hm ... semoga saja, nanti ada pengganti yang jauh lebih baik,” batinnya. Lantas, Melati pun segera pergi untuk menaiki lift yang akan membawanya ke atas. Dia sedikit gugup dan takut kalau pengunduran dirinya akan dipersulit, atau mungkin ditolak. Namun, karena kemantapannya, Melati pun akhirnya sampai di depan pintu kantor Luis tanpa kendala. “Assalamualaikum, Pak Bos. Permisi!” katanya, diiringi ketukan pintu berulang. “Saya Melati.” “Masuk!” timpal Luis dari dalam. Dia yang masih mengharapkannya kedatangan Billi pun seketika mempersilakan karyawannya itu untuk segera masuk. Lantas, ia menunggu dengan menumpukan kedua tangan yang saling bertaut di atas meja, sambil memasang senyum. Pintu terbuka. Dan, seorang karyawan pun masuk dengan langkah ragu. Awalnya, ia tersenyum kikuk seraya mengucapkan selamat pagi. Luis yang mendengarnya pun membalas apa yang dikatakan Melati. Kemudian, ia menyuruh karyawannya itu untuk duduk. “Ada perlu apa?” tanya Luis, tanpa basa-basi. Ia yang sedang menunggu kedatangan seseorang pun takut kalau, Billi akan segera tiba. “S-saya ... mau mengajukan surat pengunduran diri, Pak. Ini!” timpalnya, seraya menyodorkan selembar amplop yang di dalamnya berisi surat pernyataan pengunduran diri. “Loh, kenapa?” Ekspresi Luis yang semula tenang, sekarang berubah keheranan. Sebagai seorang bos di salah satu perusahaan ternama di kotanya itu, baru kali ini ia mendapati karyawannya mengundurkan diri. Biasanya, kalau bukan karena dipecat, beberapa di antara mereka hanya mengambil cuti hamil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya cuman merasa membutuhkan banyak waktu saja untuk mengurus anak nantinya. Lagi pula, ini anak pertama saya, kan. Saya ingin memberikan yang terbaik untuknya. Terlebih masalah waktu dan kasih sayang. Saya juga udah merasa puas kerja di sini. Alhamdulillah,” katanya, dengan begitu mantap. Melati yang sudah lebih dari empat tahun bekerja di sana itu pun mengedarkan pandangan sebentar. Ia pikir, ia akan sangat merindukan suasana bekerja. Luis yang mendengarnya pun tak bisa berkata-kata selain mengangguk, mengerti dengan apa yang dirasakan karyawannya itu. Sebab dulu, saat istrinya mengandung Jenny, ibu dari anaknya itu pun mengambil keputusan yang sangat besar. Yaitu, berhenti dari pekerjaannya yang ia jalani sedari masih gadis. “Ya, sudah nggak apa-apa. Tapi, berhubung kerjamu sangat bagus, pintu perusahaan ini akan selalu terbuka jika nanti kamu berubah pikiran dan mau bekerja lagi,” kata Luis setelah beberapa saat terdiam sembari mengangguk-angguk. Senyum merekah seketika terpatri dari bibir Melati. Dia yang awalnya gugup karena takut tak diberi izin mengundurkan diri, seketika berubah ceria saking bahagia. “Alhamdulillah. Makasih, Pak. Makasih atas kepercayaannya terhadap saya. Um, kalau begitu ... saya permisi dulu, Pak,” timpal Melati dengan begitu antusias. Lantas, setelah membungkukkan sedikit tubuhnya, ia pun meninggalkan ruangan. Dan, tiba-tiba saja, Luis ingat akan Delia yang sedang membutuhkan pekerjaan. *** Dengan langkah tergesa-gesa, Billi yang baru saja tiba di halaman kantor Luis pun buru-buru masuk ke lobi. Tanpa menanyakan perihal ada dan tidak adanya Luis di dalam, Billi langsung melewati meja resepsionis. Langkah kakinya lift yang akan membawanya ke lantai atas, di mana ruang Luis berada. Tak hanya ingin menanyakan perihal apa yang membuat Luis membatalkan kontrak, Billi pun ingin meracau karena mengira kalau kejadian semalam lah yang membuat Luis berubah pikiran. Padahal, kejadian semalam seharusnya tak disangkut pautkan dengan masalah pekerjaan. Pikirnya. Sesampainya di depan lift, Billi pun tak menunda-nunda apa yang ditujukannya lagi. Ia langsung membuka pintu tersebut dengan sekali tekan. Kemudian masuk dan kembali menekan satu tombol di mana lift tersebut akan membawanya ke ruang Luis. Di dalam, Billi sempat kembali mengecek ponsel. Ia pikir, barangkali Luis akan membalas panggilannya. Namun, semua itu hanya garap belaka. Karena pada kenyataannya, nama Luis tak terdapat di urutan panggilan masuk. “Wah ... benar-benar ngajak ribut nih Bos satu. Belum tahu dia, kalau seorang Billi udah ngamuk!” rutuknya dalam hati. Sementara kedua tangannya itu mengepal kuat di depan d**a, sembari meninju-ninjukannya satu sama lain. Ia amat tak sabar untuk segera bertemu dengan Luis. “Padahal, apa pedulinya dia sama si Delia. Mereka nggak saling kenal, kan? Perasaan, Luis tahu kalau gue udah biasa main sama model setelah pemotretan. Lalu, kenapa reaksinya beda sekarang?” Billi masih membatin. Karena ia benar-benar merasa tak habis pikir, juga tak percaya. Luis membatalkan kontrak, pasti karena hal lain. “Tapi apa?” gumamnya. Kali ini sembari melangkah keluar dari lift. Sebab Billi sudah sampai dalam hitungan menit. Kembali langkahnya itu tergesa-gesa. Billi langsung menuju ruang Luis. Bahkan, begitu sampai, dirinya langsung masuk tanpa mengetuk pintu ataupun mengucap terlebih dulu. Pintu tersebut ia terobos sampai akhirnya hanya ada mereka berdua di dalam. Meski sedang menunggu kehadiran Billi, tetap saja, Luis merasa sedikit kaget karena kedatangan Billi yang begitu tiba-tiba sekali. Ia yang semula tengah bersandar di sandaran kursi sambil terpejam, seketika membuka mata. “Siapa?” tanyanya, sembari mengernyitkan wajah. Sebelah alis tebalnya bahkan terangkat. “Billi, Bos!” Billi pun duduk di kursi tanpa menunggu perintah. Jantungnya berdebar amat keras karena emosi. Tapi, di hadapan Luis, tiba-tiba saja luapan yang hendak ia keluarkan hanya menggebu-gebu saja. “Oh. Ada apa?” tanya Luis, pura-pura tak mengetahui tujuan Billi yang sudah pasti akan menanyakan perihal batalnya kontrak. “Soal kontrak kerja, kenapa dibatalin, Bos? Gue kan udah kerjain semuanya. Dan, tinggal beberapa persen lagi, semuanya selesai.” Billi pun mulai memprotes pembatalan kontrak kerjanya, dengan menjelaskan seberapa kerja kerasnya ia dalam bekerja. “Nggak apa-apa. Sebagai ganti kerja kerasmu, nanti biar gue bayar setengah dari upah yang sudah dijanjikan. Yang jelas, kontrak kita yang kemarin itu batal. Gue udah join sama fotografer yang baru juga tadi. Sorry!” timpal Luis, tanpa merasa bersalah sama sekali. Yang ada, dia justru merasa puas. “Lho, ya nggak bisa gitu, Bos. Gue mohon lah, jangan dibatalin. Atau, setidaknya kasih gue alasan, kenapa kontraknya dibatalkan. Apa karena kejadian semalam? Ya, Tuhan. Itu karena gue lepas kontrol. Mabuk kebanyakan,” cerocos Billi seperti tanpa rem. Ia terus saja bicara banyak. “Itu urusan lu. Gue nggak masalah. Tapi memang, Delia lah yang jadi penyebabnya. Dia bukan seorang model, kan? Kenapa lu pake dia buat model produk-produk gue? Dia, jelas gada bakat! Hasil pemotretan kemarin, asisten gue bilang amat sangat jelek!” jelas Luis, berbohong. Padahal, sebenarnya, ia suka setelah Firman memberitahunya perihal pose-pose Delia sebagai model produknya. Tapi, karena kejadian semalam lah Luis membatalkan kontrak. Ia tak ingin kalau Delia kembali bekerja sebagai model. “Ya, Tuhan. Dia emang baru jadi model, Bos. Tapi, bakat dalam dirinya itu tinggi sekali. Dia ada potensi dalam dunia permodelan.” Billi kembali membujuk Luis. ”Andai Bos bisa melihatnya langsung. Gue yakin, Bos pasti suka!” “Gue lebih percaya dengan apa yang dijelaskan asisten gue, ketimbang lu. Jadi, sekali lagi, sorry!” “Bos, kasihlah kesempatan sekali lagi,” pinta Billi. “Sorry!” timpal Luis, tak bisa diganggu gugat. Lantas, ia pun menyuruh Billi untuk segera keluar dengan kata-kata halus, tetapi tegas dan datar. *** Merasa lega dan puas setelah berhasil memutus kerja sama dengan Billi, Luis pun melemaskan tubuhnya di kursi. Ia kembali menyandarkan diri sembari menutup mata, juga menghela dan membuang napas kasar. Namun, baru saja ia hendak berdiri dari duduknya itu, Firman datang membawa kopi. “Aku liat si Billi barusan. Dia tampak kesal, Bos. Apa dia baru saja keluar dari sini?” tanyanya, seketika. Lantas, sopir sekaligus sekretaris Luis itu pun meletakkan kopi yang dibawanya di meja kerja Luis. “Ya,” timpal Luis sembari menarik diri dari sandaran kursi. Sebelah dari sudut bibirnya itu terukir, sehingga membentuk seringai sinis. “Omong-omong, Melati juga dari sini barusan. Dia minta izin keluar dari pekerjaan karena kehamilannya.” “Aku tahu, Bos. Tadi ketemu dia di bawah soalnya. Sayang sekali, ya. Padahal, dia itu salah satu pekerjaan paling giat.” Dihidunya aroma kopi yang ia bawa untuk dirinya itu. Kemudian ia seruput dari bibir gelas barang sedikit. Mendengar itu Luis mengangguk-angguk. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Firman barusan. “Kamu benar,” katanya, “tapi ... aku pikir ada bagusnya dia keluar.” “Loh, kenapa, Bos?” Firman yang baru saja menyeruput kopinya lagi pun langsung merasa heran. “Delia butuh kerjaan, Fir. Aku rasa dia bisa masuk ke kantor kita.” “Seriusan, Bos?” Firman kembali memastikan ucapan bosnya itu, karena tak percaya. Apalagi mengingat Delia yang baru saja dikenal oleh mereka. “Ya, serius. Tadi pagi dia ada ngomong soalnya. Perihal dia yang jadi modelnya si Billi kan karena ia lagi butuh pekerjaan mendesak. Terlebih, tahu sendiri sekarang ibunya lagi dirawat. Aku kasihan aja, sih. Dan berencana buat nawarin dia kerja di sini.” “Terus, kapan Bos mau kasih tahu dia?” “Secepatnya! Kalau bisa sekarang. Nomornya sudah kamu save, kan, tadi?” tanya Luis kembali. Tadi, sewaktu di perjalanan menuju rumah sakit, Luis memang sempat meminta nomor Delia. Dan, ia menyuruh Firman untuk mencatatnya. “Sudah, Bos. Sebentar, biar aku hubungi dia dulu,” timpalnya. Segera Firman pun merogoh ponsel dari saku celananya. Lantas mencari nomor dengan nama Delia. Ketemu. “Apa yang harus aku katakan terlebih dulu, Bos?” “Suruh dia datang ke sini ajalah, Fir. Biar enak ngobrolnya kalau langsung. Syukur-syukur kalau dia mau. Kalau nggak, ya bukan salah kita.” Luis mengetuk-ngetuk jemarinya di meja saat bicara. Ia merasa sedikit cemas dengan apa yang baru saja diucapkannya barusan. Sebab, ia harap Delia mau masuk untuk bekerja di kantornya itu agar mereka bisa lebih dekat lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN