Kasihan Atau Cinta

1931 Kata
Terbayang dalam ingatan, baru beberapa hari yang lalu Delia tak sengaja menabrak seekor anjing. Namanya Leo. Dan, itu adalah anjing Luis. Lalu sekarang, tiba-tiba saja seekor kucing melompat ke tengah jalan dan hampir tertabrak oleh mobil yang ditumpanginya. Delia yang sudah ada di luar mobil untuk memastikan kucing tersebut pun bernapas lega sembari mengusap d**a. Betapa rileks dirinya setelah merasa tegang, karena tahu kalau kucing yang baru saja melompat ke tengah jalan itu selamat. Kucing tersebut berhasil mengelak dari mobil yang dikendarai Firman. Pun dengan Firman, dia yang keluar bersama Delia seketika mengucap syukur. Ia langsung menghela napas lega, sebelum kemudian menyapu wajah. Dilihatnya Delia yang berdiri di sampingnya. Kemudian ia kembali mengajak wanita idaman bosnya itu untuk melanjutkan perjalanan. Karena terbengong, Firman pun menjentikkan jarinya di hadapan Delia. Membuat gadis berambut sepinggang itu seketika terperanjat karena terkejut. Ia bahkan langsung tertawa kecil tapi lepas, begitu menyadari lamunannya. “Maaf-maaf,” katanya sembari mengipasi wajah yang terasa panas karena malu. “Bilang apa tadi?” “Nggak apa-apa. Cuman ngajakin lanjutin perjalanan aja tadi. Atau, kamu mau aku tinggal di sini?” goda Firman, yang sukses membuat Delia mendelik manja. “Ya, sudah kalau gitu. Ayo!” lanjutnya. Karena harus memasuki jalan dan pintu yang berbeda, Delia pun berjalan ke sisi kanannya. Sementara Firman ke sisi kirinya. Lantas, setelah merasa benar-benar lega, Firman langsung melajukan mobilnya itu. “Omong-omong, kapan ibumu bisa pulang? Barangkali, aku bisa jenguk kalau dah di rumah.” Lama setelah mobil menjauh dari tempat mereka berhenti sebentar, juga setelah keduanya larut dalam kebisuan, Firman kembali membuka percakapan. Kali ini, pandangannya tak nakal. Ia tetap menatap lurus ke depan. “Belum tau. Tapi, mudah-mudahan aja secepatnya. Aku dah kasihan sama Ibu. Terutama sama Adel. Dia pasti BT karena harus nungguin Ibu sendirian,” timpalnya. “Iya, juga, ya. Hm ... aku doain juga, deh. Semoga ibumu itu cepat stabil kondisinya.” Seulas senyum, kemudian terukir dari bibirnya yang merah kehitaman. Doa yang diucapkan Firman memanglah tulus dari hati. Meski, ada maksud terselubung jika nanti ia dapat menengok ibu dari rekan kerjanya itu. “Aamiin. Makasih, ya.” Baru juga Delia mengucapkan terima kasih, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring dari dalam tas selendang. Setelah meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut, Delia pun langsung merogoh ponselnya itu. “Dari Adel?” batinnya, seraya buru-buru menekan tombol hijau di layar. Lantas, Delia pun melontarkan sapaan dengan nada khawatir. Karena ia takut kalau sesuatu terjadi pada ibunya. Namun, begitu mendengar suara Adel yang semeringah di balik telepon, perasaan cemas berubah menjadi penasaran. Delia langsung bertanya. Dan, Adel pun menjelaskan tentang apa yang membuatnya bahagia itu. “Ibu udah boleh pulang, Kak. Hari ini. Alhamdulillah,” jelas Adel, sambil tertawa-tawa kecil. Namun, tetap tersirat rasa haru di dalamnya. “Ya, Allah. Alhamdulillah.” Dan, air mata Delia pun seketika merebak. Meski dari bibirnya tercipta senyum amat merekah. Lantas, hal itu pun langsung mencipta rasa penasaran di hati Firman yang tetap fokus pada kendaraan. “Ada apa?” pikirnya dalam hati. Namun, ia tak mau menyela obrolan Delia dengan entah siapa itu, karena Firman tak tahu. Ia pikir, lebih baik menunggu sampai Delia sendiri yang mengatakannya. Itu pun, kalau Delia mau bicara. Secara, mereka baru kenal. Tak mungkin juga, jika Delia sudah bisa bicara blak-blakan. Namun, pikiran Firman ternyata salah. Karena setelah panggilan dari Adel ditutup, Delia langsung mengucap syukur berulang kali. Diusapnya wajah cantik nan manisnya itu berkali-kali juga, sebelum akhirnya ia berbalik badan, melihat ke arah Firman. “Aku dapat kabar baru,” katanya, sengaja memancing rasa penasaran Firman. Di samping lelaki yang menyopirinya itu, Delia tersenyum-senyum manis. Firman menoleh sekejap. “Apa?” Tanyanya. Ia benar-benar penasaran. Meski dari raut wajahnya, tak tampak sedikit pun ekspresi kepo. “Ibu udah boleh pulang. Dan, itu hari ini!” jawabnya, kian merasa senang. Lantas, Delia pun kembali duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Ia menjadi tak sabaran untuk bisa sampai di rumah sakit. “Wah, doaku manjur!” timpal Firman dengan percaya dirinya. Lantas, ia tersenyum-senyum songong. “Ahaha. Aku juga percaya itu. Doamu manjur. Makasih, ya!” katanya lagi, masih dengan nada bahagia. “Tapi, aku lupa—“ “Lupa apa?” tanya Firman, kepo lagi. “Motorku masih ada di rumah Billi. Aku belum sempat ambil. Dia juga cuman nganterin ponsel juga tadi, ke rumah sakit.” “Wah, emang nggak tau malu itu si Billi. Astaga!” umpat Firman, pada mantan rekan kerja bosnya itu. “Dia nemuin kamu gitu?” “Nggak, sih. Dia datang sebelum aku datang.” Raut wajah Delia pun seketika berubah bingung. Dengan apa ia membawa ibunya itu pulang, pikirnya. “Ya, sudah. Sekalian aku yang antar ibumu pulang kalau gitu. Nggak tega aku, kalau harus biarin kamu ambil motor dulu!” katanya. “Tapi—“ “Gada tapi-tapi. Nurut aja udah!” sela Firman, sehingga membuat Delia tak mampu menjawab lagi, selain ucapan terima kasih banyak. Itu pun dalam hati. “Rasanya, bertemu kamu adalah suatu keberuntungan!” batin Delia lagi. Lantas, karena perjalanan masih cukup jauh, Delia pun duduk bersandar dengan perasaan yang benar-benar jauh lebih tenang. Ia lega. *** Jika tadi adalah Delia yang merasa beruntung karena sudah dipertemukan dengan Firman, sekarang justru Firman yang merasa amat sangat beruntung karena sudah dipertemukan dengan Delia. Kenapa demikian? Karena setelah bertemu Delia, akhirnya ia bisa bertemu Adel. Adik Delia yang katanya masih ingusan, ternyata berupa seorang gadis remaja cantik nan manis. Gadis itu pun memiliki kepribadian yang baik dan sopan, meski jauh lebih gemar bercanda ketimbang Delia. Terbukti, saat Firman sudah memboyong semuanya ke dalam mobil, di sepanjang jalan, Adel yang lebih banyak membuka obrolan. Dan, meski Firman hanya menyimak, bibirnya berulang kali menyungging karena tak dapat menahan senyum. Sementara itu, Delia yang menjadi lawan bicara Adel, hanya sesekali menimpali. Kadang dengan seucap kata, kadang juga dengan sesungging senyum. Masalahnya, yang dibicarakan Adel memang kejadian lucu saat di rumah sakit tanpa Delia. Terpeleset di kamar mandi, salah satunya. Dan di bagian ini, tawa Firman pun pecah. Membuat ia seketika menangkup mulut, seraya meminta maaf. “Bukan maksud menertawakan kejadian yang menimpamu. Tapi, aku cuman bayangin posisi kamu aja pas jatuh. Dan itu lucu,” katanya lagi. “Ya, ampun. Dari tadi kerjanya diam, tiba-tiba ketawa ngakak. Pake segala bayangin posisi aku lagi. Dih!” singgung Adel, yang justru sukses membuat Firman kian terkikik. Pun dengan Ibu juga kakaknya. “Aih. Makah pada ketawa semua? Apa yang lucu coba?” tanyanya, dengan bibir mengerucut. “Kamu lah. Iya nggak, Kakaknya Adel?” tanya Firman, usil. Ia yang tengah fokus menyetir itu sampai terbatuk karena masih saja tertawa. “Hilih!” Delia sama sekali tak mendukung rekan kerjanya itu. Bukan mengapa. Tapi, Delia tahu kalau Firman hanya sedang menggoda demi untuk bisa mengenal Adel lebih jauh. Meski, sebenarnya, Firman adalah tipe lelaki yang Delia ingin untuk adiknya. *** “Lu di mana? Kok, belum balik-balik, sih?” Pesan voice record dari bosnya itu Firman dengarkan lewat headset, setelah membantu ibu dari Delia baring di ranjang dalam kamar. Ia yang sudah keluar dan duduk di kursi teras pun membalas lewat voice record juga. “Ini baru nyampe rumahnya, Bos. Perjalanan jauh atuh. Sabar!” “Rumah? Bukannya lu mau antar ke rumah sakit? Wah ... jan-jangan lu—“ “Mana ada jangan-jangan, Bos. Tadi itu, aku emang antar Delia ke rumah sakit. Eh, ibunya udah boleh pulang. Ya, daripada mereka aku biarin naik angkot, mending anterlah sekalian. Lagian, motor si Delia masih di rumah Billi katanya. Alamat repot dia kalau nggak ada motor!” sela Firman, sampai membuat Luis menghentikan ucapan sebelum selesai. Ia memang sengaja agar tak membuat Luis berpikir yang aneh-aneh. “Seriusan?” Luis seolah tak percaya. “Ya, iya. Masa bohong. Alhamdulillah dong,” timpalnya, sambil menyengir. “Ya, iya. Alhamdulillah,” kata Luis kembali, sembari menahan tawa bahagianya sendiri. Lantas, ia pun pamit untuk melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk di kantornya itu. Namun, tanpa Firman tahu, Delia ternyata sedang menguping di balik pintu keluar. Ia yang tadi izin membuat kopi, sekarang datang dengan kopi buatannya itu di nampan. Lantas, setelah tahu kalau Firman sudah memutuskan panggilan, Delia pun melangkah maju. Tak lupa, ia pun mengingatkan dirinya sendiri untuk mengembangkan senyuman. Agar, Firman tal mengira kalau dirinya baru saja menguping. “Eh, jadi ngerepotin.” Firman yang ada terbersit kalau Delia mungkin saja menguping itu pun buru-buru memasukkan ponsel ke saku jas lagi. Ia juga menjadi salah tingkah saat melihat senyum di bibir gadis yang diantarnya itu. “Nggak apa-apa. Kamu pasti lelah, kan? Sok atuh di minum dulu.” Sembari memeluk nampan kosong, Delia yang dalam hatimu masih merasa penasaran akan kebaikan Firman, kemudian duduk di salah satu kursi yang lain. “Loh, bisa ngomong pake bahasa Sunda, tah? Orang mana kamu aslinya emang?” Dan, tingkat kekepoan Firman pun berlanjut. Meski tak bermaksud apa-apa, tetap saja, ia merasa ingin tahu. Setidaknya, ada yang bisa ia kasih tahu pada Luis nantinya. “Aku asli Jakarta. Ibu sama Adel juga. Tapi, almarhum Bapak mah dari Cianjur. Makanya, aku bisa ngomong pake bahasan Sunda, meski cuman sedikit,” jelas Delia. Ia yang masih saja terlihat manis itu, tampak malu-malu saat menjelaskan. “Wah, keren. Kalau aku, sih, asli Bandung.” Firman pun menyengir seraya mengambil gelas kopi di meja. Lalu, ia tersenyum pada Delia sebelum menyeruputnya. “Nggak nanya, sih.” Delia menggodanya sambil menahan tawa. Rupanya, beberapa jam mengobrol saja sudah membuatnya merasa nyambung dengan Firman. “Ya, iya juga, sih. Ahaha. Tapi, omong-omong, kopinya enak. Makasih, ya.” Lantas, Firman kembali menyeruput kopinya itu. Bahkan, ia sampai merem melek saking merasa nikmat. Dan, rasa lelah juga ngantuk yang menggelayuti matanya seketika menghilang. Ia langsung merasa sugar-bugar. “Mungkin karena aku yang bikin.” Delia melontarkan candaan lagi. Namun, kali ini ia berhasil menahan tawa. “Oah, aku pikir karena ini kopi ABC s**u. Aku biasa minum Good Day soalnya.” Firman yang tak mau kalah pun balas menggoda. Sehingga pada akhirnya, tawa keduanya pecah dalam sesaat. “Mungkin karena itu juga. Tapi, ya terserahlah. Yang penting sekarang, aku ucapin terima kasih sekali lagi, ya. Kita baru kenal, tapi kamu udah mau repot-repot nganterin aku sama keluarga pulang ke rumah. Padahal, jarak kantor dari sini tuh lumayan jauh. Kamu bisa telat nanti.” “Nggak apa-apa. Habis kopinya abis, aku langsung balik ke kantor, kok. Kecuali, kalau kamu mau nikahin adikmu sama aku. Aku mau kok tinggal di sini!” Lagi, candaan terlontar dari mulut Firman. “Hilih! Itu, sih, maunya kamu. Dahlah! Cepetan napa? Aku mau tidur ini, ngantuk.” Delia pun langsung mengusir Firman dengan tawanya yang renyah. Padahal, ia sudah benar-benar ingin beristirahat. “Astaga, ngusir! Biarin Adel yang nemenin aku lah kalau kamu ngantuk,” timpal Firman. Entah kenapa, ia masih saja ingin ada di antara mereka. Terlebih, rumah yang dihuni tiga wanita itu tampak begitu nyaman ditinggali. Juga begitu indah saat dinikmati. Bagaimana tidak? Di sekeliling halaman, rupa-rupa jenis bunga berjejer membentuk sebuah pagar. Belum lagi di teras, juga yang menggantung di plafon rumah. Firman menggeleng. Karena di kontrakannya boro-boro ada bunga satu pun. Yang ada justru hamparan rumput yang dibiarkan tumbuh, lalu dicukur setiap satu Minggu sekali oleh pemiliknya. “Mana ada! Dahlah. Ayo, buruan habisin!” titah Delia lagi. Kali ini, gadis berambut panjang itu sambil menguap lebar. Sehingga ketahuan oleh Firman, kalau Delia sedang tak mengada-ada. “Ya, Tuhan. Oke-oke! Tapi sebentar dong. Kopinya masih panas ini.” Firman mengeluh, meski akhirnya ia tetap menenggak kopinya itu. Lantas, ia pun pamit tanpa menemui ibu juga adik Delia, karena dilarang oleh Delia. “Astaga! Mau pamit pun nggak boleh. Pelit emang!” umpatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN