Bab. 16. Terhina

1685 Kata
Merasa terhina oleh pembatalan kontrak yang dilakukan Luis secara sepihak, Billi benar-benar marah setibanya di rumah. Ia langsung membanting pintu setelah membukanya, kemudian menendang apa-apa yang ia lewati sampai membuat beberapa barang jatuh dan pecah. Guci salah satunya. Tapi, ia tak peduli. Tak hanya itu, Billi yang baru saja tiba di kamarnya pun langsung melempar diri ke ranjang. Dari mulutnya keluar erangan juga sumpah serapah. Bahkan, segala jenis hewan ia lontarkan sebagai pelampiasan. Terlebih, ini adalah kali pertamanya mendapat pembatalan kontrak setelah pekerjaan hampir selesai. Dan, itu bukan karena uang yang diterimanya hanya setengah dari perjanjian. Melainkan harga diri juga kerja kerasnya yang terasa diinjak dan diabaikan. Billi pikir, Luis pun sudah menyembunyikan alasan pembatalan kontrak yang sebenarnya. “Gue yakin, dia batalin kontrak kerja karena kejadian semalam. Tapi kenapa coba? Toh, selama ini dia tahu tentang gue. Karena bukan hanya Delia yang sudi tidur sama gue, demi sebuah job!” Sembari meremas rambut sedikit gondrongnya, Billi meracau. Ia yang masih tak terima dengan pembatalan kontrak itu pun langsung merasa pusing sendiri. Pikirnya, ia harus melampiaskan itu semua agar bisa terbebas dari rasa pening. Segera Billi pun bangkit dari tidur telentangnya. Kemudian ia langsung berjalan menuju rak, di mana di dalamnya terdapat beberapa botol minuman penghapus segala pening. Billi mengambil satu botol. Lantas ia buka dengan alat yang juga tersedia di sana. Dan saat dituang ke dalam gelas yang Billi ambil dari rak sebelah, suara juga busa yang seketika muncul di permukaan minuman tersebut menciptakan sensasi luar biasa di hati Billi. Sambil tersenyum sinis, diangkatnya gelas yang Billi pegang sampai setinggi wajahnya sendiri. Kemudian ia berkata cheers untuk dirinya sendiri, sebelum menenggak minuman tersebut sampai tak tersisa. Seolah tak cukup puas, tuangan kedua dan seterusnya pun lagi-lagi mencipta sensasi tersendiri. Sehingga membuat Billi yang awalnya pening, sekarang semakin pening. Namun, pentingnya kali ini bukan karena amarah tertahan. Melainkan karena pengaruh dari minuman tersebut. Gelas yang Billi pakai ia letakkan dengan kasar di meja. Karena sudah merasa lemas dengan beberapa gelas penuh minuman beralkohol tersebut, Billi pun hendak kembali tidur di ranjang empuknya. Namun, belum juga melangkah ... tubuhnya terlanjur ambruk di lantai. “A-aku ... tak terima dengan penghinaan ini,” gumamnya, sebelum benar-benar tak sadarkan diri. Hening. Ruang berdiameter empat itu pun sunyi dari suara apa pun, selain detak yang ditimbulkan jam yang terus berputar di dinding. Tepatnya, di atas kepala ranjang. *** Benar kata Firman saat Delia mengikutinya ke kantin, lima menit kemudian, ratusan karyawan pun tampak silih berganti memesan makanan. Banyak di antaranya duduk di kursi kantin. Tak sedikit pula yang membawa makan siangnya itu kembali ke meja kerja. Bukan tanpa alasan. Itu mereka lakukan, biasanya karena tumpukkan pekerjaan. Sehingga saat makan, mereka masih harus bekerja. Di antara para karyawan, Delia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Firman. Di mejanya sudah ada seporsi bakso, juga mie ayam sebagai pesanan yang baru saja datang. Tak lupa, es teh manis dan secangkir kopi pun menjadi pelengkap makan siang mereka. Delia sangat menikmatinya. Terlebih, bakso yang ia pesan rasanya lebih dari kata enak. Melainkan nikmat dan pas dilidah. Terlebih, sensasi pedas dan asam yang ia suka. Kian tergiur dirinya untuk segera menghabiskan baksonya itu. Namun, karena jaim, Delia pun sedikit terlihat hati-hati saat melahap baksonya itu. Ia tak mau terlihat seperti gadis rakus saat menikmati hidangan. Padahal, biasanya, Delia kerap makan seperti orang kelaparan. Hanya saja, sebagai seorang lelaki yang memiliki banyak pengalaman, Firman tahu kalau gadis di hadapannya itu sedang menjaga image. Karena terlihat jelas pula dari ekspresi Delia tiap kali melahap makanannya. Di wajahnya, tersirat perasaan kurang puas dengan cara makannya. “Mau nambah lagi nggak? Rasanya, isi dompetku tak kan jebol, jika hanya menambah seporsi lagi,” tanya Firman, yang sudah lebih dulu menghabiskan makan siangnya. Sekarang, ia tinggal menikmati kopinya. “Mau, sih. Tapi bukan untukku kumakan.” Setelah menelan kunyahannya, Delia pun menimpali Firman sambil menyengir lebar. “Loh?! Ya, masa buat dibuang?” Firman langsung menggeleng. Merasa tidak beres dengan otak Delia. “Benar-benar nih cewek satu!” lanjutnya. “Lha, ya bukan buat dibuang juga. Heran!” timpal Delia. Ia pun ikut menggeleng. Sebab merasa tak beres juga dengan otak Firman. “Ya, terus?” Firman langsung menunggu jawaban. Barangkali, jawaban Delia kali ini berupa candaan. Ia pikir, Delia hanya sedang bicara omong-kosong. Namun, perkiraannya ternyata salah. Sebab Delia, seketika memberitahunya perihal adik yang sekarang sudah pasti belum makan. “Kamu punya adik?” Tubuh Firman pun seketika langsung mencondong ke arah Delia di hadapannya. Ia juga bersedekap di meja demi untuk mendengar jawaban Delia lagi. Gadis di hadapannya itu pun mengangguk masygul. “Cewek apa cowok?” “Haish ... kepo!” timpal Delia, yang pada akhirnya membuat Firman kembali menarik diri. Lelaki di hadapannya itu seketika mengerucutkan bibir karena kesal. Firman juga menyilang kedua tangannya di d**a sambil bersandar di sandaran kursinya lagi. “Kamu ini. Ditanya gitu aja dah bilang kepo. Ngapain cerita coba kalau tiba-tiba buntung di tengah jalan. Aku, kan jadi penasaran,” rutuk Firman. Ia masih dalam posisinya yang tadi. Namun, kali ini sembari menyeruput kopinya lagi. “Adikku cewek. Namanya Adel. Puas kah?” Delia pun terkikik. “Gitu, dong. Kalau tau jenis kelamin sama namanya kan enak. Gampang pula deketinnya.” Sebelah alis Firman seketika bergerak-gerak saat bicara. Jiwa julidnya mulai meronta-ronta. “Sembarangan. Awas aja kalau berani ngedeketin. Adel masih ingusan.” Ancam Delia. Padahal, adiknya itu sudah berupa gadis dewasa. Bahkan, terakhir yang Delia tahu, Adel sudah mulai mengenal cinta. “Aih. Seriusan?” Seperti gagal mendapat hadiah lotre, ekspresi wajah Firman langsung berubah kecewa. Bahkan merengut seketika. “Seriusan!” timpal Delia. Dan, dalam hatinya ia tertawa lepas, saking lucunya melihat ekspresi wajah Firman. Lelaki di hadapannya itu benar-benar tampak amat kecewa. Namun, Delia memang tak ingin menyeret adiknya sampai ke kehidupan yang ia jalani. Kalau bisa, ia tak mau kalau orang-orang di sekelilingnya nanti, tahu tentang keluarganya. Bukan karena malu. Melainkan untuk menjaga adiknya itu dari lelaki seperti Billi, misalnya. Cukup ia sendiri yang merasakan bagaimana jatuhnya harga diri demi untuk menghidupi keluarga. Cukup ia sendiri yang sudah merasakan bagaimana seseorang yang sudah ia anggap kawan, justru sudah berbuat tega dengan ingin memperkosanya. Adiknya jangan sampai. *** “Gimana?” tanya Luis, yang sedari mendapat kabar kalau Delia sudah datang ke kantor langsung merasa penasaran. Di ruangannya, berulang kali Luis ingin keluar untuk mendengar suara Delia secara langsung. Namun, urung karena dirinya ingin membuat Delia tahu lebih awal. “Iya, Bos. Delia mau kerja di sini. Ini dia baru beres makan siang di kantin,” timpal Firman, yang saat mendapati telepon dari Luis, langsung minta izin menjauh terlebih dahulu pada Delia. “Syukurlah. Kapan dia bisa masuk kerja?” tanya Luis kembali. Entah kenapa, ia begitu sangat merasa antusias. Sehingga membuat rasa penasarannya berubah menjadi kurang sabar. “Besoklah, Bos. Masa sekarang?” Firman yang tahu akan perasaan Luis dari nada suara bosnya itu pun melontarkan candaan. Bahkan, saking tak tahan menahan tawa, ia pun tergelak. “Berani ngetawain bos? Dah, sana suruh Delia pulang dulu kalau gitu. Nggak usahlah lu deket-deketin dia,” titah Luis. Dari suaranya, ada nada cemburu yang Firman tangkap. “Yah, Bos. Cuman mentraktir dia makan juga. Mana ada deketin? Pepetin, baru iya!” godanya lagi, diiringi gelak tawa. Karena takut dikira stres, Firman sampai celingukan ke sekeliling. Barangkali, orang-orang memperhatikannya. Namun, kenyataan, tak satu pun yang melihat ke arahnya. Termasuk Delia. Gadis itu justru tengah sibuk melihat ponsel. “Lu!” umpat Luis sembari menahan tawa. Sebenarnya, ia juga senang bercanda. Tapi, demi untuk menjaga image sebagai seorang bos, Luis merasa perlu untuk menjaga wibawanya itu. “Dahlah kalau gitu. Lu anterin dia pulang aja kalau gitu. Kasian kalau harus naik angkot panas-panas begini!” “Asiap!” seru Firman pada akhirnya. Lantas, ia pun pamit untuk mematikan panggilan dari bosnya itu. Dilihatnya Delia lagi, gadis itu masih sibuk dengan ponselnya. Sembari memasukkan ponsel ke dalam jas yang ia pakai, Firman kembali menghampiri Delia. Ia berdeham-deham saat sampai, sehingga membuat gadis di hadapannya itu mendongak. “Udah selesai?” tanya Delia, seraya meletakkan ponselnya di meja. Kemudian ia bersedekap di sana sembari melempar seulas senyum. “Udah. Kamu?” Firman yang mendapat tugas untuk mengantar Delia pun balik bertanya. Ia sengaja menunda duduk. Barangkali, Delia hendak pulang sekarang. “Apanya?” “Ya, nongkrongnya. Udah selesai belum?” Firman pun menyengir. Lantas, ia melihat ke arah si penjual bakso yang tadi ia pesankan seporsi lagi untuk dibawa pulang. Salah satu pelayan pun mengangguk, sebagai tanda kalau pesanannya sudah selesai. “Aih. Iya, ya. Udah-udah!” timpal Delia seraya menarik diri dari duduk bersedekapnya. Buru-buru Delia meraih ponsel, kemudian berdiri sambil cengengesan. “Sampe lupa kalau aku harus segera ke rumah sakit.” “Aku antar, ya? Sebentar!” “Eh—“ Namun, saat Delia hendak menolak, Firman mengacungkan sebelah tangannya sambil melengos. Tanda kalau Firman tak menerima penolakan. Lantas, ia pun mengambil pesanannya terlebih dahulu sebelum mengantar Delia pulang. “Emang, kamu nggak bakal dimarahin Bos? Sebentar lagi masuk jam kerja, kan?” Pertanyaan Delia pun menandakan, kalau dirinya memang tak tahu perihal jabatan apa yang disandang Firman. Yang ia tahu, tadi pagi lelaki di sampingnya itu menyetir mobil Luis. “Telat dikit nggak apa-apa lah. Kebetulan, yang punya perusahaan ini tuh bukan orang lain buatku.” Senyum Firman mengembang saat menjawab pertanyaan Delia yang terdengar sangat mengkhawatirkannya. Namun, fokusnya tetap terjaga pada jalanan. Pandangannya lurus, meski sesekali melirik Delia. “Siapa?” Jiwa kepo Delia langsung memberontak. Bahkan, ia sampai berani menatap Firman sembari menunggu jawaban. Namun, Firman yang sadar akan kekepoan Delia pun justru tertawa. Tawa yang renyah, sampai membuat Delia ikut tertawa kecil. “Aku cuman mau tau aja. Itu pun kalau kamu mau ngasih tau,” katanya yang kemudian menarik wajahnya. Ia beralih menatap lurus ke depan lagi. “Teman, tapi sudah kuanggap sebagai saudara. Begitu juga dia yang sudah menganggap aku saudaranya. Ya ... gitulah,” timpal Firman. Sekilas, ia melirik Delia. Sehingga tanpa sadar, sesuatu hampir saja tertabrak. “Awas!” teriak Delia, seraya menangkup wajah. Sementara Firman yang seketika terkejut, langsung menginjak rem. Membuat ia dan Delia terentak keras ke depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN