Tengah Malah Kelaparan

1707 Kata
“Ibu gurunya aku, cantik loh, Ayah. Dia juga baik banget. Tapi, ibu guru kok nggak datang ke sekolah ya, tadi? Apa karena tadi ibu guru ke rumah sakit? Yang sakit memang siapa, Ayah?” Sembari tidur meringkuk dalam dekapan ayahnya, Jenny tak henti-henti bicara sedari masuk. Awalnya, yang ia bicarakan adalah perihal kesehatan Leo yang sudah agak membaik. Kemudian beralih pada kegiatannya di sekolah, kalau dirimu habis belajar di taman sekolah. Dan, segala jenis yang ada di sana ia pelajari bersama teman-temannya. Lantas, begitu ingat akan salah satu gurunya yang tak hadir beberapa hari terakhir, Jenny pun langsung membahas tentang Delia. Sembari tersenyum-senyum, gadis kecil berambut lurus itu memuji Delia terus-menerus. “Yang sakit itu ibunya ibu guru, Sayang. Tapi, katanya, tadi sore udah pulang.” Dengan perasaan senang pula, Luis pun memberitahu Jenny perihal apa yang ia tahu. Ibunya Delia memang sudah pulang. Dan, sekarang, Luis pikir, Delia pasti sedang beristirahat dengan perasaan senang karena penawaran pekerjaan darinya. “Oooh ... gitu, Ayah. Itu artinya, besok, ibu guruku masuk kelas dong? Kan, ibunya ibu guru udah sembuh,” tanya Jenny. Dia yang semula menyusup di d**a tegak ayahnya itu pun mendongak. Lantas, tatapannya langsung tertuju pada wajah Luis di atasnya. “Iya, kan, Ayah?” tanyanya, sekali lagi. “Ayah nggak tahu, Sayang.” Luis langsung berpura-pura. Karena padahal, ia tahu kalau Delia tak akan pernah lagi mengajar di sekolah Jenny. “Tapi, kalau pun nggak, kan ada guru yang lain, Sayang. Ibu guru Delia, mungkin harus mengurus ibunya dulu di rumah,” ungkap Delia lagi. “Ya, iya, sih, Ayah. Tapi ... suka berasa kurang seru kalau ibu guru Delia nggak datang. Soalnya, cuman ibu guru Delia yang suka bikin seru di kelas,” ujar Jenny. Dia merasa amat sangat menyayangkan ketidakhadiran Delia di sekolah. Karena bukan hanya kali ini saja Delia tak masuk kerja. Beberapa waktu ke belakang pun sering. “Hum, dahlah. Mending, sekarang kamu tidur aja, ya, Sayang. Udah malam loh ini. Ayah juga ngantuk banget sekarang.” Luis, akhirnya memutus obrolan dengan menyuruh Jenny untuk tidur. Lantas, ia mendekap tubuh mungil itu kembali. “Met malam, Ayah. Mimpi indah, ya!” bisik Jenny. Lantas, ia yang juga sudah merasa ngantuk pun memejamkan matanya itu di sana. Dan, tak perlu waktu lama, saat Luis mencium keningnya, anak itu sudah terlelap. *** Karena sudah menerima pekerjaan tetap yang baru, Delia pun tak lagi meminta izin untuk libur mengajar. Melainkan, ia langsung meminta izin untuk resign dari pekerjaan lamanya itu. Meski, di akhir obrolan, Delia tetap meminta pintu untuknya. Barangkali, suatu saat dirinya kurang betah dan ingin kembali mengajar. Kepala sekolah di TK Melati itu pun mengizinkan Delia untuk resign. Wanita bertubuh gendut yang bernama Melati itu pun akan selalu menerima Delia untuk kembali. Dengan catatan, Delia tetap menjadi seorang guru yang mengutamakan kasih sayang. Senang bukan kepalang, Delia yang sebelumnya masih saja merasa kesal terhadap Billi pun langsung tersenyum-senyum riang di kamar. Seorang diri pula, karena adiknya yang tidur di kamar yang sama sudah terlelap. Bahkan, mungkin sudah terbang ke alam mimpi. Namun, saking senangnya, Delia justru tak dapat tidur. Ia justru masih saja terjaga, meski sudah mencoba pejamkan mata. Tetap saja, rasa kantuknya tak terasa sama sekali. Yang ada, Delia justru merasa pusing. “Ah, pasti karena lapar ini mah!” batin Delia. Lantas, segera Delia pergi ke dapur. Ia ingin mencari sesuatu untuk dimakan, agar tubuhnya mau diajak beristirahat. Namun, karena belum sempat belanja, Delia tak mendapati apa pun di sana kecuali air mineral dalam galon. Malah, dapurnya itu masih berantakan, piring dan gelas kotor bekas makan sore mereka belum sempat ia bersihkan. “Ya, Tuhan. Aku makan apa sekarang?” batinnya sembari memelak pinggang. Diedarkannya pandangan, Delia mencari sesuatu. Barangkali ada mie atau apalah di sana. Nihil. Saat membuka kulkas pun, isinya hanya botol-botol plastik kosong. Kembali menutupnya dengan gerakan lesu, Delia pun lantas hendak balik ke kamar. Sepertinya, ia harus memaksa matanya itu terpejam dalam keadaan perut kosong. Namun, saat langkah kakinya berbalik, pandangannya melihat seikat caisim di kolong meja. Seketika Delia ingat, ia lupa memasukkan sayur dari tetangga itu ke dalam kulkas. “Alhamdulillah!” serunya seraya langsung menghambur ke kolong meja. Delia duduk berjongkok. Lantas, ia condongkan kepalanya ke dalam sembari merogoh baskom berisi caisim tersebut. “Duh, selamat-selamat. Nggak apa-apalah makan sama sayur doang. Yang penting, perut nggak kosong-kosong amat.” Segera Delia pun berdiri. Lantas, ia simpan baskom berisi caisim itu di meja kompor untuk membersihkan sebagian caisim yang masih segar, dari yang sudah layu. Karena sudah dua hari ditinggal, caisimnya memang sudah menguning sebagian. Selesai membersihkan caisimnya, tangan Delia beralih pada bawang-bawang di dalam keranjang khusus. Ia ambil masing-masing bawang, dua siung. Kemudian mengirisnya bergantian, bersama sebiji tomat dan sepuluh cabai rawit. Barulah setelah itu, ia menumisnya sampai harum. Sembari tersenyum lebar, Delia hidu aroma bawang yang sudah matang dalam wajan. Lantas, ia masukkan potongan caisim yang sudah dibersihkannya itu ke sana sampai menciptakan asap mengepul. Dan, aroma nikmat pun kian tercium. Bahkan menguar sampai ke kamar. Membuat Adel yang sudah terlelap, seketika menggeliat tergoda. “Bau apa ini? Wangi bener,” gumamnya, sembari menguap lebar. Gadis itu menggeliat panjang sembari mengucek mata sejenak. Dilihatnya Delia, kakaknya itu tidak ada di sana. “Wah, Kak Delia masak, nih kayaknya. Duh ... jadi lapar!” Karena mengira kakaknya itu tengah memasak sesuatu yang akan membuat perut kenyang, Adel pun buru-buru beranjak turun dari ranjangnya. Lantas ia berlari ke arah dapur, di mana Delia sedang menikmati oseng caisimnya dengan lahap. “Dih! Makan nggak bilang-bilang. Aku juga lapar, Kak!” seru Adel, tiba-tiba. Dia yang juga kelaparan itu berdiri di ambang pintu sembari mengelus-elus perutnya. “Mauuu!” lanjutnya, seraya ikut duduk berjongkok di hadapan Delia. Delia yang tadinya mendongak sambil menyengir itu pun tertawa kecil sampai tersedak. “Aduh,” katanya sembari menenggak air yang sebelumnya ia siapkan. “Aku juga lapar. Tapi gada apa-apa. Nasi juga nggak masak kan tadi?” “Ha, iya. Kakak, sih. Kenapa nggak masak aja tadi. Malah cuman beli ketoprak sama lontong. Lapar, kan, jadinya?” Adel langsung merutuk, setelah mencicipi oseng caisim yang dibuat kakaknya itu. “Hilih!” Delia pun langsung menoyor kening adiknya itu. “Kan, kamu yang mau tadi. Itu juga uang segitu-gitunya. Untung cukup buat beli bubur buat ibu juga!” “Aih, iya bener. Ahaha!” timpal Adel, sambil tergelak. “Ya, dah. Sini buat aku caisimnya. Kakak udah, kan?” “Udah mulutmu! Baru juga mulai makan. Berdua aja, sih!” cerocos Delia, yang tak ikhlas jika oseng caisim buatannya itu direbut Adek. “Hadeuh! Pake segala bangun, sih, kamu. Alamat nggak bakal kenyang ini!” lanjutnya, seraya menahan tawa. *** Setelah merasa kelaparan di sepanjang malam, pagi-pagi sekali, setelah bangun, Delia langsung memasak nasi. Ia pikir, meski belum ada apa-apa untuk dimasak, tapi, setidaknya ada nasi yang bisa dimakan. Toh, pakai taburan garam pun akan terasa enak jika nasinya masih hangat. Terlebih, dalam keadaan perut lapar. Namun, Delia pikir, ia tak mungkin membiarkan ibunya yang sedang sakit itu makan hanya dengan taburan garam. Itu tak kan membuat ibunya cepat pulih. Lantas, usai mencolokkan kabel rice cooker di dapurnya, Delia pun berinisiatif untuk meminjam uang pada keluarga dekat dari ibunya. Ia pikir, bulan depan sudah pasti dapat mengembalikan uang pinjaman tersebut. Hanya saja, saat Delia baru meraih ponsel di meja samping ranjang dalam kamarnya, ia mendapati pulsa juga kuota kosong. Tanpa itu, mana bisa dirinya menghubungi keluarga yang lain. Dan, jangankan untuk meminjam uang, sekadar basa-basi pun tak mungkin. Diletakkannya kembali ponsel tersebut sembari menghela dan membuang napas berat. Sekarang Delia bingung, dengan apa dirinya menyiapkan sarapan untuk ibu juga sang adik. Karena dalam dompetnya, tak lagi ada uang sepeser pun. “Kak?” Adel yang baru saja bangun pun langsung terduduk sembari mengucek matanya itu sekejap. Lantas, ia menghadap kakaknya itu sebelum menurunkan kedua kaki ke lantai. Ia menatap heran Delia. Karena lagi-lagi, ia mendapati sang kakak tengah melamun. “Eh, akhirnya bangun juga kamu. Baru juga mau aku guyur!” timpal Delia, bengis. Sengaja agar raut sedih di wajahnya tak tersirat oleh Adel. “Dih! Jahat amat jadi kakak. Orang, aku udah bangun dari tadi, kok. Cuman ya itu. Mataku masih lengket. Jadinya tidur lagi,” balas Adel kemudian. Lantas, ia yang sudah duduk di tepi ranjang pun menguap sambil mengusap-usap perut. “Lapar, Kak. Udah masak nasi belum?” “Hadeuh! Giliran makan aja, nomor satu kamu mah. Aku udah masak nasi, tuh. Tapi belum masak apa-apa buat teman sarapan.” Delia pun terpaksa jujur. Karena kalau pun tidak, Adel akan tetap mengetahuinya saat ke dapur. “Oh, jadi itu yang bikin Kakak melamun. Santai! Kek baru kali ini aja kita nggak punya apa-apa. Garam masih banyak, kan? Kita biasa makan pake itu kalau lagi sengsara kayak gini, kan?” Dari bibirnya, senyum merekah pun terukir untuk menghibur sang Kakak. Meskipun sebenarnya, dalam hatinya merasa perih. Adel yang kerjanya hanya merepotkan itu, kadang marah pada diri sendiri karena belum dapat membantu perekonomian kakaknya. “Iya, Del. Tapi ... Ibu?” tanya Delia, yang akhirnya tak lagi dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia lantas menangis, meski langsung buru-buru dirinya hapus karena malu. Malu, karena bukannya menjadi penyemangat, malah jadi pembawa sedih. Dan, Adel yang melihatnya pun tak tega. Sehingga cepat dirinya merangkul kakaknya itu. Lantas menguatkannya dengan kata-kata penuh kasih dan sayang. Ia bilang, “Kita keluarga bahagia. Kakak nggak boleh nangis, kalau nggak mau bikin aku sedih. Dan, untuk membuat kakak bahagia juga, aku akan berusaha untuk selalu tersenyum. Semangat!” “Makasih, Del. Alhamdulillah, aku beruntung punya adik seperti kamu,” balas Delia seraya menarik diri dari pelukan adiknya itu. Lantas, sambil tersenyum, ia menghidu udara banyak-banyak sebelum kemudian mengembuskannya perlahan. Sekarang, ia merasa sedikit lega. Dan, saat Delia ingat kalau dirinya bisa meminjam pulsa pada operator, suara seseorang terdengar memanggil-manggil namanya dari luar. Ia tahu betul suara itu. Sehingga buru-buru dirinya pergi untuk membuka pintu. Benar, yang datang ke rumahnya adalah Mbak Muna yang tinggal di belakang rumahnya. Wanita beranak satu yang kemarin memberi caisim itu tersenyum saat Delia membuka pintu. Senyum yang tulus, seperti biasanya. Mata Delia langsung tertuju pada apa yang dibawa Mbak Muna. Sehingga ada sebersit perasaan lega juga haru dalam hatinya. Ia tahu, kalau Tuhan tak pernah tidur. Dia akan selalu mendengar doa umatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN