Takut Menjitak Korban Juga

1796 Kata
“Jadi, ibunya itu udah sehat?” Di kantor, sesampainya Firman di ruangan Luis, bosnya itu langsung membahas soal Delia. Luis seperti tak ingin menunda-nunda waktu, saking ingin tahu lebih detailnya tentang wanita yang baru mereka kenal itu. Bahkan, ia tak menanyakan perjalanan Firman sama sekali. “Yups! Katanya, ibunya itu tinggal harus beristirahat total. Terus rajin mengontrol kesehatannya ke pusat kesehatan terdekat. Dan, aku lihat Delia begitu senang,” timpal Firman yang sudah duduk di kursi depan meja kerja Luis. Ia mengangguk-angguk, mengingat wajah juga sikap ceria Delia tadi. “Karena mungkin, selain baru saja mendapat pekerjaan, Tuhan pun sudah menyembuhkan ibunya,” lanjutnya. “Syukurlah. Gue ikut lega dengarnya.” Seperti apa yang dikatakannya barusan, raut wajah lelaki keturunan Jawa-Sunda itu pun tampak semeringah. Dari pun terlukis senyum lebar nan indah. “Tapi Bos, omong-omong, kenapa Bos tiba-tiba baik sama wanita itu? Bos udah kenal dia apa gimana? Kok, aku baru tahu?” Firman yang penasaran pun akhirnya menyelidik. Luis yang biasanya terbuka, memang tak pernah menyembunyikan apa pun. Dan, ia rasa, kali ini Luis menyimpan satu rahasia. “Memang. Tapi, cuman kenal selewat. Itu pun dengan kejadian yang sangat menjengkelkan. Lu ingat saat gue bilang Leo ketabrak orang?” tanyanya, antusias bercerita. Firman mengangguk karena ingat betul. “Ya, itu ... yang nabrak Leo itu Delia.” “Waduh?!” Firman yang duduk bersandar pun langsung menarik diri. Lantas mencondongkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangan bertumpu pada meja. “Serius?” tanyanya. “Seriuslah. Tapi, dia emang nggak sengaja. Jadi, ya apa salahnya dimaafin? Kebetulan, kondisi dia lagi kurang baik juga. Ya, sekalian gue bantuin kan bagus. Ya, nggak?” Luis pun tersenyum bangga. “Keren! Emang keren bosku ini!” puji Firman, yang akhirnya membuat mereka tertawa-tawa kecil. “Tapi, yakin cuman karena Delia lagi dalam kesulitan?” tanyanya, kemudian. “Maksud lu?” Rupanya, Luis tak paham dengan pertanyaan Firman yang tak lain adalah sebuah godaan. “Ya, itu ... karena jatuh hati mungkin?” Firman pun menahan tawanya yang sudah di ujung lidah. “Aih?! Ya, nggaklah! Mana ada jatuh cinta? Tau rupanya juga nggak. Haish ... ada-ada saja punya anak buah, nih. Ngaco emang!” umpat Luis, seraya menggeleng-gelengkan. Padahal, dalam hatinya ia begitu merasa malu sampai bertanya-tanya, “apakah raut wajah gue ini begitu menunjukkan rasa suka terhadap Delia? Atau ... emang karena si Firman ini punya indra ke enam? Ampun, dah. Malu, kan kalau ketahuan. Yang ada, nanti gue diledekin ma orang. Jadi orang buta aja, masih ngerasa jatuh cinta. Astaga! Lagian, kenapa aku bisa suka sama dia, sih? Jelas, ada begitu banyak wanita yang sudah aku kenal dari sebelum buta. Tapi, nggak ada tuh yang bikin aku tertarik sama salah satu dari mereka. Heran!” “Bos?” Firman yang bingung karena melihat bosnya itu terbengong, kemudian memanggil dengan nada sedikit jauh lebih tinggi. Luis pun terperanjat. “Ya?!” katanya. “Bengong? Kenapa?” tanya Firman. Makin kepo lah dia. “Lapar! Gue lapar!” timpal Luis, seraya bangkit dari duduknya. Ia hendak pergi ke kantin untuk menghindari kekepoan Firman. “Sibuk kerja, mpe lupa makan siang gue!” katanya lagi. “Dih?!” Firman yang menyadari kekikukan dalam reaksi Luis pun langsung tertawa jahil. *** Sepulangnya Firman dari rumah mereka, Adel yang notabene seorang remaja itu akhirnya kepo pada Delia. Dia langsung menanyakan banyak hal, termasuk siapa yang mengantarnya pulang bersama dari rumah sakit. Delia paham, karena Adel memang selalu ingin tahu perihal apa yang terjadi dalam kehidupannya. Lantas, Delia pun memberitahu adiknya itu dari awal lagi. Bahwa, ia rasa, kejadian tabrakan itulah yang membawanya pada Firman maupun Luis. Karena kenyataannya, mereka memang saling terhubung. Namun, karena otak Adel terlalu jauh berpikir, ia pun langsung menyimpulkan sesuatu yang mungkin saja akan berbuah pahit. “Balas dendam!” jawabnya, setelah Delia bertanya perihal apa yang dikatakan Adel perihal sesuatu yang buruk mungkin terjadi. “Loh, balas dendam apa atuh?” Delia pun kian tak paham. Bukan karena otaknya tumpul, tapi, gadis ini menang jarang sekali menaruh prasangka buruk terhadap orang lain. Oleh karena itu, ia terlihat begitu polos oleh setiap orang. “Ya, ampun ... Kak. Masa masih nggak paham, sih?” Adel pun langsung menepuk kening sembari menundukkan kepalanya. Lantas, ia menggeleng sambil berdecak emosi. “Gini, loh. Kakak bilang, kemarin kan nggak sengaja nabrak anjingnya orang. Nah, setelah itu ... kakak hampir di perkosa oleh Kak Billi yang tak lain adalah rekan kerja siapa itu?” “Luis?” timpal Delia. “Ya, dia. Luis. Nah ... sekarang, kita malah ketemu Kak Firman yang Kakak bilang adalah anak buahnya Luis juga. Apa nggak serba kebetulan itu? Nggak mungkin dong, tiba-tiba Kakak bertemu orang-orang yang ternyata saling berkaitan. Itu jarang terjadi kalaupun ada. Jadi, aku rasa, si Luis ini ada maksud sama Kakak. Balas dendam gitu, misalnya.” Panjang lebar Adel bicara tentang isi pikirannya itu. Dari reaksinya, ia tampak begitu yakin dan percaya bahwa, Luis tengah merencanakan sesuatu yang buruk untuk membalaskan dendam. “Haish! Apaan, sih, kamu? Jangan suuzan! Kita nggak bakal pernah tahu isi hati orang lain, Dek. Jadi, nggak bagus itu mengira-ngira begitu. Yang ada, nanti jadi fitnah. Ih, amit-amit!” timpal Delia seraya menyeruput teh yang tadi dibuatnya sendiri. “Baiknya, kita doakan saja agar orang-orang yang kamu curigai itu bukan seorang penjahat!” “Ya, iya, sih. Aamiin, Kak. Mungkin, aku emang terlalu drama. Ahaha!” timpal Adel. Dia yang duduk di hadapan kakaknya pun mengubah posisi duduknya, menjadi tidur telentang di kursi paling panjang. Berbantal kedua tangan yang ia lipat dan tindih di bawah kepala. “Lha, iya. Yang ditonton Drakor mulu, sih. Ketularan aneh, kan, jadinya?” usil Delia. Ia yang lagi-lagi menyeruput tehnya itu pun tersenyum tipis. “Ish ... Kakak!” timpal Adel yang seketika menoleh dan mengernyitkan wajahnya pada Delia. “Aku, kan cuman kasih masukan. Karena sebaik apa pun orang, kalau setan udah merajai ya pasti akan berbuat sesuatu yang buruk. Jadi, hati-hati itu perlu!” “Cerdas!” Delia pun langsung berdiri dari duduk bersandarnya. Karena hari sudah memasuki waktu sore, ia merasa ingin mandi. “Tapi, Kakak gerah, nih. Mandi dululah. Bye!” katanya lagi. “Dih! Orang lagi ngomong juga, malah ditinggalin. Emang dasar Kakak nyebelin.” Adel yang merasa amat sangat jengkel itu pun mengumpat kakaknya sendiri. Namun, alih-alih tak suka dengan rutukkan Adel, Delia justru tertawa renyah sembari terus melangkah, menuju kamar. Ia memang harus mengambil perlengkapan mandi dulu sebelum ke kamar mandi. Kalau tidak, alamat ia harus kembali setelah masuk kamar mandi, tapi lupa bawa semua termasuk handuk. *** Adzan Ashar baru saja selesai berkumandang. Pun dengan Delia, yang begitu selesai mandi akhirnya memilih langsung mengambil wudhu agar tak bolak-balik. Namun, alasan pertamanya adalah karena ia takut kalau dirinya malah lupa. Lupa, kalau adzan baru saja terngiang di telinga. Setelah kejadian kelam di malam itu, Delia memang menjadi lebih rajin memohon ampunan. Entah itu selesai salat, atau saat sedang mengingatnya tiba-tiba. Bahwa, selain ingin diampuni, ia pun ingin agar Tuhan mencabut sebagian ingatannya. Yaitu, ingatan di malam itu saja. Namun, alih-alih lupa, Delia justru dihadapkan dengan teman 6ang sudah melecehkannya itu. Billi, lelaki yang ingin Delia jauhi tiba-tiba saja datang setelah Delia selesai salat. Karena tak kunjung mendengar seseorang membuka pintu, Delia yang bahkan masih memakai mukena itu langsung bergegas bangun. Setengah berlari ia melangkah menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Karena lupa mengeceknya lewat jendela, Delia pun seketika terkejut saat pintu terbuka lebar. “Del,” ucap Billi, dengan nada penuh penyesalan. Di wajahnya tersirat kesedihan amat mendalam, karena sempat sudah dengan sengaja ingin menikmati tubuh teman di hadapannya itu. “Kamu?” Refleks, Delia pun langsung menutup pintu. Namun, Billi yang memang datang untuk menemui Delia itu langsung menahannya dari luar. Seluat tenaga ia melawan dorongan pintu yang dilakukan Delia sampai akhirnya Delia kalah. “Gue mau ngomong sebentar, Del. Please!” pinta Billi saat Delia memilih untuk pergi ke dalam. Dia bahkan berani menerobos masuk, untuk pertama kali ke rumah itu. Sementara di dalam, Adel yang baru saja selesai mandi itu keheranan melihat Delia berlari sambil menangis. “Ada apa, Kak?” tanyanya. Delia yang melihat adiknya itu hanya memakai handuk sedada sampai paha itu pun langsung melotot. Ia tahu kalau Billi langsung mengejarnya. Sehingga ia buru-buru menghalangi dengan membelakangi adiknya itu. “Kak?” Adel kembali bertanya keheranan. Namun, begitu melihat Billi, Adel pun langsung menjerit. “Astaga, Kak! Kenapa dia ada di sini?” teriaknya, sembari bersembunyi di balik punggung Delia. Mengingat cerita Delia, Adel pun seketika merasa takut kalau dirinya akan menjadi korban juga. Delia tak menjawab. Ia justru meneriaki Billi agar pergi dan tak menemuinya lagi. “Kalau sampai kamu berani datang, awas saja! Aku tak kan segan berbuat kasar!” umpatnya lagi. “Tapi, Del. Gue cuman mau minta maaf. Gue, kemarin—“ “Jangan bicarakan itu lagi, Bill. Please! Aku mohon pergilah. Aku nggak bisa melihatmu lagi. Apalagi di sini.” Suara Delia pun kian naik oktafnya. Sehingga ibunya yang sedang beristirahat sedikit terganggu karena penasaran dengan apa yang terjadi di luar kamar. “Gue bakal pergi. Asal, lu mau maafin gue!” Billi pun bersikukuh bicara. Bahwa, dia ingin dimaafkan atas perbuatannya yang keterlaluan. “Karena gue benar-benar khilaf. Gue nggak bisa nahan—“ “Pergi, Bill. Atau kalau nggak, aku akan teriak!” ancam Delia pada akhirnya. Karena ia yakin, orang-orang akan segera datang saat mendengar suaranya yang menggelegar. “Ok-ok! Lu jangan berteriak. Gue bakal pergi sekarang juga. Tapi—“ “Pergi!” sela Delia, lagi-lagi berteriak. Ia, bahkan tak melihat Billi sedikit pun setelah masuk tadi. “Del ... sebentar!” pinta Billi. “Gue cuman mau ngasih lu kunci motor dulu. Gue bawa sekalian ke sini tadi,” katanya. “Lempar! Atau letakkan saja di lantai. Terus pergilah sebelum gue teriak meminta tolong!” ancam Delia lagi. Kali ini sembari menelan ludah dengan begitu susah payah karena menahan sesak. Dan, Billi yang takit akan amukan massa pun memilih untuk meletakkan kunci motor Delia di meja ruang tamu. Lantas, dengan berat hati karena Delia tak memaafkannya, ia pun segera pergi. Ditinggalkannya rumah itu sesegera mungkin sembari melihat ke sekitar. Takutnya, orang-orang mendengar teriakan Delia sedari tadi. Sementara itu, di dalam, Delia pun langsung terduduk di lantai dengan mukena masih membungkus diri. Kemudian disusul Adel yang seketika duduk berjongkok di belakang kakaknya itu. “Sabar, Kak.” Ia pun langsung memeluk tubuh kakaknya itu dengan perasaan sedih dan gemetar. “Masih ada aku dan ibu juga.” “Ibu!” Delia pun langsung teringat akan ibunya. “Kenapa Ibu?” tanya Adel. “Itu, Ibu pasti heran karena aku marah-marah barusan,” jelasnya pada Adel. Kemudian, ia kembali beranjak bangun untuk segera menemui ibunya di kamar. “Kasih tahu aja, Kak. Aku mau salat dulu.” Adel pun memberi saran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN