Bab. 15. Binar di Kedua Matanya

1721 Kata
Jangan kira, sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup, kemudian dapat dilupakan begitu saja. Tidak. Semua itu akan membekas, bahkan seolah tak mau lepas dari dalam ingatan. Begitu juga dengan apa yang sudah dialami Delia malam kemarin. Hal itu membuat ia lebih banyak diam, bahkan menghindar dari keramaian. Padahal, suasana di rumah sakit ramainya tak dapat dielakkan kecuali saat larut menjelang. Di taman yang tak jauh dari ruang rawat ibunya, Delia duduk seorang diri dengan headset yang menyalurkan beberapa lagu kesukaan sebagai teman. Sesekali ia menoleh, melihat lalu-lalang orang-orang yang datang silih berganti. Kadang perawat, kadang penunggu sepertinya, dan tak jarang malah dokter yang baru saja akan merawat pasien-pasiennya. Karena haus, Delia tenggak air mineral dalam botol yang ia bawa. Kemudian kembali ia simpan di sisinya tanpa seucap kata. Ia hanya sedikit mengangguk-angguk, mengikuti irama musik yang didengarnya sedari tadi. Meski sesekali air matanya justru menggenang, sebab terpikir dengan kejadian semalam. Di mana ia, hampir saja menjadi mangsa empuk teman sendiri. Namun, lama setelah dirinya duduk bersila di bawah pohon beringin nan rindang, lagu yang diputarnya berubah menjadi nada panggilan. Seseorang menelepon, sehingga membuat ia buru-buru melihat layar ponsel. Nomor tidak dikenal. “Siapa?” batinnya. Karena dikira adanya sesuatu yang penting barangkali, Delia pun mengangkatnya. Ia tak berucap. Sebab lebih memilih menunggu seseorang di seberang teleponnya itu bicara lebih dulu. “Hallo?” Seseorang akhirnya benar-benar menyapa lebih dulu. Tetapi dari suara, Delia tak dapat mengenal siapa yang meneleponnya itu. Ia kemudian balas menyapa dengan suara parau dan lesu. “Delia, kan?” Lelaki di seberang telepon itu langsung menyebut nama Delia dengan tepat. Sambil mengangguk, Delia pun mengiyakannya. Bahwa, ia memang Delia. Meski, bisa jadi bukan Delia yang dimaksud orang dalam sambungan telepon. “Aku Firman, ingat?” Hening. Karena sedari tadi terdiam seorang diri, dengan hanya ditemani perasaan sedih dan malu atas perbuatan Billi, otaknya menjadi susah sinkron. Ia sedikit lambat saat mengingat siapa orang yang bernama Firman ini. “Lupa? Baru juga tadi pagi kita ketemu,” katanya lagi, seraya berusaha mengingatkan Delia akan dirinya. “Aih ... ini, kamu?” Delia yang semula terbengong heran, akhirnya tertawa tertahan sembari menangkup mulut dengan sebelah tangan. “Ya, maaf ... aku lupa. Tapi, ada apa, nih?” “Aku ada kerjaan. Mau?” tanya Firman, terdengar antusias. Lebih antusias lagi karena matanya menangkap binar senang di kedua kelopak mata Luis. Bosnya itu tampak senang, sejak Delia mengangkat telepon. “Wah, kerja apa, nih? Kebetulan, aku emang lagi butuh kerjaan,” ungkap Delia, yang kemudian berubah menjadi lebih semangat. Ia pikir, seandainya pekerjaan yang ditawarkan Firman cocok, ia dapat melunasi hutangnya pada Billi. Mungkin, Delia pun akan semakin mudah melupakan kejadian buruk kemarin, dengan kesibukan. “Kalau bisa, lebih baik kamu datang ke sini, Del. Yang jelas, kamu pasti nyaman dengan pekerjaan ini.” Firman kembali menjelaskan. Karena ia benar-benar merasa yakin dengan apa yang diucapkannya itu. “Um, gimana, ya. Aku, kan lagi jagain Ibu.” “Sebentar aja, kan, bisa? Sekarang baru jam sepuluh loh. Lepas Dzuhur, kamu udah bisa ada di rumah sakit lagi. Lagian, menurutku, ini penting. Karena kamu harus melihat pekerjaannya sendiri. Baru, deh ... kamu bisa putusin. Mau apa nggak kerja di sini. Gitu.” “Ya, sudah. Aku harus pergi ke mana sekarang?” Akhirnya, Delia pun menyanggupi tawaran Firman untuk datang terlebih dulu ke tempat kerjanya nanti. “Gitu, dong. Aku share lock, ya.” “Baiklah. Aku langsung berangkat, setelah izin sama ibu dulu tapi.” “Ok! Aku tunggu,” timpal Firman, sebagai kata terakhir sebelum panggilannya berakhir. Dan, selepas itu, ia pun memberitahu Luis tentang kesanggupan Delia untuk datang. Seketika, binar di kedua mata Luis pun kian menunjukkan kebahagiaan. *** Setelah meminta izin pada ibu juga adiknya, Delia yang tak sabar ingin segera mengetahui pekerjaan yang ditawarkan Firman pun akhirnya tiba di depan sebuah perkantoran besar dan mewah. Delia yang baru saja turun dari angkot pun, seketika mengedarkan pandangan dengan mulut menganga. Ia menggeleng, saking takjub dengan apa yang dilihatnya. Namun, sejurus kemudian bibirnya menyeringai lebar karena senang. Dulu, saat dirinya masih suduk di bangku SMA, kerja di kantor gedean adalah impiannya. Akan tetapi, karena nasib membawanya menjadi seorang guru, mau tak mau, Delia pun menjalaninya dengan suka rela. Ingat akan tujuan datang, Delia pun menelepon Firman. Ia ingin memberitahu sopir dari Luis tentang dirimu yang sudah sampai di sana. Satu kali, teleponnya tak diangkat. Sehingga ia kembali menelepon ulang. Namun, Firman tetap tak merespons. “Aduh, ini gimana?” batinnya, kebingungan. Karena langsung merasa cemas, Delia pun celingukan. “Apa mungkin, si Firman ngerjain aku? Aih!” lanjutnya, seraya memeluk diri. Ingatan tentang apa yang dilakukan Billi, memang membuatnya lebih was-was dan tak percaya diri. Delia takut, kakau dirinya tiba-tiba dikelilingi penjahat. Hanya saja, saat Delia hendak memutuskan untuk kembali, ponselnya berdering nyaring. Firman yang meneleponnya. Sehingga membuat Delia langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo!” sapanya, buru-buru. Sembari mengedarkan pandangan, Delia pun mengomel. “Kamu, kok nggak angkat teleponku? Ini aku dah sampai. Jamu nggak bohong, kan? Awas saja kalau bohong!” “Aih?! Sabar. Barusan aku tinggal ponselnya ke kamar mandi. Santai aja, sih. Ya, masa aku ngerjain kamu? Gada kerjaan banget. Tapi ya, sudah kalau kamu dah sampai depan. Tunggu aku di sana, ya.” Firman langsung menahan tawa, karena suara Delia benar-benar terdengar takut dan cemas. “Ya, sudah. Buruan!” timpal Delia, seraya menutup telepon setelahnya. Lantas, ia pun mencari tempat untuk duduk, sementara menunggu Firman datang. Delia pikir, karena kantor yang didatanginya adalah kantor yang sangat luas, pasti ... butuh waktu lama untuk Firman sampai di depan. Namun, baru juga dua menit Delia duduk di salah satu kursi di depan kantor, Firman datang dari belakangnya. “Loh?!” Delia langsung terkejut. Bahkan, ia sampai menganga barang sebentar. “Kenapa? Ada yang salah?” Firman pun langsung bergidik, dan memutar tubuh. Tidak ada yang aneh padahal. “Bukan. Tapi, kok cepet? Kantor ini luasnya udah kek tempat penerbangan. Pantasnya, kamu pasti lama untuk sampai di sini,” timpal Delia yang masih saja tam paham karena otaknya yang lambat berpikir. “Itu kalau ruanganku di ujung sana. La, kalau ruanganku di belakang sini, sekejap juga sampai, kan?” “Iya, sih.” Delia pun langsung menyengir. “Ya, sudah. Ayo ... ikut aku!” “Ke mana?” “Ke pelaminan!” “Aih?” Delia langsung mengernyitkan. “Ya, ke dalam dong. Mau tahu kerja apa, kan?” Firman pun tertawa kecil. *** “Gimana, mau apa nggak?” Setelah mengajak Delia berkeliling sembari memberitahu setiap kegunaan setiap tempat juga di mana posisinya akan bekerja, Firman yang diutus Luis untuk tidak memberitahu keberadaannya terlebih dulu itu pun bertanya lagi. Ia ingin tahu sekarang juga, agar kalau Delia menolak, ia bisa mencari pekerja baru secepatnya. Dan karena bekerja di sebuah perusahaan besar adalah keinginannya, terlebih duduk di hadapan sebuah laptop sebagai pekerjaannya nanti, Delia pun langsung mengangguk sebagai tanda setuju. Ia yang entah harus bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya itu pun hanya menciptakan seringai haru bercampur senang di wajahnya. Lantas, ucapan terima kasih pun beruntun seperti tanpa rem. Firman yang merasa ikut senang pun membalas ucapan terima kasih dari karyawan barunya itu, meski di dalam hati ia bergumam, kepada Luislah Delia harus mengucapkan hal itu. Karena sebenarnya, otak dibalik penawaran pekerjaan untuk Delia adalah Luis yang tak lain adalah bosnya. Tiba-tiba terpikir soal Firman yang tak lain adalah sopirnya Luis, Delia pun bertanya-tanya dalam hatinya. “Apa mungkin, ini kantor miliknya Luis? Atau ... Luis pun salah satu dari karyawan di sini? Aih, mau nanya kok malu. Ahaha!” “Kenapa?” tanya Firman yang sekilas memperhatikan Delia. Ia yakin, gadis di hadapannya itu sedang memikirkan sesuatu. “Ada yang kurang jelas?” lanjutnya. “Oh, nggak. Ini, aku cuman bingung soal kapan aku bisa masuk kerja?” tanya Delia, pada akhirnya. Dia memang ingin menanyakan hal itu sebelumnya. “Besok lah. Jangan lupa pake pakaian rapi dan sopan,” goda Firman, karena pakaian yang dikenakan Delia sekarang adalah pakaian yang cocok digunakan untuk acara dinner. “Haish! Ya, iyalah. Masa, aku kerja pake baju begini?” timpal gadis di hadapan Firman itu sembari menjawil ujung gaunnya sedikit. “Terus, sekarang aku balik?” “Ya, terserah. Mau nginep di sini juga kagak bakal ada yang larang. Paling-paling, kamu bobok sama Pak Satpam.” Lagi-lagi, kata-kata candaan terlontar dari bibir merah kehitaman milik Firman. Ia yang memang senang bercanda, merasa puas jika sudah menggoda lawan bicara. Hanya saja, itu ia lakukan jika di belakang Luis. Karena kalau di hadapan bosnya, Firman wajib bersikap tegas. Delia yang mendengar candaannya pun langsung mengernyit sembari menahan tawa. “Ada-ada saja. Ya, masa aku nginep?” timpalnya. “Ya, kan kali kata aku juga. Misal, kalau kamu mau main-main di sini dulu juga nggak apa-apa. Aku nggak bisa nemenin tapi. Mau ngopi soalnya.” Di hadapan Delia, Firman yang berdiri sembari menyandarkan bokongnya ke meja kerja untuk Delia pun melihat jam di pergelangan tangan. Sebentar lagi, waktu akan memasuki jam istirahat. Seluruh karyawan yang bekerja untuk Luis ini, sudah pasti akan menyerbu kantin. “Atau, kamu mau makan siang dulu? Di sana ada kantin, kita bisa makan apa pun yang kita mau,” tambah Firman, sembari menunjuk ke belakangnya. Letak kantin memang persis ada di belakang gedung yang ia tempati saat ini. “Kamu yang bayar? Mau, sih, kalau iya.” Akhirnya, setelah sedari tadi merasa canggung, Delia pun mampu melontarkan guyonan nyata. Karena ia memang mengharapkan traktiran. Secara, uang sisa yang ia punya tak mungkin cukup untuk biaya seminggu ke depan saja. “Boleh. Itung-itung untuk merayakan pekerjaan barumu, kan?” Firman pun akhirnya menarik diri dari berdiri sambil bersandarnya. Kemudian berdiri tegak di hadapan Delia yang sudah merasa sedikit pegal itu. Setelah berkeliling, keduanya memang tak duduk sedikit pun saking asyik mengobrol. “Betul itu. Ahaha!” timpal Delia, dengan diiringi tawa renyah. Tawa yang untuk pertama kali kembali muncul, setelah kejadian semalam. Dan, dalam hati ia sematkan harap, agar kebahagiaannya dapat menutup kenangan pahit yang ditorehkan Billi. “Ya, sudah. Kalau gitu mah ayo!” ajak Firman. Dia yang tak sabar ingin menghidu aroma kopi, seketika berjalan lebih dulu. Di belakangnya, Delia ikut berjalan dengan langkah riang. Hari ini, setelah dirinya merasa tertolong oleh Luis, Tuhan pun mengirim Firman sebagai penolong kedua. Tanpa Delia tahu, Luis lah yang ada di balik itu semua. Firman, hanya sebagai utusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN